"Lima tahun lalu, dia diusir dalam keadaan hamil dan dianggap mandul. Kini, dia kembali bukan untuk mengemis cinta, melainkan untuk merebut apa yang menjadi miliknya."
Elena kembali ke ibu kota sebagai desainer interior kelas dunia dengan satu misi rahasia: mengambil kembali anak perempuannya yang sempat tertinggal di keluarga mantan suaminya, Arthur Arkananta. Namun, takdir mempermainkannya. Klien besar pertama yang harus dia hadapi adalah Arthur sang CEO berdarah dingin yang dulu mencampakannya karena fitnah kejam.
Di saat Elena mati-matian menyembunyikan putra kembarnya yang genius dari jangkauan Arthur, sebuah rahasia besar di masa lalu mulai terkuak satu per satu. Arthur yang mulai curiga kini berbalik mengejarnya, tetapi Elena bukan lagi wanita lemah yang bisa ditindas.
Akankah Arthur menemukan kebenaran tentang anak kembar mereka sebelum Elena pergi membawa semuanya? Atau akankah penyesalan sang CEO datang terlambat saat Elena justru bersanding dengan pria lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pertiwi Dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Agen Internasional dan Negosiasi Cokelat Premium
Matahari pagi menyinari mansi utama Arkananta dengan kehangatan yang tenang, sangat kontras dengan badai media yang baru saja mereka bungkam tadi malam. Di ruang kerja utama Arthur, suasana tampak begitu formal. Evan berdiri di dekat pintu dengan ekspresi waspada, sementara di sofa tamu, seorang pria asing berbadan tegap dengan setelan jas abu-abu gelap khas Eropa sedang duduk dengan gelisah.
Pria itu adalah Agen Raymond, kepala divisi kejahatan siber tingkat tinggi dari Badan Siber Internasional (Interpol). Kedatangannya yang mendadak menggunakan jet khusus langsung dari Lyon, Prancis, tentu saja bukan untuk urusan bisnis korporasi biasa.
"Tuan Arkananta," Raymond membuka suara, melirik Arthur yang duduk tenang di kursi kebesarannya. "Kami melacak jejak digital dari serangan balik DDoS masif yang menghancurkan seluruh server media ilegal kemarin malam. Serangan itu menggunakan protokol enkripsi kuantum yang sangat langka. Dan semua jalurnya... bermuara langsung pada IP privat mansi ini."
Arthur menyandarkan punggungnya, menopang dagunya dengan jemari yang saling bertautan. Wajahnya datar, memancarkan aura dominasi yang tak tergoyahkan. "Lalu?"
"Kami ke sini untuk mengamankan peretas kelas kakap tersebut. Aktivitasnya sudah masuk dalam radar pengawasan internasional karena berpotensi mengancam stabilitas jaringan global," tegas Raymond serius.
Arthur tidak menjawab. Dia hanya menekan satu tombol di interkom mejanya. "Evan, bawa peretas kita masuk."
Raymond langsung menegakkan posisi duduknya, bersiap menghadapi sosok jenius komputer dewasa yang misterius atau agen spionase sewaan. Namun, ketika pintu jati besar itu terbuka, rahang Raymond seketika jatuh.
Bukan pria dewasa, melainkan seorang bocah laki-laki berusia lima tahun dengan kaos polos hitam dan celana pendek yang melangkah masuk dengan santai. Tangan kirinya memegang sebuah gawai mini, sementara tangan kanannya sibuk memasukkan sebuah kepingan cokelat ke dalam mulutnya. Itu adalah Leon.
"Papa memanggilku?" tanya Leon datar, suaranya yang cempreng khas anak-anak terdengar sangat kontras dengan atmosfer tegang di ruangan itu.
Raymond berkedip beberapa kali, menoleh ke arah Arthur dan Evan bergantian. "Tuan Arkananta, apakah ini lelucon? Saya sedang membicarakan peretas yang meruntuhkan tiga server korporasi dalam waktu empat menit, bukan anak TK."
Leon menghentikan kunyahannya, menatap Raymond dengan tatapan mata elangnya yang dingin sangat mirip dengan tatapan Arthur. "Sistem pertahanan firewall yang Anda gunakan untuk melacakku menggunakan basis Three-Way Handshake yang sudah usang, Tuan Agen. Aku sengaja meninggalkan jejak IP mansi ini agar Anda datang ke sini. Kalau tidak, Anda tidak akan pernah bisa menemukanku bahkan sampai sepuluh tahun ke depan."
Raymond membeku di tempatnya. Kosakata digital yang keluar dari mulut bocah kecil itu langsung menghantam logikanya. "K-Kamu... yang melakukan semuanya?"
Leon berjalan ke sofa kosong di sebelah Raymond, memanjatnya dengan sedikit bersusah payah karena tubuhnya yang mungil, lalu duduk dengan tenang sambil melipat kaki. "Ya. Dan sekarang Anda mengganggu waktu belajarku. Jadi, langsung saja ke intinya. Apa yang Anda inginkan?"
Raymond menelan ludah dengan susah payah, mendadak merasa terintimidasi oleh anak berusia lima tahun. Dia berdeham, mencoba mengembalikan profesionalismu. "Ehem... Pemerintah internasional ingin merekrutmu secara rahasia sebagai konsultan keamanan siber luar biasa. Kami bisa memberikan fasilitas apa pun, perlindungan hukum penuh, dan anggaran dana riset yang tidak terbatas."
Leon tampak tidak tertarik. Dia menopang dagunya dengan bosan. "Anggaran dana tidak ada gunanya bagiku. Uang Papa sudah terlalu banyak dan tidak habis tujuh turunan."
Arthur yang mendengar hal itu hanya membuang muka, menyembunyikan senyuman miring yang penuh kebanggaan mutlak atas kesombongan putranya yang sangat berkelas.
"Lalu, apa yang kamu inginkan sebagai imbalan kerja sama?" tanya Raymond pasrah, benar-benar mati kutu di depan pewaris Arkananta tersebut.
Leon mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja kaca. "Pertama, aku ingin akses mutlak ke satelit pemantau cuaca global tanpa ada intervensi atau peringatan darurat dari agensi Anda. Adikku, Lia, sangat ingin melihat salju di halaman mansi bulan depan."
Raymond melongo. "M-Meretas satelit cuaca hanya untuk... salju mainan?"
"Kedua," lanjut Leon tanpa memedulikan ekspresi syok sang agen. "Aku ingin pasokan kepingan cokelat premium Galli langsung dari pabriknya di Swiss sebanyak dua kotak setiap minggu, dikirim langsung dengan penerbangan tercepat ke mansi ini. Dan ketiga, tingkatkan hak akses pelacakan enkripsiku pada jaringan terlarang Dark Web."
Raymond menarik napas dalam-dalam, lalu menoleh ke arah Arthur yang kini sudah bangkit berdiri dari kursinya. Pria penguasa dinasti itu berjalan menghampiri putranya, lalu mengacak rambut Leon dengan bangga.
"Bagaimana, Agen Raymond? Penawaran putraku sangat sederhana, bukan? Jika Interpol setuju, Evan akan menyiapkan kontrak hitam di atas putih sekarang juga," ucap Arthur, suaranya berat dan penuh dengan nada kemenangan mutlak. "Jika tidak, silakan tinggalkan mansi saya, dan anakku akan memastikan seluruh sistem komputer di markas pusat Anda di Prancis mati total dalam waktu lima menit dari sekarang."
Raymond tidak punya pilihan lain. Menghadapi satu Alpha Arkananta saja sudah mengerikan, ditambah sekarang ada satu monster kecil genius di sampingnya. Dia akhirnya mengangguk pasrah. "Baik... Kami menerima persyaratan dari Tuan Muda Leon."
Malam itu, di bawah perlindungan takhta Dinasti Arkananta yang tak tergoyahkan, Leon resmi menjadi konsultan siber termuda dalam sejarah dunia semuanya hanya demi kebahagiaan adiknya dan beberapa keping cokelat premium.