NovelToon NovelToon
Suci Tak Selalu Berdarah

Suci Tak Selalu Berdarah

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Penyesalan Suami / Cintapertama
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Langit 2

Suci Tak Selalu Berdarah, karena tak semua bunga gugur saat mekar. Namun ketika harga diri Niken Ayuningrum diukur dari setetes merah, maka malam pertama yang katanya paling indah, kini berubah sunyi penuh prasangka.

Tatapan Danendra Pradipta seketika berubah, ketika ia mengetahui bahwa tidak ada tanda yang diyakini sebagai bukti kesucian sang istri.

"Jangan hukum aku dengan mitos lama, yang menjadikan perempuan tersangka. Jika cinta benar ada, maka pecayalah bahwa suci tak selalu berdarah."

Ia pendam tangis dalam doa, berharap waktu akan membuka mata suaminya, karena kesucian bukan tentang darah, melainkan menjaga hati hingga akhirnya. Dan biarkan dunia berkata apa, tapi Niken tetap suci meski tak berdarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menguasai Diri

 Sinar matahari pagi menembus celah tirai kamar, dan memantulkan cahaya keemasan di lantai vila. Saat itu, jam digital di atas nakas menunjukan pukul delapan lewat lima belas menit.

 Danendra yang pertama kali membuka mata, membelalakan matanya ketika menoleh ke arah jam. "Astaga..."

 Biasanya pada jam itu Danendra sudah memulai aktivitas, namun hari ini justru baru terbangun. Ia mengusap wajahnya pelan, lalu menoleh ke samping. Niken masih tertidur lelap, wajahnya tampak tenang, sementara beberapa helai rambut terlepas dari ikatannya hingga jatuh lembut di pelipisnya.

 Danendra tersenyum, "kasihan, pasti capek." Gumamnya pelan.

 Danendra tidak langsung membangunkan Niken, ia justru sengaja menatap Niken lebih lama, seperti orang yang takut kehabisan waktu. Pandangannya tidak lepas dari Niken, seolah Niken adalah sebuah pemandangan paling indah yang ia punya. Bahkan bekas bantal yang menempel di pipinya terlihat sempurna di mata Danendra.

 Jarinya menahan diri untuk tidak menyentuh pipi Niken. Hingga akhirnya bulu mata Niken bergerak, lalu membuka matanya perlahan. Hal pertama yang ia lihat dalam keadaan separuh sadar adalah suaminya yang sedang memperhatikannya dengan ukiran seyum yang begitu sempurna bagi Niken.

 Kelopak matanya berkedip beberapa kali sebelum menatap langit-langit kamar. "Mas, sudah pagi?"

 "Bukan cuma pagi, tapi kita sudah kesiangan." Jawab Danendra yang membuat Niken mengerutkan dahi.

 "Memangnya jam berapa?"

 Danendra menggeser sedikit tubuhnya agar Niken bisa melihat jam di atas nakas.

 Begitu melihat angkanya, mata Niken langsung membulat. "Ya Allah, kita kesiangan!" Spontan ia bangkit hingga selimut yang menutupi tubuhnya sedikit bergeser.

 Danendra ikut duduk sambil menahan tawa. "Tenang, ini hari libur."

 "Tapi," Niken menepuk dahinya pelan. "Semalam aku bilang ingin melihat matahari terbit."

 Danendra mengangguk sambil tersenyum bersalah. "Aku juga bilang akan membangunkanmu, tapi ternyata aku ikut kesiangan."

 Beberapa detik keduanya saling menatap sebelum akhirnya tertawa bersamaan.

 "Berarti gagal, ya?" Ucap Niken sambil tertawa geli.

 "Sepertinya begitu." Jawab Danendra, "mungkin karena kita terlalu menikmati hari kemarin."

 Niken mengangguk, "lagi pula memang sudah lama aku tidak tidur senyenyak ini."

 Danendra menatapnya lembut, "aku juga." Ia kemudian turun dari ranjang, "ayo, bersiap. Setelah ini kita sarapan di teras, mumpung udara paginya masih enak."

 Niken ikut turun sambil merapikan rambutnya. "Mas, pagi ini kita gagal melihat matahari terbit, tapi lain kali jangan, ya."

 Danendra mengangguk mantap. "Baik, ini kan baru kunjungan pertama, lain kali kita akan menginap lagi."

 Mereka pun saling melempar senyum sebelum sama-sama bersiap untuk memulai pagi yang sedikit terlambat, namun tetap terasa begitu menyenangkan bagi mereka.

 Beberapa saat kemudian...

 Air dari mesin pembuat kopi mulai menetes perlahan ke dalam cangkir. Aroma kopi arabika yang khas segera memenuhi dapur kecil vila.

 Danendra berdiri membelakangi pintu sambil menuangkan kopi ke dalam dua cangkir. Sesekali ia melirik ke arah jendela yang mulai memperlihatkan kabut tipis yang menari di antara pepohonan.

 Tak lama kemudian, terdengar suara pintu kamar mandi terbuka yang membuat Danendra menoleh sekilas.

 Niken berjalan keluar dengan langkah pelan. Rambutnya yang masih basah tertutup rapi oleh lilitan handuk. Ia lalu berhenti tepat di depan cermin besar yang menempel di dinding.

 Kerutan tipis muncul di dahi saat menyadari sesuatu. "Hah?"

 Refleks ia mendekatkan wajah ke cermin. Di sisi lehernya tampak sebuah bekas kemerahan samar berbentuk bulat-bulat bak motif polkadot. Ia lalu mengusapnya dengan ujung jari, namun bekas itu tidak mau hilang.

"Mas," panggilnya pelan, masih menatap bayangannya sendiri.

 Danendra yang sejak tadi sebenarnya sudah menyadari bekas itu memilih berpura-pura sibuk mengaduk kopi.

 "Mas," ulangnya.

 "Iya?" Jawab Danendra santai.

 Niken menoleh dengan wajah bingung. "Ini.... ada apa di leherku?"

 Lelaki itu justru merapatkan bibirnya, berusaha menahan senyum yang hampir lolos. "Memangnya kenapa?"

 Niken menunjuk lehernya sendiri. "Ada bercak merah," katanya.

 Danendra menghampiri sambil membawa kedua cangkir kopi lalu meletakannya di meja. Ia berdiri di samping Niken kemudian ikut melihat pantulan mereka di cermin.

 "Oh." Gumamnya singkat.

 "Oh, apa?"

 Danendra berdehem kecil, "sepertinya—" ia menghentikan kalimatnya yang membuat Niken menatap penuh tanya.

 "Sepertinya apa, Mas?"

 Danendra akhirnya tersenyum tipis. "Tenang, itu tidak berbahaya."

 Niken mengernyit, "aku tahu tidak berbahaya, tapi munculnya dari mana?"

 Danendra menatap wajah istrinya yang benar-benar tampak kebingungan. Ia nyaris tertawa, tetapi buru-buru menguasai diri. "Kamu benar-benar tidak ingat?"

 Niken hanya menggeleng pelan sambil menatap kebingungan. Sementara Danendra menghela napas pelan sambil menggaruk tengkuknya sendiri.

 "Anggap saja itu kenang-kenangan." Katanya akhirnya yang membuat bola mata Niken membulat.

 "Kenang-kenangan?"

 "Iya. Butuh waktu beberapa hari agar bisa hilang."

 Beberapa detik berlalu, Niken masih menatap pantulan dirinya di cermin. Kemudian perlahan ingatan tentang kedekatan mereka semalam mulai kembali.

 "Mas," suaranya berubah lirih.

 Danendra akhirnya tidak sanggup lagi menahan senyum. "Aku sudah melihatnya sejak tadi."

 "Kenapa Mas tidak bilang?"

 "Karena aku penasaran, kapan kamu akan menyadarinya."

 Niken langsung memukul pelan lengan Danendra. "Mas, jahat banget. Pagi-pagi sudah menggodaku seperti itu."

 Danendra tertawa sambil membela diri dari pukulan Niken. "Aku tidak bermaksud begitu. Niatnya nanti mau kuberitahu setelah kamu selesai mandi. Tapi ternyata kamu sudah lebih dulu menemukanya."

 Niken menutupi lehernya mengunakan telapak tangan. "Kalau ada yang lihat bagaimana?"

 "Tidak akan."

 "Kenapa yakin sekali?"

 Danendra mengambil handuk kecil yang tersampir di kursi, lalu menyerahkannya kepada Niken. "Nanti tinggal pakai jilbab, selesai."

 Niken mendesah panjang, antara lega dan malu. "Mas kenapa jadi senyum terus."

 "Soalnya," ia menatap Niken melalui pantulan cermin. "Istriku terlihat sangat lucu."

 "Mas!"

 Pukulan manja kembali mendarat di lengannya. Tawa Danendra memenuhi ruangan kecil itu, sementara Niken hanya bisa menggeleng malu sambil menahan senyum yang diam-diam ikut mengembang.

 Danendra masih tersenyum kecil ketika menyerahkan secangkir kopi hangat kepada Niken. "Hati-hati, masih panas."

 Niken menerimanya dengan kedua tangan. "Terima kasih," ucapnya, lalu meletakan kembali cangkir kopi itu ke atas meja.

 Beberapa saat telah berlalu, ia masih sesekali melirik bayangannya di cermin, melihat bekas kemerahan di lehernya yang memang masih tampak samar. Lalu tanpa sadar ia kembali menutupinya dengan telapak tangan.

 Danendra pun masih memperhatikan tingkah lucu istrinya sambil menahan tawa. "Kalau ditutupi begitu, malah kelihatan ada yang disembunyikan. Orang-orang yang melihat akan penasaran, lalu bertanya."

 Niken langsung menoleh. "Mas!"

 "Aku serius!"

 Niken hendak kembali mendaratkan pukulan yang membuat Danendra langsung mengangkat kedua tangannya seolah menyerah.

 "Iya, iya. Maaf." Kata Danendra yang membuat Niken mendengus pelan.

 "Pokoknya nanti aku harus pakai jilbab yang agak lebar."

 "Bagus."

 "Bagus apanya?"

 "Jadi tidak perlu khawatir."

 Niken memicingkan matanya. "Mas kelihatanya senang sekali."

 Danendra tersenyum tanpa menyangkal. "Aku hanya senang melihatmu pagi-pagi sudah sibuk bercermin."

 "Bukan sibuk bercermin, aku hanya sedang memastikan tidak ada lagi yang membuatku malu."

 "Baik, Bu Guru." Ucapnya sambil terus mengulas tawa. Ia kemudian menggeser salah satu kursi. "Duduk dulu, kopinya nanti keburu dingin."

 Niken akhirnya menurut, ia duduk berhadapan dengan Danendra di meja kecil di dekat jendela. Ia melihat kabut pagi yang mulai menipis, memperlihatkan hamparan perbukitan yang perlahan diterangi oleh sinar matahari.

 Danendra memandang Niken yang sedang menyeruput kopi dengan senyum tenang.

 Kemudian Niken melirik ke arah Danendra. "Terima kasih akhir pekannya, Mas."

 Danendra mengangguk, "tapi kamu jangan sibuk menutupi lehermu terus."

 Niken sontak menunduk sambil terkekeh malu.

 Suasana hangat itu kemudian berlanjut dengan obrolan ringan sambil menikmati kopi dan sarapan. Di luar, Lereng Mahitala mulai ramai oleh para pengunjung yang datang menikmati udara pagi. Sementara Niken dan Danendra masih menikmati sisa-sisa akhir pekan mereka dengan perasaan yang jauh lebih dekat daripada saat baru tiba di sana, kemarin.

...****************...

1
Anam
Semangat update thor
Nina Melliana
laki2 pengecut pake ngadu ke ibunya, weuleuh mending pisah rmh sm mertua , niken.
Nina Melliana
betul gk kesucian diukur dg darah, itu cm mitos, yg penting " kepercayaan" , jaman sdh canggih, soal darah bisa dibuat ( dioprasi) bisa ber " kali" perawan 🤣
Kale
lanjut terus thor
Kale
kak Thor jngn sampai ada pelakor dlm pernikahan Danendra dn Niken,,hempaskn Alana jauh" thor
Kale
kisah ini sprti kisahku,,mlm pertama istriku tk meneteskn darah,,tp aku lihat dia sangat kesakitan,,bedanya aku tk perna menanyakn pda istriku tentang hal itu,,dn aku coba tanya ke temanku yg berprofesi dokter kandungan,,mmng sejatinya ada wanita yg tk mengeluarkan darah saat mlm pertama,,karena bentuk selaput dara yg menyerupai cincin,,
Kale
semoga pernikahanmu kekal tanpa ada orang ketiga
Kale
seharusnya nih ya Daren,,kau tak perlu cerita ke ibu mu,masalah mlm pertama mu ,,kau sekolah tinggi percuma,jika ilmu cetek,,baca buku,,tanya dokter,jngn langsung menuduh niken yg bukan",,dasar kau Daren
Kale
berarti si Danen sdh cerita ke orang tuanya soal mlm pertamanya,,,laki"mulut lemes
Kale
mulai para penggibah dn profokator menunjukkan muka
Kale
hanya laki"picik dn tidak berpikir rasional,jika mlm pertama harus ada tetes darah perawan, ,,
Kale
memang laki" picik jika malam pertama harus identik dengan adanya tetesan darah perawan, gk pernah sklh atau baca buku kan suaminya,,,kayaknya seru nih novelnya,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!