Pernikahan megah di Katedral St. George menandai bersatunya Edmund Alistair Blackwood, calon Raja Inggris sekaligus perwira militer, dengan Baxeena Valerio Desmon, wanita independen asal Los Angeles. Bagi publik, ini aliansi sempurna. Namun bagi Baxeena, ini adalah neraka.
Pria yang dipaksa ia nikahi demi menyelamatkan ibunya adalah mantan kekasih masa high school yang paling ia benci. Satu dekade lalu, hubungan mereka hancur akibat tragedi one-night stand Edmund yang berujung kehamilan.
Kini, Baxeena tak hanya terjebak dengan pria yang menghancurkan hatinya, tetapi juga harus menjadi ibu tiri bagi putri Edmund yang berusia 13 tahun—anak hasil pengkhianatan masa lalu yang amat membencinya.
Di tengah dinginnya tembok istana modern, tugas militer Edmund yang kerap memanggilnya ke garis depan memaksa Baxeena menghadapi konspirasi kerajaan dan penolakan sang anak tiri seorang diri. Sebuah reuni emosional yang berbahaya antara luka masa lalu, dendam, dan takdir yang belum usai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
##15
Di balik dinding-dinding batu granit yang dingin dan menjulang tinggi di Istana Buckingham, terdapat sebuah ruangan tertutup yang tidak pernah tersentuh oleh publik maupun kamera media.
Sebuah ruang audiensi pribadi berhiaskan karpet merah darah dan potret-potret penguasa terdahulu—menjadi saksi bisu di mana takdir sebuah dinasti dan aliansi politik kerap ditentukan dalam kesunyian.
Ratu Lizzeebeeth Blackwood duduk anggun di atas kursi berukir emas yang dilapisi beludru gelap. Gaun sutra kasmir berwarna hitam membungkus tubuhnya yang kaku, sementara rantai mutiara lima tingkat melingkari lehernya, membiaskan pendar dingin di bawah temaram lampu gantung porselen.
Di usianya yang hampir berkepala enam, garis-garis di wajah sang Ratu tidak sedikit pun mengikis aura kekuasaan yang absolut dan manipulatif.
Di hadapannya, seorang pria paruh baya berseragam formal kerajaan—Ajudan Utama Istana bernama Sir Thomas—berdiri dengan kepala tertunduk cermat, memegang dokumen rahasia bersampul kulit hitam.
"Hidupkan hukum kuno keluarga," suara Ratu Lizzeebeeth mengalun tenang, dingin, dan begitu kaku, seolah sedang mendiktekan takdir. "Pewaris tahta yang menikahi wanita yang bukan berdarah bangsawan wajib menjalankan 'Royal Duty Tour' enam bulan penuh di zona konflik sebagai pembuktian kesetiaan. Dan Alistair harus segera dipersiapkan. Kirim Alistair dua minggu lagi ke Timur Tengah. Kita jalankan tradisi."
Sir Thomas meremas pelan dokumen di tangannya, matanya membelalak tipis sebelum kembali menunduk rapat.
"Apakah kita tetap pada rencana awal, Lady? Bagaimana kalau keluarga Desmon curiga? AJ Desmon adalah pebisnis berpengaruh di Los Angeles, jika dia menduga ada konspirasi—"
"Tidak mungkin," potong Ratu Lizzeebeeth cepat. Kekehannya yang halus dan sarat akan cemoohan memecah keheningan ruangan. "Aku sudah membangun citra dan relasi bersama mereka bukan sebentar. AJ Desmon bukan orang baru. Dia tidak akan tahu apa pun di balik dinding-dinding ini."
Ratu Lizzeebeeth menyandarkan punggungnya yang tegap, menatap lurus ke arah lukisan minyak Alistair berseragam militer lengkap yang menggantung di dinding utama. Ada rasa tidak puas dan kekecewaan yang dalam yang menyala di mata sang Ratu setiap kali mengingat kelakuan putra tunggalnya itu.
Ia ingin menyadarkan Alistair. Ia ingin menyadarkan putranya yang sejak dulu selalu membangkang, menolak dipoles menjadi calon Raja yang sempurna, dan selalu memandang mahkota sebagai beban ketimbang kehormatan.
Ratu Lizzeebeeth Blackwood tidak pernah terima. Putranya—calon penguasa dinasti paling terpandang di Eropa—masih belum melupakan satu-satunya putri dari AJ Desmon.
Rupanya, rencana kotor yang ia rancang dengan sangat rapi untuk memisahkan dua manusia itu empat belas tahun lalu telah gagal secara mengenaskan.
Ratu Lizzeebeeth mengira waktu dan jarak akan membunuh rasa cinta konyol masa high school itu. Namun, kabar yang ia dengar dari jaringan intelijen pribadinya menunjukkan hal yang sebaliknya. Baxeena di Los Angeles sama sekali tidak melanjutkan hidupnya secara emosional; wanita itu tenggelam dalam dunia sendiri dan dikabarkan tidak akan pernah mau menikah dengan pria mana pun.
Dan Alistair? Putranya itu bagaikan pria gila yang kehilangan jiwanya, terus membeku dalam duka hingga celah aliansi bisnis datang.
Dengan kegilaan dan kecerdasan politiknya, Ratu Lizzeebeeth dengan cepat menyodorkan kembali putranya—yang memang sedari awal tergila-gila pada Baxeena—ke dalam skenario pernikahan ini. Namun kali ini, keuntungan besar sepenuhnya berpihak pada pihak kerajaan.
Menikahkan sang Pangeran dengan wanita yang bukan berdarah bangsawan seperti Baxeena justru membuat Kerajaan Inggris terlihat di mata publik internasional sebagai kerajaan modern yang adaptif, ramah, dan tidak kaku.
Bahkan majalah bisnis terkemuka dunia minggu lalu memuat nama mereka di halaman depan, memuji dinasti Blackwood sebagai keluarga terpandang yang tidak lagi mementingkan doktrin "darah murni" demi merangkul era baru.
Padahal, sejatinya semua itu adalah panggung sandiwara kotor.
Ratu Lizzeebeeth ingin Baxeena tahu posisi aslinya sebagai rakyat biasa/non-bangsawan. Ia sengaja melemparkan wanita Los Angeles yang berjiwa bebas itu ke dalam labirin etika, protokol kaku, dan tata cara istana yang rumit agar Baxeena Di permalukan selama pernikahan berlangsung.
Dengan perbedaan etika, kelas, dan tekanan publik yang masif, Baxeena tentu tetap akan membenci Alistair dan menganggap pria itu sebagai sumber penderitaannya.
Lebih-lebih dengan situasi Violet. Sang Ratu—yang sedari awal diam-diam mengizinkan cucunya tetap berhubungan rahasia dengan Katherine—merasa semua potongan catur ini berjalan dengan sangat lancar.
Ratu tahu Violet akan terus menyusahkan Baxeena, dan Alistair yang selalu terkekang oleh kemarahan serta rasa benci sang istri pasti tidak akan tahan bertahan di dalam lingkaran neraka tersebut.
Ratu Lizzeebeeth menyunggingkan senyum sinis yang amat beracun. Jemarinya yang dihiasi cincin stempel kerajaan mengetuk pelan armrest kursi kayu.
"Baxeena..." gumam sang Ratu pelan, memanggil nama menantunya dengan intonasi penuh penghinaan. "Kami punya kecelakaan... dan kami punya tradisi. Dan kuharap kau mempelajari keduanya dengan sangat baik."
Ia menoleh menatap Sir Thomas, matanya berkilat dingin. "Pernikahan ini bukan tentang cinta. Ini tentang kerajaan. Dan kau hanyalah pengorbanan yang harus kami buat."
Luar biasa. Sebuah pencitraan yang sempurna di mata dunia.
Sebab di bawah hukum kuno dinasti yang sengaja dihidupkan kembali ini, Putra Mahkota yang menikah dengan rakyat jelata atau non-bangsawan wajib membuktikan kesetiaan dan keberaniannya pada negara dengan bertugas di garis depan pertempuran.
Jika Alistair gagal menjalankan tugasnya—atau tewas di medan perang—maka secara hukum kuno, pernikahan tersebut dianggap batal demi keselamatan reputasi kerajaan, dan Baxeena akan langsung dicabut gelarnya, diusir dari istana tanpa membawa satu sen pun aset.
Bukankah itu sebuah rencana yang teramat sempurna?
Dan Alistair... jika pria itu tidak tewas namun gagal secara politis, tentu saat ia pulang nanti dengan tubuh penuh luka, ia tidak akan pernah mendapati wanita yang menjadi istrinya itu ada di istana lagi. Baxeena pasti sudah dihancurkan oleh tekanan sistemik yang dirancang sang Ratu.
"Persiapkan seluruh dokumen keberangkatan misi Timur Tengah itu, Thomas," lanjut Ratu Lizzeebeeth dengan nada datar yang tak terbantahkan. "Pastikan dewan dinasti menyetujuinya esok pagi. Alistair tidak akan punya alasan untuk menolak perintah tugas militer ini."
"Baik, Your Majesty," sahut Sir Thomas, membungkuk dalam-dalam sebelum mundur melangkah keluar dari ruangan kramat tersebut.
Pintu kayu tebal The Crimson Chamber tertutup rapat kembali, menyisakan Ratu Lizzeebeeth yang duduk sendirian dalam kegelapan temaram, mengamati papan catur politik yang baru saja ia gerakkan untuk menghancurkan masa depan anak dan menantunya sendiri.
°°°
Sementara itu, ratusan mil dari Istana Buckingham, suasana di mansion Cotswolds Estate baru saja diselimuti ketenangan yang rapuh.
Malam telah larut sepenuhnya. Suara rintik hujan gerimis menyapu kaca jendela kamar utama. Di dalam ruangan hangat beraroma kayu pinus dan lilin aroma terapi itu, Baxeena berdiri di tepi tempat tidur king-size. Wajah cantiknya masih memancarkan sisa-sisa kelelahan emosional setelah pertengkaran hebat dan pengakuan jujur Alistair di ruang kerja tadi sore.
Alistair melangkah mendekat dari arah perapian. Pria tinggi besar itu telah menanggalkan mantel formalnya, kini hanya mengenakan kemeja putih kasual yang kancing atasnya terbuka, memperlihatkan pahatan dada dan leher tegapnya.
Sorot mata hazel-nya tidak lagi dingin; ada kelembutan dan kerentanan yang begitu dalam saat ia menatap wanita di hadapannya.
"Kau masih marah padaku?" tanya Alistair pelan, suaranya bariton, mengalun lembut memecah keheningan malam.
Baxeena menoleh, menyilangkan tangannya di dada sembari menatap Alistair dengan pandangan galaknya yang khas—meski kali ini tidak ada lagi kebencian yang tersisa di dalamnya.
"Menurutmu?" sahut Baxeena dingin, alis cantiknya terangkat. "Kau menyembunyikan kenyataan bahwa kau dijebak selama sepuluh tahun, membuatku menganggapmu sebagai pria paling bajingan di muka bumi, dan sekarang kau bertanya apakah aku masih marah?"
Alistair menyunggingkan senyum tipis—sebuah senyuman renyah yang amat langka. Pria itu melangkah dua tapak lebih dekat, memangkas jarak di antara mereka hingga Baxeena bisa merasakan kehangatan yang menguar dari tubuh suaminya.
"Aku pantas menerima kemarahanmu, Xeena," bisik Alistair, menundukkan kepalanya sedikit hingga wajah mereka sejajar. "Tapi setidaknya... kau tidak lagi menatapku seolah-olah kau ingin menembak kepalaku dengan pistol."
"Jangan menggoda keberuntunganmu, Pangeran," desis Baxeena, menunjuk dada tegap Alistair dengan jari telunjuknya. "Aku bisa saja berubah pikiran dan kembali membencimu dalam hitungan detik."
Bukannya mundur, Alistair justru meraih jemari Baxeena yang menunjuk dadanya, menggenggamnya erat dengan jemari tegapnya yang hangat. Ia membawa jemari Baxeena ke bibirnya, mengecup punggung tangan wanita itu dengan penuh penghormatan dan kerinduan yang dalam.
"Aku tidak akan membiarkanmu membenciku lagi," kata Alistair, suaranya merendah, sarat akan tekad yang tak tergoyahkan. "Aku sudah kehilangan Empat Belas tahun hidupku tanpamu. Aku tidak akan membuang satu detik pun lagi."
Baxeena mencoba menarik tangannya, namun genggaman Alistair terlampau kuat dan posesif. Tatapan mata hazel pria itu yang begitu pekat membuat dada Baxeena mendadak berdebar kencang. Kebencian yang selama ini menjadi perisai pertahanannya telah sirnah, menyisakan perasaan cinta lama yang ternyata masih membara di dasar hatinya.
"Alistair... lepaskan," bisik Baxeena, meski suaranya sendiri terdengar goyah dan kehilangan daya ancamnya.
"Tidak," sahut Alistair tengil, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman menggoda. "Tempat tidur ini terlalu luas jika kita harus tidur berseberangan seperti semalam. Dan seperti yang kubilang... aku tidak berniat menjadi bantal hidup yang pasif malam ini."
"Alistair Blackwood!" tegur Baxeena, pipinya seketika memerah padam. "Ingat batasanmu!"
Alistair melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Baxeena dengan gerakan yang amat cepat dan halus, menarik tubuh molek wanita itu rapat ke dalam pelukannya. Baxeena terkejut, meremas bahu tegap Alistair saat wajah pria itu hanya berjarak beberapa sentimeter dari bibirnya.
"Batasanku adalah dirimu, Baxeena," bisik Alistair, napas hangatnya menyapu bibir Baxeena, membuat seluruh pertahanan wanita Los Angeles itu runtuh seketika.
ayolah baxenna tundukkan si bocil tantrum itu🤭🤭🤭