terjadi kesalahan cerita, cerita akan di mulai dengan cerita baru. cerita ini tiba-tiba terjadi kesalahan yang tidak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
"Cinta untuk Nona Muda" 12
Pagi itu, Lucy keluar dari apartemennya dengan langkah ringan. Matanya langsung menangkap sosok yang sudah tidak asing lagi—Kaito Fujiwara, bersandar di motor sport hitamnya, tangan di saku jaket kulit, wajah datar seperti biasa. Di tangannya yang lain, sebungkus susu kotak rasa stroberi.
"Aku cuma lewat," katanya sebelum Lucy sempat bertanya.
"Tentu saja." Lucy mengambil susu itu dan tersenyum. "Kau selalu lewat. Setiap pagi. Di depan apartemenku."
Kaito tidak menjawab. Dia hanya menyerahkan helm dan menaiki motornya. Lucy sudah terbiasa sekarang—naik dengan lancar, memeluk pinggang Kaito tanpa perlu disuruh. Motor melaju, dan mereka berdua menembus pagi yang cerah.
Di gerbang SMA Seiran, pemandangan ini sudah tidak lagi menimbulkan kehebohan seperti hari pertama. Tapi bisik-bisik masih ada. Gosip masih panas.
"Lihat, mereka bareng lagi."
"Kaito Fujiwara... sama Lucy."
"Gila, cowok yang katanya anti-perempuan itu sekarang udah kayak sopir pribadi."
"Dia jemput tiap pagi lho."
"Tapi mereka pacaran apa nggak sih?"
"Entahlah. Yang jelas, mereka cocok banget."
Lucy turun dari motor dan menyerahkan helmnya. "Terima kasih, Kaito."
"Hm."
Mereka berjalan berdampingan menuju gedung utama. Lucy tidak lagi menunduk seperti dulu. Punggungnya tegak, langkahnya ringan, senyumnya manis. Rambutnya diikat ekor kuda, kacamatanya sudah tidak pernah dipakai lagi, dan wajahnya—wajahnya yang dulu kusam dan terlupakan—kini bersinar.
Semenjak penampilannya di acara ulang tahun sekolah, semuanya berubah. Murid-murid mulai menyadari keberadaannya. Cowok-cowok yang dulu tidak pernah meliriknya kini mencuri pandang. Cewek-cewek yang dulu tidak menyadarinya kini berbisik tentang dirinya.
"Primadona baru."
Julukan itu muncul entah dari mana. Mungkin dari kelas lain. Mungkin dari klub musik. Yang jelas, dalam beberapa hari terakhir, nama Lucy disebut-sebut di setiap sudut sekolah. Kecantikannya yang tidak mencolok tapi memikat. Kelucuannya—pipi tembem yang suka menggembung saat kesal. Kepolosannya—caranya berbicara yang lembut dan pemalu.
"Kepolosan," batin Lucy mendengar gosip itu. "Kalau mereka tahu isi kepalaku yang sebenarnya..."
Isi kepalanya saat ini, sambil berjalan di samping Kaito, adalah: Tubuhnya bagus. Ototnya terlatih. Inti jiwanya pasti terasa seperti daging panggang yang dimasak sempurna.
Dia menjilati bibirnya tanpa sadar.
"Kenapa?" tanya Kaito, menyadari gerakan itu.
"Eh? A-apa?" Lucy tersadar dari lamunannya. "Nggak kenapa-kenapa! Cuma... lapar."
"Kau selalu lapar."
"Itu tidak benar!" pipinya menggembung. "Aku cuma... suka makan."
Kaito menatap pipi tembem itu dan merasakan dorongan aneh untuk mencubitnya. Dia buru-buru mengalihkan pandangan.
Di depan gerbang kelas, Yuki dan Haru sudah menunggu. Begitu melihat Lucy, mereka langsung berlari menghampiri.
"LUCY! PAGI!" Yuki merangkul lengannya.
"Eh, Kaito! Pagi juga!" Haru melambai canggung.
Kaito mengangguk singkat, lalu berjalan masuk ke kelas. Tapi sebelum dia menghilang di balik pintu, dia sempat menoleh sekilas ke arah Lucy.
Begitu Kaito hilang dari pandangan, Yuki dan Haru langsung menyerbu.
"GILA! KALIAN JADI PACARAN?!"
"BELUM!" jawab Lucy cepat.
"Tapi dia jemput kamu tiap hari!"
"Itu... dia cuma lewat..."
"LEWAT APANYA?! RUMAH KALIAN BEDA ARAH!"
Lucy hanya bisa memasang ekspresi malu—akting yang sudah semakin sempurna.
Sebelum masuk kelas, Lucy mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan.
Lucy: Pagi! Aku udah buat sesuatu buat kamu lho. Tapi kamu gak datang ya? Sabar ya, nanti aku kasih pas kamu balik. 😊🍓
Pesan itu terkirim. Dan seperti yang sudah dia duga, tidak ada balasan. Lili sudah memberitahunya pagi tadi bahwa Ren masih sibuk dengan acara keluarga—pesta-pesta orang kaya yang tidak bisa dihindari. Dia tidak akan datang hari ini.
"Bagus," pikir Lucy. "Aku bisa fokus ke Kaito."
Dan soal "sesuatu" yang dia janjikan? Dia belum membuat apa pun.
"Nanti aja pakai sihir," batinnya. "Ngapain susah-susah."
Di dalam kelas, Lucy duduk di tempatnya. Tapi pikirannya tidak sepenuhnya di pelajaran. Matanya menerawang ke luar jendela, menatap halaman sekolah yang dipenuhi pohon-pohon.
"Pohon itu... ada buahnya nggak ya?"
"Kau Dewi Rubah, bukan monyet," komentar Lili dalam kepalanya.
"Aku tahu. Tapi buah di pohon manusia rasanya beda."
"Kau punya kebun buah di kastil. Dengan pohon apel emas, pohon anggur kristal, pohon persik surgawi—"
"Tapi itu semua buah ilahi. Aku ingin buah manusia biasa. Lihat saja pohon-pohon itu... apa ada yang berbuah?"
Dia menatap pohon-pohon di halaman. Pohon sakura—tidak berbuah. Pohon maple—tidak berbuah. Pohon ek—tidak berbuah. Satu per satu dia periksa, dan hasilnya nihil.
Wajahnya berubah murung.
Kaito, yang duduk dua baris di depannya, menoleh tanpa sengaja. Dia melihat Lucy menatap ke luar jendela dengan ekspresi sedih. Alisnya berkerut.
"Kenapa dia sedih?"
Dia mengikuti arah pandangan Lucy. Halaman sekolah. Pohon-pohon. Tidak ada yang istimewa.
"Apa dia memikirkan sesuatu? Seseorang?"
Pikirannya langsung tertuju pada satu nama. Ren Arisugawa. Dia pernah melihat Lucy dan Ren pulang bersama malam itu. Apakah dia... sedih karena Ren tidak ada?
Rahang Kaito mengeras.
Sementara itu, Lucy masih menatap pohon-pohon dengan putus asa. "Tidak ada satu pun pohon berbuah. Dunia ini kejam."
Jam istirahat tiba. Lucy berdiri dan meregangkan tubuhnya. Tapi sebelum dia bisa melangkah ke kantin, Yuki dan Haru sudah menariknya keluar kelas.
"Lucy! Ke kantin yuk!"
"Ada menu baru! Pudding stroberi!"
Mata Lucy berbinar. "Pudding stroberi?!"
Mereka bertiga berjalan ke kantin dengan tangan bergandengan. Di tengah perjalanan, mereka berpapasan dengan beberapa murid yang melambai ke arah Lucy.
"Eh, itu Lucy!"
"Si primadona baru!"
"Lucu banget sih dia!"
"Cantik, imut, polos... beda banget sama primadona sebelumnya."
Lucy menunduk malu—akting, tentu saja. Di dalam hatinya, dia menyeringai. "Primadona. Aku suka gelar itu."
Di kantin, mereka bertiga mengambil tempat di meja pojok. Lucy memesan porsi yang lumayan banyak: nasi kari, ayam goreng, sup miso, puding stroberi, dan jus stroberi. Yuki dan Haru sudah tidak heran lagi dengan nafsu makannya.
"Eh, Lucy." Yuki menyikutnya pelan. "Lo sama Kaito beneran nggak pacaran?"
"Belum," jawab Lucy sambil menyuap nasi karinya.
"BELUM?!" Kedua temannya langsung bereaksi.
"Berarti nanti PACARAN?!"
"Kalian deket banget! Dia jemput lo tiap pagi! Dia yang dulu nggak pernah deket cewek!"
"Lo tau, kemarin ada yang ngomong, Kaito itu CP terbaik buat lo!"
Lucy hampir tersedak. "CP?!"
"Couple pairing! Pasangan!" Haru menjelaskan. "Banyak yang nge-ship kalian!"
"Kaito si dingin yang anti-cewek, sama Lucy si imut yang polos. Itu kombinasi sempurna!"
"Polos," batin Lucy. "Kalau mereka tahu pikiranku sekarang..."
Pikirannya saat ini: Otot Kaito. Aroma Kaito. Inti jiwa Kaito. Kapan aku bisa mencicipinya?
Dia menjilati bibirnya dan terus makan.
Di meja seberang kantin, Kaito dan anggota Five Shadows baru saja masuk. Riku langsung menyikut Kaito begitu melihat Lucy.
"Woy, itu Mochi-chan."
"Jangan panggil dia begitu," desis Kaito.
"Tapi dia lagi makan. Pipinya menggembung. Kayak tupai."
Kaito melirik—dan langsung menyesalinya. Lucy sedang menyuap puding stroberi, pipinya penuh, matanya berbinar bahagia. Dia terlihat sangat... sangat...
"Gemes," gumam Daiki.
"Diam."
"Lo ngaku aja, Kaito. Lo suka dia."
Kaito tidak menjawab. Tapi dia tidak menyangkal.
Sepulang sekolah, Lucy kembali ke kelas setelah mengambil tugas dari guru. Tapi sebelum dia sampai di kelasnya, dia berhenti di depan papan pengumuman. Matanya menatap sebuah poster.
"Jajanan Favorit: Mochi Strawberry"
Poster itu menampilkan gambar mochi merah muda yang menggoda. Di bawahnya, tertulis: "Edisi Terbatas! Hanya 50 kotak per hari! Segera di kantin!"
Hari ini. Edisi terbatas. Mochi strawberry.
Sayangnya, dia baru melihat poster ini sekarang. Setelah kantin tutup. Setelah mochi itu pasti sudah habis.
"Tidak..." bisiknya.
Dia berlari ke kantin. Meja penjual sudah tutup. Dia bertanya pada petugas kebersihan—mochi edisi terbatas sudah habis terjual sejak jam istirahat kedua.
"Terjual... habis..." Mata Lucy berkaca-kaca.
Dia berjalan kembali ke kelas dengan langkah gontai. Wajahnya murung. Pipinya yang biasanya ceria kini lesu. Dia duduk di bangkunya dan menatap ponselnya dengan kosong.
Mochi strawberry. Hilang. Lenyap. Punah.
Kaito yang sedang membersihkan mejanya memperhatikan perubahan suasana hati Lucy. Gadis itu—yang tadi pagi ceria—kini terlihat seperti anak kucing yang kehujanan. Matanya sendu. Pipinya tidak menggembung. Bahkan rambutnya terlihat lebih lemas.
"Dia sedih lagi," pikir Kaito. "Dan kali ini lebih parah."
Dia melirik ponsel di tangan Lucy. Gadis itu menatap layar dengan ekspresi hancur.
"Apa dia... menunggu pesan dari seseorang?"
Pikiran tentang Ren Arisugawa kembali muncul. Kaito mengepalkan tangannya di bawah meja.
Sementara itu, isi kepala Lucy: Mochi. Mochi strawberry. Kenapa dunia ini begitu kejam? Kenapa hanya 50 kotak? Kenapa tidak 50.000? Aku Dewi. Aku bisa menghancurkan dunia ini karena mochi.
"Tolong jangan hancurkan dunia hanya karena mochi," suara Lili di kepalanya terdengar lelah.
"Aku tidak janji."
Saat pulang, Lucy masih belum pulih dari kesedihannya. Dia berjalan di samping Kaito dengan langkah lambat. Matanya masih kosong. Ponselnya digenggam erat—layarnya menampilkan chat dengan Ren yang masih belum dibalas.
Kaito memperhatikan semua ini. Ponsel. Layar chat. Ekspresi sedih.
"Dia menunggu pesan dari Ren," pikirnya. "Dan Ren tidak membalas."
"Kenapa?" tanyanya tiba-tiba.
Lucy mendongak. "Eh?"
"Kau sedih. Kenapa?"
"Ah... nggak apa-apa..." Lucy menggeleng, memasang senyum tipis yang tidak meyakinkan. "Cuma... hal kecil."
"Hal kecil," batin Kaito. "Tapi kau terlihat seperti akan menangis."
Dia tidak bertanya lagi. Tapi sepanjang perjalanan pulang, dia mencuri pandang ke arah Lucy yang duduk di belakangnya. Gadis itu memeluk pinggangnya seperti biasa, tapi kali ini pelukannya terasa lebih lemah. Lebih... rapuh.
"Siapa pun yang membuatmu sedih," pikir Kaito, "aku akan—"
Dia tidak menyelesaikan pikiran itu. Karena dia tidak tahu apa hak dia untuk berpikir seperti itu.
Di depan apartemen, Lucy turun dari motor. "Terima kasih, Kaito. Sampai jumpa besok."
"Lucy."
Dia berhenti.
Kaito membuka mulutnya. Menutupnya. Lalu berkata, "Apa pun yang membuatmu sedih... tidak apa-apa. Kau boleh sedih. Tapi... jangan terlalu lama."
Lucy menatapnya dengan mata membulat. Kaito mengalihkan pandangan, menyalakan mesin motor, dan pergi sebelum dia bisa melihat reaksi Lucy lebih lanjut.
"Dia mengira aku sedih karena sesuatu yang serius," pikir Lucy. "Padahal aku hanya sedih karena mochi."
Dia terkekeh pelan, lalu masuk ke apartemennya.
Malam itu, Lucy duduk di kasurnya dengan piyama kelinci—hadiah dari Nao. Rambutnya yang setengah biru setengah hitam tergerai bebas. Softlens-nya sudah dilepas, memperlihatkan mata biru safirnya. Di hadapannya, laptop menyala, siap memutar film.
Tapi sebelum itu—
Pesan Baru dari: Ren Arisugawa
Lucy melirik ponselnya. Satu notifikasi. Dia mengabaikannya dan membuka aplikasi film. Dia sudah tidak sabar untuk menonton sambil makan cemilan.
"Lili, tolong ambilkan cemilan dari dapur."
Lili yang baru saja bangun dari tidur panjangnya menguap lebar. "Aku kucing, bukan pelayan."
"Kau sistem. Lebih rendah dari pelayan."
"..."
Lili melompat dari kasur dengan ekspresi kesal. Saat dia mendarat di meja, kakinya tanpa sengaja menyentuh ponsel Lucy.
Ting.
Notifikasi terbuka. Layar chat dengan Ren muncul.
Ren Arisugawa: Maaf.
Ren Arisugawa: Aku baru selesai.
Ren Arisugawa: Kau masih bangun?
Ren Arisugawa: Lucy?
Ren Arisugawa: Kau marah?
Ren Arisugawa: Aku tidak bisa membalas tadi. Acara keluarga. Tidak bisa pakai ponsel.
Ren Arisugawa: Kau bilang kau membuat sesuatu untukku.
Ren Arisugawa: Apa itu?
Ren Arisugawa: Lucy.
Ren Arisugawa: Aku tahu kau membaca ini.
Ren Arisugawa: ...
Ren Arisugawa: Maaf.
Ren Arisugawa: Aku tidak bermaksud mengabaikanmu.
Ren Arisugawa: Besok aku pulang. Aku akan ke sekolah.
Ren Arisugawa: Kau akan datang?
Ren Arisugawa: Aku... ingin melihatmu.
Ren Arisugawa: Lucy?
Ren Arisugawa: Selamat malam.
Ren Arisugawa: Mimpi indah.
Ren Arisugawa: ...
Ren Arisugawa: Aku merindukanmu.
20 pesan. Dua puluh pesan tidak terbaca. Dan Lucy tidak melihat satu pun.
Kenapa? Karena begitu ponselnya berbunyi, dia sudah menonaktifkan semua notifikasi aplikasi—kecuali aplikasi filmnya. Dia ingin menonton tanpa gangguan.
"Lili! Cemilannya!"
Lili mendengus dan mulai mengeluarkan sesuatu dari udara. Bukan cemilan biasa—dua kotak mochi strawberry edisi terbatas. Yang sama persis dengan yang habis terjual tadi siang.
Lucy menatap kotak-kotak itu. Matanya membelalak. "LILI! KAU—BAGAIMANA—MOCHI INI—"
"Aku sistem. Aku bisa mereplikasi makanan dari data dunia ini." Lili menjilat kakinya. "Kau sedih seharian hanya karena mochi. Itu menyedihkan. Jadi ambillah."
Lucy memeluk kedua kotak mochi itu seperti harta karun. "Lili, kau sistem terbaik di seluruh alam semesta."
"Aku tahu."
Lucy duduk di kasur, membuka satu kotak mochi, dan mulai makan sambil menyalakan film. Di meja, ponselnya menyala sekali lagi.
Ren Arisugawa: Selamat malam. Aku merindukanmu.
Layar meredup.
Lucy tidak menyadarinya. Dia terlalu sibuk dengan mochi strawberry dan filmnya, tertawa kecil saat adegan lucu muncul, menangis saat adegan sedih, dan akhirnya tertidur dengan sisa mochi di sudut bibirnya.
Lili menatap ponsel itu, lalu menatap Lucy yang tertidur pulas.
"Dia tidak tahu," gumamnya. "Besok akan ada kejutan."
Dia melompat ke bantal dan meringkuk. Di luar, bulan bersinar terang, dan di suatu tempat di kota ini, dua orang pemuda sedang memikirkan gadis yang sama—tanpa tahu bahwa gadis itu sedang bermimpi tentang mochi dan inti jiwa manusia.