Novel ini adalah sequel dari Novel karya author yang berjudul Perjalanan Istimewa.
Novel ini berkisah tentang Shima Killa Danurdara, Adik bungsu dari Bopo Arjuna dan juga Bahuraska Adiwangsa, putra Arjuna yang merupakan Bopo Muda Desa Banyu Alas.
Tak hanya itu, di Novel ini juga menceritakan mengenai Bima, adik angkat Aka yang menjadi orang paling dekat dengan Aka dan selalu menemani setiap langkah Aka.
Bagaimanakah perjalanan masa kecil mereka?
Ikuti kisah Shima dan Bahuraska (Aka) juga Bimantara di Novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Balas Dendam
"Kamu yakin di sini, Nang?" Tanya Arjuna pada Aka saat mereka berada di sebuah pohon besar yang entah ada di wilayah mana.
"Iya, Mo. Dek Bima pasti di sini." Jawab Aka dengan yakin karena ia memiliki keterikatan khusus dengan Bima.
"Gimana ceritanya, ko ada di pohon?" Tanya Arjuna dengan kebingungan. Sejauh ia melihat, tak ada Bima di pohon itu.
"Ayo kita tolong Adek, Mo!" Kata Aka sambil menggoyang-goyangkan tangan Arjuna yang ia gandeng.
"Tapi dimana Adek?" Tanya Arjuna.
"Mungkin di dalem pohon atau di puncak pohon, Mo." Jawab Aka dengan asal.
Meski jawaban putranya terdengar asal, namun Arjuna tetap akan mencoba untuk mencari keberadaan Bima di pohon itu.
Arjuna mulai memejamkan mata. Ia memanggil elang kesayangannya dan meminta elang untuk mencari keberadaan Bima di dahan - dahan pohon.
"Gak ada di dahan, Mo." Kata Aka.
"Kamu tau dari mana, Nang?" Tanya Arjuna.
"Aku lihat dari mata elang." Jawab Aka dengan santai.
"Maksudnya?" Tanya Arjuna yang kembali di buat terkejut.
"Aku lihat apa yang di lihat sama Elang." Jelas Aka yang membuat Arjuna sampai tak habis pikir.
Setelah mendengar itu, Arjuna kemudian mengerahkan tenaga dalamnya untuk membelah pohon yang ada di depannya.
Duaaaar!
Terdengar suara ledakan yang sangat kuat hingga membuat pohon itu terbelah menjadi dua.
"Itu Dek Bima, Mo!" Seru Aka yang kemudian berlari menghampiri Bima yang terlilit jalinan rambut di tengah - tengah pohon yang terbelah. Bima tampak sangat lemas dan tak sadarkan diri.
"Astaghfirullah ya Allah." Seru Arjuna saat melihat Bima yang terlilit jalinan rambut dari ujung kaki hingga sebatas dada.
Arjuna berusaha melepaskan jalinan rambut yang membungkus putranya, namun jalinan rambut itu sangatlah sulit terurai.
"Romo, minggir!" Perintah Aka dengan dada yang naik turun. Ia terlihat sangat marah saat tau jika Bima dalam kondisi terlilit seperti itu.
Sambil berkomat - kamit, Aka mengarahkan jari telunjuk dan jari tengahnya tepat di tengah - tengah dada Bima. Ia kemudian membelah lilitan rambut itu dengan kedua jarinya.
Begitu lilitan berhasil terbuka, Arjuna dengan cepat mengambil alih tubuh Bima yang masih belum sadarkan diri.
"Aaaaaaaaaaa!" Terdengar suara teriakan kesakitan yang sangat menggelegar ketika rambut itu terbelah.
"Siapa yang berani mengambil mangsaku!" Seru suara yang menggelegar itu.
Tak berselang lama kemudian, terlihat dua buah cahaya kemerahan yang semakin lama, semakin mendekat ke arah Arjuna dan Aka. Semakin mendekat, semakin jelas juga sumber cahaya kemerahan yang ternyata dari dua buah bola mata.
Pemilik dari bola mata kemerahan itu adalah makhluk tinggi besar dengan kulit hitam legam, rambut panjang menjuntai dan memiliki taring atas sepanjang dada.
"Waah, besar sekali itu, Mo." Kata Aka yang justru nampak heran dengan sosok yang amat sangat besar itu.
"Kalo Buto (raksasa) emang sebesar itu, ya, Mo?" Tanya Aka kemudian.
"Iya itu Buto (raksasa), Nang. Kalo kecil namanya semut." Jawab Arjuna yang membuat Aka tertawa.
"Kurang ajar! Kembalikan mangsaku." Ujar makhluk itu sambil menunjuk ke arah Bima yang berada di gendongan Arjuna.
"Enak aja! Ini anakku. Jangan seenaknya mau mangsa anakku." Jawab Arjuna.
"Itu mangsaku. Itu adalah persembahan untukku." Sergah Makhluk yang masih terus meminta Bima.
"Ooh, jadi anakku mau di jadikan tumbal? Berani-beraninya mau menjadikan anakku tumbal." Ujar Arjuna yang terlihat marah saat ini.
"Pasti Pakde - Pakde itu." Kata Aka.
"Kamu ingat wajah orangnya, Nang?" Tanya Arjuna.
"Ingat lah, Mo!" Jawab Aka dengan yakin.
"Kita datangi orang itu setelah membereskan makhluk ini." Kata Arjuna yang di jawab anggukan oleh Aka.
"Jaga Adikmu, Nang." Titah Arjuna yang kemudian meletakkan Bima di tanah dengan kepala yang berada di pangkuan Aka.
Setelah itu, Arjuna mulai memejamkan mata dengan tangan bersidekap dada. Ia kemudian mulai menyerang sosok makhluk di hadapannya dengan serangan yang tak dapat terlihat oleh makhluk sembarangan.
Setiap mendapat serangan, Makhluk itu berteriak kesakitan. Namun, Makhluk itu tak tinggal diam, ia mulai mempelajari serangan Arjuna hingga akhirnya bisa menghalau serangan yang dilakukan oleh Arjuna.
"Berani-beraninya melawan Romoku!" Kata Aka yang masih duduk sembari melihat pertarungan antara Romonya dan makhluk besar di hadapannya.
Namun, Aka tak tinggal diam. Sambil memeluk Bima, ia memejamkan mata dan mulai membantu Romonya menyerang makhluk besar itu dengan cara yang sama seperti apa yang di lakukan Arjuna.
Serangan dari dua orang itu, tentu membuat makhluk besar itu kewalahan. Ia berkali - kali terkena serangan dari Arjuna dan Aka hingga membuat kulit tubuhnya seperti di sayat-sayat.
"Ampuun! Ampuuun!" Teriaknya yang memohon ampunan karena tak sanggup menahan rasa sakit yang di timbulkan oleh serangan itu.
Tak ada ampun di kamus Arjuna bagi siapa saja yang berani mencelakai keluarganya. Setelah puas menyerang, Arjuna kemudian membakar makhluk besar itu hingga habis menjadi debu.
"Bim... Bima... Bangun, Nak, ini Romo dan Mamas." Lirih Arjuna dengan suara bergetar. Tentu saja hatinya terasa sakit setelah mengetahui jika putranya akan di jadikan tumbal oleh orang yang tidak di kenal.
"Dek Bima... Bangun, Dek. Ini Mamas dan Romo udah jemput Dek Bima." Ujar Aka yang turut berusaha membangunkan Bima.
"Nak, bangun, ayo kita pulang." Ajak Arjuna lagi.
"Romo... Mamas..." Lirih Bima dengan suara serak. Perlahan netranya terbuka dan ia menatap ke arah Romo juka Mamasnya.
"Alhamdulillah." Ucap Arjuna dan Aka.
"Romo sama Mamas kemana aja? Kok Adek di tinggalin sendirian." Tanya Bima yang kemudian menangis, meluapkan rasa lega setelah terbelenggu dalam ketakutan.
"Maafin Romo ya, Nak. Romo janji gak akan ninggalin Adek lagi." Kata Arjuna. Ia mengode Aka agar tak menceritakan apapun pada Bima supaya Bima tak ketakutan.
"Iya, Mamas juga janji gak akan ninggalin Adek. Adek jangan takut ya." Kata Aka.
Setelah Bima sadar, Aka dan Arjuna segera membawa Bima kembali. Arjuna kemudian meminta Bima menutup mata ketika sudah berada di dekat rumah. Setelah itu, Arjuna segera mengembalikan sukma Bima ke raganya.
Bima pun terbangun tepat setelah sukmanya kembali. Ia melihat keluarganya yang sudah ramai mengelilingi, kecuali Para Bopo yang tak ada di sana. Ucapan syukur pun bergema ketika Bima kembali tersadar.
Namun, Aka dan Arjuna tak lantas kembali. Mereka berdua sekarang mencari keberadaan orang yang hendak menjadikan Bima tumbal.
"Mamas tolong bayangin wajah orang itu." Pinta Arjuna.
Aka pun patuh, ia memejamkan mata, kemudian membayangkan sosok pria yang menemuinya. Arjuna lalu memegang bahu Aka dan membawa putranya menuju ke tempat pria itu berada.
Braaak!
Arjuna mendobrak pintu sebuah ruangan remang-remang tempat pria itu berada. Pria yang sedang bersemedi itu pun terjingkat karena kaget.
"Jadi kamu yang mau menumbalkan anakku." Kata Arjuna dengan geram.
Tak lagi banyak bicara, Arjuna segera menghabisi pria jahat yang sudah menumbalkan orang lain demi kekayaannya itu, tanpa memberikan kesempatan si pria untuk berbicara.
Arjuna menghabisi orang jahat itu dengan satu tangan, sementara tangan sebelahnya ia gunakan untuk menutup mata Aka agar tak melihat apa yang sedang ia lakukan.
Setelah membalaskan dendamnya, barulah Arjuna membawa Aka kembali ke rumah tanpa membiarkan Aka melihat pria yang tewas dengan kondisi leher patah.
perpaduane Aksa, Arjuna plus Dipta
🤣🤣🤣🤣