NovelToon NovelToon
Suamiku Spesial

Suamiku Spesial

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Fantasi / Perjodohan
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Liora terpaksa menandatangani perjanjian pranikah dan dinikahkan dengan Alexander, seorang pria berkebutuhan khusus yang diasingkan keluarganya di sebuah desa terpencil. Ia pun pergi ke desa itu untuk merawat suaminya yang asing baginya. Namun, semakin lama merawat Alex, Liora mulai menyadari ada keanehan dan ketakutan dari warga sekitar terhadap pria itu. Ia pun curiga, jangan-jangan Alex tidak seperti yang terlihat. Di balik keterbatasannya, Alex ternyata menyimpan rahasia besar yang menjadi alasan keluarganya membuangnya. Liora kini harus mengungkap kebenaran di balik pengasingan suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11: Rahasia di Tengah Malam

Malam semakin larut. Suara jangkrik di luar perlahan melemah, digantikan oleh keheningan yang hanya dipecahkan oleh embusan angin malam yang sesekali berhembus melewati celah-celah jendela. Cahaya bulan purnama bersinar terang, menerangi halaman rumah besar itu dengan siluet perak yang lembut.

Liora sudah tertidur lelap di kamarnya. Napasnya teratur, dan wajahnya tampak tenang meskipun ada sedikit kerutan di alisnya—mungkin sisa-sisa kekhawatiran tentang kejadian tadi malam. Pintu kamarnya tertutup rapat.

Di kamar sebelah, Alex juga tampak tertidur. Namun, matanya terbuka.

Bukan mata yang sayu dan mengantuk seperti saat ia marah tadi malam. Bukan tatapan polos seorang anak kecil yang baru bangun tidur.

Mata Alex terbuka lebar. Tatapannya tajam, fokus, dan penuh kesadaran. Ia menatap langit-langit kamarnya selama beberapa detik, mendengarkan suara napas Liora yang samar dari balik dinding. Setelah memastikan Liora benar-benar tertidur, Alex perlahan bangkit dari tempat tidur.

Gerakannya sangat hati-hati. Ia tidak menyalakan lampu, hanya mengandalkan cahaya bulan yang masuk melalui celah tirai. Kakinya yang bertelanjang kaki melangkah tanpa suara di atas lantai kayu. Ia membuka pintu kamarnya sedikit demi sedikit, memastikan tidak ada bunyi derit yang bisa membangunkan Liora.

Ia melangkah menuruni tangga. Setiap anak tangga ia pijak dengan teliti, menghindari bagian yang biasanya mengeluarkan suara. Ia tahu persis di mana titik-titik lemah tangga kayu tua itu berada.

Sesampainya di lantai satu, Alex tidak menuju ruang tamu atau dapur. Ia berbelok ke arah lorong kecil di sebelah dapur, sebuah area yang jarang diperhatikan oleh siapa pun. Di ujung lorong itu, ada sebuah pintu kayu tua yang hampir tidak terlihat karena tertutup oleh tirai tebal yang digantung di depannya.

Alex membuka pintu itu. Di baliknya, terdapat sebuah gudang kecil yang gelap. Debu dan aroma kayu tua menyambutnya. Udara di dalam gudang terasa lebih dingin dan pengap, tetapi Alex tampak sangat akrab dengan tempat ini. Ia melangkah masuk tanpa ragu, lalu menutup pintu di belakangnya.

Di dalam gudang, terdapat beberapa rak kayu yang penuh dengan barang-barang usang—kardus-kardus tua, beberapa potong perabot yang sudah tidak dipakai, dan kain-kain lapis yang sudah berdebu. Namun, Alex tidak peduli dengan semua itu. Tangannya yang terampil meraih sebuah kotak kayu kecil yang tersembunyi di balik tumpukan kardus di sudut gudang. Kotak itu tampak tidak mencolok, tetapi Alex membukanya dengan hati-hati.

Di dalam kotak itu, ada sebuah handphone pintar yang masih baru—bukan handphone murahan, melainkan ponsel flagship yang mahal. Di sampingnya, terdapat sebungkus rokok merek ternama dan sebuah korek api.

Alex mengambil handphone itu, menekan tombol power, dan layar menyala dengan terang. Cahaya itu menerangi wajahnya untuk sesaat, memperlihatkan ekspresi yang sangat berbeda dari wajah polos yang biasa ia tunjukkan pada Liora. Wajah itu serius, tegas, dan penuh perhitungan.

Ia mengambil sebatang rokok dan meletakkannya di bibirnya. Dengan tangan kiri, ia memetik korek api dan menyalakan ujung rokok. Percikan api kecil menyala di kegelapan, lalu asap putih mulai mengepul perlahan. Alex menghisap rokok itu dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Asap itu menari-nari di udara sebelum menghilang.

Handphone di tangannya sudah menyala. Ia membuka daftar kontak, menemukan satu nama yang sudah ia simpan dengan inisial "R.", lalu ia menekan tombol panggil.

Terdengar nada sambung selama beberapa detik. Lalu, suara seorang pria menjawab dari seberang.

"Tuan Alexander? Ini jam segini? Ada apa?" suara itu terdengar kaget, tetapi tetap profesional.

"Rian," sapa Alex dengan suara rendah, tegas, dan sangat dewasa. Tidak ada sedikit pun nada kekanak-kanakan di suaranya. Suara ini adalah suara seorang pemimpin, suara seorang pria yang terbiasa memberi perintah.

"Ada apa, Tuan? Apa ada masalah?" tanya Rian, asisten pribadi yang sudah bekerja untuk Alex selama bertahun-tahun.

Alex menghisap rokoknya lagi. "Bagaimana keadaan perusahaan saat ini? Aku perlu laporan terbaru."

"Semua berjalan lancar, Tuan. Laporan keuangan bulan ini menunjukkan peningkatan yang signifikan. Proyek properti di kawasan selatan juga sudah mencapai tahap pembangunan fondasi. Tidak ada masalah yang berarti," jawab Rian dengan rinci.

Alex mengangguk, meskipun Rian tidak bisa melihatnya. "Bagus. Pastikan semua operasional berjalan sesuai rencana. Jangan ada yang bocor ke media atau keluarga besar. Terutama tentang... keadaanku di sini."

"Tentu, Tuan. Semua sudah saya atur. Hanya saya dan beberapa tim kepercayaan yang tahu kondisi Anda yang sebenarnya. Untuk keluarga besar, semua masih percaya bahwa Anda sedang... dalam masa pemulihan di luar negeri."

"Baik," kata Alex. Suaranya sedikit melembut, tetapi masih tegas. "Ada hal lain yang perlu aku ketahui?"

Rian terdiam sejenak. "Ada satu hal, Tuan. Beberapa anggota keluarga Theodore mulai bertanya-tanya tentang pernikahan Anda. Mereka penasaran dengan Nona Liora. Apakah mereka akan mulai mencari tahu keberadaan Anda?"

Alex tersenyum tipis. Senyuman itu dingin, tajam, dan penuh perhitungan. "Biarkan mereka penasaran. Untuk sekarang, Liora belum perlu tahu apa-apa. Dan kau juga jangan berbicara apa-apa pada siapa pun. Aku sendiri yang akan berurusan dengan keluarga."

"Baik, Tuan. Tapi... kapan rencana Anda akan dijalankan? Sejak Anda memutuskan untuk 'menghilang', semua pekerjaan kantor terbengkalai meskipun saya yang mengurusnya. Kapan Anda akan kembali?"

Alex menghembuskan asap rokok panjang-panjang. Matanya menatap ke arah langit-langit gudang yang gelap, berpikir sejenak.

"Sampai Liora bisa aku dapatkan sepenuhnya," jawab Alex perlahan. "Dia harus benar-benar percaya padaku. Percaya bahwa aku hanyalah Alex yang polos. Begitu dia yakin, dan begitu aku yakin bahwa dia tidak akan mengkhianatiku, maka aku akan kembali."

Rian terdiam. Lalu ia menjawab dengan hati-hati. "Apa Nona Liora tahu tentang... rencana ini?"

Alex tertawa kecil. Tawanya dingin. "Tidak. Dan dia tidak boleh tahu. Untuk sekarang, biarkan dia percaya bahwa dia menikah dengan seorang pria cacat. Biarkan dia merawatku dengan tulus. Karena hanya dengan begitu, aku bisa melihat apakah dia benar-benar layak menjadi istriku atau hanya boneka keluarga Theodore."

Rian menghela napas. "Saya mengerti, Tuan. Saya akan terus menjaga semua operasional. Tapi hati-hati, Tuan. Rahasia ini bisa hancur jika ada satu kesalahan kecil."

"Jangan khawatir, Rian. Aku tahu apa yang aku lakukan," jawab Alex. Suaranya penuh keyakinan. "Sudah malam. Kau istirahatlah. Aku akan menghubungi lagi jika ada yang perlu aku ketahui."

"Baik, Tuan. Selamat malam."

"Selamat malam."

Alex menutup telepon. Handphone itu ia matikan dan ia simpan kembali ke dalam kotak kayu, bersama dengan rokok dan korek api yang masih menyisakan asap tipis di udara. Ia berdiri di dalam gudang gelap itu untuk beberapa saat, merasakan dingin malam yang meresap ke dalam tulangnya.

Kemudian, ia tersenyum lagi. Senyuman yang sama yang ia berikan saat ia memeluk Liora tadi malam di atas ranjang. Senyuman obsesif, posesif, dan penuh arti.

"Tunggu aku, Liora," bisiknya dalam kegelapan. "Aku tidak akan membiarkanmu pergi."

Alex menutup kotak kayu itu kembali, menyembunyikannya di balik tumpukan kardus, lalu melangkah keluar dari gudang. Ia menutup pintu gudang dengan hati-hati, memastikan tirai tebal menutupi pintu itu kembali seperti sedia kala.

Ia menaiki tangga dengan langkah yang sama—hati-hati, tanpa suara. Ia melewati kamar Liora, mendengarkan suara napasnya yang masih teratur dan tenang. Liora masih tidur.

Alex tersenyum tipis, lalu masuk ke kamarnya sendiri. Ia berbaring di atas tempat tidur, menatap langit-langit kamar yang gelap.

Malam semakin larut. Di luar, angin malam berhembus perlahan, membawa aroma tanah basah dan dedaunan. Alex memejamkan matanya, dan perlahan-lahan, ekspresi wajahnya berubah. Dari wajah tajam seorang pria dewasa, kembali menjadi wajah polos yang biasa ia tunjukkan pada Liora.

Besok, ia akan menjadi Alex yang kembali lagi.

Malam itu, rahasia besar tetap tersimpan di dalam gudang gelap, dan dua hati masih tidur dalam kamar yang berbeda.

1
Ilfa Yarni
oooo jadi gitu tp syukurlah udah ga ada rahasia lg diantara mereka dan jg bisa bersikap sebagaimana mestinya dan skr kalian bisa menghadapi masalah bersama2
Ilfa Yarni
aku jg penasaran bukan km saja liora
wulaniii
gais like dan komen kalo bisa tonton yah biar dapet komisi 🤣
Alia Chans
Hadir Thor, penasaran banget ama lanjutan nya ...🤭🤭

saling support sabi kali😉
Muhajir Al musyaffa
halo kak aku punya karya loh mampir yu kak😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!