Maara Hayuning menikah dengan putra wanita yang telah menyebabkan ibunya mengalami koma.
Mira, ibunda Revan tak sengaja menabrak Maara dan ibunya karena kurang berkonstrasi hingga menyebabkan rahim Maara bermasalah dan ibunya koma lalu meninggal setelah berjuang untuk hidup.
Tak ingin rasa bersalah itu makin menderanya, Mira memaksa putranya Revan Adiyasa menikahi Maara sebagai bentuk tanggung jawab meski pria itu awalnya menolak karena telah memiliki kekasih.
Akankah Maara bertahan atau justru menemukan cinta yang bisa menerima kekurangannya?
Lalu bagaimana perjuangan seorang duda bernama Kenan Jayadi demi bisa menadapatkan hati Maara?
yuk simak....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
diujung retak
Pertemuan itu tak jua menemukan hasil akhir.
Revan bahkan bungkam dan meminta waktu berfikir meski Maara terus memohon dipercepat saja.
Sementara, Lisa yang mulai geram terus ditenangkan oleh suaminya ,Rio.
Tim pengacara Maara ikut-ikutan kesal jadinya.
"Kami akan terus berupaya agar tergugat mau menceraikan anda, nona Maara..." ujar Teguh mencoba membuat Maara kembali optimis.
"Apa sih yang ada diotak si Revan itu?! Tinggal bilang kata talak aja loh, kenapa mempersulit sih...? Heran... Nggak mau menerima jadi istri tapi dia juga nggak menceraikan... Dasar egois!" geram Lisa.
"Sabar yang... Ingat, kamu lagi hamil anakku" seru Rio mencoba meredakan emosi istrinya.
Maara perlahan bangkit.
"Maaf, telah membuang-buang waktu anda pak Teguh... Saya izin pamit..." ujarnya dengan wajah lelah.
"Ra.. Kamu mau kemana?" cegat Lisa yang ikut berdiri.
"Mau ashar Sa... Sekalian aku pamit balik ke kosan..."
"Aku antar" tawar Lisa.
"Nggak usah Sa... Kasihan baby kamu kalau kecapean. Aku pulang naik ojol aja... Aku pamit ya, terima kasih untuk hari ini... Assalamualaikum..." Maara keluar ruang meeting dengan langkah sendu.
Semuanya hanya bisa membiarkan Maara pergi, setidaknya untuk sekedar memberi ruang untuknya.
"Kasihan kamu Ra... Kenapa harus dipertemukan dengan mereka sih?" gumam Lisa iba.
...********^*^********...
Maara terus melangkah melewati trotoar yang mulai sibuk.
Beruntung sore ini cuaca tidak terlalu panas namun juga tidak terlalu mendung. Langit seolah sedang merasakan kegelisahan hatinya.
Langkah Maara berhenti di depan sebuah mesjid yang mulai ramai dikunjungi karena memang masuk waktu ashar.
Lekas Maara melangkah masuk dan bersiap-siap wudhu.
Mungkin dengan cara seperti ini hatinya menjadi tenang.
Usai melaksanakan kewajibannya secara berjamaah, Maara masih duduk bersimpuh dengan kedua tangan terangkat seraya berdoa.
Airmata meleleh dipipinya dibarengi isakan kecil.
Dia lelah namun belum bisa berhenti melangkah.
Sebuah tepukan lembut berhasil mengambil konsentrasinya hingga membuatnya buru-buru menyeka airmatanya.
"Maaf nak... Tadi ibu dengar kamu menangis. Apa terjadi sesuatu padamu atau kamu baru saja mendapat musibah?" tanya seorang ibu paruh baya yang memiliki wajah teduh.
Maara menggigit bibir bagian dalamnya.
"Maaf karena tangisku membuat ibu terganggu..." ujarnya mendudukkan kepala.
Ibu itu meraih tangan Maara, dan menepuknya lembut. "Sama sekali tidak...."
"Ibu memang tidak tahu apa yang terjadi padamu tapi satu hal yang perlu kamu ingat, bahwa Allah tidak akan pernah menguji makhluk-Nya jika Dia tidak yakin kita mampu melewatinya... Anggap ini sebagai ujian untuk meningkatkan keimanan kita sebagai makhluk-Nya...."
Maara menyimak wejangan dari ibu tersebut.
"Hiduplah seperti dandelion... Tumbuh dimanapun kamu berada, lepaskan apa yang tak bisa digenggam dan kamu kendalikan.... Percayalah, bahwa perjalananmu akan menemukan tanah yang tepat... Libatkan Allah dalam setiap keputusan yang akan kamu ambil.. Niscaya Dia akan selalu melindungimu..." ujar ibu itu penuh nasehat.
Seketika hati Maara dipenuhi rasa haru yang membuncah.
Ditambah senyum teduh dari seorang yang asing baginya namun memberi nasehat layaknya ibu kepada anaknya.
Maara jadi teringat almarhumah ibunya, bu Ratmi.
Kembali air matanya mengalir deras.
"Bu... Bolehkan aku memelukmu sebentar saja?" pintanya terisak.
Si ibu awalnya nampak terkejut, namun sepersekian detik mengangguk lalu merentangkan kedua tangannya agar Maara masuk kedalam pelukannya.
Maara tak menyia-nyiakan kesempatan.
Dia menyeruak masuk kedalam dekapan hangat seorang ibu yang begitu dirindukannya.
Bahunya bergetar namun usapan lembut dipunggungnya, membuat Maara tenang.
"Kamu harus kuat ya... InsyaAllah, Allah akan mempermudah jalanmu...." bisik si ibu yang diaminkan oleh Maara.
"Maaf... Baju ibu jadi basah karena airmataku..." lirih Maara setelah melepaskan pelukannya.
"Tak apa... Nanti juga bisa kering... Yang penting kamu sekarang baik-baik saja.... Dan jangan pernah mendahului takdir Tuhan..." sahut si ibu membelai lembut pipi Maara.
"Terima kasih bu karena sudah mengizinkan aku memelukmu... Setidaknya ini bisa mengurangi kerinduan ku pada almarhumah ibuku..."
"Sama-sama... Kalau begitu, ibu pamit dulu ya... Ibu mau ke kantor putra ibu..." ujar si ibu.
Keduanya lalu berpisah di pelataran masjid.
"Bu... Siapapun anda, aku ucapkan banyak terimakasih... Terima kasih atas pelukannya dan semua nasehatnya... Semoga kamu diberikan umur yang panjang serta kesehatan oleh Allah.... Aamiin..." batin Maara berdoa dalam hati.
...*******^**^********...
Dirumah kediaman Revan, terlihat laki-laki itu duduk termenung di ruang kerjanya.
Pertemuan dirinya dan Maara tadi siang cukup membuatnya gelisah.
Istri sirinya itu terlihat sedikit lebih segar walaupun matanya menyimpan lelah dan itu cukup membuat Revan terusik.
Lamunan Revan terputus kala Denis masuk kedalam ruangannya.
"Kenapa?" tanya Revan heran akan kehadiran sepupunya itu.
Hela nafas Denis membuat kening Revan mengerut.
"Kata Laura, kamu ke kantor pengacara Rio tadi siang.... Ada apa?" selidik Denis.
"Maara nuntut cerai!" sahut Revan cepat.
"Terus?"
"Aku belum kabulkan"
"Kenapa?"
Revan mengedikkan bahu.
"Ck... Manusia aneh! Kan kamu sendiri yang bilang bakalan ceraikan dia kalau dia-nya yang mau. Ini dia udah mau kenapa kamu gantung kayak gitu? Mau mu apa Van?" heran Denis.
Revan bukannya menjawab pertanyaan Denis justru berdecak kesal.
"Kamu mulai suka dia?" tebak Denis yang langsung mendapat tatapan murka dari Revan.
"Jangan sembarangan kamu! Laura ku jauh lebih dari segalanya dan sampai kapanpun aku tidak akan berpaling darinya..." tegas Revan akan perasaannya.
"Lalu apa? Ego? Harga diri? Atau gengsi karena Maara yang nuntut bukannya kamu?" cecar Denis yang langsung membuat Revan terdiam.
"Van... Kamu pernah mikir nggak? Jika kamu yang berada diposisi dia, apa yang akan kamu lakukan? Kehilangan ibu karena kelalaian orang lain sekaligus membuat cacat sebagai perempuan yang tidak bisa memberi keturunan... Lalu tiba-tiba dinikahin laki-laki yang notabene adalah anak dari perempuan yang menyebabkan ini semua terjadi... Dan sialnya lagi, justru tak pernah dianggap akan kehadirannya dan harus melihat suami sendiri nikah sama kekasihnya... Dan parahnya diajak tinggal serumah lagi. Gimana perasaan mu? Setan aja sungkem dengan kelakuan mu...! Hati-
Denis mendengus kesal karena reaksi Revan yang terlihat biasa saja.
"Kalau aku jadi Maara, aku akan tuntut kalian semua kejalur hukum.. Tapi sayangnya, dia punya hati yang lembut sehingga tidak mau melakukannya... Dia cuma mau pergi dari hidup kalian... Lalu kenapa kamu mempersulitnya...? Aku nggak habis pikir dengan isi kepalamu! Jangan jahat-jahat jadi manusia! Nanti Tuhan murka!" ujar Denis geram.
"Jangan bawa-bawa Tuhan....! Lagipula kamu yakin, dia nggak bakalan nuntut mama jika aku kabulkan?" tanya Revan.
"Tanya pada hatimu! Kamu yakin dia mau melakukan hal itu?" Denis bukannya menjawab justru memberikan pertanyaan balik.
"Bisa saja dia nuntut balik mama...." gumam Revan tapi masih bisa didengar oleh Denis.
"Ck.... Maara itu nggak sama dengan gadis-gadis diluaran sana yang egois.... Dia itu baik Van.... Teramat baik malahan... Tapi sayangnya, kebaikannya justru mendatangkan kesengsaraan baginya..." terang Denis lagi.
Denis bangkit.
"Lepaskan dia dan biarkan dia hidup bahagia... Jangan ikat dia dengan tali pernikahan yang justru membuatnya semakin tercekik... " ujar Denis sebelum dia meninggalkan Revan.
"Apa kamu menyukainya?" tanya Revan hingga menghentikan langkah Denis yang hampir mencapai pintu.
Denis berbalik.
"Hanya laki-laki bodoh yang tak menyukai perempuan seperti Maara...! Andai saja aku lebih dulu dipertemukan dengannya, aku akan dengan senang hati menikahinya..." jujur Denis.
"Meski dia tidak bisa memberimu keturunan?" cecar Revan lagi.
"Jangan mengambil hak prerogatif Tuhan... Keajaiban itu ada Van... Dan jika memang kami tidak diberi kepercayaan oleh Tuhan perihal anak, kami bisa jadi orangtua asuh dari anak-anak yang kurang beruntung.... Jangan mempersulit diri karena sebuah gengsi dan egois semata..." sahut Denis yang membuat Revan bungkam tak dapat membantah lagi.
Revan menyandarkan kepalanya pada sofa. Wajahnya menengadah keatas.
Bayangan wajah sendu dan mata sayu Maara tadi siang terus berputar di kepalanya.
...*******^***^******...
"Mama nggak setuju kalian cerai!" tolak Mira disuatu sore ketika Revan mengutarakan niatnya.
"Kenapa ma...?" sela Rendra heran dengan penolakan istrinya.
"Papa coba mikir deh! Kalau Revan cerai dengan Maara, lalu dia nuntut mama, polisi akan bawa mama. Mama nggak mau dipenjara!. Pokoknya kamu dan Maara nggak boleh pisah! Selagi dia masih dalam jangkauan kita, mama yakin dia nggak bakalan laporin mama kepolisi...." seru Mira dengan suara bergetar.
"Ma... Maara pernah bilang kalau dia nggak bakalan laporin mama..." tegas Revan.
"Itu kata dia agar kamu mau ceraikan dia... Mama nggak percaya kalau dia bakalan lepasin kita gitu aja... " ujar Mira sambil berlalu dari hadapan suami dan putranya.
"Maa... " teriak Rendra namun tak digubris oleh Mira.
"Jangan dengarkan mamamu... Dia cuma cemas... Tapi papa yakin, kalau Maara akan menempati janjinya... Papa akan berikan kompensasi padanya jika kamu menceraikan dia.. Anggap saja itu sebagai permintaan maaf papa karena telah membuatnya terbelenggu dalam pernikahan yang rumit ini.... Lepaskan dia dan biarkan dia memulai hidup yang baru...." ujar Rendra yang lagi-lagi membuat Revan goyah.
Disatu sisi Revan juga takut jika Maara justru mempermainkan keluarganya namun disudut hatinya yang paling dalam, dia ingin sekali membebaskan Maara dari belenggu bernama pernikahan.
Ucapan Denis tempo hari cukup mengusiknya untuk berfikir realistis dan bijak.
bersambung....