NovelToon NovelToon
Nikah Paksa, Cinta Tak Terduga

Nikah Paksa, Cinta Tak Terduga

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / Romansa Fantasi / CEO / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Demi melunasi utang keluarga dan menyelamatkan ayahnya dari kehancuran, Laras terpaksa menerima pernikahan yang dipaksakan—menjadi istri Arga Pratama, pewaris konglomerat yang dingin, angkuh, dan memandang pernikahan ini sekadar kewajiban bisnis semata. Tidak ada restu hati, tidak ada janji manis; hanya kesepakatan: hidup bersama, tapi tak perlu saling mencintai.

Awalnya, rumah tangga mereka bagai dua kutub yang bertabrakan. Arga bersikap dingin bagaikan es, sementara Laras berusaha menjaga harga diri di tengah cemoohan lingkungan dan tekanan keluarga besar. Namun seiring berjalannya waktu, di balik sikap kasarnya, Laras mulai melihat sisi lain Arga—rasa tanggung jawab, perlindungan diam-diam, dan luka masa lalunya yang tersembunyi. Sebaliknya, ketulusan serta ketabahan Laras perlahan mencairkan hati beku Arga.

Apa yang dimulai dari keterpaksaan dan permusuhan, perlahan berubah menjadi getaran rasa yang tak terduga. Ketika ancaman luar dan rahas

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Janji Sepanjang Masa

Suasana di kediaman Pratama dipenuhi kehangatan yang istimewa. Hari itu diperingati sebagai hari ulang tahun pernikahan Arga dan Laras yang ke-25—seperempat abad perjalanan hidup yang telah mereka lalui bersama, dari awal yang terasa seperti beban hingga menjadi ikatan yang paling berharga di dunia.

Perayaan tidak diadakan secara mewah dengan undangan ribuan tamu. Sesuai permintaan Arga dan Laras, hari ini hanya dikhususkan untuk keluarga terdekat dan orang-orang yang telah setia mendampingi mereka sejak awal: Bu Rina yang kini sudah berusia lanjut namun tetap sehat, orang tua Laras yang telah memasuki usia senja, serta kedua anak mereka, Alvin dan Anindya.

Meja makan panjang dihiasi bunga melati dan kenanga, aroma kesukaan Laras yang selalu mengingatkan mereka pada hari-hari awal kebersamaan. Di tengah meja terdapat kue sederhana bertuliskan: “Dari Keterpaksaan Menjadi Cinta Abadi”.

Saat semua telah duduk, Arga berdiri memegang gelasnya, menatap wajah Laras terlebih dahulu dengan pandangan yang lembut dan penuh rasa syukur, sebelum berbicara kepada semua orang yang hadir.

“Dua puluh lima tahun yang lalu, aku berdiri di depan altar dengan perasaan yang campur aduk—marah, ragu, dan merasa hidupku sedang dikendalikan orang lain. Aku memandang wanita di sampingku itu sebagai solusi masalah, bukan sebagai belahan jiwa. Tapi hari ini, setelah melintasi segala pasang surut, pahit dan manis, aku berdiri di sini dengan hati yang penuh kepastian: jika Tuhan menuliskan jalan ini untukku, itu adalah rencana terbaik yang pernah ada.”

Ia berbalik menghadap Laras, matanya berkaca-kaca. “Terima kasih, Laras. Terima kasih tidak menyerah saat hatiku masih tertutup rapat. Terima kasih tetap percaya padaku di saat semua orang meragukan namaku. Terima kasih telah mengajarkanku bahwa cinta bukan hanya soal perasaan yang datang tiba-tiba, melainkan keputusan untuk tetap setia, memaafkan, dan tumbuh bersama setiap harinya. Hari ini, aku mengulangi janjiku: sampai napas terakhirku, kau tetap satu-satunya ratu di hatiku dan hidupku.”

Tepuk tangan hangat terdengar di ruangan itu. Laras berdiri, menyeka air mata bahagia yang mengalir di pipinya, lalu menggenggam tangan Arga erat. Suaranya terdengar lembut namun tegas, cukup didengar oleh semua orang.

“Aku pun sering bertanya pada diri sendiri di awal perjalanan: apakah aku sanggup mendampingi pria yang dingin dan penuh luka seperti Arga? Tapi aku percaya, setiap pertemuan memiliki tujuannya. Dua puluh lima tahun telah membuktikan bahwa kesabaran dan ketulusan bisa mencairkan es sekalipun. Kau telah memberiku lebih dari sekadar kehidupan yang layak—kau memberiku rasa percaya diri, harga diri, dan cinta yang melengkapi seluruh kekuranganku. Aku pun berjanji: akan tetap mendampingimu, berbagi tawa dan air mata, sampai rambut kita memutih sempurna dan tubuh kita tidak lagi kuat melangkah.”

Kata-kata itu membuat suasana menjadi haru sekaligus penuh sukacita. Alvin dan Anindya berdiri mendekat, masing-masing memberikan hadiah buatan tangan mereka sendiri—lukisan pemandangan taman tempat orang tua mereka sering duduk, serta buku harian yang berisi doa dan pesan-pesan kasih sayang yang mereka kumpulkan selama bertahun-tahun.

“Untuk Ayah dan Ibu,” ucap Alvin mewakili adiknya, “Terima kasih telah menjadi teladan terbaik bagi kami. Dari kalian kami belajar bahwa kebahagiaan tidak diukur dari seberapa banyak harta yang dimiliki, tapi dari seberapa tulus hati yang saling melengkapi. Kami bangga menjadi bagian dari keluarga ini, dan kami berjanji akan menjaga nama baik serta nilai-nilai yang telah kalian tanamkan.”

 

Persiapan Meneruskan Tongkat Kepemimpinan

Seiring bertambahnya usia, Arga mulai merasakan waktunya untuk menyerahkan tongkat kepemimpinan perusahaan semakin dekat. Ia tidak ingin menyerahkan semata-mata karena kedudukan, melainkan memastikan bahwa orang yang meneruskan mampu memegang teguh prinsip yang sama: jujur, adil, dan bermanfaat bagi banyak orang.

Alvin telah menunjukkan kemampuan yang luar biasa. Ia tidak hanya cerdas dalam mengelola angka dan strategi bisnis, tapi juga memiliki kepekaan sosial yang sama seperti ibunya. Selama dua tahun terakhir, Arga secara bertahap mengajarkan seluruh seluk-beluk perusahaan, membawanya dalam setiap pertemuan penting, bahkan membiarkannya mengambil keputusan dengan tanggung jawab penuh sambil tetap mengawasi dari samping.

Suatu sore di ruang kerja, Arga menyerahkan sebuah buku catatan tebal yang sudah usang tertutup kulit cokelat. Buku itu adalah catatan perjalanan hidup dan bisnis Arga sejak ia memegang kendali perusahaan.

“Ini untukmu, Nak,” ucap Arga serius namun hangat. “Di dalamnya tertulis bukan hanya strategi atau angka keuangan, tapi juga kesalahan yang pernah Ayah buat, pelajaran yang pahit yang harus Ayah bayar mahal, serta janji yang Ayah pegang teguh hingga hari ini. Ingatlah: kekuasaan dan kekayaan adalah amanah, bukan hak mutlak. Semakin besar kekuasaanmu, semakin besar pula tanggung jawabmu untuk melindungi orang-orang yang percaya padamu.”

Alvin menerima buku itu dengan kedua tangan, seolah menerima harta paling suci. “Aku mengerti, Ayah. Aku tidak akan menjadikan kekuasaan ini sebagai alasan untuk menyombongkan diri, tapi sebagai sarana untuk melindungi nama baik keluarga dan membantu mereka yang membutuhkan. Aku akan menjaganya sebaik mungkin.”

Di sisi lain, Anindya juga menemukan jalannya sendiri. Ia mewarisi jiwa sosial ibunya, dan berencana melanjutkan yayasan kemanusiaan yang didirikan Laras untuk membantu pendidikan anak-anak kurang mampu dan pengembangan usaha ibu-ibu di daerah pedesaan.

“Meskipun aku tidak memimpin perusahaan besar seperti Ayah dan Kakak,” ucapnya dengan senyum percaya diri, “Aku ingin membawa kebaikan itu sampai ke tempat yang paling jauh sekalipun. Agar nama Pratama tidak hanya dikenal karena kekayaannya, tapi juga karena kebaikannya.”

Laras tersenyum bangga melihat kedua anaknya menemukan panggilan hidup masing-masing. “Itu sudah cukup bagi Ibu. Selama hati kalian tetap lurus dan tidak melupakan dari mana kalian berasal, apapun jalan yang kalian pilih, Ibu dan Ayah akan selalu mendukung.”

 

Senja yang Penuh Makna

Tahun-tahun berikutnya berjalan dengan damai dan penuh berkah. Arga dan Laras perlahan menikmati masa senja mereka, tidak lagi terikat kesibukan kantor, namun tetap menjadi pusat kehangatan dan tempat berkonsultasi bagi seluruh keluarga. Setiap sore mereka tetap berjalan beriringan menyusuri taman, mengingat kisah demi kisah yang telah mereka lewati.

Suatu sore, saat matahari terbenam melukis langit dengan warna jingga keemasan, Arga dan Laras duduk di bangku kayu kesayangan mereka. Di kejauhan, terlihat Alvin yang kini sudah berkeluarga dan memiliki seorang putra kecil, bermain bersama Anindya dan keluarga barunya. Suara tawa riang memenuhi udara, menyatu dengan angin yang berhembus lembut.

Arga menggenggam tangan Laras yang kini sudah penuh kerutan, namun tetap terasa hangat dan akrab.

“Lihatlah semuanya, Sayang,” bisiknya dengan suara lembut. “Siapa sangka awal yang terasa seperti paksaan membawa kita sampai ke titik ini. Kita memiliki segalanya: cinta, kedamaian, keluarga, dan warisan yang abadi.”

Laras menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, memejamkan mata menikmati ketenangan yang sempurna.

“Memang benar kata orang, takdir sering datang dengan pakaian yang tidak kita kenali. Tapi jika kita menerimanya dengan hati yang terbuka dan menjalaninya dengan kesetiaan, ia akan berubah menjadi berkah terindah yang melebihi semua harapan kita. Cinta kita bukanlah dongeng semata, Arga. Ia adalah bukti nyata—bahwa cinta sejati bisa tumbuh, bertahan, dan mekar selamanya, bahkan dari benih yang paling sulit sekalipun.”

Arga mencium kening istrinya lama dan lembut. “Selamanya bersamamu, Laras. Dari awal yang terpaksa, hingga akhir yang sempurna.”

Di bawah langit senja yang indah itu, kisah cinta mereka tidak berakhir—ia terus mengalir, hidup dalam setiap doa, setiap tindakan kebaikan, dan dalam setiap generasi keturunan mereka. Sebuah kisah yang membuktikan: ketika kesabaran bertemu dengan ketulusan, takdir pun akan menulis akhir yang paling bahagia.

Nikah Paksa, Cinta Tak Terduga — Kisah yang Abadi Sepanjang Masa

1
Lisa
Ceritanya menarik Kak
ayu ambara: maksih kk😍
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: oke Kak Ayu 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!