Terbangun di masa lalu, tepat sebelum jerat takdir Daniel menjebaknya, Erica menolak menjadi korban untuk kedua kalinya.
Mengubah alur permainan adalah satu-satunya pilihan. Jika Daniel menggunakan nama besar Megantara untuk menghancurkannya, maka Erica akan menduduki takhta tertinggi di keluarga itu.
Ketika bidak catur mulai digerakkan dan rahasia satu per satu terkelupas, siapakah yang sebenarnya memegang kendali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meleburnya Batas Kontrak
Aroma hujan yang membasahi tanah di luar jendela kamar menyatu dengan kehangatan yang melingkupi ranjang mungil itu.
Lampu nakas memancarkan pendaran keemasan yang remang, melukis bayangan dua tubuh yang terbaring begitu rapat tanpa jarak.
Di bawah selimut wol tebal, deru napas Eshar terdengar kian memburu, beradu dengan detak jantung Erica yang berdentang keras di dalam dada.
Sentuhan jemari tegap Eshar yang membelai pinggang ramping Erica terasa kian panas, membakar setiap jengkal kulit yang tersentuh.
Tatapan mata coklat sang Jenderal, yang biasanya sedingin es perbatasan, kini berubah sayu dipenuhi oleh gairah, rasa memiliki yang mendalam, dan keinginan yang telah lama ditahan.
Iman yang dijaganya setebal beton pertahanan perbatasan telah terkikis habis.
Di atas kasur masa kecil Erica ini, Eshar tidak lagi bersikap sebagai seorang komandan yang tegas, melainkan sebagai seorang pria dewasa yang sangat mencintai istrinya.
Eshar mencondongkan tubuhnya lebih dekat, memangkas sisa jarak hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan.
Suara beratnya bergaung rendah, serak, dan bergetar menahan gejolak yang nyaris meledak.
"Erica..." bisik Eshar,
"Aku tahu ada surat kontrak pernikahan dua tahun di antara kita. Aku tahu kita memulai semua ini karena siasat dan kebutuhan balas dendam..." Eshar menjeda kalimatnya, matanya mengunci manik mata jernih milik Erica dengan intensitas yang menghipnotis.
Ibu jarinya bergerak perlahan mengusap bibir bawah Erica yang merona merah muda.
Erica bisa merasakan getaran halus dari tangan tegap suaminya, sebuah gerakan yang menjelaskan betapa pria perkasa ini sedang berusaha keras mengendalikan dirinya demi menghormati sang istri.
"Tapi malam ini, di hadapanmu... aku tidak bisa lagi membohongi diriku sendiri," lanjut Eshar, suaranya pun menjelaskan tentang hasratnya yang memuncak.
"Aku mencintaimu, dan aku menginginkanmu, Erica. Bukan hanya sebagai rekan balas dendam, melainkan sebagai istriku yang seutuhnya. Izinkan aku menyentuhmu malam ini... izinkan aku menghapus batas di antara kita."
Mendengar pengakuan yang begitu tulus dan dalam dari pria yang telah bertaruh nyawa demi melindunginya di perbatasan, seluruh keraguan di dalam diri Erica menguap tak berbekas.
Erica tidak ingin lagi bersembunyi di balik lembaran kertas kontrak yang semu. Rasa percaya dan cinta yang mengakar kuat di dadanya telah menggantikan segala trauma masa lalu.
Erica menyunggingkan senyuman manisnya yang paling tulus. Jemari lentiknya naik, mengelus rahang kokoh Eshar yang menegang, lalu jemarinya menyusup ke sela-sela rambut hitam suaminya.
"Aku mengizinkanmu untuk menyentuhku, Eshar," bisik Erica lembut, suaranya penuh kepasrahan yang manis.
"Malam ini... dan untuk selamanya, aku adalah milikmu."
Jawaban itu laksana pemicu yang meruntuhkan seluruh dinding pertahanan Eshar.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Eshar menundukkan kepalanya dan menangkup wajah Erica, menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang dalam, panas, dan menuntut.
Ciuman pertama yang mengawali malam mereka terasa begitu intens. Eshar menyesap kelembutan bibir Erica dengan rasa lapar yang sekian lama terpendam, sementara Erica membalas ciuman suaminya dengan patuh.
Desah halus lolos dari tenggorokan Erica saat ciuman Eshar merambat turun, menyusuri garis rahangnya, lalu mengecup leher jenjangnya yang harum aroma melati.
Di dalam kamar mungil yang temaram itu, lembaran kertas kontrak dua tahun yang pernah mereka tandatangani di Jakarta seolah terbakar habis oleh kobaran asmara yang menyatukan jiwa mereka. Tidak ada lagi syarat, tidak ada lagi batasan waktu, dan tidak ada lagi dinding penghalang.
Jemari Eshar yang kapalan dan tegap bekerja dengan sangat mengutamakan kelembutan, menanggalkan piyama katun tipis yang dikenakan Erica helai demi helai.
Setiap sentuhan tangan Eshar di atas kulit mulus istrinya mengirimkan gelombang sengatan hangat yang membuat Erica melengkungkan tubuhnya, pasrah dalam dekapan sang singa perbatasan.
Dengan gerakan yang sangat protektif, Eshar membawa tubuh Erica masuk ke dalam penguasaannya.
Di atas kasur busa yang berdecit halus menahan bobot tubuh mereka, dua insan yang sama-sama terluka oleh masa lalu itu saling merengkuh, meleburkan dinginnya pengkhianatan dengan hangatnya gairah penyatuan yang suci.
Malam itu, di bawah sisa gemericik hujan yang membasahi bumi Jakarta, Jenderal Eshar Megantara dan Erica Fiorenza resmi menjadi suami istri yang seutuhnya.
Sementara kehangatan dan penyatuan suci melingkupi kamar mungil Erica di rumah Fiorenza, kegelapan malam Jakarta di sudut yang lain justru melahirkan konspirasi baru yang penuh dengan keputusasaan dan dendam.
Di sebuah paviliun tersembunyi milik klan Megantara di kawasan Cikini, lampu gantung kristal memancarkan cahaya remang-remang yang mencekam.
Bau asap rokok putih bercampur dengan aroma parfum menyengat memenuhi ruang tamu.
Shofia duduk terisak di atas sofa beludru merah, matanya sembap dan riasannya hancur berantakan.
Gaun malam mewahnya yang ternoda akibat skandal beberapa hari yang lalu masih melekat di tubuhnya.
Di jarinya, melingkar sebuah cincin emas polos, cincin tanda pernikahan siri secara tersembunyi antara dirinya dan Daniel yang sudah lama digelar demi mengikat harta Megantara Corp.
"Mama Bianca! Kita tidak bisa membiarkan Mas Daniel mendekam di penjara militer begitu saja!" jerit Shofia, suaranya melengking penuh amarah yang tertahan.
Tangannya mengepal, meremas bantal sofa dengan beringas.
"Daniel itu suamiku! Meskipun pernikahan kami dilakukan secara siri, dia sudah menjanjikan separuh saham Fiorenza Fashion diberikan padaku setelah Erica disingkirkan! Sekarang, Mas Daniel ditahan dan Fiorenza Fashion justru makin kuat di tangan perempuan jalang itu!"
Bianca Megantara berdiri di dekat jendela, memegang segelas anggur merah yang pekat. Wajah cantiknya yang biasa dipenuhi kepalsuan sosialita di Menteng kini mengeras bagai batu nisan.
Sorot matanya memancarkan kedengkian yang sangat kelam.
"Tutup mulutmu, Shofia! Mengeluh tidak akan mengeluarkan Daniel dari sel tahanan!" desis Bianca dingin, membalikkan tubuhnya dan menatap Shofia dengan pandangan mengintimidasi.
Bianca melangkah mendekat, meletakkan gelas anggurnya di atas meja kaca dengan dentingan keras.
"Benny sudah angkat tangan. Dia terlalu takut posisinya di kementerian terancam jika mencoba menyogok hakim militer Eshar." ucapnya dengan wajah kesal.
"Tapi aku tidak akan tinggal diam melihat seluruh kekayaan yang kurebut dengan darah harus jatuh ke tangan anak pungut tidak tahu diri itu dan istrinya!"
"Lalu kita harus bagaimana, Ma?" tanya Shofia.
"Hakim Kejaksaan Militer sudah mengetukkan palu! Pembekuan aset Daniel juga sudah berjalan!"
Bianca menyunggingkan senyuman tipis yang sangat beracun, sebuah senyuman dari seorang wanita yang pernah melenyapkan Viona puluhan tahun silam.
Dia membungkuk, berbisik tepat di depan wajah Shofia.
"Hukum militer Eshar memang tidak bisa kita sentuh dari luar, Shofia. Tapi bisnis Erica di Fiorenza Fashion adalah jantung dari kekuatan mereka di Jakarta," bisik Bianca dengan nada manipulatif.
"Erica berpikir dia telah menang karena berhasil merebut jalur distribusi garmen kita di kantor cabang Megantara Corp. Dia tidak tahu bahwa pabrik bahan baku kain ada di bawah kendali pribadiku."
Bianca mengepalkan jemarinya yang dipenuhi cincin berlian.
"Kita akan menghancurkan Fiorenza Fashion dari dalam. Kita buat perusahaan itu bangkrut atas tuduhan jiplakan desain dan kelalaian bahan produksi sebelum tim audit Eshar sempat menyelidiki kasus di Menteng. Tanpa Fiorenza Fashion, Erica tidak akan punya pengaruh di dunia bisnis Jakarta, dan Eshar akan kehilangan pijakan finansialnya!"
Shofia menyunggingkan senyuman licik, rasa dengki yang membakar dadanya kini menemukan celah untuk membalas dendam.
"Aku punya orang dalam di gudang kain Erica, Tante. Kita juga bisa membakar dokumen paten bahan baku kain itu dan menyalahkan Erica atas pelanggaran kontrak kerja sama!"
"Bagus," puji Bianca, mata kelamnya dipenuhi ancaman mematikan.
"Biarkan Eshar menikmati 'kemenangan' dalam lamunan di kamarnya malam ini. Saat matahari terbit besok, kita akan memastikan bahwa api kembalinya mereka ke Jakarta akan membakar habis seluruh impian Erica tanpa sisa."
semoga msalaah yg ad bisa selesai satu persatu termasuk kematian viona
sperti ny mereka terlalu meremehkan sang jendral dan istrinya ,, 😒😒😒😒
😂😂😂😂
lanjut kak ,,
dtggu kelanjutan ny yx kak
syok gx tuh mata2ny ,, 😂😂😂😂