NovelToon NovelToon
Kesempatan Kedua Sang Ratu Jahat

Kesempatan Kedua Sang Ratu Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Noona Y

Davira Bellova Osta, sang Ratu Kerajaan Nether, mati di tangan suaminya sendiri.

Pengkhianatan sang Raja Liam mengakhiri hidup yang selama ini ia persembahkan untuk kerajaan.

Namun, ketika takdir memberinya kesempatan kedua, Davira kembali ke masa lalu—tiga tahun sebelum darahnya mengalir di tangan suaminya yang kejam.

Kali ini, ia tidak akan memohon, ia akan melepaskan cintanya. Dan terlebih lagi, ia tidak akan mati untuk kedua kalinya.

“Liam…”

“Dahulu aku bersedia menyerahkan seluruh hidupku untukmu.”

“Tapi setelah kau sendiri yang mengakhirinya, jangan berharap aku masih menjadi wanita yang sama.”

“Kau mengambil hidupku. Maka kali ini, aku akan mengambil kembali semuanya darimu.”

Jika dahulu Davira dikenal sebagai Ratu Jahat, maka kali ini ia akan menunjukkan kepada seluruh kerajaan mengapa seorang ratu tidak seharusnya diremehkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

Davira melangkah menuju kamar mandi, lalu berhenti tertegun. Dindingnya tersusun dari ubin batu yang berkilau lembut, sementara bak mandinya terbuat dari marmer putih yang halus, memantulkan cahaya redup dari lampu gantung.

Semuanya tampak mewah, bersih, dan menenangkan—sangat jauh berbeda dari kamar mandinya sendiri, sewaktu menjabat sebagai Ratu. Ruangan itu seakan memang dirancang untuk membuat seorang wanita merasa nyaman dan cantik.

Tak lama kemudian, pelayan pribadi Davira, Noela, masuk ke ruangan dengan langkah ringan. Di belakangnya, beberapa pelayan pria mengangkat peti-peti besar berisi barang-barang milik Davira di atas punggung mereka.

Elliot mengangkat alis. “Tidak terlalu banyak peti yang kau bawa dari istana, tapi sepertinya setiap petimu sangat berat.” Ia melirik para pelayan pria bertubuh kekar yang mulai mengusap keringat dari pelipis mereka.

“Aku suka buku,” jawab Davira dengan bangga. “Aku membawa semua koleksi bukuku.”

Elliot tersenyum tipis. “Akan sangat panjang jika kita membahas hal itu. Mungkin sebaiknya kau bersiap untuk makan malam. Dalam setengah jam.” Nada suaranya terdengar tenang, seolah menyampaikan undangan yang tak sepenuhnya berupa ajakan.

Davira mengangguk pelan, senyum tipis terlukis di sudut bibirnya. “Setengah jam? Cukup waktu untuk mandi air hangat dan sedikit menata rambutku.” Davira menolak terlihat kalah oleh suasana asing di kediaman baru ini.

Elliot memperhatikan gerak-gerik Davira dimeja rias, matanya melihat gelang perak yang melingkar di pergelangan tangan kanan Davira—gelang dengan lambang kerajaan utara. “Kau masih mengenakan itu,” ujarnya pelan, nyaris seperti gumaman.

Davira berhenti melangkah. “Tentu saja,” katanya sambil menatap balik. “Aku tidak berniat melupakan dari mana asal usulku, Tuan Elliot.”

Namun, Elliot hanya tersenyum tipis. “Baiklah, aku harap tempat ini cocok dengan selera makanmu. Di sini, makan malam lebih sederhana, tanpa musik, tanpa pesta... hanya percakapan yang serius.”

Davira membalas senyumnya, tapi kali ini dengan tatapan menantang. “Percakapan serius, ya? Kuharap aku siap mendengarkan, yang tentunya bukan sekadar basa-basi bangsawan.”

Elliot menunduk sedikit, matanya memancarkan sesuatu yang sulit ditebak—antara kagum dan waspada. “Kalau begitu, aku akan menunggumu di luar kamar. Jangan terlalu lama... buku-bukumu tak akan kabur.”

Elliot berbalik, meninggalkan aroma halus parfum hutan pinus dan bayangan langkah yang tegas di lantai kayu.

Sementara itu, Davira menatap punggungnya yang menjauh, lalu berbisik pada Noela,

“Orang itu... seperti istana es—tenang di luar, tapi menyimpan badai di dalamnya.”

Noele kemudian menoleh pada Davira. "Nyonya harus mengenakan gaun terbaik untuk malam ini."

Davira menarik napas, menoleh pada peti yang dilapisi warna perak. "Oh, tentu saja. Keluarkan gaun terbaikku."

Tanpa banyak bicara, Noela segera membantu Davira melepaskan korsetnya. Setelah itu, mereka berjalan menuju bak mandi putih yang berdiri anggun di dekat jenDela besar.

“Mari kita lihat,” gumam Noela sambil tersenyum kecil. “Apakah kita masih bisa menyalakan air mandinya.”

Ngiikkk… ngiikkk…

Suara logam berderit terdengar ketika Noela memutar keran berwarna emas. Beberapa detik kemudian, air hangat keluar dari mulut patung singa, dan mulai mengalir deras—campuran sempurna antara panas dan dingin.

Davira menyelupkan ibu jari kakinya dengan hati-hati ke dalam air yang mengepul. Sedetik kemudian ia masuk dan berbaring di dalam kolam air panas itu.

Davira tersenyum senang, merasa lega setelah melewati perjalanan panjang, ia menggerakkan jari kakinya sehingga air beriak di bak mandi.

Saat berendam dalam air hangat, berbagai pertanyaan berputar di benak Davira. Ia merasakan kalau tidak ada sedikit pun kemungkinan bahwa Elliot bisa jatuh cinta padanya.

Terkadang hal baik memang terjadi pada orang lain—bukan padanya. Ia sempat membayangkan seolah ada sosok pria berkulit pucat di balik awan, yang dengan santainya memutuskan untuk melemparkan keberuntungan kepada siapa pun yang ia kehendaki—tentu bukan dirinya.

Kenyataannya, Elliot tidak mungkin jatuh cinta pada seorang mantan ratu jahat. Ia bukanlah gadis polos yang berhati baik, dan tidak punya apa pun selain kedudukan yang kini perlahan kehilangan maknanya.

Kesadaran itu membuat dada Davira terasa panas—antara marah, malu, dan getir yang sulit dijelaskan.

Davira mendengus. “Selama ini aku tak pernah mencoba mendekati pria lain selain Liam." Ia menatap pantulan matanya sendiri, yang kini tampak lebih redup dari biasanya. “Dan tentu saja, Elliot dan Liam… Kepribadian mereka, sangat berbeda jauh.”

"Aku bahkan tak tahu bagaimana caranya bersaing dengan Fiona Duncan—gadis bangsawan yang dulunya berhasil menjadi istri Elliot?" bisik Davira lirih, sambil mencelupkan seluruh wajahnya ke dalam air bak.

Butuh beberapa menit, sebelum akhirnya Davira keluar dari bak mandi dan menyelimuti diri dengan handuk yang dihangatkan di depan perapian.

"Gaun anda untuk malam ini sudah siap Nyonya," ucap Noele, sambil membantu mengeringkan rambut Davira.

Noela terus berbicara pelan sementara rambut Davira perlahan mengering. Ia menyikatnya dengan lembut hingga berkilau di bawah cahaya lilin.

Malam itu, Davira mengenakan pakaian dalam tipis dan korset yang membingkai tubuhnya dengan sempurna. Gaunnya berwarna plum gelap, terbuat dari kain sarcenet yang lembut dan jatuh mengikuti lekuk tubuhnya sebelum melebar anggun di bagian bawah.

Sepotong renda emas menjuntai di tepi gaun, menegaskan keanggunan garis dadanya dengan cara yang tidak berlebihan—hanya cukup untuk mengingatkan siapa dirinya sebenarnya, seorang Istri yang masih tahu bagaimana caranya mengambil perhatian suaminya.

Noela menyanggul rambut Davira ke atas dengan hati-hati, menyelipkan beberapa helaian lembut di sekitar tengkuknya.

Ketika semuanya selesai, Davira menatap pantulannya di cermin. Untuk sesaat, ia tampak seperti sosok yang memang terlahir untuk kehidupan di Kastil Orion.

Seperti Elliot, Davira berusaha menahan diri—melatih wajahnya agar tampak tenang, bijak, dan berwibawa. Namun ia tahu, ekspresi itu hanyalah topeng, sandiwara halus yang harus dimainkan oleh seorang istri bangsawan.

*****

Selesai berdandan, Davira keluar dari kamar dan tertegun sejenak. Sorot matanya menyapu penampilan Elliot dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Pria itu mengenakan kemeja katun berwarna hitam dengan bagian leher yang sedikit terbuka—sangat santai untuk ukuran seorang bangsawan yang menyambut istrinya dalam makan malam pertama bersama keluarga di kastil.

Penampilan Elliot yang terlampau santai membuat prasangka buruk merayap di kepala Davira.

"Apa dia sengaja berpakaian sesantai ini untuk merendahkanku?" batin Davira, rasanya seperti disiram air dingin. "Dia ingin menunjukkan kalau kedatanganku sama sekali tak berarti, atau mungkin... ini cara halusnya untuk mengingatkan bahwa statusku tak lagi setinggi dulu?"

Bagi Davira, penampilan Elliot seolah memberi sinyal tegas bahwa makan malam pertama ini bukanlah perayaan, melainkan sekadar formalitas yang tak perlu dipersiapkan dengan sungguh-sungguh.

Mata Davira lalu bergeser pada gaun sarcenet warna plum gelap yang melekat di tubuhnya sendiri. Gaun indah dengan aksen renda emas yang kini terasa sedikit 'terlalu megah' untuk makan malam biasa.

"Apakah pakaianku berlebihan?" bisik hati Davira. Kepercayaan dirinya yang tadi sempat terbangun sewaktu menatap cermin, kini terusik oleh rasa canggung yang mendadak menyeruak.

Elliot berjalan mendekat, lalu menekuk siku tangannya, menawarkan lengannya untuk digandeng.

"Kastil Orion mungkin dingin dan terbiasa dengan hal-hal sederhana, tetapi Anda baru saja membawa sedikit kemewahan istana," ucap Elliot, dengan nada datar.

Davira menarik napas pelan untuk menguasai jiwanya kembali. Menolak untuk terlihat rendah diri, ia menegakkan bahunya, menyunggingkan senyum anggun, lalu menyambut lengan Elliot.

"Saya hanya berusaha menyesuaikan diri dengan tuan rumah," balas Davira tenang, walau jantungnya berdetak sedikit lebih cepat saat merasakan kokohnya lengan Elliot di balik kain kemejanya.

"Lagi pula, Anda sendiri yang bilang kalau makan malam ini akan diisi dengan percakapan serius. Pakaian yang layak adalah bentuk penghormatan saya pada diskusi kita nanti."

Elliot menyunggingkan senyum tipis—senyum khasnya yang sulit diartikan. "Alasan yang sangat cerdas."

Keduanya mulai melangkah menyusuri koridor berlantai kayu yang gaungnya memantulkan irama langkah mereka.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
LAHHH 😭 Davira malah terinspirasi
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Elizabeth santai menyodorkan daging, sementara orang-orang di sekitarnya mundur perlahan karena takut jadi menu tambahan 😭🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Orang lain mungkin sudah pucat ketakutan, sementara dia malah bangga memperkenalkan hewan peliharaannya. 🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
kuda berbulu 😅
Karo Karo
update nya jangan lama-lama kk thor
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: iya kak 🤗 ikuti teruss yah ☺️
total 1 replies
Karo Karo
oh jelas soalnya dalam buku bgtu banyak pelajaran yg bsa membungkam mulut orang yg hanya bsa pake otot tpi tdk pake otak 😂
Karo Karo
wah wah 😂 mantap
Karo Karo
mantap
Karo Karo
tok tok tok lah Thor 😁
Karo Karo
keren kak
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ🥑⃟YAYA💘℘ℯ𝓃𝓪: makasih ☺️🤗
total 1 replies
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Fiona tralu meremehkan Davira. Nanti juga kena batunya sendiri 🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Keren banget, Davira, jangan remehkan mantan ratu. tunjukkan kalau mantan ratu punya aura wibawa 🤣👍
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Nah, saingan akhirnya muncul, pasti bakal makin panas🤣
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
duh Davira lagi2 harus menghadapi perlakuan yg menyakitkan, Grand Duchess terlalu meremehkan Davira 😅
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Visualnya benar² membantu membayangkan Davira, Elliot, dan suasana kerajaannya 🥰
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Kasihan Davira, tapi yahh dia memang harus menghadapi konsekuensi dari kehidupan sebelumnya 😅
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Keputusan terbaik! Tinggalkan Liam dan malangnya, mulai lah hidup baru bersama Elliot👍
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Semoga di kehidupan kedua ini Davira bisa menyelamatkan Elliot & keluarganya.
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Idette siap² tersaingi. Davira sekarang tak klah mempesona
🏵️Aყυԃιƚα✾ 🔆🔅
Davira terlalu sabar di kehidupan pertamanya. Aku ikut sesak bacanya 😣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!