Astrid mengorbankan segalanya untuk keluarga. Namun, pengorbanannya justru dibalas dengan hinaan.
Setelah melahirkan, tubuh Astrid berat badannya naik drastis hingga membuat Lucas, suaminya yang seorang dokter, merasa malu memiliki istri sepertinya. Tak hanya itu, Marta, sang mertua, juga menganggap Astrid sebagai wanita tidak berguna karena tidak memiliki pekerjaan maupun prestasi yang bisa dibanggakan.
Puncaknya terjadi saat Lucas dan Marta mempermalukannya di depan banyak tamu undangan. Harga dirinya diinjak-injak tanpa belas kasihan, seolah seluruh pengorbanannya selama ini tidak pernah berarti. Hari itu, Astrid memutuskan untuk berhenti menangis.
Dengan bantuan Mateo, Astrid bangkit dan mengubah hidupnya. Saat satu per satu kesuksesan berhasil diraihnya, orang-orang yang dulu merendahkan mulai menyadari kesalahan mereka.
Kini giliran mereka yang memohon, sementara Astrid tak lagi peduli. Karena ada penghinaan yang bisa dimaafkan, tetapi tidak pernah bisa dilupakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Untuk beberapa saat, tidak ada suara selain dengungan pendingin ruangan.
Kini Lucas mengerti. Jika hubungan mereka terbongkar sekarang, bukan hanya rumah tangga dan reputasinya yang bermasalah. Karier Starla juga bisa hancur. Kontrak itu bisa dibatalkan. Masa depan yang selama ini diperjuangkan wanita itu bisa lenyap begitu saja.
"Aku akan urus secepatnya," ucap Lucas akhirnya.
Namun Starla langsung menggeleng. "Tidak." Nada suaranya terdengar tegas. "Aku sudah terlalu sering mendengar kalimat itu."
Lucas mengepalkan tangan. "Percayalah padaku."
Starla tersenyum pahit. "Masalahnya, aku sudah terlalu lama percaya."
Kalimat sederhana itu membuat Lucas kehilangan kata-kata. Dia pun menyadari bahwa kesabaran Starla benar-benar telah habis.
Starla memalingkan wajahnya. Matanya mulai memerah. Namun ia tidak menangis. Ia sudah terlalu sering menangis sendirian. Banyak sekali waktu yang ia korbankan. Terlalu banyak harga diri yang ia telan demi mempertahankan hubungan ini. Sekarang, masa depannya ikut berada di ujung tanduk.
"Sebaiknya kita akhiri hubungan ini. Aku ingin kita putus," kata Starla dengan tegas.
Lucas terkejut setengah mati. Karena dia tidak mengira kata-kata itu keluar dari mulut wanita yang begitu tergila-gila kepadanya.
"Apa maksudnya?! Kamu mencintai aku. Dan aku pun mencintaimu dengan sungguh-sungguh." Suara Lucas terdengar lebih keras dari sebelumnya.
Starla menoleh. Senyum pahit muncul di bibirnya.
"Kalau memang mencintaiku," katanya pelan, "kenapa aku masih jadi wanita rahasiamu?"
Lucas langsung membeku. Pertanyaan itu menghantam jauh lebih keras daripada teriakan. Karena ia tahu jawabannya. Selama ini ia selalu memilih jalan yang paling menguntungkan dirinya sendiri. Ia mempertahankan Astrid demi aset dan kepentingannya. Ia mempertahankan Starla karena tidak ingin kehilangan wanita itu.
Selama setahun belakangan ini, Lucas berharap keduanya tetap bertahan tanpa memaksanya memilih. Namun malam ini, semuanya mulai runtuh.
Starla menatap lurus ke mata Lucas. Tatapan yang tidak lagi dipenuhi kesabaran. "Aku mau kepastian."
Lucas merasakan sesuatu yang tidak nyaman merayap di dadanya. Firasat buruk.
"Kali ini aku serius," lanjut Starla.
"Starla ...."
Wanita itu langsung mengangkat tangan menghentikannya. "Tidak. Dengarkan aku dulu."
Lucas terdiam.
Starla menarik napas panjang seolah sedang mengumpulkan keberanian yang selama ini tidak pernah ia gunakan. Kemudian ia mengucapkan kalimat yang telah lama tertahan di dalam hatinya.
"Kalau dalam tiga bulan kamu tidak menceraikan Astrid ...." Starla berhenti sejenak. Tatapannya tidak bergeser sedikit pun dari wajah Lucas. "...aku yang pergi."
Lucas membeku. Seolah waktu berhenti bergerak. "Apa?" tanyanya pelan.
Starla tidak mengalihkan pandangan. "Aku tidak bercanda."
"Starla—"
"Aku sudah menunggumu dengan sabar setahun," potong Starla dengan suara bergetar. "Dan aku tidak akan menghabiskan sisa hidupku menjadi perempuan kedua."
Jantung Lucas berdebar semakin keras. Ancaman wanita itu terdengar nyata. Tidak ada tangisan, rengekan, atau drama. Hanya keputusan yang sudah dipikirkan matang-matang dari seorang wanita yang akhirnya lelah menunggu.
Starla menatapnya untuk terakhir kali malam itu. "Tiga bulan. Itu waktu yang kuberikan." Suaranya terdengar tegas dan mantap.
Lucas berdiri membisu. Sementara Starla berbalik dan berjalan menuju kamarnya. Tidak ada lagi yang ingin ia katakan.
Suara pintu kamar yang tertutup menggema di seluruh apartemen. Lucas tetap berdiri di tempatnya sendirian. Pikirannya berputar kacau.
Astrid belum menyerahkan rumah warisan. Perceraian belum terjadi. Starla menuntut kepastian.
Lucas mengusap wajahnya kasar. Sejak semua kebohongan itu dimulai, sekarang ia benar-benar panik. Karena ia akhirnya menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ia pikirkan. Mungkin ia bisa kehilangan segalanya sekaligus.
Pagi itu, Astrid sedang duduk di ruang kerjanya sambil merapikan beberapa berkas yang harus ia periksa. Cahaya matahari yang masuk dari jendela membuat ruangan terasa hangat dan nyaman. Sesekali ia mencoret beberapa catatan penting sebelum memindahkannya ke map yang berbeda.
Di tengah kesibukannya, suara langkah kaki terdengar mendekat dari lorong. Astrid mengangkat kepala. Ia sedikit terkejut saat melihat Lucas berdiri di ambang pintu.
Sudah beberapa hari berlalu sejak pertengkaran mereka tentang dokumen rumah sakit yang ditemukan Astrid di ruang kerja suaminya. Sejak kejadian itu, suasana di antara mereka berubah. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada saling membentak. Namun, kehangatan yang biasanya tersisa di antara suami istri itu seolah menghilang begitu saja.
Mereka masih makan di meja yang sama. Masih tinggal di rumah yang sama, tetapi rasanya seperti dua orang asing yang kebetulan berada di bawah satu atap. Karena itulah Astrid cukup terkejut ketika melihat Lucas masuk sambil membawa dua cangkir kopi panas.
Aroma kopi langsung memenuhi ruangan. Lucas berjalan mendekat lalu meletakkan salah satu cangkir di atas meja kerja Astrid.
"Aku buatkan kopi untukmu," ujar pria itu sambil tersenyum tipis.
Astrid mengernyit heran. Dahulu, Lucas sering melakukan hal ini, namun sejak mereka punya anak sudah jarang sekali melakukan hal seperti itu. Bahkan mungkin bisa dihitung dengan jari selama beberapa tahun terakhir.
"Untukku?" tanya Astrid sambil menunjuk dirinya sendiri.
Lucas terkekeh pelan. "Iya. Memangnya ada orang lain di sini?"
Astrid menatap cangkir kopi itu beberapa saat sebelum mengalihkan pandangannya kepada Lucas. Ekspresi bingung masih jelas terlihat di wajahnya.
Lucas kemudian menarik kursi di hadapan Astrid dan duduk dengan santai.
Gerakannya membuat Astrid semakin yakin bahwa ada sesuatu yang ingin dibicarakan.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan. Lucas menatap cangkir kopinya sebelum akhirnya membuka suara.
"Astrid," kata pria itu pelan. "Soal beberapa hari lalu."
Astrid langsung terdiam. Tangannya yang semula sedang membereskan berkas ikut berhenti. Ia tahu persis pembicaraan apa yang dimaksud Lucas.
Lucas mengembuskan napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Aku tidak suka kita bertengkar."
Astrid tidak langsung menjawab. Ia hanya menunggu Lucas melanjutkan penjelasannya.
Sementara itu Lucas tampak menundukkan kepala sejenak, seolah sedang memilih kata-kata yang tepat. "Dokumen yang kamu temukan itu memang berasal dari rumah sakit."
Astrid langsung mengangkat wajah. Tatapannya penuh perhatian.
Lucas melanjutkan dengan nada tenang. "Salah satu dokter yang aku kenal meminta bantuanku untuk menyimpan beberapa berkas penting sementara waktu."
Pria itu berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Kebetulan ada kasus yang sedang diselidiki di rumah sakit. Aku cuma membantu menyimpannya."
Nada suara Lucas terdengar sangat meyakinkan. Begitu tenang, tanpa keraguan sedikit pun.
Astrid menatapnya tanpa berkedip. Rasanya wanita ingin tertawa. Rupanya Lucas menganggap dirinya bodoh.
"Aku ingin tahu permainan apa yang sedang kamu lakukan," batin Astrid. "Kayaknya aku harus ikuti alurnya dulu."
"Jadi dokumen itu bukan milikmu?" tanya Astrid hati-hati.
Lucas langsung menggeleng. "Tentu saja bukan."
Lucas tersenyum kecil, seolah merasa tuduhan itu terlalu jauh. "Aku tidak punya alasan untuk menyembunyikan apa pun darimu."
Kalimat itu terdengar begitu tulus dan begitu meyakinkan. Setidaknya itulah yang terlihat dari luar.
Lucas lalu mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Astrid yang berada di atas meja.
Sentuhan itu membuat Astrid sedikit terkejut. Sudah cukup lama Lucas tidak bersikap seperti ini.
"Yang membuatku sedih," lanjut Lucas sambil menatap mata istrinya, "kamu langsung berpikir buruk tentangku."
Tatapan Astrid tetap mengarah pada mata Lucas. Sekarang dia paham ketika orang bicara berbohong.
"Berpikiran buruk apanya?" batin Astrid. "Jika saja aku tidak mendapatkan bukti dan fakta dari Julio, pasti akan terkena omongannya. Namun, sekarang berbeda. Aku sudah tahu semua kebenarannya."
Namun sekarang Lucas menjelaskan semuanya dengan begitu tenang. Penjelasannya terdengar masuk akal. Tidak ada celah yang terlihat mencurigakan.
"Aku harus lebih waspada dan berhati-hati lagi sekarang. Sepertinya Lucas juga sedang merencanakan sesuatu," batin Astrid yang berusaha tenang dan seolah tidak tahu apa-apa.
Lucas merasakan perubahan kecil itu. Ia menggenggam tangan Astrid sedikit lebih erat. Tatapannya sengaja dibuat hangat.
"Kita sudah bersama selama bertahun-tahun," ujarnya lembut. "Apa aku terlihat seperti orang yang akan melakukan hal seperti itu?"
Astrid menundukkan pandangan. "Aku hanya..." ucapnya pelan. Ia menggigit bibir bawahnya.
Lucas tersenyum lembut. Dengan perlahan ia mengusap punggung tangan istrinya menggunakan ibu jari.
"Kamu terlalu banyak pikiran."
Astrid tidak menjawab.
Lucas merasa kecurigaan Astrid kepadanya mulai retak. Dia melihat perubahan kecil dari ekspresi Astrid. Keraguan di wajah wanita itu mulai memudar. Melihat bahwa kebohongannya berhasil masuk ke dalam hati istrinya.
***
Semoga retensi bagus, ya. Untuk kalian yang selalu mendukung aku dengan like dan komentar, aku ucapkan banyak terima kasih.
ku kirim 🌹&☕.. biar semangat...
Ini br awal Lucas...Setelah ini akan byk badai yg siap menerpa km