NovelToon NovelToon
SIAPA YANG MENYIMPAN NAMAKU?

SIAPA YANG MENYIMPAN NAMAKU?

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:45
Nilai: 5
Nama Author: Omni Tales

"Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata." Nio tidak memiliki identitas, gender yang jelas, maupun ingatan masa lalu. Dia hanya hidup bersama pendar layar monitor dan residu informasi yang dibuang orang lain.
Ketika sebuah kasus anomali mendatangi meja kerjanya, Nio menemukan bentuk kejahatan yang tidak biasa: seseorang sedang mencabut sejarah manusia hingga tak bersisa. Di balik berkas-berkas mati yang membusuk dalam sistem, sebuah teror berinisial Zero mulai mengawasi setiap geraknya. Berpacu dalam kesepian dan ketakutan, Nio harus memilih: membongkar rahasia yang terkunci, atau menjadi lembaran kosong berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Omni Tales, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Korban-Korban Sebelum Milo

Kegelapan pekat membungkus ruangan lantai dua seketika. Hujan deras di luar kian lebat, menghempas kaca jendela dengan irama acak yang bising.

"A-ARGH!! NIO!!" jerit Nora histeris sambil memeluk pinggang Nio dari belakang dengan tubuh gemetaran hebat.

Nio menepis tangan wanita itu dengan sekali sentakan kuat. "DIAM!! Jangan bertindak bodoh saat situasi memanas!!"

"T-tapi... lampu mati... dan orang di luar itu..." rintih Nora lirih, tergeletak di lantai kayu sambil memegangi pergelangan tangannya yang memerah.

'Cih, bajingan itu pikir bisa membuat gue panik cuma dengan memutus saklar tua ini?' batin Nio sinis, melangkah tenang ke arah meja kerja.

Jemari Nio merayap masuk ke dalam saku jaketnya. Dia meraba tekstur kain polos dan serat halus selembar kertas kosong di sakunya, membiarkan benda itu mengikat kesadarannya tetap tenang di tengah panik.

"Kertas kosong ini tidak bicara, tetapi dialah satu-satunya hal yang tidak pernah berbohong padaku," gumam Nio rendah.

Kael melangkah perlahan mendekati jendela, mengintip dari balik tirai kusam. "Bayangan amorf di depan kedai sudah pergi. Dia hanya memutus sekring luar."

"Pria tua, bantu aku menyalakan generator cadangan di sudut ruangan," perintah Nio tegas.

"Siap, Pakar," sahut Kael terkekeh pelan di tengah kegelapan.

Dalam hitungan detik, suara raungan mesin generator mini bergetar di lantai kayu. Pendar redup dari layar monitor Nio kembali menyala satu per satu, memancarkan cahaya biru yang membelah keheningan senyap.

Nora merangkak mendekat, menatap Nio dengan pandangan pasrah dan memohon. "N-Nio... maafkan aku... aku janji tidak akan berteriak lagi..."

"Bagus. Tetap di lantai dan jangan menghalangi pandanganku," cetus Nio dingin tanpa sudi menoleh.

"I-iya... aku nurut..." bisik Nora pasrah, menyandarkan dagunya di tepi kursi Nio.

Nio memusatkan seluruh fokusnya pada baris-baris kode yang sempat teracak oleh serangan Zero. Rekonstruksi data mentah harus dilakukan sebelum jejak digital musuh menguap sepenuhnya dari memori lokal.

'Lu pikir cuma lu yang bisa main balik, Zero? Gue ini pakar data mati,' batin Nio sambil menari kencang di atas papan ketik.

"Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata," ucap Nio tiba-tiba, membuat Nora menengadah bingung.

"M-maksudmu... apa, Nio?" tanya Nora cemas.

"Maksudku, nama adikmu hanyalah satu butir debu di dalam sistem raksasa yang sedang dihancurkan Zero," tegas Nio.

Jemari Nio menekan tombol enter dengan hentakan keras. Layar monitor mendadak memunculkan sebuah jendela arsip tersembunyi yang terkunci oleh enkripsi tingkat tinggi.

"Ngh... berhasil," desah Nio pelan saat deretan angka koordinat mulai terurai menjadi berkas nama.

Kael mendekati meja kerja Nio sambil membawa cangkir kopi yang sudah dingin. "Apa yang kau temukan di dalam sana, Nio?"

"Pola kejahatan berantai skala kota," jawab Nio mantap. "Milo bukanlah korban pertama."

"A-APA?!" pekik Nora tertahan, langsung berdiri tegak di samping kursi Nio. "A-adikku bukan yang pertama?!"

"Tutup mulutmu dan lihat layar ini!!" gertak Nio dengan vokal menekan.

Nora tersentak kaku, merapatkan kedua tangannya di dada sambil mengangguk cepat.

Nio menunjuk sebuah foto digital kusam yang tertera di sudut kiri monitor. Sosok pria paruh baya bertato burung elang di lehernya terpampang jelas di sana.

"Arthur Vance. Mantan kepala kearsipan sipil kota lima tahun lalu," kata Nio membacakan data. "Eksistensinya tereliminasi total pada pertengahan tahun 2021."

"T-tereliminasi... maksudnya bagaimana?" tanya Nora gagap.

"Dokumen kelahirannya terhapus, rekening bank miliknya hilang, dan seluruh keluarganya mendadak lupa kalau Arthur pernah hidup," sahut Nio datar.

"Hah... bagaimana bisa seluruh keluarga lupa pada anggotanya sendiri?!" seru Kael dengan dahi berkerut dalam.

"Suntikan trauma psikologis dan manipulasi data sistematis," balas Nio. "Zero bekerja seperti tinta yang tersapu air hujan sebelum sempat mengering."

'Gila! Metode penulangan ulang sejarah ini benar-benar rapi. Orang ini murni psikopat jenius,' batin Nio bergejolak.

Nio menggeser kursornya ke bawah, membuka berkas dokumen kedua yang terenkripsi ganda. Foto seorang wanita muda berambut pirang dengan kacamata tebal mendadak muncul di layar.

"Elena Ross. Peneliti senior di bidang neuro-teknologi," ucap Nio membaca riwayat hidup korban kedua. "Hilang tanpa preseden tiga tahun lalu."

"Elena Ross... rasanya aku pernah mendengar nama itu di berita lama," gumam Kael mengingat-ingat.

"Tidak mungkin kau pernah mendengarnya, Paman," potong Nio cepat. "Arsip beritanya di internet sudah diubah menjadi kisah kecelakaan fiktif orang lain."

Nora menutup mulutnya, air matanya menetes pelan mengaliri pipinya yang pucat. "M-mereka semua... bernasib sama seperti Milo?"

"Benar. Bagi dunia digital dan nyata, mereka semua kini hanyalah sosok nirnama," tegas Nio.

"T-tapi... kenapa Zero melakukan semua kejahatan gila ini?!" jerit Nora frustrasi. "Apa salah adikku?! Apa salah orang-orang itu?!"

Nio memutar kursinya, menatap lurus ke dalam iris mata Nora yang bergetar hebat. Cengkeraman jemari Nio mendarat di bahu wanita itu, menahannya agar tidak runtuh.

"Zero menganggap identitas adalah sumber penderitaan manusia," bisik Nio dengan nada dominan. "Dia merasa sedang menyelamatkan mereka dari siksaan dunia."

"I-itu gila!! Itu pemikiran iblis!!" amuk Nora sambil memegang lengan Nio erat-erat.

"A-aku mohon, Nio... hentikan dia... tolong selamatkan Milo!!" rintih Nora memohon-mohon, matanya menatap Nio bagai sosok penyelamat tunggal.

'Bagus. Rasa takut ini yang membuatmu berlutut padaku,' batin Nio puas melihat penaklukan total wanita di depannya.

"Dengarkan aku baik-baik, Nora," desis Nio tepat di depan wajah Nora. "Kalau kau ingin adikmu kembali, kau harus menyerahkan seluruh kendali hidupmu padaku selama kasus ini berjalan."

"I-iya! Aku serahkan semuanya padamu!! Aku janji akan patuh... N-Nio..." bisik Nora pasrah, mengangguk konstan di bawah tatapan tajam Nio.

Nio melepaskan cengkeramannya pada bahu Nora, lalu kembali menghadap monitor. Residu ketakutan di dalam ruangan itu perlahan berganti menjadi ambisi dingin yang menyala-nyala.

"Lihat ini. Ada satu anomali besar di antara semua korban," tunjuk Nio pada grafik garis di layar.

"Anomali apa, Nio?" tanya Kael serius.

"Seluruh korban, mulai dari Arthur Vance, Elena Ross, sampai Milo... semuanya pernah mengunjungi tempat yang sama sebelum mereka hilang," jelas Nio.

"T-tempat apa?!" selak Nora tergesa.

"Gedung arsip tua di pinggiran distrik selatan. Tempat yang kini tercatat sebagai tanah kosong Tabula Rasa di peta digital kota," jawab Nio mantap.

Nio bangkit dari duduknya, merapikan jaket hitamnya yang agak kusam. Dia meraba kertas kosong di sakunya sekali lagi, merasakan kepastian yang mengalir ke seluruh tubuhnya.

"Kita akan ke sana malam ini juga," kata Nio dengan vokal tak terbantahkan.

"T-tapi luar sedang hujan deras, Nio! Dan Zero baru saja mengancam kita!!" sergah Nora cemas.

"KAU MAU ADIKMU KEMBALI ATAU TIDAK?!" bentak Nio keras, menghentikan kalimat Nora seketika.

"M-mau... a-aku ikut..." cicit Nora ketakutan, menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar dari arah pintu depan lantai bawah kedai Kael. Suara kayu yang patah berderak nyaring, disusul derap langkah kaki berat yang melangkah masuk ke dalam area kedai.

'Cih! Bajingan itu tidak menunggu besok!' batin Nio gusar, matanya menyempit menatap pintu tangga.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!