NovelToon NovelToon
Sang Warok

Sang Warok

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Action
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Ayah dan ibunya dibunuh didepan mata dan kepalamya. tapi justru sang pembunuhlah yang akan menjadi guru nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Suasana mendadak kaku dan senyap, tak ada seorang pun yang bergerak.

Empat belas anggota Gagak Hitam membentuk lingkaran lebar, memberi ruang bagi pemimpin mereka.

Jangkrik menggenggam dua pisau lempar yang tersisa. Napasnya mulai kembali teratur.

Di hadapannya, pria bertongkat itu melangkah perlahan.

Tok... Tok... Tok...

Setiap hentakan tongkatnya di tanah terdengar berat, seolah memukul dada orang-orang yang mendengarnya.

Warok hanya melipat kedua tangan dengan tatapan yang tidak lepas dari Jangkrik.

"Warok!" teriak pendekar tua berjubah putih. "Apa kau sudah gila? Bocah itu bukan lawannya!"

Warok menjawab tanpa menoleh. "Kalau dia mati, berarti dia memang tidak pantas menjadi muridku."

Jangkrik mendengus pelan. "Dasar guru sinting..."

Pria bertongkat mendengar gumaman itu. Ia tersenyum tipis. "Keberanianmu cukup besar."

"Aku tidak butuh pujian."

"Aku juga tidak datang untuk memuji."

Tok!

Tongkatnya kembali menghantam tanah. Dalam sekejap, sosoknya lenyap.

Mata Jangkrik membelalak. Namun Ia langsung memejamkan mata. Bukan melihat, ia memilih mendengar—angin, daun, hingga napas lawan.

Lalu—Kanan!

Jangkrik memutar tubuh. Tongkat hitam melintas tepat di depan hidungnya.

Wusss!

Hanya selisih beberapa sentimeter. Belum sempat ia bernapas lega, tongkat itu berputar kembali dari bawah.

Duk!

Serangan itu menghantam rusuk kirinya.

"Ugh!"

Tubuh Jangkrik terlempar beberapa tombak sebelum berguling di tanah. Debu mengepul. Ia memegangi rusuknya, merasakan nyeri yang menjalar hingga ke punggung.

Pria bertongkat tidak mengejar. Ia berdiri tenang di tempat semula. "Bangun Bocah!!"

Jangkrik mengusap darah di sudut bibirnya, lalu perlahan berdiri.

Warok mengangguk kecil. "Rusuknya tidak patah. Bagus."

Pemimpin Gagak Hitam melirik Warok. "Kau bahkan tidak khawatir?"

Warok tersenyum tipis. "Aku lebih khawatir tongkatmu patah."

Ucapan itu membuat beberapa anggota Gagak Hitam mengernyit, tetapi pemimpin mereka hanya tertawa kecil. "Kesombonganmu masih sama."

"Tidak," Warok menggeleng. "Itu keyakinan."

Jangkrik menarik napas dalam. Ia sadar perbedaan kekuatan mereka terlalu jauh. Kalau terus bertarung seperti tadi, ia akan kalah dalam beberapa jurus.

"Kalau tidak bisa menang dengan tenaga, menanglah dengan kepala."

Ia teringat salah satu pelajaran Warok saat berburu. Musuh yang lebih besar bisa dijatuhkan dengan memancingnya ke tempat yang salah.

Jangkrik melirik cepat ke sekeliling. Di sisi kanan terdapat lereng batu kapur yang dipenuhi kerikil longgar. Senyum tipis muncul di bibirnya.

Ia mengambil satu pisau lempar, lalu—

Wus!

Pisau itu melesat. Bukan ke arah lawan, Tapi bertumpu menghantam tebing.

Crak!

Batu kapur retak dan kerikil mulai berjatuhan.

Pemimpin Gagak Hitam hanya mengangkat alis. "Itu seranganmu?"

Jangkrik tidak menjawab. Ia sudah berlari menuju lereng itu.

"Dia kabur!" teriak salah seorang anggota.

"Tidak," gumam Warok sambil menyeringai. "Dia sedang berburu."

Pemimpin Gagak Hitam mengejar. Sekali melompat, jarak belasan langkah langsung tertutup.

Namun saat tongkatnya hampir mengenai punggung Jangkrik, Jangkrik menghantam batu kapur dengan kedua Gelang Baja Wulung.

Brak!

Retakan yang tadi dibuat pisau melebar.

Grrrr...

Lereng itu berguncang. Puluhan batu sebesar kepala manusia runtuh bersamaan.

"Batu longsor!" seru salah seorang anggota Gagak Hitam.

Pemimpin mereka segera melompat mundur untuk menghindari hujan batu. Debu tebal langsung menelan seluruh lereng.

Jangkrik juga ikut terseret gelombang debu dan kerikil. Tubuhnya terbanting beberapa kali sebelum akhirnya berhenti di balik sebuah batu besar.

Ia batuk keras. Namun, ia tersenyum. Baru kali ini ia berhasil memaksa lawan yang jauh lebih kuat darinya untuk mundur.

Di kejauhan, Sang Warok tertawa keras. "Hahahaha! Itu baru muridku!"

Tetapi, saat debu perlahan menghilang, tawa Warok berhenti.

Dari balik kepulan debu, pemimpin Gagak Hitam masih berdiri tegak. Jubahnya memang kotor oleh debu, tetapi tubuhnya tidak memiliki satu pun luka.

Ia memandang Jangkrik dengan sorot mata yang kini berubah serius. "Bagus. Kalau begitu, aku tidak akan lagi memperlakukanmu seperti anak kecil."

Perlahan, ia melepaskan jubah luarnya, lalu menggenggam tongkat hitam itu dengan kedua tangan.

Aura yang memancar dari tubuhnya mendadak meningkat berkali-kali lipat. Bahkan anggota Gagak Hitam yang lain ikut mundur beberapa langkah.

Warok pun akhirnya berhenti tersenyum. Tangannya perlahan menyentuh gagang golok.

"Akhirnya... dia mulai serius."

Jangkrik merasakan dadanya ditekan oleh hawa berat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Pria bertongkat itu kini memegang tongkat hitamnya dengan kedua tangan. Tidak ada lagi senyum tipis di wajahnya.

"Anak kecil," katanya tenang, "kau berhasil membuatku menggunakan sedikit kesungguhanku."

Jangkrik menghapus darah di sudut bibirnya. "Kalau begitu... aku tidak rugi dipukul."

Pria itu mengangguk pelan. "Keberanianmu pantas dihargai. Tapi pertarungan ini selesai."

Tok.

Ujung tongkat menyentuh tanah. Hanya pelan, tetapi tanah kapur di sekelilingnya langsung retak membentuk lingkaran kecil.

Mata Jangkrik membesar." Tenaga dari tongkatnya... masuk ke tanah?" batinnya

Belum sempat ia selesai berpikir, sosok pria itu lenyap. Bukan sekadar cepat, tetapi benar-benar hilang dari pandangan.

Jangkrik segera memejamkan mata. Mendengar. Angin... napas... getaran...

Lalu—Di bawah!

Jangkrik meloncat ke samping.

Brak!

Tongkat hitam menghantam tanah tepat di tempat ia berdiri sesaat sebelumnya. Batu kapur pecah berhamburan. Gelombang kejutnya saja sudah membuat Jangkrik terlempar beberapa langkah.

"Ugh!"

Ia berguling sebelum berhasil berdiri lagi. Dadanya naik turun.

"Aku tidak akan sanggup menerima satu pukulan penuh..." Keluhnya dalam hati

Pria bertongkat itu tidak memberi kesempatan. Tongkatnya berputar deras.

Wus! Wus! Wus!

Tiga hantaman beruntun datang dari arah berbeda. Jangkrik hanya mampu menghindar dua kali.

Duk!

Hantaman ketiga mengenai lengan kirinya. Tubuhnya kembali terpelanting. Gelang Baja Wulung berbunyi nyaring saat membentur batu.

Tang!

Lengan kirinya mati rasa. Pisau lempar terakhir terlepas dari genggamannya. Kini ia benar-benar tanpa senjata.

Warok masih berdiri di tempatnya.

Pendekar tua berjubah putih tak tahan lagi. "Warok! Cukup! Kalau kau tidak turun tangan sekarang, bocah itu akan mati!"

Warok tidak menjawab. Matanya tetap mengawasi Jangkrik. Namun jemari kanannya kini telah menggenggam erat gagang golok.

Jangkrik terengah-engah. Lututnya mulai goyah.

Pria bertongkat berjalan mendekat. "Kau sudah melampaui dugaanku. Untuk anak seusiamu... kau luar biasa. Tetapi... sampai di sini saja."

Ia mengangkat tongkatnya tinggi.

Jangkrik mencoba bangkit, tetapi tubuhnya menolak. Kakinya gemetar dan tangannya tak lagi memiliki tenaga.

"Apa... ini akhirnya?" batin jangkrik

Di dalam benaknya, bayangan ayah dan ibunya kembali muncul. Lalu... wajah Sang Warok. Guru yang dibencinya, guru yang menempanya, guru yang ingin ia bunuh dengan tangannya sendiri.

Jangkrik menggertakkan gigi. "Tidak... Aku belum boleh mati. Aku belum membalas dendam."

Ia memaksa tubuhnya berdiri meski sempoyongan, meski darah terus mengalir dari lengan dan bahunya.

Pria bertongkat memandangnya beberapa saat. Kemudian... ia menurunkan tongkatnya.

"Luar biasa, Aku berubah pikiran."

Semua orang terdiam. Warok pun mengernyit.

Pria itu menatap Jangkrik lurus-lurus. "Kalau kubunuh sekarang, itu hanya membuang bibit yang bagus."

Ia lalu memandang Warok. "Warok. Kita akan bertemu lagi. Saat itu... anak ini sudah cukup matang."

Warok mendengus. "Kau ingin merebut muridku?"

Pria bertongkat tersenyum tipis. "Bukan. Aku ingin melihat... apakah muridmu mampu membunuhmu."

Kalimat itu membuat Jangkrik dan Warok sama-sama membisu sesaat.

Lalu pria bertongkat mengangkat tangan. Empat belas anggota Gagak Hitam segera berkumpul di belakangnya.

"Kita pergi."

"Tapi, Guru—"

"Tidak ada tapi. Misi hari ini selesai."

Mereka mundur ke dalam kabut. Dalam beberapa tarikan napas, kelima belas sosok itu lenyap ditelan rimba Pegunungan Sewu.

Atmosfer yang senyap kembali menyelimuti lembah.

Warok berjalan menghampiri Jangkrik. Tanpa berkata apa-apa, ia mengamati luka-luka muridnya. Lalu, sebuah senyum tipis muncul di wajahnya.

"Kau kalah."

Jangkrik mendengus pelan. "Aku tahu."

"Tapi kau tidak lari."

"Tidak."

"Bagus."

Warok menepuk pelan bahu Jangkrik—tepat pada bahu yang tidak terluka.

"Mulai besok... latihanmu berubah."

Jangkrik mengangkat wajah. "Berubah bagaimana?"

Sorot mata Warok menjadi lebih tajam dari sebelumnya. "Mulai besok... kau tidak lagi belajar cara bertahan hidup. Kau mulai belajar... cara membunuh pendekar."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!