Nadira terpaksa menerima pernikahan kontrak dengan seorang CEO dingin bernama Arka Mahendra demi melunasi utang ayahnya. Dalam perjanjian itu, ia hanya akan menjadi "istri paruh waktu"—seorang istri yang hadir saat keluarga besar membutuhkan, tetapi tak pernah benar-benar dicintai.
Arka masih terikat pada cinta masa lalunya, Selena, yang tiba-tiba kembali setelah bertahun-tahun menghilang. Tanpa ragu, Arka mengabaikan Nadira dan diam-diam menjalin hubungan kembali dengan Selena, membuat Nadira berkali-kali dipermalukan.
Semua orang menganggap Nadira hanyalah perempuan miskin yang mengejar harta keluarga Mahendra. Namun, di balik sikap lembutnya, ia menyimpan identitas yang tak seorang pun ketahui.
Ketika penghianatan demi penghianatan terus terjadi, Nadira memilih pergi tanpa membawa apa pun. Kepergiannya justru membuka rahasia besar yang membuat Arka menyesal seumur hidup.
Sayangnya, saat Arka akhirnya menyadari bahwa perempuan yang ia sia-siakan adalah cinta sejatinya, Nadira telah b
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 15 : Selena Mulai Menyerang
Kekalahan di ruang kerja CEO beberapa waktu lalu, ditambah dengan surat keputusan mutasi yang terus membayangi, membuat kewarasan Selena perlahan-lahan terkikis oleh ambisi jahat. Baginya, menyerah bukan pilihan. Melihat bagaimana Arka mulai menunjukkan tanda-tanda kepedulian pada Nadira—bahkan sampai rela membelanya dari isu internal kantor—membuat Selena merasa posisinya di lingkaran utama Mahendra benar-benar terancam. Ia tidak bisa lagi berdiam diri mengharapkan keajaiban kontrak itu selesai dengan sendirinya. Ia harus bertindak, menghancurkan benteng pertahanan si guru TK itu dari segala arah.
Langkah pertama yang diambil Selena adalah menggunakan kuasanya untuk menyewa seorang penyelidik swasta guna menguntit setiap aktivitas Nadira.
"Gali masa lalu perempuan itu sampai ke akar-akarnya," perintah Selena dingin melalui sambungan telepon terenkripsi di apartemennya. "Cari tahu apakah dia punya utang, mantan kekasih yang bermasalah, atau rahasia keluarga apa pun yang bisa kita pakai untuk menjatuhkannya."
Namun, laporan yang diterima Selena justru membuatnya makin geram. Masa lalu Nadira terlalu bersih. Wanita itu hanyalah seorang putri dari keluarga pegawai negeri sipil biasa yang hidup bersahaja, tidak memiliki catatan kriminal, tidak memiliki utang piutang yang mencurigakan, dan seluruh hidupnya didedikasikan untuk mengajar anak-anak. Karena tidak menemukan celah nyata, Selena memutuskan untuk beralih ke rencana yang lebih kotor: menciptakan kebohongannya sendiri.
Ia mulai menghubungi beberapa oknum wartawan dari media gosip digital kelas dua. Dengan umpan segepok uang tunai dalam amplop cokelat, Selena meminta mereka menyusun narasi fiktif yang dibungkus seolah-olah sebagai investigasi eksklusif.
"Buat tajuk utama yang menyatakan bahwa dia sengaja mendekati Opa Wijaya di rumah sakit dengan rencana yang sudah matang," dikte Selena pada salah satu jurnalis bayarannya. "Tulis bahwa dia memiliki agenda terselubung untuk mengeruk kekayaan Mahendra Group demi membiayai gaya hidup rahasianya. Buat publik memandangnya sebagai seorang manipulator yang ulung."
---
Tak berhenti di situ, Selena merasa serangan dari balik layar saja tidak cukup memuaskan rasa haus akan pembalasannya. Ia ingin melihat sendiri bagaimana air muka Nadira berubah menjadi keputusasaan. Ia ingin menguji seberapa kuat mental wanita yang telah merebut posisi yang seharusnya menjadi miliknya itu.
Sore itu, memanfaatkan momen di mana Arka sedang tertahan rapat darurat di luar kota hingga malam, Selena dengan sengaja mendatangi kediaman utama Mahendra. Dengan dalih mengantarkan dokumen yayasan sosial yang harus segera ditinjau oleh Ibu Sarah—yang ia ketahui sedang tidak ada di rumah—Selena melangkah masuk ke dalam ruang tamu dengan keangkuhan yang kentara.
Mbok Nah yang menyambutnya di depan pintu memasang wajah kaku. "Nyonya Besar sedang tidak ada di rumah, Nona Selena. Tuan Arka juga belum pulang."
"Saya tahu, Mbok. Tapi saya bisa menunggu di dalam, kan? Lagipula, saya bukan orang asing di rumah ini," sahut Selena sengit, langsung menerobos masuk tanpa memedulikan tatapan tidak suka dari pelayan senior tersebut.
Saat Selena sedang duduk di sofa ruang tengah sambil mengipas diri dengan kipas tangan mahalnya, Nadira melangkah turun dari tangga. Ia baru saja selesai membersihkan diri setelah pulang dari sekolah, mengenakan gaun rumahan berbahan katun yang sederhana namun rapi. Syal cokelat susu pemberian Arka tampak tersampir di lengannya.
Melihat kehadiran Selena, langkah Nadira sempat tertahan sejenak. Ingatan tentang foto kedekatan mereka di restoran hotel malam itu, ditambah dengan artikel gosip yang sempat beredar pagi harinya, mendadak berputar kembali di kepalanya, menimbulkan sengatan perih yang samar di dadanya. Namun, Nadira segera menarik napas dalam-dalam, menguasai dirinya dengan sangat baik.
"Selamat sore, Nona Selena," sapa Nadira dengan suara yang tenang dan sopan, berjalan mendekat.
Selena mendongak, menatap Nadira dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan pandangan meremehkan. "Sore, Nadira. Wah, beruntung sekali saya bisa bertemu denganmu di sini. Biasanya kamu kan sibuk... yah, bermain dengan anak-anak di pinggiran kota itu."
Nadira memilih untuk tidak membalas sindiran tersebut. Ia duduk di sofa tunggal yang berseberangan dengan Selena, menjaga jarak yang aman dan formal. "Ada keperluan apa Nona datang kemari? Jika mencari Pak Arka, beliau sedang ada urusan di luar kota."
Selena tersenyum manis, sebuah senyuman yang penuh dengan kepura-puraan yang memuakkan. "Oh, saya tahu persis jadwal Arka, Nadira. Hubungan kami... tidak sesederhana yang kamu bayangkan. Meskipun sekarang ada 'kontrak' atau apa pun itu yang mengikat kalian, sejarah di antara saya dan Arka tidak akan pernah bisa dihapus oleh kedatangan orang baru."
Selena membuka tas jinjingnya, mengeluarkan sebuah album foto kecil berdesain elegan berlapis kulit. Dengan gerakan sengaja yang dramatis, ia meletakkan album itu di atas meja kaca, tepat di depan Nadira, lalu membukanya halaman demi halaman.
"Kamu mau lihat?" tanya Selena dengan nada provokatif. "Ini adalah foto-foto saat kami berlibur di Paris dua tahun lalu. Lihat bagaimana Arka merangkul saya di depan Menara Eiffel? Dia tidak pernah suka difoto, tapi kalau dengan saya, dia selalu menyerah."
Nadira menatap halaman album tersebut. Di sana terpampang foto Arka yang tampak beberapa tahun lebih muda, mengenakan mantel musim dingin, berdiri berdampingan dengan Selena yang menggelayut manja di lengannya. Ada pula foto saat mereka menghadiri jamuan makan malam mewah, tertawa bersama dengan latar belakang lampu kota yang indah.
Melihat foto-foto itu, hati Nadira rasanya seperti diremas kuat-kuat. Ada rasa sesak yang kembali menghampiri dadanya. Kenyataan bahwa Arka pernah membagi tawa dan kebahagiaan yang begitu lepas dengan wanita lain—sesuatu yang tidak pernah pria itu tunjukkan selama hidup bersamanya—membuat Nadira merasa makin terasing di dalam rumah mewah ini. Rasa terluka itu nyata, berdenyut di dalam sanubarinya.
Namun, didikan moral dan ketegaran hati seorang Nadira bukanlah sesuatu yang mudah dihancurkan oleh pameran masa lalu. Sebagai seorang pendidik, ia terbiasa menghadapi luapan emosi dan provokasi; ia tahu betul bahwa jika ia menunjukkan kerapuhannya sekarang, Selena akan menang.
Nadira mengalihkan pandangannya dari album foto tersebut, lalu menatap lurus ke arah sepasang mata Selena. Wajahnya tetap tenang, datar, tanpa ada riak kemarahan atau cemburu yang meledak-ledak.
"Foto-foto yang sangat bagus, Nona Selena," ucap Nadira dengan nada suara yang sangat stabil dan lembut, mengejutkan Selena yang sejak tadi menunggu reaksi histeris atau air mata. "Masa lalu memang selalu memiliki tempatnya sendiri. Jika tidak ada keperluan mendesak lainnya yang berkaitan dengan saya, saya permisi ke belakang dulu untuk membantu Mbok Nah menyiapkan keperluan Opa. Mari."
Nadira berdiri dari duduknya dengan anggun, melipat syal cokelatnya di atas lengan, lalu melangkah pergi meninggalkan ruang tengah tanpa menoleh lagi.
---
Di sofa ruang tengah, Selena terpaku di tempatnya berdiri. Wajahnya yang semula dipenuhi senyum kemenangan kini seketika berubah menjadi merah padam menahan dongkol yang luar biasa. Jemarinya mencengkeram pinggiran album foto hingga kertasnya sedikit terlipat.
"Sialan!" desis Selena dengan suara tertahan, napasnya memburu karena amarah yang memuncak.
Sikap tenang, dewasa, dan sama sekali tidak terpancing yang ditunjukkan oleh Nadira justru menjadi pukulan telak bagi ego Selena. Semua taktik provokasi, pamer foto kemesraan, dan cerita masa lalu yang sudah ia susun sedemikian rupa sama sekali tidak berhasil menggoyahkan harga diri wanita itu. Nadira tidak berteriak, tidak menangis, dan tidak menunjukkan tanda-tanda ingin melabrak Arka. Sikap itu membuat Selena merasa seperti seorang badut yang sedang melakukan pertunjukan konyol sendirian di tengah ruangan.
"Kenapa dia bisa sekeras itu?" gumam Selena, matanya berkilat penuh kebencian menatap arah koridor tempat Nadira menghilang. "Dia pikir dia bisa terus bersembunyi di balik topeng malaikat pelindung itu? Kita lihat saja sampai kapan kamu bisa bertahan."
Selena menyambar album fotonya, memasukkannya kembali ke dalam tas dengan kasar, lalu melangkah keluar dari kediaman Mahendra dengan hentakan kaki yang penuh amarah.
---
Sementara itu, di dapur belakang, Nadira berdiri bersandar pada konter kayu yang dingin. Begitu ia berada di luar jangkauan pandangan Selena, pertahanan yang ia pasang dengan gigih sejak tadi perlahan-lahan mengendur. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan satu helaan napas berat yang panjang keluar dari bibirnya.
Tangan kirinya meraba dada, merasakan detak jantungnya yang masih tidak beraturan. Kebohongan jika ia mengatakan dirinya tidak terluka. Melihat kemesraan masa lalu Arka dan Selena, ditambah dengan kesadaran akan posisinya sendiri yang hanya sementara di rumah ini, membuat Nadira merasa kian lelah secara emosional.
Mbok Nah yang sejak tadi mengamati dari balik sekat ruangan berjalan mendekat dengan segelas air putih hangat. "Nyonya Muda... Anda tidak apa-apa? Jangan masukkan kata-kata Nona Selena tadi ke dalam hati. Dia hanya cemburu karena sekarang Nyonya-lah yang menjadi istri sah Tuan Arka."
Nadira menerima gelas tersebut, melempar senyum tipis yang sarat akan kelelahan kepada pelayan setianya. "Saya tidak apa-apa, Mbok Nah. Terima kasih air minumnya."
Nadira menyesap air hangat itu perlahan, berusaha mengusir rasa perih di hatinya. Di dalam pikirannya, sebuah ketetapan mulai terbentuk dengan kian jelas. Ia tidak akan membiarkan dirinya tenggelam dalam drama perebutan hati yang melelahkan ini. Jika waktunya telah tiba, dan jika lembar kontrak satu tahun itu telah mencapai tanggal kedaluwarsanya, ia akan melangkah pergi dengan kepala tegak, kembali ke dunianya yang sederhana namun penuh dengan kejujuran.
---
Di dalam mobilnya yang melaju kencang meninggalkan kawasan perumahan elit tersebut, Selena mencengkeram erat setir mobilnya. Tatapan matanya lurus menatap jalanan malam yang mulai diterangi lampu-lampu kota, namun pikirannya dipenuhi oleh rencana berikutnya yang jauh lebih ekstrem.
Kegagalan provokasinya hari ini justru memicu obsesi jahat yang baru di dalam kepala Selena. Ia menyadari bahwa menghancurkan Nadira dari luar tidak akan cukup selama wanita itu memilih untuk bertahan dengan ketenangannya yang menyebalkan.
"Kalau aku tidak bisa membuat Arka mengusirmu, maka aku yang akan membuat hidupmu di rumah itu menjadi seperti neraka," bisik Selena pada kegelapan di dalam mobilnya. Sebuah senyuman dingin dan kejam perlahan terukir di wajahnya.
Selena berjanji di dalam hatinya yang dipenuhi kedengkian, bahwa ia akan terus menekan, meneror dengan gosip, dan menciptakan situasi-situasi pelik yang akan menguras habis seluruh kesabaran Nadira. Ia akan memastikan bahwa tekanan sosial, fitnah media, dan ketidakpastian sikap Arka akan menjadi beban yang terlalu berat untuk dipikul oleh seorang wanita bersahaja.
"Aku akan membuatmu sendiri yang berlutut, menangis, dan akhirnya memilih untuk mengemas barang-barangmu lalu melangkah pergi meninggalkan Arka dengan sukarela," tekad Selena dalam hati, mengukuhkan janji setianya pada ambisi hitam yang siap ia luncurkan pada babak berikutnya dari perang tak kasat mata ini.