NovelToon NovelToon
Warisan Dua Ratus Triliun

Warisan Dua Ratus Triliun

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:239
Nilai: 5
Nama Author: Lawa Amora

bagaimana rasanya jika tubuh sendiri berada ditubuh orang lain, bahkan tau-tau sudah memiliki suami dan memperebutkan warisan dua ratus triliun?

Yuk ikuti kisah Warisan dua ratus triliun!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lawa Amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Suasana kamar masih terasa pengap, sisa ketegangan malam sebelumnya belum juga

sirna. Aroma parfum berat bercampur debu lama menempel di udara. Cahaya pagi yang

masuk dari celah tirai kotor tak cukup untuk menerangi sudut-sudut gelap ruangan. Udara

terasa tebal, seolah ruangan ini menahan napas bersamanya.

Ia menatap cermin, mencoba menyesuaikan diri dengan sosok yang kini ia tempati. Wajah

itu terlihat asing, rahangnya lebih tajam dan matanya menyimpan dingin yang tak ia miliki.

Ia merapikan kerah gaun satin yang kusut dengan gerakan canggung. Setiap kali melihat bayangannya, ia merasa sedang memakai kostum yang terlalu sempit dan berduri.

Jam dinding berdetak lambat, suaranya terdengar seperti palu tukang gantung di

tenggorokan. Ia memperhatikan jarum panjang yang hampir menyentuh angka delapan.

Waktu untuk bergerak semakin dekat, dan ia belum siap menghadapi keluarga besar yang

akan datang. Detak jantungnya mulai berpacu mengikuti irama jam yang lambat itu.

Ia menarik napas panjang, menahan rasa mual yang muncul di ulu hati. Tangan kanannya yang dingin meraih sisir perak di atas meja rias. Ia memutar punggung kursi menghadap lemari, mencoba mengumpulkan keberanian untuk membuka rahasia yang terkunci di sana.

Realitas pahit itu menunggunya, diam dan dingin. Matanya tertuju pada benda itu, lemari tua milik mendiang pemilik tubuh ini. Kayunya gelap, mengkilap karena usia, namun sudut-sudutnya tampak usang.

Ada tiga laci besar di bawah pintu gantung yang menjulang tinggi. Ia mendengar bisikan di telinganya, mungkin hanya halusinasi akibat kurang tidur, atau mungkin memang ada sesuatu di dalamnya.

Ia melangkah maju, kakinya terasa berat menapak di karpet tebal. Lantai kayu di bawah kakinya berderit pelan, suara yang memecah kesunyian pagi. Ia mengusap wajahnya, merasakan keringat dingin mulai bercucuran. Ada rasa takut yang menggerogoti, sebuah insting primitif yang menyuruhnya untuk lari menjauh dari benda itu.

Namun, ia tahu ia tidak bisa mundur. Warisan dua ratus triliun rupiah itu bukan sekadar

angka di atas kertas. Itu adalah tiket keluar dari kehidupan hantu yang ia jalani sekarang.

Ia harus menemukan surat wasiat asli atau bukti perselingkuhan saudara tiri yang

berusaha menjatuhkannya.

Lemari itu adalah kuncinya. Ia menghentikan langkahnya tepat di depan furnitur tua tersebut. Engsel kayu terlihat berkarat, seolah tidak pernah dibuka selama bertahun-tahun.

Ia menatap gagang pintu yang terbuat dari kuningan tua, mengkilap karena sering dipegang namun kini tertutup debu tebal. Keheningan di dalam kamar terasa menekan telinganya, memekakkan Suasana.

Sesaat ia terdiam, membiarkan keraguan menghantamnya. Bagaimana jika isi lemari itu bukan bantuan, melainkan jebakan? Bagaimana jika saudara tirinya sudah mengetahui rahasia ini dan hanya menunggu waktu untuk menghancurkannya?

Nadira mengepalkan tangan di sisinya, merasakan kuku tajam wanita jahat itu mencubit telapak tangannya sendiri.

Tetapi, pikiran untuk menyerah terasa lebih menyakitkan daripada rasa takut akan isi

lemari.

Ia mengingat hinaan yang dilemparkan kepadanya di meja makan malam tadi.

Wajah dingin saudara tirinya muncul di benaknya, memicu amarah yang perlahan

menggantikan rasa takut. Ia bukan lagi wanita lemah yang bisa dipermainkan.

Dengan tekad yang mulai mengeras, ia mengulurkan tangan kanannya. Jari-jari ranumnya menyentuh logam kuningan yang dingin. Ia menarik napas tajam terakhir sebelum memulai pertempuran melawan masa lalu pemilik tubuh ini.

Langkah kaki Nadira terasa sangat berat saat melangkah menuju lemari kayu jati yang

berada di sudut paling gelap kamar. Ruangan itu pengap, berbau kapur barus dan debu,

seolah tidak tersentuh sama sekali sejak kecelakaan lalu.

Ia harus menemukan dokumen legalitas saham yang terselip di sana sebelum Dinda atau asisten rumah tangga lain masuk dan curiga melihatnya membongkar barang pribadi.

Ia menarik napas pendek, jari-jari tangannya gemetar sedikit ketika menyentuh engsel

pintu lemari yang berderit nyaring membelah keheningan. Suara itu terasa terlalu keras,

membuat jantungnya berdetak kencang. Ia menahan napas sesaat, menunggu apakah ada langkah kaki yang mendekat dari lorong depan, namun hanya ada keheningan malam

yang mencekam di luar pintu kamar.

Begitu pintu terbuka lebar, tumpukan pakaian wol rapi dan kotak perhiasan menyambutnya, namun pandangannya tetap terpaku pada kompartemen tersembunyi di bagian bawah laci.

Nadira berlutut di lantai yang dingin, meraba-raba papan kayu yang

agak longgar di dasar lemari. Keringat dingin mulai mengucur di pelipisnya, menciptakan

rasa geli yang membuatnya ingin segera membalas ketakutannya.

Ia akhirnya menemukan satu kotak besi kecil yang terkunci rapat dengan gembok berkarat.

Ini bukan sekadar kotak biasa, beratnya terasa mencurigakan di telapak tangannya.

Tekadnya kian kuat untuk membuka misteri ini, namun kunci itu tidak ada. Tangannya

mulai berkeringat dingin, rasa panik mulai menyergap karena ia takut ketahuan oleh

asisten rumah tangga yang menyapu lorong depan.

"Nadira, kamu di dalam?"

Suara Dinda dari luar pintu membuat tubuh Nadira menegang kaku. Ia buru-buru

menyembunyikan kotak besi itu di balik bantal sofa dekat jendela, berharap bayangan

gelap bisa menutupinya.

Nadira menelan ludah keras, mencoba menenangkan detak jantung yang hampir meledak di telinganya. Ia tidak boleh membiarkan Dinda masuk sekarang, atau semua rencananya akan hancur.

"Aku sedang istirahat, Dinda. Ada apa?" jawab Nadira, berusaha membuat suaranya

terdengar datar dan lesu seperti biasanya. Ia berharap Dinda akan pergi, namun langkah

kaki di depan pintu justru terdengar semakin dekat ke daun pintu yang tertutup. Nadira

menatap kotak besi di sofa dengan cemas, berpikir keras bagaimana cara

menyelundupkannya kembali ke dalam lemari tanpa terlihat.

Ia tidak menyadari bahwa gembok kotak itu sebenarnya sudah mulai longgar karena usia,

dan di dalamnya terselip secarik surat yang alamatnya ditujukan kepada Arga. Surat itu

berisi pengakuan pengalihan aset yang ditandatangani oleh wanita jahat yang ia tiru,

sebuah bukti yang bisa menghancurkan klaim warisannya seketika.

Nadira hanya perlu sedikit lagi usaha untuk membukanya, namun waktu seolah tidak berpihak padanya. Suara ketukan pada pintu kamar kembali terdengar, kali ini lebih keras dan mendesak.

Nadira menatap tuas pintu kamar mandi di dalam ruangan itu, mempertimbangkan untuk bersembunyi di sana. Namun, ia tahu itu hanya akan memperburuk kecurigaan Dinda.

Ia harus mengambil keputusan cepat, berpura-pura tidur atau menghadapi Dinda dengan kebohongan yang matang. Ia memilih untuk diam, berharap Dinda bosan menunggu dan pergi meninggalkan rumah.

Pintu kamar bergetar oleh ketukan yang tidak sabar. Suara Arga terdengar menyakitkan di

telinga Nadira, memerintahnya untuk segera membuka pintu. Jantungnya berdegup

kencang, hampir melompat keluar dari tenggorokan yang kering.

Ia meraba bagian bawah kasur dengan tangan gemetar, mencari kotak kayu kecil berisi surat wasiat yang tadi malam ia temukan. Setelah memastikan kotak itu tersembunyi aman di balik lipatan sprei,

ia menarik napas dalam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!