NovelToon NovelToon
Obsesi Ketua OSIS

Obsesi Ketua OSIS

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Anak Genius / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Nalara amora

Kanaya Leticia Clarissa hanya ingin masa SMA-nya berjalan tenang tanpa gangguan. Namun, kecantikannya yang mencolok justru menjadikannya target perundungan oleh senior OSIS yang iri. Di tengah ketakutan itu, Alden Arsenio Malik—sang Ketua OSIS yang dikenal sempurna dan dingin—datang mengulurkan tangan. Letta mengira itu adalah sebuah perlindungan, tanpa menyadari bahwa di balik tatapan tegas Alden, ada obsesi gelap dan posesif yang siap mengurung seluruh hidupnya.

"Kamu aman di sini, Letta. Tapi ingat, kamu hanya milikku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bagian rencana Alden

Alden keluar dari mobil dengan aura yang mematikan. Ia sama sekali tidak terusik oleh ratusan pasang mata yang terpaku pada mereka, atau bisikan-bisikan yang mulai riuh membicarakan keberadaan Aleta di sampingnya. Baginya, opini orang-orang di sekolah ini tidaklah penting; yang utama adalah Aleta tetap berada dalam jangkauannya.

Tanpa membuang waktu, Alden langsung meraih tangan Aleta dan menggenggamnya dengan erat. Genggaman itu posesif—sebuah pesan tak terucap kepada siapa pun yang melihat bahwa Aleta adalah miliknya.

"Jalan," perintahnya pendek.

Alden menarik Aleta melintasi lapangan, membelah kerumunan siswa baru yang seketika terdiam dan memberi jalan. Mereka melangkah tepat menuju barisan murid baru yang sedang diawasi oleh Felicia.

Felicia yang masih berdiri di sana, melihat tangan mereka yang bertaut, merasakan dadanya sesak karena emosi. Ia ingin mendekat dan melabrak, namun saat melihat Alden mampu membuat nyalinya menciut.

Sementara itu, Marsha yang berada di dalam barisan hampir saja berseru memanggil nama sahabatnya tepat sebelum matanya melihat Alden di belakang gadis itu, yang membuat Marsha menutup mulutnya.

Alden tidak berhenti sampai ia membawa Aleta tepat ke dalam barisan. Ia berdiri tepat di belakang Aleta, tangannya yang satu lagi kini berada di bahu gadis itu, seolah-olah sedang mengunci posisi Aleta agar tidak bisa bergerak ke mana-mana.

"Selamat pagi, semuanya," suara Alden menggelegar, dingin dan berwibawa, memecah keheningan lapangan.

"Maaf saya terlambat. Saya baru saja menjemput salah satu dari kalian yang kemarin sempat absen."

Ia menatap Aleta dari balik bahunya, senyum tipis yang penuh ancaman terukir di wajahnya.

"Sekarang, lanjutkan kegiatan kalian. Aleta, jangan buat masalah, ya?"

Setelah memberikan peringatan terselubung itu, Alden melepaskan cengkeramannya dari bahu Aleta. Ia memundurkan langkahnya, kembali menampilkan sosok Ketua OSIS yang tegas dan berwibawa di depan umum.

"Felicia," panggil Alden dengan suara lantang, beralih menatap Felicia yang masih mematung di pinggir lapangan.

"Gue serahin barisan ini ke lo. Pastikan materi pagi ini berjalan sesuai jadwal."

Felicia yang dipanggil buru-buru mengubah ekspresi wajahnya yang semula masam menjadi anggun kembali,

"Siap, al. Bakal gue urus."

Alden tidak membalas lagi. Ia memutar tubuhnya dan berjalan pergi meninggalkan area lapangan dengan langkah lebar, membelah kerumunan menuju gedung utama sekolah. Sebagai Ketua OSIS, agendanya pagi ini masih sangat padat; mulai dari memberikan laporan kepada kepala sekolah, mengecek kesiapan ruang aula, hingga mengoordinasikan panitia inti untuk penutupan MPLS nanti. Baginya, meninggalkan Aleta di barisan saat ini cukup aman, karena seluruh mata fungsionaris OSIS—termasuk Felicia—pasti akan ikut mengawasinya, dan ini termasuk bagian rencana nya.

🌍🌍🌍

Begitu sosok Alden benar-benar menghilang di balik koridor gedung, suasana barisan yang tadinya tegang perlahan mulai mencair.

Marsha yang sejak tadi menahan napas, langsung memanfaatkan kesempatan itu.

Dengan gerakan cepat, ia sedikit menggeser posisinya di dalam barisan agar bisa berdiri tepat di samping Aleta.

"Ta! Aleta!" bisik Marsha matanya bergerak gelisah melirik ke arah Felicia yang mulai berjalan mendekati barisan mereka.

"kamu ke mana aja kemarin? Katanya sakit? Terus... kok bisa bareng Kak Alden? Demi apa lo turun dari mobil dia?!"

Aleta merasakan dadanya bergemuruh. Inilah kesempatannya. Sambil melirik Felicia yang berjalan mendekat dengan tatapan mengintimidasi, Aleta merapatkan jaket hoodie besar milik Alden lalu berbisik pelan pada Marsha.

"Sha, tolongin ya... aku butuh pinjem HP kamu sekarang."

Marsha terkesiap, matanya membelalak lebar mendengar bisikan Aleta yang terdengar begitu mendesak dan penuh ketakutan. Kerutan di dahinya semakin dalam, memperlihatkan rasa bingung yang luar biasa.

Di dalam kepala Marsha, semuanya terasa campur aduk. Ia bingung kenapa sahabatnya yang dikabarkan sakit tiba-tiba datang diantar oleh Ketua OSIS yang terkenal dingin. Ia juga bingung kenapa Aleta memakai jaket hoodie cowok yang sangat kebesaran di tengah cuaca pagi yang mulai memanas. Dan sekarang, yang paling membuat Marsha bingung adalah ekspresi wajah Aleta yang tampak seperti orang yang sedang dikejar bahaya, meminta ponselnya dengan nada berbisik yang amat panik.

"H-HP?" balas Marsha melongo, ikut berbisik dengan nada super pelan.

"Buat apa, Ta? HP kamu ke mana? Lagian kan aturan MPLS, kita gak boleh pegang HP selama materi berlangsung. Kalau ketahuan Kak Felicia, bisa habis kita!"

Marsha melirik ke depan, dan benar saja, langkah kaki Felicia semakin dekat menuju ke arah barisan mereka. Mata Felicia yang tajam terus tertuju pada Aleta, seolah siap mencari kesalahan sekecil apa pun.

"Ta, buruan cerita ada apa sebenarnya—"

ucapan Marsha terputus ketika bayangan Felicia kini sudah berdiri tegak tepat di hadapan barisan mereka, menatap keduanya dengan tatapan sinis dan melipat kedua tangan di dada.

"Buka jaket kamu," ucap Felicia ketus, memutus kalimat Marsha.

Ia berdiri tepat di hadapan Aleta dengan pandangan merendahkan, lalu beralih menatap hoodie besar milik Alden yang membungkus tubuh gadis itu. Kedua tangannya bersedekap di dada, matanya menyipit sinis.

"Mau sok keren di sini? Ini sekolah, hari pertama MPLS, bukan ajang pamer atau tempat buat tebar pesona," sindir Felicia dengan suara yang cukup keras, sengaja agar murid-murid di sekitar mereka mendengar.

"Semua siswa baru wajib pakai atribut lengkap tanpa terkecuali, dan aturan itu juga berlaku di lo"

Mendengar perintah Felicia, jantung Aleta langsung berdegup kencang. Ia refleks memegangi kerah tinggi jaketnya, merapatkannya erat-erat ke leher. Jika ia membuka jaket ini, seluruh rahasia tentang bekas kemerahan di lehernya akan terbongkar di depan ratusan murid, dan ia tidak tahu gosip liar apa lagi yang akan menerpanya.

Di sampingnya, Marsha ikut tegang, melirik Aleta dengan cemas tanpa berani berkutik di bawah tatapan tajam Felicia yang mengintimidasi.

Aleta buru-buru menggelengkan kepalanya, mencoba tetap tenang meski detak jantungnya sudah berpacu tidak karuan. Ia merapatkan genggaman tangannya pada kerah jaket Alden, memastikan kain tebal itu tidak bergeser satu milimeter pun dari lehernya.

"Maaf, Kak, tapi saya nggak bisa buka jaketnya," ucap Aleta dengan suara yang dibuat sedikit serak dan lemas, mencoba memberikan alasan yang paling logis.

"Saya agak kurang enak badan dari kemarin. Kepala saya masih pusing dan badan saya menggigil kalau kena angin pagi."

Marsha yang berdiri di sebelahnya langsung tanggap. Demi menyelamatkan sahabatnya dari amukan Felicia, Marsha ikut mengangguk cepat untuk meyakinkan.

"Iya, bener, Kak Felicia! Kemarin kan Aleta absen juga karena sakit. Makanya hari ini dia masih agak lemas," potong Marsha membela.

Felicia menaikkan sebelah alisnya, menatap Aleta dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan menyelidik yang penuh rasa curiga.

Felicia tan peduli ia hanya ingin jaket Alden tidak melekat di tubuh Aleta, Alden adalah cowonya, Apalagi saat melihat Aleta turun dari mobil Alden membuat nya semakin kesal.

Felicia tidak peduli alasan apapun mau demam campak sekalipun ia tak peduli.

Rasa cemburu dan curiga yang sudah membakar dadanya membuat emosinya tak terkendali.

"Alasan aja kamu! Gak usah manja!" bentak Felicia.

Tanpa peringatan, Felicia langsung mengulurkan tangannya dengan kasar, berusaha menarik paksa ritsleting dan kerah jaket yang dikenakan Aleta. Ia ingin membuktikan kalau Aleta ini hanya mencari perhatian

"Kak, jangan!" seru Aleta panik.

Ia spontan mundur selangkah, kedua tangannya mencengkeram erat kerah hoodie tersebut, berusaha sekuat tenaga mempertahankan jaketnya agar tidak terbuka. Tarikan Felicia yang cukup kuat membuat tubuh mungil Aleta terhuyung.

Beberapa murid baru di sekitar mereka langsung menoleh, terkejut melihat aksi kasar yang dilakukan oleh panitia MPLS tersebut.

Marsha yang panik pun kebingungan harus berbuat apa untuk memisahkan mereka tanpa ikut terseret masalah.

Jika Felicia berhasil menarik jaket itu sedikit saja ke bawah, bekas kemerahan di leher Aleta akan langsung terekspos di depan semua orang.

"Lepasin, Kak! Aku beneran lagi sakit!" seru Aleta, suaranya naik satu oktaf karena panik.

tapi sepertinya Felicia sudah dibutakan oleh rasa penasaran dan ego. Ia tetap kekeh pada pendiriannya, mengabaikan fakta bahwa tindakan kasarnya ini sudah mulai memancing bisikan-bisikan dari barisan murid lain. Kedua tangan Felicia mencengkeram kuat bagian depan jaket itu, menariknya ke bawah dengan sentakan yang lebih keras.

"Gak usah banyak alasan! Buka gak?! Kamu itu cuma murid baru, jangan berani-beraninya ngelawan aturan dan panitia!" bentak Felicia, napasnya memburu egois.

Aleta tidak tinggal diam. Ia tetap berusaha sekuat tenaga mempertahankan jaketnya. Kedua tangannya mencengkeram erat ritsleting di bagian dada, menahannya agar tidak merosot turun. Tubuh mungilnya terdorong ke depan dan ke belakang karena aksi saling tarik-menarik itu. Kain tebal hoodie milik Alden menegang, dan kerah tingginya sempat tertarik, hampir saja mengekspos bagian bawah leher Aleta.

"Kak Felicia, udah, Kak! Nanti robek jaketnya!" Marsha akhirnya memberanikan diri berteriak kecil, mencoba menepis tangan Felicia dengan panik, ketakutan melihat sahabatnya diperlakukan seperti itu di tengah lapangan.

"Diem kamu! Gak usah ikut campur!" gertak Felicia tanpa melepaskan cengkeramannya dari jaket Aleta.

🌍🌍🌍

Suasana di sudut lapangan itu semakin memanas dan ricuh. Aleta memejamkan matanya rapat-rapat, mengerahkan seluruh sisa tenaganya untuk terus bertahan, tahu betul jika ia kalah dalam tarikan ini, kehancurannya di sekolah ini akan dimulai sekarang juga.

Di koridor gedung utama, pintu ruang rapat terbuka. Alden melangkah keluar bersama beberapa anggota OSIS inti laki-laki termasuk Farhan sahabat baik Alden setelah selesai menyelesaikan agenda awal mereka pagi ini.

Dengan langkah tegap dan wibawa yang melekat, mereka berjalan beriringan menuju lapangan utama untuk memantau jalannya MPLS.

begitu mendekati area lapangan, langkah kaki rombongan itu melambat. Pandangan Alden langsung tertuju pada satu titik kegaduhan di sudut barisan siswa baru.

Di sana, Felicia masih terus merangsek maju, sementara Aleta bersikeras mempertahankan jaket hoodie tebal yang membungkus tubuhnya. Aksi saling tarik-menarik itu sudah menjadi tontonan bisu bagi murid-murid di sekitarnya.

Melihat pemandangan itu, alih-alih panik atau buru-buru berlari untuk memisahkan mereka seperti yang dilakukan fungsionaris OSIS lainnya, Alden justru menghentikan langkahnya. Sudut bibirnya perlahan terangkat, membentuk sebuah senyuman licik yang teramat tipis namun penuh arti.

"Eh, al, itu Felicia kenapa ngelabrak anak baru? Samperin yuk, pisahin," ucap salah satu teman pengurus OSIS di sebelahnya, bersiap untuk melangkah maju.

tapi engga dengan Farhan, Farhan menyadari ada sesuatu yang terjadi antara Alden dan murid baru yang bernama Leticia Kanaya Clarisa itu.

"Tunggu," seru Alden pelan namun sarat akan penekanan.

Alden langsung mengulurkan tangan kirinya, menahan dada temannya dan memberi isyarat mundur agar tidak ada satu pun yang ikut campur dulu.

Teman-temannya saling berpandangan bingung, namun mereka tidak berani membantah perintah.

Alden memilih berdiri diam di tempatnya, melipat kedua tangan di dada sambil terus menonton kepanikan di wajah Aleta dari kejauhan. Bagi Alden, ini adalah tontonan yang menarik. Ia ingin melihat sejauh mana gadis itu bisa bertahan, sekaligus membiarkan Aleta sadar seberapa tidak berdayanya dia di sekolah ini tanpa perlindungan darinya.

Ayo, Aleta... tunjukin ke gue gimana cara lo bertahan tanpa gue, batin Alden dengan tatapan mata yang semakin menggelap dan penuh kepuasan terselubung.

🌍🌍🌍

Di tunggu ya yang selanjutnya di up sore😚

1
Putri Ayu/PqxxyZ
oh tidak bisa😭 sudah berkeliling pikiram
Nalara amora: di larang keras woy ka itulah 😭
total 1 replies
Putri Ayu/PqxxyZ
mama aku takut banget sama Alden 😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
obat itu... ngeri sih..😭 agak lain memang
Putri Ayu/PqxxyZ
wah ini nih.. oke lanjut baca lah.. 😭
Putri Ayu/PqxxyZ
gak bang.. aku gak bang😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
seperti ada kebanggaan ya😭
Putri Ayu/PqxxyZ
ayo bisa ayo kabur mbak😭 takut banget hidup kek gitu
Putri Ayu/PqxxyZ
mas yang bener aja lah... cinta memaksa gitu gak baik toh mas
Putri Ayu/PqxxyZ
Aleta.. run mbak.. run 😭😭
Putri Ayu/PqxxyZ
ini betulan gak dibawa ke RS gitu? kasian banget lemes gini
Enz99
menarik
Putri Ayu/PqxxyZ
langsung di hap aja deh🤭
Putri Ayu/PqxxyZ
no no ya.. gak boleh gitu ama cewek toh bang
Putri Ayu/PqxxyZ
lohh ini mah hukuman seumur hidup namanya
Putri Ayu/PqxxyZ
Sangat di rekomendasi baca ini.. Keren banget
Putri Ayu/PqxxyZ
enak tau teh di UKS tuh 🤣 kek beda gitu rasanya
Putri Ayu/PqxxyZ
aw gentle sekali... bungkus deh 😭🤭
Nalara amora
seruu bgt
Nalara amora
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!