Sekte kuno Pedang Langit yang berjaya selama seribu tahun, dalam lima ratus tahun terakhir mengalami kemunduran akibat seluruh guru besar dan murid sekte bahkan sesepuh serta ketua sekte tewas dalam perang melawan Klan Iblis. Hanya tersisa, seorang murid luar Li Tianchen dan mendapatkan warisan dari guru besar. li Tianchen menjadi ketua sekte Pedang Langit.
Hidup damai dan nyamannya mulai terusik, saat Sekte -sekte baru menyerang dan ingin menguasai wilayah sekte Pedang Langit.
Mampukah Li Tianchen mempertahankan sekte pedang Langit? Dapatkah Tianchen mendapatkan murid untuk membantu sekte meraih puncak tertinggi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEKTE KUNO 27
Sinar rembulan malam membingkai pelataran Balai Leluhur Sekte Pedang Langit dengan keheningan yang anggun. Udara pegunungan yang dingin membawa wangi kayu cendana dan uap herbal dari kebun obat.
Di dalam kediaman pribadi Ketua Sekte, aroma teh melati hangat membubung tipis dari atas meja kayu rosewood. Yuanling bergerak dengan jemari yang sangat cekatan, mengusap lipatan kain jubah perak bersulamkan benang naga putih, pakaian perjalanan khusus yang baru saja ia rapikan untuk Tianchen . Di samping meja, terdapat sebuah tas kain sutra tebal berisikan beberapa botol obat, beberapa pasang pakaian ganti, serta bekal kue beras manis buatan tangannya sendiri.
"Suami, perjalanan menuju kota-kota bawah dan wilayah sekte fana sangat jauh," tutur Yuanling lembut, suaranya halus bagaikan gesekan sutra. Ia mengangkat tangannya, merapikan kerah jubah Tianchen dengan penuh perhatian dan kasih sayang. Matanya yang jernih menatap wujud gagah suaminya dengan campuran rasa bangga dan cemas. "Aku telah menyatukan obat-obatan pemulih tenaga dan bekal makanan ini. Walaupun aku tahu Suami mungkin tidak membutuhkan makanan fana lagi, setidaknya ini bisa menemani perjalananmu."
Tianchen menatap jemari halus istrinya, lalu meletakkan telapak tangannya di atas tangan Yuanling. Senyuman tipis dan hangat yang senantiasa ia simpan khusus untuk Yuanling mengembang di bibirnya.
"Terima kasih, Istriku. Perhatianmu selalu menjadi hal yang paling menenangkan bagiku," ucap Tianchen pelan.
Yuanling mendadak teringat sesuatu. Dari dalam kantong bajunya, ia mengeluarkan sebuah kantong kain bersulam emas yang berisikan beberapa butir batu bening memancarkan pendar cahaya tipis, Batu Roh Tingkat Rendah. Batu-batu itu adalah sisa dari simpanannya saat ia masih diabaikan oleh keluarganya.
"Suami... Ambillah ini," ujar Yuanling polos seraya menyodorkan kantong tersebut ke telapak tangan Tianchen. "Di dunia fana maupun di pendaftaran murid, batu roh pasti sangat dibutuhkan untuk bertransaksi. Aku hanya punya beberapa batu roh ini, tapi semoga bisa membantu sedikit pengeluaranmu."
Tianchen tertegun sejenak menatap kantong batu roh kecil di tangan istrinya. Rasa haru dan hangat menyusup ke dalam matanya. Ia tidak tertawa atau mengejek ketidaktahuan istrinya, melainkan menggelengkan kepala secara perlahan dengan lembut.
"Simpanlah batu roh milikmu ini, Yuanling," kata Tianchen halus. "Batu roh ini milikmu. Lagipula... suamimu tidak kekurangan batu roh sama sekali."
Yuanling memiringkan kepalanya bingung. "Eh? Tapi bukankah sekte kita baru saja mulai dibangun kembali?"
Sebelum Yuanling sempat menyelesaikan kalimatnya, Tianchen mengibaskan lengan baju panjangnya.
Sreeenggg!
Sebuah kilatan cahaya keemasan yang begitu menyilaukan mendadak memenuhi seluruh ruangan kamar! Cahaya itu begitu terang dan murni hingga menyapu bersih bayang-bayang malam di sudut ruangan. Di atas meja kayu, tumpuk demi tumpuk batu kristal murni bermunculan secara ajaib!
Batu-batu kristal itu memancarkan aura spiritual yang sangat dahsyat, pekat, dan dingin namun hangat di saat yang bersamaan. Setiap sisinya terukir sempurna oleh hukum alam, memancarkan pancaran warna pelangi yang berkilauan bagaikan bintang kejora. Bau murni energi spiritual seketika memadati udara kamar, membuat paru-paru Yuanling terasa begitu segar hanya dengan menghirup udaranya.
Mata Yuanling membelalak lebar. Mulutnya sedikit terbuka karena rasa syok yang tak tertahankan. Jemarinya yang memegang kantong kain kecil gemetaran.
"I-Ini... Batu Roh Tingkat Tinggi?! Bahkan... Batu Roh Tingkat Kuno?!" seru Yuanling terbata-bata, napasnya tertahan di tenggorokan. "S-Satu butir dari batu roh ini saja cukup untuk membeli seluruh kota di wilayah selatan! Bagaimana... bagaimana Suami bisa memiliki batu roh dengan kualitas paling murni dan tertinggi seperti ini dalam jumlah sebanyak ini?!"
Tianchen tersenyum misterius. Dengan kibasan tangan ringan, tumpukan batu kristal ajaib itu lenyap kembali ke dalam cincin penyimpanannya, mengembalikan pencahayaan kamar menjadi normal.
"Di masa lalu, aku telah mengumpulkan cukup banyak hal yang tidak berguna bagi orang-orang kuat, namun bernilai tinggi bagi dunia fana," jawab Tianchen santai, mengusap kepala Yuanling. "Jadi, kau tidak perlu mencemaskannya. Keuangan suamimu sanggup membeli puluhan benua jika aku menghendakinya."
Yuanling menelan ludahnya dengan susah payah, memegang dadanya yang berdebar kencang. Setitik rasa kagum yang tak terbatas makin mengakar di dalam hatinya terhadap pemuda yang kini menjadi suaminya ini.
Sebelum benar-benar melangkah keluar dari Balai Utama untuk memulai perjalanannya, Tianchen mengajak Yuanling menyusuri koridor samping menuju kamar pengobatan.
Di dalam ruangan beraroma kayu manis dan daun sage tersebut, sesosok pemuda berselimut kain putih terbaring tenang di atas ranjang kayu. Ia adalah pelayan setia dari Keluarga Liu yang sebelumnya mengorbankan diri demi melindungi Yuanling. Wajah pemuda itu tidak lagi pucat pasi bagaikan mayat; warna kulitnya telah kembali merona tipis, dan napasnya terdengar teratur.
Tianchen berdiri di samping ranjang. Ia meraih pergelangan tangan pelayan pria tersebut, menempelkan dua jarinya untuk memeriksa denyut nadi internal.
"Kondisi fisiknya sudah membaik secara signifikan," gumam Tianchen, matanya berkilat menembus lapisan kulit pelayan itu untuk mengamati struktur dalamnya. "Luka bakar di organ dalamnya sudah menutup, dan pecahan racun telah dibersihkan oleh pil pemulih."
Tianchen melepaskan pegangannya, lalu menoleh memandang Yuanling yang berdiri cemas di sisinya.
"Namun, ia belum sadarkan diri karena integrasi tulang di dalam dadanya," lanjut Tianchen dengan nada serius. "Yuanling, selama aku pergi, aku minta kau datang ke kamar ini dua kali sehari, setiap pagi saat matahari terbit dan sore saat matahari terbenam."
Yuanling menyimak dengan sangat penuh perhatian. "Apa yang harus aku lakukan pada pelayan ini, Suami?"
"Alirkan energi murni dari Jurus Embun Suci milikmu dan energi spiritual alam secara perlahan ke dalam titik meridian pusat di dadanya," instruksi Tianchen detail. "Energi murni milik Tubuh Sakti Harmonis Selarasmu akan bertindak sebagai jembatan penyeimbang. Ini tidak hanya membantu mempercepat proses kesadarannya, tetapi juga akan memicu kebangkitan penuh dari Tulang Sakti yang tersimpan tertidur di dalam dadanya."
"Baik, Suami!" jawab Yuanling mantap tanpa ragu sedikit pun. "Aku memegang perkataanmu. Setiap pagi dan sore, aku akan memastikan energi spiritualnya mengalir dengan lancar."
Di saat yang bersamaan, di atas meja bundar kecil di sudut kamar pengobatan...
Kucing putih berbulu lebat, Valeska sang Ratu Rubah baru saja terbangun dari tidur lelapnya. Khasiat dari Pil Pemulih Sumsum yang diberikan Tianchen kemarin telah bekerja dengan luar biasa di dalam jaringan dagingnya. Valeska menggeliat pelan, merenggangkan kedua kaki depannya sambil melengkungkan punggungnya yang lembut.
Aahh... Sensasi ini... batin Valeska seraya mengedipkan mata birunya yang jernih. Rasa terbakar di paru-paruku sudah hilang! Daging di paha kiriku yang robek juga sudah menyatu kembali secara sempurna! Luar biasa... Tubuh kucing hina ini merasa jauh lebih bertenaga.