Dara Calya Sania, seorang gadis pincang yang hidupnya penuh dengan penderitaan. Dara dijual pamannya untuk menikahi Gavin Mahardika Abyakta, pria tuli cucu dari pemilik perkebunan teh, Juragan Darmawan, dengan mahar satu miliar rupiah.
Dara yang sejak kecil sudah yatim-piatu, tidak bisa menolak. Terlebih lagi uang mahar itu untuk bayar biaya hidupnya selama tinggal bersama Rama dan Tina.
Bagaimana reaksi Dara ketika tahu Gavin adalah orang yang pernah ditolongnya dahulu dan membuat kakinya pincang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Malam kembali menyelimuti rumah keluarga Abyakta dengan suasana yang tenang. Setelah makan malam bersama dan mengobrol sejenak di ruang keluarga, Dara berpamitan lebih dulu untuk beristirahat. Ia, lalu masuk ke kamar dengan langkah pelan.
Begitu pintu kamar tertutup, Dara membuka lemari dan menatap deretan pakaian tidur barunya. Tangannya berhenti pada satu set lingerie berwarna hitam dengan model yang sederhana, tetapi tetap terlihat anggun.
Dara memiringkan kepala sambil bergumam pelan, "Mama bilang seorang istri juga harus menjaga penampilannya di depan suami."
Dara mengingat kembali semua nasihat Sherly. Bagi Dara yang polos, semua itu bukan tentang menggoda suami, melainkan belajar menjadi istri yang baik. Tanpa berpikir panjang, ia mengambil pakaian itu dan membawanya masuk ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, Dara keluar dengan rambut yang masih sedikit basah. Lingerie hitam itu dibalut kimono tipis berwarna senada yang hanya diikat longgar di bagian pinggang. Ia sama sekali tidak merasa sedang mengenakan pakaian yang terlalu menggoda. Yang ada di pikirannya hanya satu.
"Semoga Aa Gavin senang melihat aku belajar merawat diri."
Saat itu Gavin sedang duduk di sofa kecil dekat jendela sambil membaca laporan pekerjaan di tablet. Awalnya ia tidak terlalu memperhatikan ketika mendengar pintu kamar mandi terbuka. Namun, saat tanpa sengaja mengangkat kepala.Tangannya langsung berhenti bergerak. Tatapannya terpaku.
Dara berdiri beberapa langkah darinya dengan wajah bersih tanpa riasan. Rambut panjangnya yang masih lembap terurai rapi di bahu. Pakaian tidur hitam yang dikenakannya membuat kulitnya tampak semakin cerah.
Gavin spontan menelan ludah.
Dara justru tersenyum polos. "Aa, sudah selesai kerjanya?"
"I-iya," jawab Gavin terdengar sedikit kaku.
Dara tidak menyadari perubahan ekspresi suaminya. Ia sibuk merapikan ujung lengan kimono yang sedikit terlipat.
Setelah Dara duduk di atas ranjang sambil membaca buku, Gavin sama sekali tidak mampu lagi berkonsentrasi membaca laporan di tangannya. Tulisan-tulisan di layar tablet mulai tampak kabur. Pikirannya justru dipenuhi bayangan istrinya.
"Kenapa Mama membelikan banyak pakaian seperti itu?" gumam Gavin dalam hati. Ia mengembuskan napas panjang berkali-kali.
"Tenang, Gavin. Dia istrimu. Jangan berpikir macam-macam," lanjutnya dalam hati.
Sayangnya, semakin Gavin mencoba mengalihkan perhatian, semakin sulit ia melakukannya. Lima menit kemudian, ia menutup tablet yang sejak tadi dipegangnya. Gavin berdiri cepat.
"Aa?" Dara mengangkat wajah dari bukunya.
"Aku mau olahraga sebentar," balas Gavin berusaha tenang.
Dara berkedip heran. "Olahraga?"
"Iya."
"Jam segini?"
"Iya."
"Kenapa?"
Gavin mencari-cari alasan. "Biar badanku lebih sehat."
"Oh." Dara langsung mengangguk. "Kalau begitu semangat, Aa."
Tanpa menunggu lebih lama, Gavin segera keluar kamar menuju ruang gym pribadi di lantai bawah. Begitu pintu gym tertutup, ia langsung mengambil handuk. Ia mengusap wajahnya sendiri.
"Astaga! Aku benar-benar diuji malam ini."
Tak lama kemudian suara treadmill mulai terdengar. Setelah itu dilanjutkan dengan push-up, tit-up, dan angkat beban. Hampir semua alat olahraga dicobanya.
Peluh mulai membasahi kausnya. Setiap kali berhenti, bayangan Dara kembali muncul. Gavin menepuk pelan dahinya.
"Olahraga pun tidak mempan."
Keesokan paginya, suasana ruang makan kembali ramai oleh aroma masakan Mbok Darmi yang baru selesai menyiapkan sarapan. Sherly sudah duduk lebih dulu sambil menikmati secangkir kopi hangat.
Tak lama kemudian, Gavin menuruni anak tangga.
Begitu melihat putranya, Sherly langsung mengangkat sebelah alis. "Bawah mata kamu kok agak hitam?" tanyanya santai sambil tersenyum tipis.
Gavin menarik kursi, lalu duduk di tempatnya. "Kurang tidur."
"Kenapa?"
"Habis olahraga."
Sherly mengernyit pura-pura heran. "Olahraga? Semalam?"
"Iya."
"Sampai jam berapa?"
"Jam sebelas."
"Ooh, begitu."
Sherly buru-buru menyesap kopinya untuk menyembunyikan senyum yang hampir terlepas. Dalam hati, ia sudah bisa menebak alasan sebenarnya.
Tak lama kemudian, Dara datang sambil membawa sepiring potongan buah. Wajahnya terlihat segar dan ceria seperti biasa.
"Selamat pagi, Ma," sapa Dara ramah.
"Pagi, Sayang." Sherly tersenyum hangat. "Duduk sini."
"Iya, Ma."
Dara duduk di samping Gavin tanpa menyadari bahwa ibu mertuanya sedang menyusun rencana menggoda mereka. Sherly menatap menantunya dengan senyum penuh arti.
"Dara."
"Iya, Ma?"
"Bagaimana tidur semalam?"
Dara langsung menjawab tanpa berpikir panjang. "Nyenyak sekali."
Sherly mengangguk pelan. "Kalau Gavin?"
Dara menoleh ke arah suaminya, lalu menjawab dengan wajah polos. "Semalam Aa malah olahraga."
Sherly pura-pura terkejut. "Olahraga?"
"Iya. Katanya biar tubuh sehat."
"Oh ...." Sherly kembali menyesap kopinya agar tidak tertawa.
Beberapa detik kemudian, Sherly sedikit mendekat ke arah Dara. Suaranya dipelankan agar hanya mereka bertiga yang mendengar.
"Dara."
"Iya, Ma?"
"Kalian sudah ...?" Sherly mempertemukan kedua jari telunjuknya, lalu menggerakkannya pelan sambil menaik-turunkan kedua alisnya.
Dara mengernyit bingung. "Apa, Ma?"
"Yang pernah kita bahas dulu."
"
Dara berpikir keras. Keningnya sampai berkerut karena berusaha memahami maksud pertanyaan mertuanya. Beberapa saat kemudian, matanya berbinar.
"Oh!"
Sherly ikut tersenyum lebar. "Kalian sudah melakukannya?"
Dara mengangguk penuh semangat. "Iya!"
Wajah Sherly langsung berbinar. "Benarkah?"
"Iya. Aku sudah pakai baju seksi di kamar saat berdua sama Aa."
Sherly langsung membeku. "..."
Gavin yang sedang minum air hampir tersedak. Pria itu buru-buru menutup wajahnya dengan satu tangan.
Dara yang sama sekali tidak merasa ada yang aneh melanjutkan penjelasannya. "Kata Mama, seorang istri jangan malu memakai pakaian terbuka di depan suami. Aa juga bilang suka saat aku pakai baju yang dibelikan sama Mama kemarin. Tapi, kok, enggak seperti yang Mama katakan."
"Maksudnya?" tanya Sherly.
"Kata Mama, suami suka melihat istrinya saat tampil cantik dan seksi. Tapi, kok, Aa malah buru-buru tidur atau pergi ke gym," jelas Dara bingung.
Suasana meja makan mendadak hening. Beberapa detik kemudian, "Hahaha...!"
Sherly akhirnya tidak sanggup lagi menahan tawanya. Ia tertawa sampai bahunya berguncang.
"Ya ampun, Dara. Kamu ini benar-benar ...." Air mata sampai mengembun di sudut mata Sherly karena terlalu banyak tertawa.
Sementara Gavin hanya bisa menggeleng pelan sambil memijat pelipisnya. "Mama."
"Iya ... iya." Sherly mengangkat tangan tanda menyerah, meski tawanya belum juga berhenti. "Ampun. Aku benar-benar kasihan sama anakku."
Kalimat itu membuat Gavin langsung berdeham keras. "Ma."
"Iya, iya." Sherly kembali tersenyum jahil. "Sudah. Mama punya solusi."
Gavin langsung menatap ibunya dengan tatapan waspada. "Apa lagi, Ma?"
Sherly tersenyum puas. "Sebulan lagi Dara mulai kuliah."
"Iya."
"Sebelum kuliah dimulai, sebaiknya kalian pergi bulan madu."
"Hah?" Dara dan Gavin spontan mengucapkannya bersamaan.
Sherly tersenyum semakin lebar melihat kekompakan mereka. "Nah, kompak lagi, kan?"
Dara masih terlihat bingung. "Bulan madu?"
"Iya." Sherly mengangguk mantap. "Perginya ke vila pribadi Mama. Tempatnya ada di atas tebing. Dari sana langsung menghadap pantai. Suasananya tenang, udaranya sejuk, dan tidak banyak orang."
Sherly melirik Gavin sambil tersenyum penuh arti. "Cocok sekali untuk kalian berdua."
Mendengar itu, pipi Dara langsung memerah. Sementara Gavin hanya bisa mengembuskan napas pelan. Ia tahu betul, keputusan ibunya itu bukan sekadar mengajak mereka berlibur, melainkan memberi kesempatan agar ia dan Dara bisa benar-benar menikmati waktu berdua sebagai sepasang suami istri.
sukses selalu utk kak author 🤗