NovelToon NovelToon
Calon Istri Nomor 33

Calon Istri Nomor 33

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

32 wanita menyerah. Vivi adalah calon istri nomor 33.

Menikah dengan duda beranak lima seharusnya menjadi solusi bagi dirinya yang divonis tak bisa punya anak sejak muda.

Namun tidak ada yang memberitahunya bahwa lima anak Pak Baskara telah bersekutu untuk mengusir setiap wanita yang mencoba menggantikan posisi ibu mereka. Akankah Vivi bertahan, atau menjadi nama berikutnya dalam daftar kegagalan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

8

Tidak ada yang menjawab. Sean bahkan tidak berkedip. Tatapannya lurus ke arah Vivi. Dan saat itulah Sean berbicara. "Jadi ini yang jadi istri Ayah?"

Bu Mega langsung menoleh tajam. "Sean."

Namun anak itu tidak terlihat menurut. Setidaknya tidak kali ini. Sean tetap menatap Vivi. Bukan dengan kebencian. Yang lebih menyakitkan dari itu. Penolakan. "Ayah menikah lagi." Kalimat itu terdengar seperti fakta yang tidak ia sukai.

Vivi berusaha tetap tenang. "Aku Vivi."

Yuan yang menjawab. "Berapa lama?" Semua orang menoleh kepadanya. Yuan menatap Vivi tanpa ekspresi. "Yang sebelumnya paling lama tiga bulan."

Bu Mega langsung memanggil namanya dengan nada peringatan. "Yuan! Bu Vivi sudah menikah dengan ayahmu, sekarang ia adalah ibumu. Jadi kalian harus baik pada Bu Vivi karena beliau akan tinggal selamanya dengan kalian."

Tetapi anak itu hanya mengangkat bahu. Seolah ia hanya mengucapkan kenyataan. Saka terkikik kecil. Ella menundukkan kepala. Sementara Lili memeluk pengasuhnya lebih erat.

Untuk sesaat, Vivi merasa seluruh ruangan sedang menunggu reaksinya. Marah? Tersinggung? Menangis? Mundur? Mungkin itulah yang dilakukan sebagian dari tiga puluh dua wanita sebelumnya. Namun Vivi hanya menarik napas pelan. Lalu tersenyum. "Aku harap aku bisa lebih lama dari itu, atau seperti yang Nenek kalian katakan, selamanya."

Kalimat itu membuat kelima anak terdiam. Bahkan Bu Mega tampak terkejut. Sean menyipitkan mata. Yuan terlihat sedikit bingung. Saka berhenti terkekeh. Karena mereka sudah menyiapkan banyak kemungkinan. Tapi bukan jawaban itu. Dan untuk pertama kalinya sejak Vivi masuk ke rumah itu, ada sesuatu yang berubah. Bukan penerimaan. Jauh dari itu. Tetapi rasa penasaran. Siapa sebenarnya wanita yang menjadi calon istri nomor tiga puluh tiga ini, dan sekarang sudah jadi istri. Dan apakah ia benar-benar akan bertahan lebih lama daripada semua yang datang sebelumnya?

***

Sore mulai berganti malam. Setelah memastikan Vivi sudah tiba dengan selamat, Bu Mega beberapa kali menerima panggilan telepon yang tampaknya cukup penting. Awalnya Vivi mengira wanita itu akan menginap malam ini. Setidaknya untuk beberapa hari pertama. Bagaimanapun, ia baru saja menikah dan baru beberapa jam mengenal anak-anak Baskara secara langsung.Namun dugaan itu salah.

Bu Mega akhirnya menghampiri mereka di ruang keluarga. "Aku harus pergi."

Vivi langsung menoleh.."Pergi, Bu?"

"Ada urusan yayasan yang tidak bisa ditunda." Bu Mega lalu menatap kelima cucunya satu per satu. Tatapan yang biasanya mampu membuat mereka langsung tertib. "Jangan macam-macam."

Sean diam. Yuan diam. Saka diam..Ella dan Lili juga diam.Tidak ada yang berani membantah. Tetapi entah kenapa, Vivi merasa mereka hanya sedang menunggu. Menunggu sampai Bu Mega benar-benar pergi.

Sebelum keluar rumah, Bu Mega sempat menggenggam kedua tangan Vivi.."Tenang saja." Kalimat itu terdengar seperti penghiburan. Namun entah mengapa justru membuat Vivi semakin gugup. "Kamu pasti bisa."

Vivi hanya tersenyum tipis. Karena saat itu ia tidak punya keberanian untuk mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak yakin.

Bu Mega lalu pergi. Mobilnya keluar dari halaman. Semakin jauh. Semakin kecil.Sampai akhirnya menghilang dari pandangan. Dan saat suara mesin mobil benar-benar lenyap Rumah itu mendadak terasa berbeda. Sangat berbeda. Seolah sesuatu yang selama ini menahan semuanya ikut pergi bersama Bu Mega.

Vivi berdiri di dekat jendela. Menatap halaman yang kini kosong. Lalu perlahan berbalik. Sean masih di ruang keluarga. Yuan sedang membaca buku..Saka duduk sambil memainkan sesuatu di tangannya. Ella memeluk boneka. Lili duduk di karpet. Baskara ada di sana. Tetapi lelaki itu sedang sibuk menerima telepon pekerjaan. Dan untuk pertama kalinya, Vivi menyadari kenyataan yang sesungguhnya. Bu Mega sudah pergi. Tidak ada lagi tameng. Tidak ada lagi orang yang ditakuti anak-anak itu. Tidak ada lagi sosok yang selama ini membuat mereka menjaga sikap. Kini yang tersisa hanyalah dirinya. Baskara. Dan lima anak yang tidak menginginkannya berada di rumah ini.

Perlahan Vivi menarik napas panjang. Lalu mengembuskannya. Jantungnya berdetak semakin cepat. Karena ia tiba-tiba teringat sesuatu. Tiga puluh dua wanita sebelumnya. Mungkin mereka juga pernah berdiri di posisi yang sama. Mungkin mereka juga pernah berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja. Sampai akhirnya mereka berhadapan langsung dengan kenyataan.

Vivi menatap kelima anak itu satu per satu. Sean yang tampak paling sulit ditaklukkan. Yuan yang matanya terlalu cerdas untuk anak sembilan tahun. Saka yang terlihat menyimpan seribu ide nakal. Ella yang masih menutup hatinya rapat-rapat. Dan Lili yang bahkan belum mengenalnya.

Lima lawan. Lima hati. Lima alasan mengapa tiga puluh dua wanita sebelumnya gagal. Dan saat itulah sebuah pikiran melintas di kepala Vivi. Ini bukan lagi soal pernikahan. Akad sudah selesai. Buku nikah sudah ditandatangani. Ia tidak lagi berjuang untuk menjadi istri Baskara. Ia sudah menjadi istri Baskara. Yang akan menentukan masa depannya sekarang adalah hal lain. Apakah ia bisa menjadi bagian dari keluarga ini? Atau justru keluarga ini yang akan mengusirnya perlahan-lahan seperti tiga puluh dua wanita sebelumnya?

Di sudut ruangan, Sean menatapnya tanpa berkedip. Tatapan yang terlalu tenang untuk anak berusia sepuluh tahun. Seolah sedang mengukur kekuatan lawan. Dan entah kenapa, Vivi merasa Sean sedang memikirkan hal yang sama. Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Wanita baru itu atau mereka?

***

Malam itu, setelah Bu Mega benar-benar pergi dan Baskara sibuk menerima telepon pekerjaan di ruang kerjanya, suasana rumah menjadi jauh lebih sunyi. Vivi sebenarnya sudah menduga sesuatu akan terjadi. Anak-anak yang selama ini menolak kehadirannya tentu tidak akan langsung menerimanya begitu saja. Namun ia tidak menyangka ujian pertama datang secepat itu.

"Aku lapar." Suara kecil Ella memecah keheningan.

Vivi spontan tersenyum. "Kamu mau makan apa?"

Ella menoleh ke arah Sean. Bukan menjawab Vivi. Sean mengangkat bahu. Kemudian anak-anak itu berdiri hampir bersamaan dan berjalan menuju ruang makan.

Vivi mengikuti dari belakang. Di meja makan sudah tersedia makan malam yang disiapkan sejak sore. Sean duduk. Yuan duduk. Saka duduk. Ella duduk. Bahkan Lili sudah berada di kursi makannya. Tidak ada yang menyentuh makanan. Tidak ada yang mulai makan. Mereka hanya diam. Menunggu.

Vivi akhirnya duduk juga. "Kenapa belum makan?"

Sean menatapnya. Lalu berkata dengan tenang. "Kami biasa berdoa dipimpin Mama."

Ruangan mendadak hening. Sangat hening. Vivi membeku. Kata "Mama" itu terasa seperti pisau yang menusuk pelan. Bukan karena ia cemburu. Melainkan karena ia sadar bahwa posisi itu masih ditempati seseorang. Seseorang yang tidak mungkin bisa ia gantikan.

1
sryharty
aneh si bas ini
demi keluarga mantan mertua dia malah mengkhianati amanah ibu sendiri,,
bloon banget
Ulfa Iin
kasian vivi Thor
baskara sebagai suami tidak menjalankan amanah dgn baik
Cheer Pramudya
kereeeen kak... semangat Teruus ya
Ulfa Iin
bagus 👍
Anonim
Makasih y thor cerita nya menguras air mata sekali cerita nya 😍
Trie Broto
ceritanya enak dibaca...lanjut dan ttp semangat.
Rian Moontero
lanjuuutt👍👍😍
Pahtrool
bagus ceritanya semangat buat autornya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!