NovelToon NovelToon
Pewaris yang Kembali Membalas Luka

Pewaris yang Kembali Membalas Luka

Status: tamat
Genre:Wanita perkasa / Identitas Tersembunyi / Menyembunyikan Identitas / Putri asli/palsu / Chicklit / Agen Wanita / Tamat
Popularitas:86k
Nilai: 5
Nama Author: Lover

Siapa sangka Bayang, sosok misterius yang kerap membantu polisi membongkar jaringan narkoba pelabuhan, hanyalah gadis berusia delapan belas tahun bernama Alya Maheswari. Setelah dibangkitkan kembali ke masa lalu sebelum kematian tragis di tangan keluarga kandungnya, Alya menerima jemputan keluarga Wiratama yang membuangnya sejak bayi.
Dengan dendam tersembunyi dan kecerdasan di atas rata-rata, ia menghadapi ibu tiri licik penuh intrik, adik tiri bermuka dua, serta tunangan bisnis yang kejam dan tidak setia. Bersama Rafi sang pengawal setia, Alya menyusun langkah demi langkah balas dendam. Tidak ada lagi gadis desa yang lemah tertindas — kali ini, semua orang yang pernah mengkhianatinya akan membayar mahal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31

Mobil hitam berhenti di depan gerbang Wiratama ketika hujan baru turun setengah hati. Dari jendela kamar tamu, Alya melihat seorang pria turun dengan kemeja gelap, koper kecil, dan wajah yang mirip Raka, hanya lebih dingin.

Raka berdiri di sampingnya.

"Arman pulang," katanya.

Alya sudah menduga. Nama itu beberapa kali muncul di percakapan lama keluarga. Anak kedua Baskara, dokter spesialis saraf yang lebih sering berada di Singapura dan Surabaya daripada di rumah sendiri. Anak yang jarang bicara, tetapi sekali membuka mulut, katanya, bisa membuat orang merasa seperti sedang dioperasi tanpa bius.

Pintu utama terbuka.

Dinda yang sedang duduk di ruang tengah langsung berdiri. Wajahnya berubah. Ada harapan, takut, dan kebiasaan lama yang belum mati.

"Mas Arman."

Arman menoleh padanya. Tatapannya berhenti sebentar, lalu berpindah ke Alya.

"Jadi ini dia."

Baskara turun dari lantai dua dengan langkah tergesa. "Arman, kamu seharusnya kabari kalau sudah sampai."

"Kalau saya kabari, Papa pasti menyuruh orang menjemput dan menyusun cerita dulu."

Ruang tengah mendadak senyap.

Alya turun perlahan. Ia tidak berniat tersenyum manis. Ia sudah terlalu lelah menghadapi orang yang datang membawa prasangka.

Arman memandangnya dari ujung kaki sampai wajah. "Saya baca berita rapat pemegang saham. Kamu baru masuk keluarga, sudah bikin keluarga ini masuk koran."

"Berita itu keluar karena orang lain membayar media," jawab Alya.

"Tapi kamu menikmati panggungnya."

Raka langsung maju. "Arman."

Arman mengangkat tangan. "Aku cuma mau dengar dari dia."

Alya turun sampai anak tangga terakhir. "Kalau Mas pulang untuk menyalahkan saya, silakan. Tapi jangan berharap saya sibuk membuktikan diri lagi. Saya sudah melewati bagian itu terlalu sering."

Arman tersenyum tipis. "Nada bicaramu berani."

"Karena saya tidak mencuri nama siapa pun."

Dinda menunduk. Kalimat itu mengenai dirinya, meski Alya tidak menatapnya.

Baskara menarik napas berat. "Kita sedang menghadapi Santoso. Jangan bertengkar di rumah sendiri."

"Justru karena Santoso," kata Arman, "saya perlu tahu siapa yang membawa perang ke rumah ini."

Rafi masuk dari pintu samping tanpa suara keras. Jasnya basah sedikit di bahu, rambutnya rapi, matanya tenang seperti orang yang sudah mendengar semuanya dari luar.

"Perang itu sudah ada sebelum Alya ditemukan," katanya.

Arman menoleh. "Dan kamu?"

"Rafael Pradipta."

"Saya tahu nama kamu. Saya tanya posisi kamu."

Rafi menatap Alya dulu, baru menjawab, "Orang yang berdiri di pihaknya."

Arman tertawa pendek. "Bagus. Semua orang sekarang punya pihak."

Raka meletakkan map di meja. "Kalau mau tahu, baca ini. Catatan dari dr. Banyu, rekaman Maya, dan arsip Rumah Pelita. Alya tidak membawa perang. Dia cuma membuka pintu yang selama ini kita pura-pura tidak lihat."

Arman tidak langsung mengambil map itu.

"Saya tidak suka dokumen yang sudah dipilihkan," katanya.

"Kalau begitu pilih sendiri," jawab Alya. "Nama perawat Sari ada di arsip kelahiran saya. Nama Fajar Santoso ada di belakang pendanaan Melati Merah. Kalau Mas dokter, Mas pasti tahu bagaimana bayi bisa dipindahkan tanpa meninggalkan jejak medis yang rapi."

Wajah Arman berubah sedikit.

Ia mengambil map itu akhirnya.

Dinda bergerak mendekat. "Mas, jangan percaya semuanya. Aku tahu aku salah, tapi Alya juga..."

"Diam dulu, Din."

Suara Arman tidak keras, tetapi cukup membuat Dinda berhenti.

Alya melihat mata Dinda memerah. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa puas melihat Dinda dipotong begitu saja. Rasanya aneh. Tidak seperti menang. Lebih seperti melihat seseorang jatuh ke lubang yang dulu ia gali sendiri.

Arman membuka halaman pertama. Ada foto Nadira di halaman rumah sakit, catatan pindah bayi, dan nama Sari yang ditulis tangan.

"Ini dokumen asli?"

Raka mengangguk. "Sudah dicek notaris dan satu analis forensik dokumen."

"Siapa analisnya?"

Rafi menjawab, "Orang saya."

Arman menatapnya lagi. "Semua orangmu terdengar terlalu banyak."

"Itu sebabnya mereka berguna."

Ketegangan naik, tetapi Alya tidak membiarkan dua pria itu membuat ruangan menjadi medan adu ego.

"Mas Arman," panggilnya.

Arman menatapnya.

"Saya tidak butuh Mas langsung percaya pada saya. Saya butuh Mas berhenti menghalangi orang yang sedang mencari pembunuh ibu saya."

Kalimat itu membuat Baskara memejamkan mata.

Arman membaca beberapa halaman lagi. Hujan di luar turun lebih deras. Di sela suara air, ponselnya bergetar.

Ia melihat layar. Wajahnya mengeras.

"Dari rumah sakit," katanya.

"Ada apa?" tanya Baskara.

"Suster Sari masuk daftar tamu pasien VIP Santoso dua kali minggu ini. Namanya pakai identitas pegawai lama, bukan nama sekarang."

Rafi mendekat. "Pasien VIP itu siapa?"

Arman menatap layar lebih lama. "Tidak ada nama. Cuma kode kamar. Tapi dokter penanggung jawabnya dr. Mahendra Wibisono."

Raka mengerutkan dahi. "Mahendra sudah meninggal."

"Makanya saya pulang," kata Arman pelan. "Nama orang mati dipakai untuk membuka akses obat saraf dan sedatif dari gudang rumah sakit."

Alya merasakan dingin naik dari punggung.

Sari bukan hanya perawat tua yang menyimpan rahasia. Ia masih bekerja. Masih bergerak. Masih bisa memindahkan obat, catatan, bahkan orang.

Dinda tiba-tiba berkata, "Mama pernah bilang Sari tahu cara membuat orang lupa."

Semua kepala menoleh kepadanya.

Dinda menyesal seketika, tapi sudah terlambat.

"Kapan?" tanya Alya.

Dinda menggenggam ujung bajunya. "Waktu kecil. Aku dengar Mama marah di telepon. Dia bilang, kalau Nadira tidak mati malam itu, Sari akan membuatnya tidak bisa bicara seumur hidup."

Baskara duduk mendadak, seperti kakinya kehilangan tenaga.

Arman menutup map.

"Besok pagi saya ke rumah sakit. Saya mau lihat gudang obat dan kamera lama."

"Saya ikut," kata Alya.

"Tidak."

"Itu ibu saya."

"Dan ini rumah sakit dengan sistem yang bisa dipalsukan orang dalam. Kamu masuk, mereka tahu kita bergerak."

Rafi berkata, "Alya bisa masuk sebagai keluarga pasien."

Arman menatapnya tajam. "Pasien siapa?"

Rafi mengeluarkan ponsel dan menunjukkan foto daftar donor sosial rumah sakit. Nama Yayasan Wiratama masih tercatat di sana.

"Eyang Laras pernah jadi pasien rutin di klinik saraf. Jadwal kontrolnya bisa diaktifkan."

Alya menoleh cepat. "Eyang tidak perlu dibawa."

"Tidak perlu," jawab Rafi. "Cukup jadwalnya."

Namun sebelum mereka sempat menyusun rencana, ponsel Baskara berbunyi. Ia mengangkatnya dengan tangan gemetar.

Wajahnya langsung pucat.

"Apa?" suara Raka naik.

Baskara berdiri.

"Eyang Laras jatuh di rumah."

Alya tidak ingat bagaimana ia berlari ke mobil. Yang ia ingat hanya tangan Rafi menggenggam lengannya agar ia tidak terpeleset di teras, suara Raka memaki hujan, dan Arman di telepon memberi instruksi medis kepada penjaga rumah Eyang.

Di kursi belakang, Dinda ikut masuk tanpa diminta.

Alya menatapnya.

Dinda berkata pelan, "Aku tahu aku tidak pantas. Tapi Eyang... Eyang pernah membelaku waktu semua orang bilang aku anak pungut."

Alya ingin menyuruhnya turun. Ia ingin menjaga ruang duka yang belum terjadi dari orang yang terlalu sering membawa luka.

Tapi mobil sudah bergerak.

Rafi menyetir sendiri. Di kaca depan, lampu jalan pecah-pecah oleh hujan. Arman bicara cepat di telepon, meminta cek napas, denyut, pupil. Lalu ia diam.

Alya mendengar diam itu.

"Mas?"

Arman tidak menjawab.

Raka merampas ponsel dari tangan Baskara. "Pak Jaya, jawab saya. Eyang sadar atau tidak?"

Suara dari telepon terdengar putus-putus.

"Di meja ada gelas teh... baunya aneh... Bu Laras tidak bangun..."

Rafi menekan gas lebih dalam.

Alya menutup mata. Ia melihat Eyang duduk di kursi rotan, tangan keriputnya mengusap rambut Alya, berkata bahwa orang yang pulang tidak perlu minta izin untuk dicintai.

Ketika mobil berhenti di depan rumah tua itu, pagar sudah terbuka.

Lampu ruang tamu menyala.

Dan di ambang pintu, seorang lelaki muda berjaket kurir berdiri sekejap sebelum berlari ke sisi samping rumah.

Rafi langsung mengejarnya.

Alya hendak ikut, tetapi Arman menahan bahunya.

"Masuk."

Di ruang tengah, Eyang Laras terbaring di sofa. Wajahnya tenang, terlalu tenang. Gelas teh pecah di lantai, cairannya membasahi karpet.

Arman berlutut, memeriksa nadi, membuka kelopak mata, menempelkan telinga di dekat mulut Eyang.

Tidak ada yang berani bicara.

Lalu Arman menunduk lebih dalam.

"Ambulans," katanya, suaranya hampir tidak terdengar. "Sekarang."

Alya memegang tangan Eyang. Hangatnya masih ada, tipis seperti sisa matahari di sore yang sudah lewat.

Di antara pecahan gelas, ia melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada.

Sebuah gantungan kecil berbentuk bunga kamelia merah.

Dinda melihatnya juga.

Ia mundur satu langkah, wajahnya putih.

"Itu..." bisiknya. "Aku pernah lihat di kamar Mama."

Alya mengambil gantungan itu dengan tisu dari meja.

Di luar, terdengar suara tubuh jatuh, lalu teriakan pendek.

Rafi kembali dengan jaket basah dan tangan menggenggam ponsel milik kurir tadi.

"Dia kabur lewat pagar belakang," katanya. "Tapi ponselnya tertinggal."

Layar ponsel itu masih menyala.

Pesan terakhir hanya satu kalimat.

Pastikan perempuan tua itu tidak bicara lagi.

Alya menggenggam tangan Eyang lebih erat.

Untuk pertama kali sejak pulang ke keluarga Wiratama, ia merasa dendam bukan lagi api yang ia pilih.

Dendam itu sudah menjadi udara.

1
Tri Septi
licin ya musuhnya
Tri Septi
duh, tegang terus aku 👏👏🤣🤣🤓
Tri Septi
KK author terima kasih ceritanya bagus....tegang terus, semangat dan sehat selalu👍👍
Tri Septi
lanjut thor👍
Tri Septi
seru👏👏👏 makasih Thor🙏
Tri Septi
tegas, lugas ... suka 👍👍👍
Tri Septi
hmmm senjata makan tuan
Tri Septi
harus Badas jangan mau ditindas 🤣 👏👏👏
Tri Septi
menunggu selama 11 tahun persiapan balas dendam, menjadi gadis yg kuat dan punya skill....semangat berjuang Alya 🔥😍😍😍
・゚・ Mitchi ・゚・
cerita'y bagus thor, cuman kebanyakan nama tokoh'y, jadi mumet ndase thor
Irma Indriani
baru kali ini baca novelnya nagajak berfikir , novel ilmiah 👍
vera tri
pusing baca nya ,terlalu banyak misteri serta konflik..😍
Bella Usop
boring. Cerita bertele-tele
Ce’Scorpio 🦂
Dinda umur 22 tapi ko manggil alya kakak,trus masi sekolah juga..jadi bingung thor 😮‍💨
Jaya Fandi
toko utama yg kuat dan tegas,,aku suka
Ce’Scorpio 🦂
“Bayang” nya ada 2 kah ?
Jaya Fandi
menarik,,i like it,,💪💪
Shinta Teja
ini gimana ceritanya bisa berbalik arah gini?! bukankah di awal cerita si Alya ini yang jadi "bayang"?! bahkan saat Raka bertanya & dia sebutkan kalau dirinya itu "bayang".
sekarang malah jadi Rafi yang berubah jadi "bayang"🤔
Ce’Scorpio 🦂
Raka ini kk kandung alya apa kk kandung dinda ya thor 🤭
Mei Mei
baru baca dah seru aja, bagus ni cerita nya gak bikin bosen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!