Selama tiga tahun Keyra berkorban demi mendukung karier Arkan dari nol hingga sukses menjadi CEO. Namun setelah berada di puncak, Arkan justru mencampakkannya demi wanita kaya. Di tengah keterpurukannya, Keyra dipertemukan dengan Devan, konglomerat papan atas yang mengubahnya menjadi wanita bersinar tak tergapai. Saat Arkan menyadari berlian yang telah dibuangnya kini milik pria yang paling ditakutinya, penyesalan pun tiba. Apakah pintu maaf Keyra masih terbuka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni Denara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diambang Kehancuran
Suasana di dalam kantor Arkan terasa seperti ruang interogasi yang dingin. Baru saja asisten sekretarisnya mengantarkan surat pencabutan fasilitas mobil dinas dan pembekuan kartu kredit korporat miliknya. Efek domino dari pembatalan investasi Alister Group benar-benar menghantam Arkan tanpa ampun. Rekan-rekan bisnis yang biasanya menjilat dan memujinya, kini mendadak memblokir nomor teleponnya dan menolak bertemu.
"Sialan!" Arkan menghempaskan tumpukan berkas di atas mejanya hingga berserakan di lantai. "Bagaimana bisa semua ini terjadi hanya karena satu wanita?!"
Brak!
Pintu ruang kerjanya dibanting terbuka dengan kasar. Mentari melangkah masuk dengan wajah yang sembap karena terlalu banyak menangis. Riasan wajahnya yang biasanya rapi kini tampak berantakan, dan dia tidak lagi mengenakan pakaian desainer mewah, melainkan hanya blus sederhana yang tampak kusut.
"Arkan! Apa yang sebenarnya kamu lakukan?!" pekik Mentari dengan suara melengking penuh histeria. "Ayahku baru saja bilang kalau bank menolak memperpanjang tenor pinjaman perusahaan kami! Semua ini karena Devan Alister memboikot kita! Apa hubungannya kamu, wanita sialan bernama Keyra itu, dan Tuan Devan?!"
Arkan berdiri dari kursi kebesarannya, wajahnya mengeras karena frustrasi. "Cukup, Mentari! Aku sudah cukup pusing dengan urusan dewan komisaris! Jangan menambah beban pikiranku dengan rengekanmu!"
"Beban pikiran?!" Mentari tertawa getir, melangkah maju dan memukul dada Arkan dengan kesal. "Keluargaku terancam bangkrut karena mempromosikanmu menjadi CEO! Ayahku bilang, jika kamu tidak bisa merayu Keyra agar berbicara pada Devan Alister, kamu akan didepak secara tidak hormat sore ini juga! Kamu tahu apa artinya? Kamu akan menjadi pengangguran miskin, Arkan!"
Mendengar kata 'miskin', jantung Arkan bagai ditusuk belati. Itu adalah ketakutan terbesar dalam hidupnya. Ia sengaja membuang Keyra yang tulus demi mendapatkan kekayaan dan status, namun sekarang, semua itu justru menguap dalam hitungan hari.
"Aku akan menemuinya," ucap Arkan dengan gigi teretuk, matanya memancarkan kilatan keputusasaan. "Aku akan mendatangi gedung Alister Group. Aku tahu Keyra pasti sengaja memprovokasi Tuan Devan untuk menghancurkanku. Dia tidak mungkin sekejam itu padaku setelah apa yang kami lewati selama tiga tahun."
Mentari mencengkeram lengan jas Arkan. "Pastikan kamu berhasil, Arkan. Jika tidak, hubungan kita selesai, dan aku akan memastikan kamu membusuk di penjara karena kerugian yang dialami perusahaan keluargaku!"
Di sisi lain kota, di dalam mobil Rolls-Royce hitam yang melaju tenang membelah jalanan protokol, Keyra duduk di samping Devan. Mereka baru saja kembali dari butik desainer untuk mempersiapkan pakaian Keyra yang akan digunakan dalam konferensi pers peluncuran produk kosmetik baru di bawah anak perusahaan Alister Group. Devan sengaja menunjuk Keyra sebagai Brand Ambassador utama untuk menaikkan status sosial gadis itu di mata publik.
Keyra menatap ke luar jendela kaca yang gelap, memperhatikan gedung-gedung tinggi yang menjulang. Pikirannya agak melayang.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" suara berat Devan memecah keheningan di dalam mobil. Pria itu menutup dokumen di pangkuannya dan menoleh ke arah Keyra.
Keyra menghela napas pelan, lalu menoleh menatap Devan. "Aku hanya tidak menyangka... kekuatan uang dan kekuasaan bisa mengubah segalanya dengan begitu cepat. Dua hari lalu, aku hanyalah orang yang tidak dipandang di sudut toko kue. Sekarang, aku duduk di mobil ini bersama pria paling berpengaruh di kota."
Devan bersandar di jok kulitnya, menatap Keyra dengan pandangan yang sulit diartikan. "Dunia ini memang kejam, Keyra. Jika kamu lemah, kamu akan diinjak. Jika kamu kuat, kamu yang akan menentukan aturan mainnya. Kamu memiliki potensi untuk menjadi kuat, hanya saja selama ini kamu menyia-nyiakannya untuk pria yang salah."
Keyra tersenyum getir. "Kamu benar. Aku terlalu bodoh selama tiga tahun ini."
"Kamu tidak bodoh," potong Devan datar, namun ada nada penekanan yang tegas dalam suaranya. "Kamu hanya terlalu tulus. Dan ketulusan adalah barang langka yang tidak boleh diberikan kepada orang murahan seperti mantan kekasihmu itu."
Tangan Devan bergerak, perlahan menggenggam tangan Keyra yang berada di atas pangkuannya. Sentuhan kulit mereka yang hangat membuat desiran aneh kembali muncul di dada Keyra. Keyra mencoba menarik tangannya, namun Devan mempererat genggamannya tanpa menyakitinya.
"Mulai sekarang, tataplah ke depan," bisik Devan, sepasang mata elangnya mengunci pandangan Keyra. "Konferensi pers besok akan menjadi panggung pertamamu. Seluruh media akan menyorotmu. Arkan pasti akan menontonnya dari layar televisi di kantornya, atau mungkin dari jalanan setelah dia dipecat."
Keyra menatap tangan mereka yang saling bertautan, lalu mengangguk dengan keyakinan yang baru. "Aku tidak akan membuatmu kecewa, Devan. Aku akan menunjukkan pada mereka semua siapa Keyra yang sesungguhnya."
Mobil mewah itu akhirnya berbelok memasuki area pelataran gedung Alister Group. Namun, tepat di depan pintu masuk lobi utama, kepungan beberapa petugas keamanan tampak sedang menahan seorang pria berjas kusut yang mencoba menerobos masuk dengan paksa.
Pria itu adalah Arkan. Wajahnya tampak liar dan frustrasi saat melihat mobil Rolls-Royce Devan berhenti di depan lobi.
"Keyra! Keyra, aku tahu kamu di dalam! Keluar, Keyra! Tolong dengarkan aku sekali saja!" teriak Arkan histeris, mengabaikan fakta bahwa tindakannya menjadi tontonan para karyawan dan awak media yang kebetulan berada di sekitar lokasi.
Keyra menatap pemandangan melecehkan itu dari balik kaca mobil yang gelap. Rasa kasihan yang sempat tersisa di hatinya kini benar-benar menguap, digantikan oleh rasa jijik yang mendalam melihat pria yang dulu ia puja kini bertindak seperti pengemis tanpa harga diri.
Devan melirik ke luar jendela, lalu menekan tombol interkom untuk berbicara dengan sopirnya. "Jangan berhenti di lobi. Masuk langsung ke parkir bawah tanah khusus. Jangan biarkan sampah itu mengotori pandangan mata wanitaku."
"Baik, Tuan Muda," jawab sang sopir tegas, langsung menginjak pedal gas memutar arah menuju jalur privat.
Dari kaca spion, Keyra bisa melihat tubuh Arkan yang akhirnya tersungkur di atas aspal lobi setelah didorong mundur oleh petugas keamanan gedung. Keyra memejamkan matanya rapat-rapat, mengunci rapat pintu masa lalunya, dan bersiap menyambut hari esok yang akan menghancurkan Arkan sepenuhnya.