NovelToon NovelToon
Suami Yang Kau Dan Keluarga Mu Hina Adalah Pewaris Kaya

Suami Yang Kau Dan Keluarga Mu Hina Adalah Pewaris Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Markario Putra

Demi menguji ketulusan, Aldi Pratama menyamar sebagai pria biasa selama dua tahun pernikahan. Namun, Kirana beserta keluarganya yang gila gengsi terus menghina dan merendahkannya. Batas sabar Aldi habis; ia mengungkap identitas aslinya sebagai pewaris tunggal konglomerat raksasa Pratama Group, menceraikan Kirana, dan memiskinkan keluarganya.
Kejatuhan itu seketika menghancurkan hidup Kirana—ibunya meninggal karena syok, adiknya dipenjara, dan ia harus bertahan hidup sebagai pedagang sembako miskin. Di titik nadir inilah Kirana bertobat total dan belajar bersyukur. Takdir kemudian mempertemukan mereka kembali lewat program sosial. Meski dipisahkan jurang kasta yang permanen, Aldi diam-diam memberi perlindungan rahasia karena belum bisa melupakan Kirana sebagai cinta pertamanya, sementara Kirana menjalani takdirnya dengan keikhlasan dan penyesalan abadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 27: Kata Akhir sang Penguasa

Aldi menatap mantan istrinya yang sedang menangis tersedu-sedu di bawah guyuran hujan. Tidak ada kebencian di matanya, tidak ada juga rasa puas melihat penderitaan wanita tersebut. Yang ada hanyalah sebuah tatapan asing yang begitu hampa, seolah-olah dia sedang melihat bayangan masa lalu yang sudah tidak memiliki arti apa pun dalam hidupnya yang sekarang.

"Tuan Muda... tolong beri perintah pada tim hukummu untuk membantu Riko... Aku janji akan menandatangani surat cerai itu sekarang juga tanpa menuntut apa pun, Mas... Aku mohon, selamatkan adikku..." ratap Kirana, suaranya parau, tenggelam oleh suara gemuruh hujan dan deru mesin mobil mewah.

Aldi menghela napas pendek, lalu berbicara dengan nada suara yang sangat bariton, jernih, namun sedingin es yang membekukan seluruh harapan di hati Kirana.

"Kirana," ucap Aldi, suaranya terdengar sangat stabil melewati celah kaca jendela mobilnya. "Saat adikmu menggunakan uangku untuk bergaya hidup mewah dan menghinaku di rumahmu sendiri, aku diam karena aku menghormati pernikahan kita. Sekarang, ketika dia memilih jalan kriminal untuk memenuhi gengsinya yang runtuh, itu adalah takdir yang dia pilih sendiri untuk dirinya."

Aldi menjeda kalimatnya sejenak, menatap lurus ke dalam mata

Kirana yang dipenuhi penyesalan terdalam. "Aku bukan lagi Aldi sang Manajer Biasa yang bisa kamu manfaatkan untuk membersihkan kotoran yang dibuat oleh keluargamu. Hubungan kita sudah selesai di malam ballroom itu, Kirana. Jangan pernah mengemis pada pria yang sudah kamu buang harga dirinya."

"Mas Aldi... maafkan aku... aku mencintaimu, Mas..." tangis Kirana semakin pecah, dia mencoba mengulurkan tangannya menyentuh pintu mobil, namun para pengawal menahan tubuhnya dengan sangat kuat.

"Edi, jalankan mobilnya. Kita sudah terlambat untuk pertemuan dengan Menteri Investasi," perintah Aldi tanpa mengalihkan pandangannya dari tablet dokumennya lagi.

"Baik, Tuan Muda," jawab Edi dari kursi depan.

Kaca mobil Rolls-Royce itu kembali dinaikkan hingga menutup rapat, memantulkan bayangan Kirana yang hancur berantakan di luar. Mobil mewah itu perlahan bergerak maju, berbelok melewati tubuh Kirana yang lemas dan akhirnya melesat cepat membelah jalanan ibu kota yang basah, menghilang di balik gedung-gedung pencakar langit yang megah.

Kirana jatuh terduduk di atas aspal jalanan yang dingin di bawah guyuran hujan deras, memeluk lututnya sendiri dengan tangis yang meraung-raung di tengah ketidakpedulian kota Jakarta. Adiknya di penjara, ibunya sakit tanpa biaya, dan dia sendiri terjebak dalam kemiskinan yang abadi.

Aroma tanah basah sisa hujan semalam masih tercium kental di area Pemakaman Umum TPU TPU Karet Bivak. Kirana bersimpuh di atas rumput hijau yang masih basah, kedua tangannya perlahan mengusap permukaan napan kayu yang masih baru bertuliskan nama: Ratna Sitorus binti Ahmad.

Tidak ada lagi air mata histeris yang keluar dari matanya, yang tersisa hanyalah tatapan mata yang teduh, ikhlas, namun sarat akan kesedihan yang mendalam.

Enam bulan telah berlalu sejak badai besar menghancurkan keluarganya. Dua minggu yang lalu, Ibu Ratna mengembuskan napas terakhirnya di ranjang rumah sakit umum daerah akibat serangan stroke parah. Fisik dan mental wanita tua itu tidak mampu bertahan setelah menerima surat keputusan sidang bahwa Riko resmi divonis tujuh tahun penjara atas kasus peredaran narkoba. Gengsi yang selama hidupnya dipuja-puja, justru menjadi tali yang mencekik batinnya sendiri hingga akhir hayat.

"Ma..." bisik Kirana, suaranya terdengar lembut, mengalun bersama angin sepoi-sepoi yang menggoyang pohon kamboja di atasnya. "Kirana ikhlas, Ma. Sekarang Mama sudah gak perlu pusing lagi memikirkan tagihan, tidak perlu malu lagi mendengar omongan orang. Kirana janji akan jaga diri baik-baik di sini. Kirana sudah rida atas semua ketetapan ini."

Kirana mengambil botol air mawar, menyiramkannya perlahan di atas gundukan tanah yang mulai bertabur bunga melati.

Enam bulan hidup di kamar kos sempit dan bekerja keras sebagai buruh kasar telah mengubah Kirana total. Kulitnya tidak lagi seputih dulu, telapak tangannya pun mulai mengeras karena sering mengangkat bundel dokumen dan kotak sembako.

Namun, ada sesuatu yang berbeda dari wajahnya sekarang: sebuah ketenangan jiwa. Kirana yang sekarang telah membuang seluruh ego, kesombongan, dan racun gengsi yang dulu menghancurkan rumah tangganya bersama Aldi. Dia kini belajar mengucap syukur atas sepotong roti dan segelas air yang bisa dia nikmati setiap harinya.

"Kak Kirana..."

Sebuah suara serak membuat Kirana menoleh. Riko berdiri di belakangnya dengan tangan terborgol, dikawal ketat oleh dua orang petugas sipir penjara berkaos biru. Riko diberikan izin khusus selama dua jam untuk menghadiri pemakaman ibunya. Tubuh pemuda itu kini tampak sangat kurus, kepalanya plontos, dan wajahnya dipenuhi penyesalan yang teramat sangat.

Riko langsung bersujud di samping makam ibunya, tangisnya pecah seketika, dadanya sesak oleh rasa bersalah yang teramat besar. "Mama... maafin Riko, Ma! Gara-gara kebodohan Riko, Mama jadi kayak gini! Riko yang bunuh

Mama secara gak langsung! Ma, maafin Riko..." ratap Riko sambil memeluk tanah makam yang masih basah.

Kirana mengulurkan tangannya, menyentuh pundak adiknya yang bergetar dengan lembut. "Sudah, Riko. Jangan meratap seperti itu di depan makam Mama. Yang diperlukan

Mama sekarang adalah doa anak yang saleh, bukan air mata penyesalan yang terlambat. Jalani hukumanmu di dalam dengan baik, jadilah manusia yang baru. Jangan pernah sentuh barang haram itu lagi."

Riko mendongak melihat kakaknya, matanya merah berkaca-kaca. "Kak... Kakak gak benci sama Riko?

Gara-gara Riko, Kakak sekarang sendirian..."

Kirana tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang sudah lama tidak pernah terlihat di wajahnya. "Kakak tidak pernah membenci kamu, Riko. Kita semua bersalah di masa lalu. Kita terlalu silau dengan harta orang lain sampai lupa cara bersyukur. Anggap ini adalah cara Tuhan untuk membersihkan dosa-dosa keluarga kita. Bersabarlah di dalam, Kakak akan selalu berkunjung setiap bulan."

Melihat perubahan sikap kakaknya yang begitu tegap dan bijaksana, Riko hanya bisa menundukkan kepala, menyadari bahwa kehilangan dan penderitaan telah menempa Kirana menjadi sosok wanita yang jauh lebih mulia daripada saat mereka bergelimang kemewahan semu dulu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!