Persahabatan selama lima belas tahun membuat Aurel percaya bahwa Kayla adalah keluarga yang dipilih oleh hati. Mereka berbagi tawa, air mata, mimpi, bahkan janji untuk selalu ada dalam setiap langkah kehidupan masing-masing.
Hingga suatu hari, semesta merobohkan semua kepercayaan itu.
Suami yang dicintainya, Mahesa, ternyata menyimpan rahasia yang tak pernah terbayangkan. Perempuan yang diam-diam mengisi ruang di hati Mahesa bukanlah orang asing, melainkan sahabat yang selama ini duduk di meja makan rumahnya, memeluknya saat ia menangis, dan mengucapkan doa terbaik di hari pernikahannya.
Yang paling menyakitkan bukanlah perselingkuhan itu sendiri, melainkan kenyataan bahwa kebohongan tersebut dibangun oleh dua orang yang paling ia percaya.
Di antara cinta, pengkhianatan, dan harga diri yang tercabik, Aurel harus memilih, bertahan demi mempertahankan keluarga, atau melepaskan semuanya meski harus kehilangan dua orang sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erunisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Pagi itu, ruang kerja Najwa dipenuhi tumpukan dokumen. Fotokopi sertifikat. Perjanjian kredit bank. Dokumen pembiayaan leasing. Bukti kepemilikan kendaraan. Serta beberapa berkas yang semalam diantarkan langsung oleh Aurel.
Najwa membaca satu per satu dengan teliti. Sesekali ia memberi tanda menggunakan stabilo.
Tak lama kemudian, Aurel datang dan duduk di hadapan sahabatnya.
"Sudah kamu pelajari?"
Najwa mengangguk. "Sudah."
"Ada beberapa hal yang menurutku perlu kita masukkan ke dalam gugatan." kata Najwa.
Aurel mengangguk pelan. "Aku siap mendengarkan."
Najwa membuka map berwarna biru. "Pertama, soal rumah."
Aurel langsung memperhatikan.
"Dari dokumen yang ada, tanah berasal dari orang tuamu."
"Iya." jawab Aurel.
"Bangunan awal dibangun dengan bantuan kedua keluarga."
"Iya." jawab Aurel lagi.
"Lalu ada renovasi dapur yang menggunakan dana kamu dan Mahesa."
Aurel mengangguk lagi.
Najwa menutup mapnya sejenak. "Karena kondisi rumah ini cukup kompleks, kita akan menyampaikan seluruh riwayatnya secara lengkap agar pengadilan mendapatkan gambaran yang utuh."
Aurel menarik napas panjang. "Aku tidak ingin rumah itu jadi rebutan."
Najwa menatap sahabatnya. "Lalu apa yang kamu inginkan?"
Aurel tersenyum tipis. "Rumah itu... biarlah menjadi milik Raka."
Najwa sedikit terdiam."Kenapa?"
"Karena rumah itu dibangun dengan pengorbanan banyak orang."
"Orang tuaku memberikan tanah."
"Orang tua Mahesa ikut membantu pembangunan."
"Aku dan Mahesa juga sama-sama mengeluarkan tenaga dan biaya."
Aurel menundukkan pandangan. "Aku tidak ingin rumah itu menjadi simbol pertengkaran."
"Kalau suatu hari nanti Raka sudah dewasa..."
"...biarlah rumah itu menjadi miliknya."
Najwa mengangguk pelan. "Itu bisa kita jadikan salah satu permohonan dalam gugatan. Nanti bagaimana hasil akhirnya tetap menjadi kewenangan pengadilan."
Aurel mengangguk memahami.
"Lalu yang kedua." Najwa membuka dokumen pinjaman bank.
"Soal utang."
"Aku sudah membaca perjanjian kreditnya."
"Pinjaman ini digunakan sebagai tambahan modal usaha bengkel."
"Iya." Aurel menjawab mantap.
"Bukan untuk kebutuhan pribadiku."
Najwa kembali mencatat. "Baik."
"Lalu apa yang kamu inginkan terkait utang ini?"
Aurel menjawab tanpa ragu. "Aku ingin Mahesa yang bertanggung jawab."
Najwa mengangkat wajah. "Alasannya?"
"Karena dana itu dipakai untuk mengembangkan usaha yang selama ini dikelola Mahesa."
"Aku memang menyetujui sertifikat rumah dijadikan jaminan."
"Tapi aku melakukannya sebagai istri yang percaya kepada suaminya."
"Aku tidak pernah menikmati uang pinjaman itu untuk kepentingan pribadi."
Najwa mengangguk. "Baik. Nanti kita jelaskan kronologinya dan alasanmu dalam gugatan."
Najwa kemudian mengambil dokumen lain. "BPKB mobil."
Aurel mengembuskan napas panjang. "Itu yang paling membuatku khawatir."
"BPKB mobil atas namaku sekarang masih menjadi jaminan leasing."
Najwa mengangguk. "Lalu?"
Aurel berpikir sejenak sebelum menjawab. "Aku tidak ingin langsung menuntut."
"Aku masih ingin memberi kesempatan."
Najwa tersenyum tipis. "Itu keputusan yang cukup bijaksana."
"Aku akan memberi Mahesa waktu satu tahun."
"Kalau dalam waktu satu tahun BPKB itu berhasil ditebus dan dikembalikan kepadaku, masalah itu selesai."
"Tapi kalau tidak..." Aurel menatap Najwa dengan mantap.
"...aku akan menempuh jalur hukum sesuai hakku."
Najwa menuliskan kembali poin tersebut. "Baik."
"Berarti kita akan mencantumkan bahwa kamu memberikan tenggang waktu satu tahun sebagai bentuk itikad baik, sementara langkah hukum lebih lanjut akan dipertimbangkan apabila kewajiban itu tidak dipenuhi."
Aurel mengangguk. Ia tidak ingin bertindak gegabah.
Baginya, perceraian bukan berarti harus saling menghancurkan. Ia hanya ingin mendapatkan kepastian hukum atas apa yang menjadi haknya dan masa depan anaknya.
Najwa menutup seluruh berkas. "Rel."
"Aku tahu kamu sedang terluka."
"Tapi hari ini aku melihat satu hal."
"Apa?" tanya Aurel.
"Kamu tidak sedang menyusun balas dendam."
"Kamu sedang menyusun masa depan."
Aurel tersenyum tipis. "Aku sudah terlalu lelah untuk membalas siapa pun."
"Yang aku inginkan sekarang cuma satu."
"Agar Raka tetap punya masa depan yang baik, meski kedua orang tuanya nanti tidak lagi hidup dalam satu rumah."
Najwa mengangguk pelan. Dalam hati, ia berharap perkara ini dapat diselesaikan seadil mungkin.
Karena di balik setiap lembar gugatan yang ia susun, ada seorang ibu yang sedang berusaha bangkit dari pengkhianatan tanpa kehilangan kewarasannya.
♡♡♡
Malam itu, Kayla akhirnya pulang ke rumah orang tuanya. Begitu memasuki halaman, ia langsung menyadari suasana yang tidak biasa.
Lampu ruang tamu masih menyala terang. Ayah dan ibunya duduk berdampingan di sofa. Tidak ada televisi yang menyala. Tidak ada percakapan. Seolah mereka memang sedang menunggu kepulangan putri mereka.
Kayla mengembuskan napas pelan.
"Pak... Bu..." Suaranya terdengar pelan.
Ayahnya mengangkat kepala. "Duduk." Hanya satu kata.
Namun cukup membuat Kayla memahami bahwa malam itu bukan malam yang mudah.
Kayla perlahan duduk di hadapan kedua orang tuanya. Beberapa detik berlalu tanpa ada yang berbicara.
Hingga akhirnya sang ayah memecah keheningan.
"Kemarin malam kami bicara dengan Aurel."
Kayla langsung membeku. Wajahnya perlahan memucat.
"Aurel sudah menceritakan semuanya." Ibunya menundukkan kepala. Air mata kembali mengalir di pipinya.
"Kenapa, Kayla?" Suara perempuan itu bergetar.
"Kenapa harus suami sahabatmu sendiri?"
Kayla menggigit bibirnya. Ia sudah menduga momen ini akan datang. Namun tetap saja, mendengarnya langsung dari orang tuanya terasa begitu berat.
Ayahnya menarik napas panjang. "Kamu tahu tidak..."
"Yang kamu rusak bukan hanya rumah tangga Aurel."
"Kamu juga menghancurkan persahabatan yang sudah bertahun-tahun kalian bangun."
"Dan sekarang..."
"...hubungan dua keluarga ikut hancur."
Kayla menundukkan kepala.
"Keluarga Aurel selama ini selalu baik kepada kita."
"Ibu mereka sering mengundang kita."
"Aurel juga tidak pernah membedakanmu dengan anak kandungnya."
"Tapi balasanmu seperti ini?"
Kayla mengepalkan kedua tangannya. "Pak..."
"Aku memang salah."
"Tapi jangan salahkan aku sendirian."
Ayahnya mengernyit. "Maksudmu?"
Kayla mengangkat wajah. "Mahesa juga salah."
"Kalau Mahesa menolak sejak awal, hubungan ini nggak mungkin terjadi."
"Kalau Mahesa setia sama Aurel, aku juga nggak akan bisa masuk ke dalam hidupnya."
Ibunya mengusap air mata. "Itu benar."
"Mahesa juga bersalah."
"Tapi apakah kesalahan Mahesa membuat kesalahanmu menjadi benar?"
Kayla terdiam.
Ayahnya melanjutkan dengan suara tegas. "Kami tidak pernah bilang Mahesa tidak bersalah."
"Justru kami juga sangat kecewa padanya."
"Tapi malam ini yang kami ajak bicara adalah kamu."
"Kamu adalah anak kami."
"Kami bertanggung jawab menasihatimu."
Kayla menggigit bibir bawahnya. "Aku cuma ingin bahagia, Pak." Suara Kayla mulai bergetar.
"Aku juga ingin punya rumah tangga."
"Aku capek terus menunggu."
Ayahnya menatap putrinya dengan penuh kesedihan. "Kalau kamu ingin bahagia..."
"Bukan berarti kamu boleh mengambil kebahagiaan orang lain."
Kalimat ayahnya membuat Kayla terdiam.
Ibunya menggenggam tangan Kayla. "Dari kecil Ibu mengajarkanmu untuk menghargai milik orang lain."
"Lalu kenapa ketika sudah dewasa..."
"...kamu justru mengambil suami perempuan lain?"
Air mata Kayla akhirnya jatuh. "Aku cinta sama Mahesa, Bu."
Ibunya ikut menangis. "Tapi cinta saja tidak selalu membuat seseorang berada di jalan yang benar."
Suasana kembali sunyi. Ayah Kayla menyandarkan tubuhnya ke kursi.
"Besok..."
"Kamu temui keluarga Ardi."
Kayla langsung mengangkat kepala. "Buat apa?"
"Kalau memang hubungan kalian sudah selesai, sampaikan dengan baik-baik."
"Jangan biarkan mereka terus menunggu tanpa kepastian." lanjut Ayahnya.
Kayla menunduk. Ia tahu ayahnya benar. Selama ini, keluarga Ardi juga menjadi korban dari keputusan-keputusannya.
Ayahnya kembali berbicara. "Dan satu lagi."
"Jangan pernah berpikir kami akan mendukung hubunganmu dengan Mahesa hanya karena semuanya sudah terbongkar."
Kayla terdiam.
"Kami tidak bisa merestui hubungan yang dimulai dengan menyakiti begitu banyak orang."
Kalimat itu menjadi penutup percakapan malam itu.
Kayla hanya mampu menangis dalam diam. Untuk pertama kalinya, ia merasakan bahwa bukan hanya Aurel yang kehilangan. Bukan hanya Mahesa yang ditolak keluarganya. Kini..Ia pun harus menghadapi kekecewaan dari kedua orang tua yang selama ini selalu membanggakannya.