Dipecat dari pekerjaan kota dan dicampakkan oleh kekasihnya dalam satu hari membuat Aditya Pratama, seorang pemuda yatim piatu, tidak punya pilihan selain pulang ke desa untuk mengolah tanah warisan orang tuanya yang sangat luas. Namun, usaha perkebunan dan peternakannya berujung kegagalan total hingga uang tabungannya ludes tak bersisa. Di tengah rasa putus asa dan kebingungan menghadapi masa depan, sebuah fenomena gaib memberinya pencerahan berupa Sistem Perkebunan dan Peternakan yang mengubah tanah gersangnya menjadi ladang emas serta menarik perhatian wanita-wanita cantik di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui sela-sela jendela kamar Adit.
Burung-burung berkicau riang di atas pohon mangga depan rumah, menyambut fajar yang cerah di Desa Sukamaju.
Adit membuka matanya, mengeliat sebentar, lalu segera melangkah keluar rumah menuju halaman belakang.
Hari ini adalah hari pertama setelah saluran Irigasi Mata Air Suci bekerja penuh mengaliri lahan pertaniannya selama semalam suntuk.
Namun, baru saja Adit membuka pintu belakang, matanya langsung terbelalak lebar.
"Ini... benar-benar luar biasa," gumam Adit tak percaya.
Lahan seluas dua hektar di belakang rumahnya tampak berubah total bagaikan surga kecil yang tersembunyi.
Aroma harum yang sangat lembut dan menyegarkan merebak memenuhi udara, mengalahkan bau tanah basah biasa.
Tanaman Buah Langka yang baru ditanamnya beberapa hari lalu kini telah tumbuh menjulang setinggi dua meter, dengan daun-daun hijau berkilauan seperti dilapisi lilin Murni.
Buah-buah berukuran besar dengan warna keemasan tampak menggantung lebat di setiap dahan, memancarkan pendar cahaya tipis.
Bukan hanya tanaman, area peternakan unggas pun mengalami perubahan yang tak kalah menakjubkan.
Kandang Bebek Peking Berapi dan Puyuh Zamrud terlihat jauh lebih bersih dan segar.
Bulu-bulu bebek tampak makin merah mengilap seperti kobaran api kecil, sedangkan burung puyuh berkeliaran dengan lincah sambil mengeluarkan cicitan nyaring bernada gembira.
"Bos! Bos Adit!"
Dari arah ujung kandang, Bang Jarwo dan Bang Sopo berlari-lari kecil menghampiri Adit dengan wajah panik bercampur heran.
"Ada apa, Bang? Kok seperti dikejar setan begitu?" tanya Adit terkekeh.
"Bukan setan, Bos! Ini... telur-telur ini!" kata Bang Sopo sambil menyodorkan keranjang bambu yang dibawanya.
Di dalam keranjang itu, berjejer puluhan telur puyuh yang ukurannya hampir dua kali lipat dari telur puyuh kemarin.
Permukaan cangkangnya berwarna hijau zamrud berkilau dengan pola lingkaran emas yang sangat indah.
"Tadi pagi pas saya sama Sopo mau ambil telur, kami kaget setengah mati, Bos!" ujar Bang Jarwo menimpali.
"Jumlah telurnya naik dua kali lipat! Waktu ditimbang, beratnya mantap sekali dan baunya wangi seperti bunga."
[Ting!]
[Pemberitahuan Sistem: Efek Irigasi Mata Air Suci Bekerja Optimal!]
[Seluruh tanaman dan ternak mengalami peningkatan kualitas nutrisi sebesar 100%.]
[Laju Pertumbuhan Tanaman Meningkat 150%.]
[Produktivitas Unggas Meningkat 200%.]
Adit tersenyum puas membaca jendela status transparan yang mengambang di depannya.
Investasi nekatnya menembus Hutan Larangan kemarin terbayar tuntas dengan hasil yang amat memuaskan.
"Kalian tenang saja, ini hasil dari racikan pakan super dan air irigasi baru kita," jelas Adit menenangkan kedua pekerjanya.
"Mulai hari ini, tingkatkan jumlah keranjang penampung. Kita akan memanen telur dan buah ini setiap hari."
"Siap, Bos! Kami kerjakan sekarang juga!" sahut Bang Jarwo dan Bang Sopo penuh semangat.
Adit kemudian melangkah mendekati pohon Buah Langka dan memetik satu buah keemasan yang paling besar.
[Memindai Item: Buah Keemasan Suci.]
[Karakteristik: Mampu memulihkan stamina secara instan, meningkatkan daya tahan tubuh, dan memperhalus kulit.]
[Harga Jual Rekomendasi: Rp 500.000 / buah.]
"Luar biasa, satu buah saja harganya lima ratus ribu," batin Adit kagum.
Tiba-tiba, ponsel di dalam saku celananya bergetar hebat berkali-kali.
Adit merogoh ponselnya dan melihat puluhan notifikasi berita serta pesan WhatsApp yang masuk secara bersamaan.
Pesan teratas berasal dari Maya Saphira, lengkap dengan sebuah tautan artikel berita daring.
"Coba buka tautan ini, Bom pertamaku sudah meledak!" tulis Maya dalam pesannya.
Adit menekan tautan tersebut dan seketika mengarahkan matanya ke judul artikel utama yang menjadi trending topic nomor satu di media sosial:
[SKANDAL BESAR RESTORAN MAHKOTA: Dugaan Suap Mantan Kades Sukamaju dan Pemalsuan Dokumen Standar Pangan Terbongkar!]
Isi artikel itu mengupas secara tajam dan terperinci bagaimana Restoran Mahkota milik keluarga Anton menggunakan bahan makanan berkualitas rendah yang disulap dengan zat kimia berbahaya.
Tak hanya itu, artikel tersebut memuat bukti foto transfer uang dari rekening pribadi Anton kepada Mantan Kades Supri untuk merebut lahan warga secara ilegal.
Foto-foto dokumen asli dan wawancara eksklusif saksi kunci dipaparkan dengan sangat rapi oleh Maya.
Dalam waktu kurang dari dua jam, artikel tersebut telah dibagikan ratusan ribu kali oleh netizen.
Kolom komentar dibanjiri kemarahan publik yang menuntut boikot total terhadap seluruh cabang Restoran Mahkota.
"Luar biasa cepat pergerakannya," gumam Adit terkagum-kagum dengan efisiensi kerja jurnalis barunya itu.
Belum selesai Adit membaca artikel tersebut, sebuah panggilan telepon masuk dari Riana.
Adit segera menggeser tombol hijau pada layar.
"Halo, Riana?"
"Dit! Kamu sudah lihat berita hari ini?!" suara Riana terdengar sangat gembira dan penuh antusiasme dari seberang telepon.
"Iya, aku baru saja bacanya," jawab Adit sambil tersenyum.
"Gila banget, Dit! Restoran Mahkota cabang kota langsung didatangi petugas dinas kesehatan dan kepolisian pagi ini!"
"Pelanggan mereka langsung membatalkan semua reservasi! Sementara itu, Restoran Nusantara kita malah dibanjiri antrian sampai meluber ke luar jalan!"
"Orang-orang kota heboh mau mencoba menu khusus Telur Zamrud dan Bebek Berapi kita setelah berita itu viral!" lanjut Riana antusias.
"Baguslah kalau begitu. Stok hari ini akan melimpah dua kali lipat, jadi kamu tidak perlu khawatir kekurangan bahan," kata Adit.
"Serius, Dit?! Kamu memang penyelamatku! Nanti malam aku ke rumahmu ya, mau bawa laporan keuntungan minggu ini sekalian merayakan kemenangan kecil kita!"
"Boleh, datang saja. Aku tunggu di rumah," balas Adit santai sebelum menutup telepon.
Adit memasukkan ponselnya kembali ke saku.
Ia menatap langit pagi Desa Sukamaju dengan pandangan penuh percaya diri.
Serangan balasan kepada Anton baru saja dimulai, dan hasilnya sudah membuat kerajaan bisnis musuhnya bergoyang hebat.
[Ting!]
[Pemberitahuan Sistem: Reputasi Produk Tuan Meningkat Pesat di Tingkat Regional.]
[Mendapatkan 300 Poin Pengalaman.]
Adit mengepalkan tangannya.
"Ini baru permulaan, Anton. Aku akan memastikan kamu kehilangan segalanya."
hasil panen terlalu OP..
harga terlalu enggak bgt.. pace cepet.
sy jadi agak kurang menikmati..
utk nextnya bs dipertimbangkan saran supaya lebih bisa dinikmati
😁 jadi keinget film sopo Jarwo baca nama nya.