"Aku terjebak dalam draf novel yang bahkan belum aku pikirkan alur ceritanya, dan sialnya, aku adalah karakter utamanya."
Tidak ada sistem yang akan membuatku kaya raya. Tidak ada kekuatan luar biasa yang diberikan untuk melawan para penjahat di dunia ini. Hanya aku, seorang penulis yang terjebak di tubuh seorang budak bernama Julian, ditemani oleh Anima dan Animus yang cerewet, serta Yisla gadis miskin yang menyelamatkanku dari perbudakan bersama kakak laki-lakinya bernama Vito.
Kami harus lari dari kejaran para penguasa, menukar daging beku demi koin perak, dan mencoba bertahan hidup di dunia yang genrenya terus berubah di luar kendali.
Bersama Yisla, gadis yang menjadi satu-satunya saksi perjuanganku, aku sebagai Julian harus melintasi perbatasan Utara yang dingin menuju ke Selatan. Mencoba peruntungan hidup baru demi merubah hidupku dan Yisla.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
...── ⋆⋅𖤓⋅⋆ ──...
"Hehe, itu... itu namanya teknik negosiasi tingkat tinggi untuk bertahan hidup, Yisla." bisik Julian membela diri sambil mengusap dadanya.
Jenny mengernyit bingung. "Nyonya toko baju? Cerita bohong? Apa maksudnya, Tuan Julian?"
"Bukan apa-apa, Putri! Biasa, humor warlog memang agak berat untuk dimengerti oleh para bangsawan," potong Julian cepat sebelum Yisla membongkar aibnya lebih jauh.
Mereka pun melanjutkan perjalanan. Tak lama, hamparan rumah kayu Desa Nidra mulai terlihat. Perut Julian sudah mulai memberikan sinyal protes yang berisik.
"Kita mampir ke kedai itu yuk? Tapi jangan kedai yang kemarin," ajak Julian, menunjuk kedai kecil di sudut pasar desa yang mengeluarkan aroma sup daging.
Begitu mendorong pintu, hawa hangat langsung menyambut mereka. Di balik konter, tampak seorang gadis muda berpakaian pelayan khas desa. Gadis itu sedang mengelap gelas dengan gerakan kaku.
"S-selamat datang..." cicit gadis itu lirih. Wajah polosnya memerah sempurna karena gugup saat bertatapan dengan Julian.
Seorang pria paruh baya pemilik kedai—berteriak dari arah dapur.
"Maaf ya, Tuan, Nona. Anak saya baru mulai magang hari ini atas perintah saya, makanya dia masih sangat kuper kalau ketemu pelanggan yang rupawan."
Dengan tangan gemetar, gadis itu mendekati meja mereka dan menyodorkan menu yang... lecek.
"M-mohon maaf... perkenalkan, n-nama saya... Windah."
"Pfft—HAHAHAHAHA!"
Julian mendadak tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya. Air matanya bahkan sampai keluar, mengalir di pipinya saking gilanya ia tertawa. Jiwanya sebagai penikmat YouTube garis keras langsung meronta-ronta.
Windah?! Demi apa ada karakter NPC namanya Windah?! batin Astra menjerit histeris. Otaknya langsung memutar memori tentang sang legenda, Bapak Para Bocil Kematian—Windah Basudara.
"L... L Windah... L bocil kemati—uhuk! Uhuk!" Julian hampir saja keceplosan, untung ia langsung tersedak ludahnya sendiri sambil menyeka air mata tawanya yang bercucuran.
Yisla, Jenny, bahkan Windah dan ayahnya langsung melongo berjamaah. Mereka menatap Julian dengan pandangan ngeri, seolah pemuda itu baru saja kehilangan sekrup di otaknya.
"Julian..." Yisla menyenggol lengan Julian dengan tatapan horor, rasa cemburunya kini menguap digantikan oleh rasa malu yang luar biasa.
"Kamu kesurupan Yeti lagi, ya?"
Jenny ikut mundur satu langkah menjauhi sisi Julian, sembari merapatkan jubah bulunya.
"Tuan Julian... Anda tidak apa-apa?"
Julian buru-buru memukul-mukul dadanya yang sesak akibat kombinasi antara tertawa histeris dan tersedak ludah sendiri. Ia menarik napas dalam-dalam, berusaha keras menetralkan ekspresi wajahnya yang sudah memerah padam, meski bibirnya masih berkedut menahan tawa yang siap meledak lagi.
"Ah—ahaha! Nggak apa-apa, aman, aman!" Julian mengibaskan tangannya ke udara, berusaha bersikap kasual di bawah tatapan ngeri seisi kedai. Ia menatap Windah yang kini tampak semakin ingin menghilang dari muka bumi karena mengira dialah penyebab kegilaan sang pelanggan.
"Maaf ya, Dek Windah. Nama kamu bagus banget soalnya. Di... di tempat asalku, nama itu dipakai oleh seorang ksatria legendaris yang sangat dihormati oleh anak-anak," bohong Julian totalitas, demi menyelamatkan mukanya.
Windah mengerjapkan matanya yang polos, pipinya semakin merona mendengar bualan absurd itu. "B-benarkah, Tuan?"
"Iya, ksatria penakluk segala jenis monster game—maksudku, monster...eeee...ah! Hutan!" potong Julian cepat, buru-buru mengalihkan pandangan ke kertas menu lecek di atas meja sebelum otaknya makin melantur ke mana-mana.
"Ehem, jadi... kami pesan sup daging hangatnya tiga porsi, ya. Sama air minumnya juga tiga gelas. Terima kasih."
"B-baik, mohon tunggu sebentar!" Windah buru-buru berbalik dan setengah berlari menuju dapur dengan langkah kikuk, merasa sangat lega bisa lepas dari atmosfer aneh di meja tersebut.
Begitu pelayan magang itu menjauh, Yisla langsung melipat tangannya di dadanya, sambil menatap Julian dengan dahi berkerut.
"Ksatria legendaris dari mana? Kamu jangan mulai mengarang cerita aneh-aneh lagi ya, Panjul. Kemarin BBQ-an, sekarang ksatria bocil kematian. Mulutmu itu benar-benar perlu dikunci sih."
Julian hanya menyengir kuda, tidak berani membela diri. Sementara itu, Jenny yang duduk di seberang Julian perlahan kembali mendekatkan posisinya, meskipun matanya masih memancarkan sedikit keraguan setelah menyaksikan tawa kesurupan Julian tadi.
"Tuan Julian ternyata sangat... berjiwa bebas dan penuh teka-teki, ya," ucap Jenny, mencoba mencairkan suasana sembari menopang dagunya dengan sebelah tangan, ia menatap Julian dengan binar mata yang kembali menggoda.
"Tapi, saya menyukai pria yang tidak tertebak seperti ini. Jauh lebih menarik daripada para pangeran kaku di istana."
Mendengar pujian manja yang kembali dari bibir sang putri, raut wajah Yisla yang tadinya sempat melunak karena kebingungan, kini langsung kembali menggelap sempurna. Rasa cemburu yang sempat menguap akibat insiden 'Windah Basudara' mendadak datang lagi seperti badai salju susulan.
Jenny sedikit memajukan tubuhnya ke arah meja, sembari menopang dagunya dengan kedua tangan.
"Tapi, Tuan Julian... sebenarnya ksatria Windah itu ksatria apa? Monster jenis apa yang dia taklukan? Di buku sejarah Kerajaan Northern, saya belum pernah mendengar nama itu."
Julian kembali menelan ludah. Waduh, si Putri malah kepo pula!
"Ah, itu... ksatria dari negeri yang sangat jauh, Putri Jenny!" jawab Julian tangkas, otak author-nya langsung berputar cepat.
"Dia itu pemimpin ordo rahasia bernama Bocilus Mortis. Monster yang dia lawan bukan sembarang monster. Dia sering berburu monster gaib mengerikan yang cuma muncul tepat pada jam sembilan malam!"
Yisla mengernyitkan dahi, menatap Julian jengah. "Monster jam sembilan malam? Makhluk macam apa itu, Jul?"
"Itu monster dari dunia horor yang sangat mencekam, Yisla! Aku sering menonton perburuannya secara langsung lewat... eeee, cermin ajaib!" bela Julian dengan wajah sok serius.
"Monsternya suka bikin jantungan, tapi sang ksatria selalu berhasil mengocok perut warga yang menontonnya."
Yisla langsung memutar bola matanya. "Dongengmu semakin hari semakin tidak masuk akal. Lebih baik kamu diam sebelum mulutmu menyemburkan kebohongan baru."
"Aku tidak berbohong! Itu sejarah nyata tahu!" seru Julian geli dalam hati.
Jenny, anehnya, justru terlihat makin terpesona dengan imajinasi liar Julian. Ia terkekeh pelan, matanya berbinar.
"Luar biasa. Cerita Anda sangat menghibur, Tuan Julian. Pangeran di istana hanya tahu cara membahas politik yang memuakkan. Anda... benar-benar berbeda. Begitu segar dan berwarna."
Sambil berkata begitu, tangan Jenny perlahan bergerak di atas meja, berniat menyentuh punggung tangan Julian.
BRAK!
Yisla mendadak meletakkan sendok kayu di atas meja dengan hentakan keras, memotong pergerakan tangan Jenny dengan sempurna.
"Kalau Putri Jenny begitu menyukai cerita horor," ucap Yisla ketus. "Setelah makan, saya bisa menceritakan kisah nyata tentang bagaimana serigala hutan di Desaku biasanya mencabik-cabik mangsa yang... terlalu banyak tingkah dan suka merebut milik orang lain."