Bereinkarnasi di Era Kultivasi Modern, Yang Chan awalnya hanyalah remaja tanpa bakat yang mendambakan kehidupan damai. Memilih untuk tidak masuk dalam kebrutalan dunia kultivasi.
Tanpa disangka, rutinitas mencangkulnya justru membangkitkan Sistem Taman Kehidupan. Bukan misi berdarah yang didapat, melainkan keajaiban agrikultur penakluk lahan mati yang kelak melahirkan legenda suci, juga bakat terpendam yang seharusnya tidak ia miliki.
Saat para penguasa dunia sibuk mencari jejak keilahian, mampukah ia menjaga kedamaian hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Tekanan dari Konglomerat
Yang Chan menatap pemberitahuan berwarna merah di pandangannya yang berkedip pelan. Namun, sebelum ia sempat mencerna arti perubahan lahan tersebut, raungan mesin mobil yang bising mendadak memecah kesunyian Desa Perbatasan.
Sebuah mobil hitam mewah dengan bodi mengkilap meluncur kencang di jalanan tanah. Kendaraan itu menyemburkan kepulan debu kering sebelum akhirnya berhenti tepat di depan halaman rumah kayu keluarga Yang.
Kehadiran mobil mewah itu terasa sangat asing dan terlalu mencolok untuk lingkungan kumuh ini.
Yang Chan bergegas kembali ke rumah, mempercepat langkah kakinya seiring rasa penasaran yang mulai muncul di benaknya.
Pintu mobil terbuka secara perlahan, menampakkan seorang pria paruh baya berjas necis dengan tatanan rambut klimis yang tampak sangat tidak cocok dengan suasana pedesaan yang berdebu.
Dua orang pengawal berbadan tegap menyusul turun, berdiri sigap di sisi kiri dan kanan pria itu.
Sikap mereka bertiga tampak sangat angkuh saat memandang sekeliling halaman rumah keluarga Yang dengan tatapan dingin penuh penghinaan.
'Siapa lagi mereka ini? Mengganggu saja,' gerutu Yang Chan dalam hati sambil melompati pagar bambu rumahnya yang sudah mulai reyot.
Pria berjas klimis itu langsung melangkah masuk ke dalam rumah tanpa repot-repot mengetuk pintu kayu yang sudah lapuk.
Dengan santai, ia mendudukkan diri di kursi kayu ruang tamu yang sempit, sama sekali tidak memedulikan debu tipis yang menempel di sana.
Yang Wei keluar dari arah dapur dengan langkah pincang karena cedera lamanya. Di belakangnya, sang istri berjalan perlahan sambil membawa nampan berisi cangkir teh hangat.
"Kami tidak memiliki banyak waktu untuk dihabiskan di gubuk sekumuh ini," cetus utusan dari Konglomerat Klan Kuno itu tanpa basa-basi.
Pria itu mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja kayu dengan lambat namun terasa sangat mengintimidasi.
"Kalian tentu tahu kondisi cuaca buruk belakangan ini. Seluruh ladang di desa ini dipastikan akan mengalami gagal panen dalam waktu dekat," lanjutnya dengan senyum sinis yang mengembang.
Ia kemudian meletakkan dokumen resmi di atas meja, memperjelas tujuan kedatangan mereka yang sangat kejam.
"Klan kami menawarkan solusi yang sangat praktis. Jual ladang kalian sekarang dengan harga murah, atau kami akan menyitanya secara paksa sebagai pelunasan utang masa lalu kalian," ancam utusan itu dengan nada dingin.
Di era pasca-kebangkitan ini, rakyat biasa sama sekali tidak memiliki posisi tawar di hadapan para penguasa klan yang memonopoli properti dan bisnis.
Mendengar ancaman tersebut, suasana di dalam ruangan sempit itu mendadak mendingin secara drastis.
Bing Chan yang berdiri di sudut ruangan langsung mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat hingga buku jarinya memutih.
Sepasang matanya memancarkan kilatan energi yang sangat berbahaya, dan napasnya mulai memburu karena amarah yang memuncak.
Namun, sebelum energi berbahaya itu sempat merembes keluar, Yang Wei dengan cepat menggenggam tangan istrinya dengan sangat hangat.
Genggaman tangan itu terasa sangat mantap, mengirimkan sinyal kuat agar istrinya tetap tenang demi menyembunyikan identitas asli mereka dari pihak luar.
Bing Chan menarik napas panjang, menekan kembali egonya demi menjaga kedamaian hidup yang telah mereka bangun dengan susah payah selama ini.
"Jadi, bagaimana keputusan kalian?" tanya utusan itu dengan nada yang semakin tidak sabar.
Tepat sebelum ketegangan di dalam ruangan itu pecah, Yang Chan melangkah masuk melewati pintu depan dengan sikap yang sangat tenang.
Ia berdiri tepat di hadapan utusan tersebut, menghalangi pandangan mengintimidasi yang diarahkan kepada kedua orang tuanya.
"Kami tidak akan menjual tanah ini kepada siapa pun," ucap Yang Chan dengan nada suara yang datar namun terdengar sangat mantap.
Utusan berjas klimis itu menatap Yang Chan dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan meremehkan.
"Anak muda, apa kau tidak tahu posisi keluargamu saat ini?" ejek utusan itu sambil bersandar pada kursi kayu.
Yang Chan tidak terpancing. Ia justru tersenyum tipis, sebuah senyuman penuh keyakinan yang membuat utusan itu sedikit mengernyitkan dahi.
"Masa panen akan tiba dalam waktu dekat. Aku berjanji akan menyelesaikan seluruh masalah utang keluarga kami saat masa panen itu tiba nanti," tegas Yang Chan dengan berani.
Kedua pengawal di belakang utusan itu langsung tertawa pelan, menganggap janji Yang Chan hanyalah bualan kosong dari seorang pemuda desa yang sedang putus asa.
"Melunasi utang dengan hasil tani dari tanah sekarat ini? Kau pasti sedang bermimpi di siang bolong," ejek sang utusan sambil bangkit berdiri dengan raut wajah muak.
Ia merapikan jasnya yang sedikit kusut, lalu menunjuk wajah Yang Chan dengan tatapan tajam yang penuh dengan ancaman.
"Baiklah, aku akan memberikan waktu hingga hari panen tiba. Tapi jika kalian gagal, aku sendiri yang akan mengusir kalian dari tanah ini!" ancam utusan itu dengan nada membentak.
Pria itu kemudian berbalik arah dan melangkah pergi dengan terburu-buru, diikuti oleh kedua pengawalnya yang bertubuh kekar.
Mobil hitam mewah itu segera melaju pergi meninggalkan halaman rumah, menyisakan kepulan debu tebal yang melayang di udara sore.
Yang Chan hanya berdiri di ambang pintu, menatap kepergian mereka dengan seulas senyuman misterius di wajahnya.
'Kita lihat saja nanti siapa yang sebenarnya akan terusir,' batin Yang Chan dengan sangat tenang.