NovelToon NovelToon
Tiba-Tiba Jadi Istri Juragan

Tiba-Tiba Jadi Istri Juragan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Transmigrasi / Nikahmuda
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tasya Chuky

Berawal Dari sebuah kutukan. dari Hana yang mengutuk habis Tokoh kedua wanita bernama Elsa. Elsa (20thn) seorang gadis yang di jadikan jaminan hutang oleh orang tuanya. Elsa yang di dalam cerita di katakan terpaksa menikah menjadi istri kedua juragan Tama. pria tua. tak terima...pada akhirnya memilih berselingkuh pada bawahan Tama yang bernama Ardana. Nasib malang menimpa hana, gadis itu di tarik masuk oleh takdir, masuk kedalam buku Novel _The Jurag's Wife_ dan menjadi Tokoh Wanita yang sudah dia maki habis-habisan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Halaman 21

Setelah kepergian Tama, pertahanan Elsa runtuh seketika. Tubuhnya merosot lemas ke atas tanah yang dingin di bawah rimbunnya pohon jeruk.

​"Gila... Orang tua Elsa bener-bener gila! Duit seratus lima puluh juta sebanyak itu buat apa coba?!" tangis Elsa lirih, meratapi nasib sial yang menimpanya.

​Namun, bersamaan dengan rasa frustrasinya, sekelebat memori asing milik Elsa asli mendadak berputar di kepalanya. Bayangan kilas balik memperlihatkan kedua orang tuanya yang menangis histeris, mencoba menebus kakak laki-laki Elsa yang tertangkap menjadi pengedar narkoba. Agar tidak membusuk di penjara, mereka harus membayar denda sebesar seratus lima puluh juta rupiah ke pengadilan. Dan satu-satunya cara mendapatkan uang kilat saat itu adalah dengan meminjam ke Juragan Tama—menggunakan Elsa sebagai jaminan taruhannya.

​"Aaaaaaaa...! Gila! Keluarga gila! Cerita aneh, alur enggak jelas!" jerit Elsa kesetanan.

​Kedua tangannya bergerak kasar memukul-mukul kepalanya sendiri, mencoba mengusir ingatan sialan itu. Tangis Hana di dalam tubuh Elsa pecah sejadi-jadinya.

​"Gue nyesel pernah mengutuk lo, El... Gue enggak tahu... gue bener-bener enggak tahu kalau hidup lo ternyata serumit dan seberat ini..." ucap Hana lirih, meminta maaf pada pemilik raga yang asli. "Maafin gue, El. Gue enggak mau jadi lo... Gue mau balik ke dunia asli gue!"

​"Gue mau balik! Gue mau balik... Tolong... Siapapun tolong gue...!" jerit Hana histeris di dalam tubuh Elsa. Pandangannya yang buram oleh air mata mendadak menangkap seonggok batu berukuran cukup besar di dekat kakinya. Jemarinya yang bergetar meraba batu itu, lalu mencengkeramnya kuat.

​"Kalau dengan batu ini gue bisa mati dan balik ke dunia gue, gue bakal lakuin...!"

​Tanpa ragu lagi, Hana mengayunkan batu tumpul itu dan memukulkannya dengan keras ke kepalanya sendiri.

​Bukk!

​"Aaaaaaaa!" Jeritan melengking yang teramat nyaring dan menyakitkan lolos begitu saja dari tenggorokannya, terdengar pilu seperti orang yang sedang kesurupan.

​Tama yang sebenarnya belum berjalan terlalu jauh seketika menghentikan langkahnya. Jantung sang Juragan mencelos mendengar jeritan melengking milik istri keduanya. Firasatnya memburuk, membuat pria itu langsung berbalik arah dan berlari kembali ke dalam kebun jeruk.

​Begitu sampai, mata Tama membelalak horor. Di depannya, Elsa sedang bertingkah kesetanan, terus-menerus memukulkan batu ke kepalanya sendiri hingga darah segar berwarna merah pekat mulai merembes keluar menyelimuti rambut hitamnya.

​"Elsa! Kamu gila, ya?!" teriak Tama panik. Pria besar itu langsung menerjang maju, mencengkeram pergelangan tangan Elsa dan merebut paksa batu tersebut lalu membuangnya jauh-jauh.

​"Aaaaaaaa! Hiks... hiks... aku mau pulang! Aku enggak mau di sini! Aku enggak mau menanggung beban ini... Aku bukan Elsa!" jerit Elsa sekuat tenaga dengan air mata yang membanjiri wajah pucatnya.

​Meskipun batunya sudah dibuang, tangan Elsa yang gemetar masih mencoba memukul-mukul kepalanya sendiri, padahal tetesan darah sudah mulai mengalir melewati pelipis dan membasahi rambutnya.

​"Elsa, kamu kenapa, sih?! Sudah! Jangan lakukan hal bodoh itu lagi!" bentak Tama, namun kali ini suaranya bergetar hebat karena rasa khawatir yang teramat sangat. Dia menahan kedua tangan mungil itu agar berhenti menyakiti diri sendiri.

​"Aku mau pulang, Om! Aku enggak mau di sini! Aku enggak mau menanggung beban seberat ini... Aku bukan Elsa...!"jerit gadis itu lagi, menyuarakan rahasia terbesarnya yang tentu saja dianggap angin lalu oleh Tama.

​Tangan Elsa berganti mencengkeram kerah kemeja hitam yang dikenakan Tama, memukul-muka dada bidang suaminya dengan sisa tenaga yang dia miliki untuk melampiaskan seluruh rasa sesak di dadanya.

​Tama memandang Elsa dengan tatapan bingung dan cemas. Ucapan istrinya terdengar sangat aneh dan melantur di telinganya. Namun melihat darah yang semakin banyak keluar, ketakutan nyata menyergap hati sang Juragan.

​"Hei... El... Lihat saya. Kamu enggak apa-apa, kamu aman. Di sini ada saya..." ucap Tama melembutkan suaranya, mencoba menenangkan histeria sang istri. "Oke, dengerin saya. Saya enggak akan menuntut kamu atau orang tuamu untuk membayar utang itu lagi. Saya anggap lunas! Tapi tolong... jangan pernah sebut kata cerai lagi sama saya."

​Elsa tidak langsung menjawab. Gadis itu mendongak, menatap Tama dengan pandangan jengkel yang bercampur dengan rasa sakit yang amat sangat. "Lalu apa?! Saya harus tetap jadi istri Juragan selamanya?! Enggak! Enggak mau! Mending kalau Juragan memperlakukan saya dengan adil seperti si Mak Lampir itu! Tapi ini apa? Juragan selalu membeda-bedakan saya!"

​Tama tidak tahan lagi mendengar rincian kekesalan Elsa yang terluka. Dia menahan kedua tangan Elsa, lalu dengan cepat menarik tubuh mungil itu masuk ke dalam dekapan dadanya yang hangat dan kokoh.

​"Syuuuth... Sudah. Jangan marah-marah lagi," bisik Tama lembut di pucuk kepala Elsa, mengabaikan noda darah yang mulai mengotori kemejanya. "Sekarang kita pulang. Kita obati dulu luka di kepala kamu, ya?"

​Elsa akhirnya terdiam, tubuhnya mendadak lemas kehabisan energi setelah meluapkan emosi yang meledak-ledak. Dia sudah terlalu malas untuk menanggapi ucapan pria di hadapannya ini.

​Melihat Elsa yang mulai tenang dan melemas, Tama dengan sigap menyusupkan lengannya di bawah lutut dan punggung Elsa. Dia mengangkat dan menggendong tubuh istri mudanya itu dengan begitu protektif, membawa Elsa berjalan cepat keluar dari kebun jeruk menuju rumah utama untuk segera menyelamatkannya.

1
Wahyuningsih
kok q syuka bingit ama mak lampir menyebalkn skli... thor buat istri pertama di ceraikn krna jht bingit sellu cari gara2 ama elsa
Wahyuningsih
lanjut thor.... dtnggu upnya yg buanyk n hrs tiap hri jgn lma2 up thor tk inaaak menunggu.... srhag sellh jga keshtn tetp 💪💪💪💪 n makaciiiih tuk upnya
Wahyuningsih
mampus langsung di skak mat
Wahyuningsih
dtnggu upnya thor yg buanyk n hrs tiap hri jgn lma2 up thor tk enak menunggu... sehat sellu jga keshtn tetp 💪💪💪 dlm upnya
Wahyuningsih
mampir q thor
Ummanya Hil_Ziy: Makasih Beb' sudah singgah di lapak baruku. di jamin cerita ini, gk kalah seru juga dengan lapakku yang lain😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!