NovelToon NovelToon
Baskara Lelaki Yang Memilihku

Baskara Lelaki Yang Memilihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Beda Usia
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Di usianya yang menginjak 40 tahun, Alena—seorang wanita yang kerap dijuluki perawan tua—terpaksa menuruti permintaan orang tuanya untuk menghadiri sebuah acara perjodohan di rumah makan. Berdasarkan foto yang ia terima, ia dijadwalkan bertemu dengan seorang pria bernama Ferry yang berusia 45 tahun.
Setelah menunggu begitu lama hingga berniat pulang, Alena akhirnya dihampiri oleh seorang lelaki tampan. Namun, kejutan besar menanti ketika pria tersebut memperkenalkan diri bukan sebagai Ferry, melainkan Baskara, anak kandung mendiang Ferry yang baru saja berpulang.
Demi memenuhi wasiat terakhir sang ayah, Baskara dengan tegas meminta Alena untuk meneruskan pernikahan tersebut. Meski sempat ragu dan berniat menolak akibat perbedaan usia yang terpaut jauh, keteguhan hati Baskara membuat Alena dihadapkan pada pilihan tak terduga dalam hidupnya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15

Hari yang dinanti-nanti akhirnya tiba. Suasana pagi itu di kediaman utama keluarga besar Baskara dipenuhi dengan gelak tawa dan aura kemenangan.

Mama Baskara duduk di sofa ruang tamu sambil menyesap teh hangatnya.

Di hadapannya, Yanuar, Arum, dan Billy berkumpul dengan senyum sinis yang tak bisa disembunyikan dari wajah mereka.

Jarum jam terus berputar, namun hingga siang menjelang, tidak ada satu pun kabar, undangan, ataupun berita mengenai kelanjutan resepsi pernikahan Baskara dan Alena.

"Sepertinya rencana kita benar-benar berhasil," ujar Arum dengan nada mengejek, melipat kedua tangannya di dada.

"Wanita tua itu pasti sudah menangis histeris setelah melihat foto ciuman Areta kemarin, lalu memilih kabur meninggalkan Baskara."

Billy terkekeh puas, menyandarkan punggungnya di sofa.

"Sudah kuduga. Pernikahan itu tidak akan pernah terjadi. Baskara paling-pengahnya malu dan memilih membatalkan semuanya demi menyelamatkan muka keluarga."

Mama Baskara tertawa lepas, merasa di atas

angin.

"Bagus! Tidak ada resepsi, tidak ada wanita sialan itu di silsilah keluarga kita. Sebentar lagi, Baskara pasti akan kembali bertekuk lutut pada mamanya ini."

Mereka semua tertawa bersama, menikmati kebodohan yang mereka sangka telah menghancurkan hidup Baskara dan Alena.

Sementara itu, di tempat yang sangat berbeda—sebuah ballroom hotel bintang lima termegah di pusat kota yang telah disulap menjadi tempat resepsi tertutup yang sangat mewah—suasana justru berbanding terbalik.

Di ruang rias khusus yang terhubung langsung dengan panggung utama, Baskara berdiri mengenakan jas pengantin tuxedo hitam berpotongan rapi, memandang wanita yang berdiri di hadapannya dengan tatapan penuhujaan.

"Sudah siap, Sayang?" tanya Baskara lembut, menatap pantulan cermin di mana Alena tampak sangat memukau.

Alena membalas tatapan suaminya melalui cermin.

Ia mengenakan gaun kebaya putih modern berhiaskan bordir kristal mewah dan selendang sutra panjang, memancarkan pesona anggun yang elegan, jauh melampaui bayangan siapa pun—bahkan dirinya sendiri.

Kedua orang tua Alena yang turut mendampingi di ruangan tersebut juga tampak rapi dan bahagia mengenakan busana senada yang disiapkan khusus oleh Baskara.

"Aku siap, Bas," jawab Alena mantap, meski debar di dadanya masih terasa kencang.

Ia tahu, hari ini bukan sekadar hari pernikahan mereka, tetapi hari di mana mereka akan membalikkan keadaan.

Baskara meraih tangan Alena, mengecup punggung tangan istrinya dengan penuh keyakinan.

Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman penuh misteri.

"Bagus," bisik Baskara, sorot matanya menajam bagai predator yang siap menerkam mangsa.

"Sekarang, saatnya kita memberikan kejutan yang paling tak terlupakan untuk mereka."

Pintu utama ballroom hotel bintang lima itu terbuka perlahan, menampakkan kilau lampu kristal megah yang memantul di atas lantai marmer putih bersih.

Diiringi alunan musik romantis yang lembut, Baskara dan Alena melangkah masuk dengan anggun, berdiri berdampingan di atas pelaminan yang didekorasi penuh dengan bunga mawar putih.

Kemewahan dan kehangatan terpancar jelas, mematahkan segala asumsi buruk tentang hubungan mereka.

Di saat yang bersamaan, di kediaman keluarga Baskara, suasana yang tadinya penuh gelak tawa mendadak berubah membeku.

Teh di tangan Mama Baskara hampir tumpah saat layar televisi LED di ruang tamu menyiarkan berita breaking news secara langsung.

Pembawa berita dengan antusias melaporkan jalannya resepsi pernikahan akbar antara sang CEO muda, Baskara, dengan seorang wanita pemilik toko roti bernama Alena, yang dihadiri oleh jajaran menteri, pengusaha papan atas, serta para investor raksasa.

Wajah Yanuar, Arum, dan Billy seketika pias. Para pemegang saham utama perusahaan keluarga yang kebetulan sedang memantau siaran tersebut langsung panik dan saling berpandangan.

"Tidak mungkin! Ini sama sekali tidak masuk akal!" teriak Mama Baskara histeris.

Ia berdiri dari sofa dengan napas memburu, matanya melotot menatap layar televisi yang menampilkan senyuman bahagia Baskara di pelaminan.

Seketika, ponsel di saku Yanuar berdering tanpa henti—panggilan dari para mitra bisnis dan komisaris yang menuntut penjelasan, sekaligus berniat memanfaatkan situasi untuk merebut kendali penuh atas perusahaan mendiang Ferry, ayah Baskara, karena menganggap keluarga besar itu telah kehilangan kendali dan memalukan nama baik korporasi.

"Sialan! Mereka membalikkan keadaan!" maki Yanuar dengan wajah pucat pasi.

Mama Baskara yang dikuasai amarah dan kepanikan langsung menyambar tas tangannya.

"Cepat! Kita ke hotel sekarang juga!" titahnya dengan suara bergetar penuh murka kepada Yanuar, Arum, dan Billy.

Tanpa membuang waktu, rombongan keluarga yang penuh rasa iri dan dengki itu bergegas menuju mobil.

Di tempat terpisah, para pemegang saham yang berniat menjatuhkan kekuasaan Baskara atas perusahaan mendiang Ferry juga bergerak menuju lokasi yang sama, berniat mendatangi ballroom untuk melabrak sekaligus merusak hari bahagia tersebut.

Namun, mereka semua tidak tahu bahwa kedatangan mereka justru tepat berada di dalam jaring laba-laba yang sudah lama ditenun oleh Baskara.

Di lobi hotel yang megah, Baskara berdiri dengan tenang, menyesap segelas champagne di tangan kirinya, sementara tangan kanannya menggenggam jemari Alena dengan erat.

Ia tidak terlihat seperti pengantin pria yang sedang dilanda masalah; ia terlihat seperti seorang panglima perang yang baru saja memenangkan pertempuran besar.

Dari pintu masuk, rombongan Mama Baskara, Yanuar, Arum, dan Billy menerobos masuk dengan wajah kusut dan amarah yang meluap-luap.

Di belakang mereka, sekelompok pemegang saham yang berniat melakukan kudeta merangsek maju, wajah mereka menunjukkan ambisi dingin untuk merebut kendali perusahaan mendiang Ferry.

"Baskara!" teriak Mama Baskara dari kejauhan, langkahnya terhenti saat matanya beradu dengan tatapan tajam putranya.

"Apa arti semua ini? Kamu mempermalukan kami dengan pernikahan ini!"

Baskara tidak bergeming. Ia memberikan isyarat kecil kepada kepala keamanan hotel.

Seketika, barisan bodyguard berjas hitam menutup akses pintu masuk, mengunci semua orang yang baru datang di dalam lingkaran yang telah disiapkan Baskara.

"Selamat datang, Mama. Selamat datang juga untuk para komisaris yang terhormat," sapa Baskara dengan nada datar yang mengerikan.

Billy melangkah maju, menunjuk tepat ke arah wajah Baskara.

"Jangan belagak tenang, Bas! Kami tahu semua sandiwara ini! Kami punya bukti foto kamu dan Areta, dan sekarang perusahaan sedang dalam krisis karena skandalmu! Kami di sini untuk mencabut mandat kepemimpinanmu!"

Tawa Baskara meledak, namun tawanya tidak sampai ke matanya.

Ia melangkah maju perlahan, membiarkan suasananya hening total hingga hanya terdengar detak jantung para pengkhianat itu.

"Bukti foto? Areta?" Baskara menoleh ke arah

Alena, lalu kembali menatap Billy dengan seringai predator.

"Kalian bicara soal foto yang kalian susun sendiri di ruang kerjaku? Sayang sekali, semua rekaman CCTV dari ruangan itu, termasuk rekaman suara saat kalian merencanakan kehancuranku, sudah ada di tangan pengacaraku sejak satu jam yang lalu."

Wajah Billy seketika berubah pucat pasi.

"Dan untuk kalian, para pemegang saham yang terhormat," Baskara beralih menatap para pria berjas di belakang keluarga mamanya.

"Kalian datang karena mengira saya akan jatuh? Coba cek ponsel kalian sekarang. Laporan keuangan audit independen yang baru saja saya rilis, serta bukti penggelapan dana yang dilakukan oleh Yanuar dan Arum selama lima tahun terakhir, sudah terkirim ke bursa saham dan pihak berwajib."

Baskara mendekati mamanya, membisikkan sesuatu yang membuat wanita tua itu gemetar hebat.

"Ayah memang orang yang baik, Ma. Tapi dia tidak sebodoh yang Mama kira. Dia mewariskan perusahaan ini kepadaku, bukan untuk dibagikan kepada benalu seperti kalian."

"Security!" panggil Baskara dengan suara menggelegar.

"Bawa mereka keluar. Dan pastikan, setelah hari ini, tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menginjakkan kaki di properti keluarga kami atau perusahaan, selamanya."

Detik itu juga, suasana ballroom yang tadinya penuh tawa berubah menjadi jeritan kepanikan saat para pengkhianat diseret paksa keluar dari pesta, disaksikan oleh ratusan tamu undangan dan kamera media yang tak berhenti merekam.

Di tengah keheningan mencekam setelah para pengkhianat itu diseret keluar, sorot lampu sorot utama ballroom perlahan kembali melembut.

Ketegangan yang sempat mencengkeram ruangan seketika mencair, berganti dengan kelegaan yang luar biasa.

Baskara menoleh ke arah istrinya. Di balik gaun kebaya mewahnya, Alena menatapnya dengan mata berkaca-kaca, memancarkan rasa cinta, bangga, dan rasa aman yang begitu mendalam.

Tanpa memedulikan ratusan pasang mata yang sedang memerhatikan mereka, Baskara mendekatkan wajahnya.

Ia meraih pinggang Alena, lalu menempelkan bibirnya dengan lembut di bibir sang istri dalam sebuah ciuman penuh kasih yang menyegel kemenangan mereka hari itu.

Prok... prok... prok...!

Seketika, tepuk tangan meriah dan riuh membahana di seluruh penjuru ballroom.

Para karyawan setia, para mitra bisnis terhormat, hingga para pemegang saham yang benar-benar tulus mendukung Baskara berdiri dan memberikan penghormatan berupa tepuk tangan panjang.

Suara sorak-sorai dan ucapan selamat bergemuruh, merayakan akhir dari segala intrik busuk sekaligus awal lembaran baru kehidupan mereka.

Baskara melepaskan ciumannya perlahan, menatap wajah Alena yang merona merah, lalu tersenyum tulus.

"Selamat datang di dunia yang sebenarnya, Nyonya Baskara," bisik Baskara mesra di telinga istrinya, siap melangkah menuju masa depan baru bersama wanita yang paling ia cintai.

1
Aghitsna Agis
udah bilang aja baskara dan iztrinya meninggal.jad ngungsi dulu sambil selidiki siapa yg telah membakar toko rotinya
sri hastuti
habis kan keluargamu baskara yg spt iblis itu, keterlaluan membahayakan nyawa orang, sikat semua ,bila perlu masukkan ke penjara semua 😡😡😡😡
sri hastuti
kok double???
Manis
kok di ulang?
Bunga Andthea
up lgi kak
lilik indah
ttp semangat walau sdikit yg komen kak
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Ghiffari Zaka
ih kok kejam banget ya baskara??? apa setelah menikah nnt Alena akan seperti di kisah novel2 yg lain,tersiksa,di acuhkan ,di sia-siakan bahkan di anggap tidak ada,kok AQ jadi ke sn ya mikirnya Thor....
kayaknya sih gt,apa lagi usia mereka yg beda jauh dan pernikahan yg hanya di kalangan keluarga aja,duh Alena kasihan km,bagus kamu mati aja lah😭😭😭😭😭,tp lok iya gt ceritanya AQ ud baca yg mirip2 sih Thor...jadi bsk2 lagi AQ gak mau lah bacanya,soalnya buat asam lambung q bs naik Thor...gak rela lok perempuan tu di buat seperti itu😭😭😭😭
Ghiffari Zaka
semoga ceritanya asyik ya Thor...dan semoga sukses di karya barunya🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!