"""Kalau kakak tidak mau, aku saja yang nikah!""
Safira nekad menawarkan diri sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi Arga. Bukan karena cinta, tapi demi bebas dari neraka berkedok rumah.
Seumur hidup, Safira diperlakukan seperti budak oleh keluarganya sehingga ketika Arga datang dengan mobil tua dan pakaian sederhana untuk melamar kakaknya yang matre, Safira tahu ini kesempatannya. Tidak peduli bila keluarganya dan orang-orang menghinanya menikahi pria miskin, yang penting ia bebas!
Tapi, adakah yang bisa menjelaskan mengapa tiba-tiba suaminya dipanggil bos dan mertuanya trending di sosial media?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12 - Bukan Istri Yang Bisa Didorong
Rekaman Dimas tidak Safira sebarkan.
Ia menyimpannya di folder terkunci, bukan untuk membalas dendam, tetapi untuk berjaga-jaga. Hidup mengajarinya bahwa orang yang bersalah sering lebih dulu berteriak sebagai korban.
Benar saja.
Malam itu, Ratna menelepon.
Safira baru selesai menjemur pakaian di balkon kecil saat nama ibunya muncul. Ia menatap layar beberapa detik, lalu mengangkat.
"Assalamualaikum, Ma."
"Kamu bikin masalah apa lagi?"
Safira menutup mata sebentar. "Waalaikumsalam juga, Ma."
"Jangan bercanda. Rania pulang menangis. Dimas juga bilang kamu mempermalukan mereka di mal."
"Dimas menghentikanku duluan."
"Kamu bisa menghindar."
"Aku sudah mencoba."
"Kamu bisa tidak membalas."
"Kenapa selalu aku yang harus tidak membalas?"
Ratna terdiam sesaat, lalu suaranya makin dingin. "Karena kamu sudah menikah. Jaga sikapmu. Jangan membuat keluarga orang menilai kita tidak bisa mendidik anak."
Safira memandang jemuran yang bergerak pelan tertiup angin.
"Dimas selingkuh dengan Kak Rania saat masih dekat denganku. Itu juga soal didikan, Ma."
"Jangan ungkit itu lagi."
"Kenapa?"
"Karena Rania sudah menyesal."
Safira hampir tertawa. "Dia menyesal karena ketahuan."
"Safira!"
Arga keluar dari kamar, mungkin mendengar nada Ratna dari ruang tamu. Ia berhenti di dekat pintu balkon, tidak mendekat, hanya memberi tanda dengan mata: perlu bantuan?
Safira menggeleng pelan.
"Ma," katanya, "aku tidak menyebarkan rekaman itu. Aku tidak datang ke rumah Rania untuk ribut. Aku juga tidak mengejar Dimas. Kalau mereka merasa malu, itu karena tindakan mereka sendiri."
"Kamu sekarang merasa paling benar."
"Tidak. Aku hanya tidak mau lagi selalu menjadi yang paling salah."
Ratna menutup telepon.
Safira menurunkan ponsel.
Arga mendekat. "Ibumu?"
"Iya."
"Dia menyalahkanmu?"
"Seperti biasa."
Arga tidak berkata, `sabar`. Tidak berkata, `bagaimanapun dia ibumu`. Tidak berkata, `mengalah saja`.
Ia hanya bertanya, "Kamu mau teh?"
Safira menatapnya.
"Itu responsmu?"
"Saya bisa menawarkan solusi hukum, memarahi Dimas, atau mengirim Bima mengurus semuanya. Tapi sepertinya sekarang kamu butuh teh dulu."
Safira tertawa lelah. "Teh boleh."
Mereka duduk di ruang tamu dengan dua cangkir teh panas. Hujan gerimis turun di luar. Arga membuka laptop, lalu memutar layar ke arah Safira.
"Saya punya teman pengacara."
Safira langsung tegak. "Mas Arga."
"Dengarkan dulu."
"Aku tidak mau membesar-besarkan."
"Kamu tidak membesar-besarkan. Kamu menyiapkan perlindungan."
"Tapi biaya pengacara mahal."
"Dia teman saya."
"Teman juga perlu dibayar."
Arga menatapnya dengan sabar. "Kalau suatu saat Dimas atau keluargamu menyebarkan cerita bahwa kamu memfitnah, kamu perlu tahu langkah yang benar. Bukan berarti langsung menggugat. Cukup konsultasi."
Safira menatap layar. Ada nama firma hukum kecil di Bandung, bukan kantor besar Jakarta. Mungkin Arga sengaja memilih yang tampak masuk akal agar ia tidak merasa terintimidasi.
"Temanmu benar-benar pengacara?"
"Iya."
"Bukan teman yang tiba-tiba muncul karena kamu..."
"Karena saya apa?"
Safira menyipitkan mata. "Tidak tahu. Kadang kamu punya cara terlalu cepat."
Arga tidak menjawab langsung.
"Saya tipe orang yang menyiapkan kontak darurat."
"Untuk semua masalah?"
"Untuk masalah penting."
"Aku masalah penting?"
Arga menatapnya. "Kamu istri saya."
Safira menunduk ke cangkir teh.
Kalimat itu mulai berbahaya. Terlalu sering ia dengar, terlalu mudah membuat dadanya hangat.
Keesokan harinya, mereka datang ke kantor pengacara bernama Nadia Prasetyo. Kantornya berada di lantai dua ruko, sederhana tetapi rapi. Nadia perempuan berusia tiga puluhan, memakai blazer krem dan hijab cokelat. Ia menyambut Safira dengan ramah, tidak membuatnya merasa seperti orang kecil yang tersesat di tempat hukum.
"Mas Arga sudah cerita garis besarnya," kata Nadia. "Tapi saya ingin dengar dari Mbak Safira sendiri."
Safira menceritakan semuanya. Hubungannya dengan Dimas, Rania, rekaman, kejadian di mal, telepon Ratna. Ia menahan beberapa bagian yang terlalu pribadi, tetapi Nadia cukup cerdas untuk memahami pola.
Nadia mendengarkan tanpa menyela.
Setelah selesai, ia berkata, "Pertama, rekaman yang Mbak punya sebaiknya disimpan utuh. Jangan dipotong, jangan diedit, jangan disebarkan dulu."
Safira mengangguk.
"Kedua, kalau ada tuduhan fitnah, kita bisa jawab dengan somasi atau klarifikasi tertulis. Jangan berdebat di WhatsApp keluarga. Itu biasanya hanya memperkeruh."
Safira hampir tersenyum. "WhatsApp keluarga memang mengerikan."
Nadia tertawa kecil. "Saya pengacara keluarga. Saya tahu."
Arga duduk di samping Safira, diam. Sesekali ia melihat Safira, memastikan ia tidak terlalu tegang.
"Ketiga," lanjut Nadia, "soal pola desain dan pekerjaan untuk butik keluarga. Mulai sekarang pisahkan semua. Buat invoice. Buat kontrak sederhana. Jangan lagi kirim file tanpa catatan."
"Kalau mereka bilang aku tidak tahu diri?"
"Mbak bisa jawab, pekerjaan profesional perlu administrasi profesional."
Safira mengulang kalimat itu dalam hati.
Pekerjaan profesional.
Selama ini, keluarga memperlakukannya seperti anak rumah yang kebetulan bisa menjahit. Kalimat Nadia membuat pekerjaannya terdengar sah.
Setelah konsultasi selesai, Safira membuka dompet.
Nadia mengangkat tangan. "Sudah dibayar."
Safira langsung menoleh kepada Arga.
Arga menatap Nadia.
Nadia tersenyum seolah baru sadar ia membocorkan sesuatu. "Maksud saya, biaya konsultasi hari ini bagian dari paket bantuan teman."
Safira tidak percaya.
Di luar kantor, ia berhenti.
"Mas Arga."
"Hm?"
"Aku akan bayar bagian konsultasi itu."
"Tidak perlu."
"Perlu."
"Safa."
"Aku tahu kamu ingin membantu. Tapi aku tidak mau semua masalahku jadi tagihan yang kamu bayar diam-diam."
Arga menatapnya cukup lama, lalu mengangguk.
"Baik. Kita bagi."
"Setengah?"
"Setengah."
Safira mengulurkan tangan. "Sepakat."
Arga melihat tangannya, lalu menjabat.
Namun begitu tangan mereka bersentuhan, Safira merasa kesepakatan itu bukan hanya soal uang.
Itu tentang cara mereka membangun rumah tangga.
Tidak ada yang menguasai.
Tidak ada yang menumpang.
Mereka berjalan berdampingan menuju parkiran. Di tengah jalan, ponsel Arga bergetar. Ia melihat layar, wajahnya sedikit berubah, lalu menolak panggilan.
"Kerja?" tanya Safira.
"Iya."
"Angkat saja."
"Nanti."
"Kalau penting?"
"Tidak lebih penting dari mengantar kamu makan siang."
Safira menatapnya.
"Mas Arga, kamu tidak perlu selalu..."
"Perlu."
"Kenapa?"
Arga membuka pintu mobil untuknya. "Karena hari ini kamu belajar melindungi dirimu dengan benar. Itu layak dirayakan."
Safira masuk ke mobil sambil menahan senyum.
Mereka makan di warung soto dekat kantor Nadia. Di tengah makan, Safira menerima pesan dari nomor tidak dikenal.
`Jangan pikir rekaman itu membuatmu menang. Rania tetap lebih pantas bahagia daripada kamu.`
Safira menunjukkan pesan itu kepada Arga.
Wajah Arga mendingin.
"Dimas?" tanya Arga.
"Mungkin. Atau temannya."
"Kirim ke Bu Nadia."
Safira mengangguk.
Ia tidak takut seperti dulu.
Bukan karena masalahnya kecil.
Tapi karena sekarang, ketika seseorang mencoba mendorongnya, ia tahu ada cara untuk berdiri.
Dan kalau ia belum cukup kuat, ada tangan di sampingnya yang tidak akan mengambil alih suaranya, hanya memastikan ia tidak jatuh.
Malamnya, Safira menyalin saran Nadia ke buku kerja khusus. Ia memberi judul besar di halaman pertama: `Aturan Baru Safa Atelier`.
Arga melihat dari sofa.
"Aturan pertama?"
"Tidak ada desain tanpa DP."
"Bagus."
"Aturan kedua, revisi maksimal dua kali."
"Lebih bagus."
"Aturan ketiga, keluarga tetap pelanggan kalau urusannya pekerjaan."
Arga mengangkat wajah. "Itu yang paling sulit."
"Aku tahu."
Safira menulis kalimat itu lebih tebal. Tangannya berhenti sebentar di akhir huruf. Ia membayangkan Ratna berkata ia pelit, Rania berkata ia sombong, Kevin berkata ia lebay.
Lalu ia membayangkan dirinya menjawab dengan faktur.
Lucu juga.
"Kenapa tersenyum?" tanya Arga.
"Aku baru sadar invoice bisa lebih menenangkan daripada debat."
"Karena invoice punya angka. Debat keluarga sering tidak punya ujung."
Safira menunjuknya dengan pena. "Kamu harus berhenti benar terus."
"Saya akan coba."
"Kamu pasti gagal."
"Mungkin."
Mereka tertawa kecil. Tidak lama, tidak keras. Tetapi malam itu, di antara catatan kontrak dan sisa rasa takut, Safira merasakan sesuatu yang baru.
Ia bukan hanya sedang melawan masa lalu.
Ia sedang membuat sistem agar masa depan tidak mudah direbut orang.
Sebelum tidur, Safira memotret halaman aturan itu dan menyimpannya di folder khusus. Nama foldernya membuat ia tersenyum sendiri: `Tidak Gratis Lagi`.
Arga melihat dari samping. "Judulnya galak."
"Bagus."
"Saya tidak protes."
"Kamu takut?"
"Pada istri sendiri? Sedikit."
Safira tertawa, lalu cepat menutup mulut karena malu.
Rasanya menyenangkan bisa menjadi galak tanpa langsung disebut durhaka.