[SEDANG HIATUS!]
Diana Xylaria, Gadis cantik yang ceria dan optimis, ternyata ada rahasia besar tentang dirinya yang bahkan dia tidak tau.
Hidupnya yang biasa saja tiba tiba terusik karena pertemuannya dengan CEO dari sebuah perusahaan besar, Rylan Axelion. Namun sayang, keduanya bahkan tak ingat telah menghabiskan malam bersama.
Ditengah badai perebutan kekuasaan di keluarga Rylan, serta tentangan dari wanita yang berkuasa, Rylan dan Diana harus terus berjuang agar bisa bersama.
Akankah mereka bisa bersama?
Dan Apa sebenarnya Rahasia kelam Diana?
Simak ceritanya di sini.
ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩـ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ
「 ✦ UPDATE SENIN DAN KAMIS ✦ 」
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Kami masih asyik menikmati makanan kami sampai sudut mataku menangkap sesosok wanita cantik yang masuk, dan sepertinya berjalan ke meja kami.
"Rylan! Apa urusanmu sudah selesai?" Wanita itu merangkul pundak CEO Rylan, yang tampak kurang senang dengan interaksi seperti itu.
"Menjauh sedikit, Calantha. Aku masih ada urusan di sini. Lebih baik kau pulang ke Negara Z saja. Jangan mengganggu aku." CEO Rylan tak memandangnya sama sekali, dan lanjut dengan aktivitas makannya.
"Jangan bicara seperti itu. Hah, baiklah." Wanita yang dipanggil Calantha itu memperhatikan setiap orang di meja kami.
Dan akhirnya, tatapan kami bertemu. Dia terdiam sebentar. Matanya membesar. Dia tampak... terkejut?
Calantha menarik napas sebentar. Lalu akhirnya buka suara lagi.
"Rylan, aku akan gabung di meja ini saja. Tolong jangan mengusirku lagi. Aku tak akan buat masalah." Suaranya terdengar serius.
CEO Rylan meletakkan sendoknya, lalu memandang Calantha sekilas. Tatapannya seolah berarti, 'pegang ucapanmu'.
Calantha kemudian duduk di samping Rylan. Mereka tampak sudah mengenal sejak lama.
"Aku akan memesan beberapa makanan tambahan lagi, Rylan."
CEO Rylan tak menggubrisnya. Calantha pun memanggil pelayan, dan menyebutkan nama beberapa makanan yang terdengar sedikit asing bagiku.
"Jadi apa latar belakang kalian, kalau boleh tahu?" Calantha bertanya.
Direktur Katrina terdiam sebentar, memandangnya, lalu menceritakan ulang kisah hidupnya secara singkat dan pengalaman kerjanya di Lion Group.
Setelah mendengar cerita Direktur Katrina, Calantha mengangguk-angguk setuju.
"Kau pasti tipe pekerja yang jujur, rajin, dan kompeten, Direktur. Terima kasih banyak sudah membantu Lion Group sampai sejauh ini." Calantha tersenyum. Senyum termanis yang pernah kulihat.
"Terima kasih pujiannya, Nona." Direktur Katrina balas tersenyum.
"Kalau kau, Nona?" Calantha balik bertanya padaku.
Aku sebenarnya bingung lagi harus menceritakan ulang dari mana. Ya sudahlah, aku akan cerita secara singkat saja.
"Aku yatim piatu sejak kecil, lalu aku—"
"Hah, yatim piatu? Kasihan sekali..." Calantha memandangku dengan tatapan iba.
Sejujurnya aku sedikit... kesal, karena kata-kataku dipotong sebelum aku selesai berbicara. Mungkin dia tak sengaja, pikirku.
"Maaf, aku masuk sekolah asrama di umur 7 tahun, dan—"
"Sekolah asrama? Seperti apa itu? Aku penasaran juga, soalnya aku hanya tahu keadaan di sekolah internasional saja." Calantha bertanya lagi, seolah sangat ingin tahu.
Dia memotong aku lagi! Dan apa katanya? Sekolah internasional? Pasti sangat luar biasa, mana bisa dibandingkan denganku.
"Aku... sekolah asrama biasa-biasa saja. Di kelas kami hanya ada beberapa orang, dan saat kelas berakhir, kami biasanya langsung pulang ke kamar masing-masing." Aku menjelaskan, kali ini sampai habis.
"Kamar? Tidak ada dapur, ruang santai, perpustakaan, balkon, dan lainnya? Astaga... Bagaimana bisa kau hidup di tempat seperti itu..." Calantha menggelengkan kepalanya.
Aku menunduk. Sejujurnya bukan masalah bagiku, selama aku masih bisa makan, terlindung dari hujan dan panas, lalu masih bisa dapat pendidikan, itu cukup bagiku.
CEO Rylan menatap Calantha. "Ingat apa yang kau ucapkan barusan, Cal."
Calantha terdiam sebentar. "Oh, maaf, maaf astaga, apa aku menyakiti hatimu? Aku minta maaf sekali, Nona..."
"Diana." Aku menyebut namaku. "Sejujurnya aku tak mempermasalahkan ucapanmu barusan, Nona. Aku baik-baik saja. Terima kasih."
Direktur Katrina memandangku, lalu tersenyum.
"Baiklah, kita beralih ke saat kau masuk perusahaan. Kapan itu?"
"Baru satu tahun lalu, Nona."
"Satu tahun?!" Calantha tampak terkejut. "Satu tahun dan posisimu sekarang sekretaris direktur. Hebat juga ya kamu."
Entah kenapa aku merasa bahwa itu bukan pujian, melainkan sindiran. Seolah-olah aku masuk dengan cara curang, bukan karena kemampuanku.
Tidak apa, Diana. Ada beberapa jenis orang yang memang harus kau hadapi sendiri.
Tak lama makanan Calantha sudah tersaji di depannya. Dia mempersilakan kami untuk mencicipi rasanya, dan aku menolak. Tidak enak rasanya, mengingat bahwa aku sudah selesai makan.
Sambil makan, dia menceritakan mengenai latar belakangnya yang menurutku sangat luar biasa.
Calantha lahir dalam keluarga kaya, dengan ibu dan ayah yang selalu menyayangi dan memanjakannya. Keluarganya adalah keluarga berpengaruh nomor 2 di Negara Z.
Dan sekali lagi, dengan bahasanya yang halus, dia mengingatkan aku bahwa aku tak bisa punya kehidupan sebaik dia, dengan kedua orang tuanya yang masih lengkap.
Hatiku mulai tergetar. Aku berusaha mati-matian untuk menahan perasaanku, dan tetap tersenyum. Aku izin pergi ke toilet sebentar.
Langkahku sedikit kaku dan kikuk, pikiranku membuatku tak memperhatikan jalan di depanku, sampai aku baru sadar bahwa aku menjatuhkan hiasan mawar emas tepat di bawah kakiku.
Mawar yang terbuat dari kristal yang dilapisi emas 24 karat itu pecah berkeping-keping. Aku mulai merasa panik, memikirkan biaya ganti rugi yang mungkin harus kubayar.
Tiba-tiba aku mendengar Calantha berseru cukup keras.
"Astaga, Les roses dorées brillent à l'ouest!"
"Les roses apa?" aku bertanya, semakin panik.
"Les roses dorées brillent à l'ouest," Calantha mengulangi. "Terbuat dari Gwindel Quartz yang langsung diimpor dari Prancis, dipahat dengan hati-hati, lalu dilapisi emas murni di beberapa bagiannya."
"Aku... Aku minta maaf, aku tak sengaja... A-aku akan mengganti kerugiannya nanti."
Air mataku nyaris keluar. Aku berlari kecil menuju toilet untuk menenangkan diri. Aku berpikir tentang bagaimana aku akan mengganti kerugiannya.
Tiba-tiba Calantha masuk ke dalam toilet, memandangku.
"Bisa beri tahu aku berapa harga benda itu? Les roses..." aku berpikir sebentar.
"Les roses dorées brillent à l'ouest," Calantha mengulangi untuk ketiga kalinya. "Kau tak akan pernah bisa mengucapkannya dengan benar, Diana, apalagi mengganti kerugiannya."
Calantha tersenyum meremehkanku.
Aku terdiam, baru sadar bahwa dari tadi dia menargetkanku.
"Kenapa, Nona? Kenapa kau melakukan semua ini?" air mataku akhirnya tumpah.
"Hmm, aku hanya tidak suka padamu." Calantha menyiram air dari wastafel ke atas kepalaku. Dingin sekali.
"Ini jas baru untukmu. Kau tahu kan keluar nanti harus bilang apa?" Calantha membelai rambutku. Aku tahu itu adalah ancaman. Dia pun akhirnya keluar.
Entah kenapa aku merasa sedikit familiar dengan adegan ini. Tapi aku tak memikirkan tentang itu.
Aku terduduk di lantai toilet yang sangat bersih, sampai-sampai aku bisa melihat pantulan diriku yang begitu menyedihkan.
Aku hanya bisa pasrah. Tak ada orang sama sekali di toilet. Aku menenangkan diriku sebentar. Aku kembali memikirkan mengenai ganti rugi.
Berapa banyak yang harus aku bayar, berapa harga benda itu?
Apa tadi namanya? Les roses... dore... Akh! Calantha benar, aku sama sekali tak bisa mengucapkannya dengan tepat, apalagi mengganti kerugiannya.
Aku sebenarnya tidak pantas masuk dalam Lion Group, duduk satu meja bersama mereka. Mereka orang-orang yang hebat, sedangkan aku? Mana bisa dibandingkan dengan mereka.
Aku akhirnya bangkit berdiri, mencuci wajahku. Bernapas sebentar, baru saat mataku tak tampak habis menangis, aku mengenakan jas baru dari Calantha, dan keluar.
Tamatlah riwayatku sekarang.
walaupun kepribadian xena kuat dan bisa diandelin, tapi bisa nyelakain kamu juga kalo gak terkendali 😖