Ratna Wulandari, dokter desa berusia enam puluh tahun, telah mengabdikan 37 tahun hidup untuk suami Bambang dan seluruh keluarga. Namun sebuah paket terlarang membongkar rahasia gelap suaminya: selama puluhan tahun ia berselingkuh dengan cinta pertama Sari, rutin kirim uang, belikan rumah bahkan pesan kavling makam pasangan untuk berdua. Saat Ratna buktikan semua fakta ke anak-anaknya, mereka justru minta dia diam demi nama keluarga dan harta. Dikhianati suami, diabaikan anak, Ratna akhirnya berhenti bersabar dan berjuang merebut hak hidupnya yang sempat terbuang sia-sia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anindita Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 15 - Perjalanan Pertama
Ratna menutup klinik selama tiga hari.
Pengumuman kecil ia tempel di pintu.
Klinik tutup sementara. Untuk keadaan darurat, silakan ke Puskesmas Sukamaju atau RSUD.
Bu Rini membaca pengumuman itu keras-keras, lalu menoleh pada Ratna yang sedang mengunci pintu.
"Bu Dokter mau ke mana?"
"Pergi sebentar."
"Ke rumah anak?"
"Bukan."
"Ke pengadilan?"
"Bukan."
Bu Rini makin penasaran. "Terus ke mana?"
Ratna memasukkan kunci ke tas. "Jalan-jalan."
Bu Rini ternganga.
"Sendiri?"
"Iya."
"Naik apa?"
"Kereta."
"Ya Allah, Bu. Hati-hati. Sekarang banyak copet. Jangan percaya orang. Kalau ada laki-laki ramah, jangan langsung diajak bicara."
Ratna tertawa kecil. "Saya enam puluh tahun, Bu Rini."
"Justru itu. Penipu tidak lihat umur."
Ratna mengangguk seolah menerima nasihat penting.
Keputusan pergi muncul setelah malam panjang di kamar klinik. Ia tidak ingin terus duduk di ruang sempit, membaca pesan ancaman Sari, mendengar tetangga berbisik, dan menunggu panggilan sidang pertama. Ia ingin melihat tempat di mana tidak ada yang memanggilnya istri Bambang, ibu Dimas, ibu Raka, ibu Melati, atau Bu Dokter yang sedang digosipkan.
Ia ingin menjadi Ratna saja.
Dimas awalnya menolak.
"Bu, nanti aku antar."
"Tidak perlu."
"Setidaknya Raka ikut."
"Kalau Raka ikut, itu bukan perjalanan sendiri."
Melati juga panik.
"Bu, Ibu belum pernah naik kereta jarak jauh sendirian."
"Pernah waktu muda."
"Itu tiga puluh tahun lalu."
"Berarti sudah waktunya coba lagi."
Pada akhirnya, anak-anak menyerah setelah Ratna mengirim foto tiket, alamat hotel, dan janji akan memberi kabar setiap sampai tempat baru.
Ia memilih Yogyakarta.
Bukan karena alasan besar. Hanya karena ia pernah ingin ke sana saat muda, tetapi setelah menikah selalu ada yang lebih penting. Biaya sekolah anak. Renovasi dapur. Orang tua sakit. Cucu lahir. Hidup terus menunda hal-hal kecil sampai hal kecil itu berubah menjadi umur yang lewat.
Di stasiun, Ratna berdiri agak bingung melihat papan keberangkatan.
Ia membawa koper kecil, tas selempang, dan map dokumen penting yang tetap ia bawa karena tidak percaya meninggalkannya di rumah. Beberapa kali ia bertanya pada petugas, memastikan peron, memastikan gerbong, memastikan kursinya.
Seorang anak muda membantu mengangkat koper ke rak.
"Terima kasih, Nak."
"Sama-sama, Bu."
Kereta bergerak.
Ratna duduk dekat jendela. Sawah, rumah, pabrik, jembatan, sungai, semua lewat perlahan lalu cepat. Ia membuka bekal roti yang dibelikan Yuni, tetapi hanya memakannya sedikit.
Ponselnya bergetar berkali-kali.
Dimas: Sudah naik?
Raka: Foto kursi.
Melati: Jangan tidur terlalu pulas.
Ratna mengirim foto jendela kereta.
Ratna: Ibu baik-baik saja.
Bambang tidak mengirim apa pun.
Sari mengirim satu pesan lagi dari nomor berbeda.
Sari: Ibu puas membuat Bang Bambang tertekan?
Ratna membaca, lalu meneruskan ke Farida. Setelah itu ia memblokir nomor tersebut.
Di Yogyakarta, udara sore terasa hangat. Ratna keluar dari stasiun dengan langkah hati-hati. Ia memesan mobil online menuju hotel kecil dekat Malioboro. Sopirnya banyak bicara, bertanya dari mana, sendirian atau dengan keluarga.
"Sendiri," jawab Ratna.
"Wah, Ibu hebat. Istri saya saja ke pasar sendiri masih minta ditemani."
Ratna tersenyum.
Hotel yang ia pilih sederhana tetapi bersih. Kamar di lantai dua, ada jendela kecil menghadap gang. Ia meletakkan koper, mencuci muka, lalu duduk di tepi ranjang.
Tidak ada yang harus dimasak.
Tidak ada yang harus ditanya sudah makan atau belum.
Tidak ada suara Bambang batuk di teras.
Ratna keluar menjelang malam. Ia berjalan pelan di trotoar Malioboro, melihat toko batik, pedagang gelang, turis yang berfoto, keluarga yang tertawa. Beberapa kali ia hampir membeli oleh-oleh untuk anak-anak, lalu berhenti.
Perjalanan ini untuk dirinya.
Ia membeli satu selendang batik warna hijau tua untuk dirinya sendiri.
Saat kembali ke hotel, hujan turun mendadak.
Orang-orang berlari mencari teduh. Ratna mempercepat langkah, tetapi di tikungan dekat minimarket, seorang pengendara motor lewat terlalu dekat. Tas selempangnya ditarik.
Tubuh Ratna oleng.
"Hei!"
Ia berusaha mempertahankan tas, tetapi tali tas putus. Motor itu melaju.
Ratna jatuh terduduk di tepi jalan.
Untuk sesaat, ia tidak bisa bergerak.
Di dalam tas itu ada ponsel, dompet kecil, kartu identitas, dan salinan dokumen. Bukan dokumen asli, tetapi tetap penting. Jantungnya berdebar keras.
"Ibu!"
Seorang pria berlari dari arah lobby hotel besar di seberang. Di belakangnya dua orang berpakaian hitam ikut bergerak cepat. Pria itu tidak muda. Mungkin enam puluhan. Tubuhnya tinggi, rambutnya sebagian putih, jasnya gelap meski tanpa dasi. Ia tidak tampak seperti orang yang biasa berlari di hujan, tetapi langkahnya cepat.
Ia berhenti di depan Ratna.
"Ibu terluka?"
Ratna mencoba berdiri. "Tas saya..."
Pria itu menoleh pada salah satu orang di belakangnya. "Kejar. Plat motornya AB 4387."
Orang itu langsung lari ke arah mobil.
Pria itu kembali menatap Ratna. "Jangan berdiri dulu."
"Saya tidak apa-apa."
"Lutut Ibu berdarah."
Ratna melihat lututnya. Benar. Celananya sobek sedikit, darah mengalir tipis.
Ia baru merasa nyeri setelah melihatnya.
Pria itu mengambil saputangan putih dari saku jas, lalu menekan pelan di sekitar luka, tidak langsung menyentuh bagian terbuka.
"Ada pusing?"
"Tidak."
"Mual?"
Ratna hampir tertawa. "Saya dokter."
Pria itu berhenti sebentar, lalu tersenyum tipis. "Kalau begitu Ibu tahu pasien sering berbohong saat panik."
Ratna menatapnya.
Di tengah hujan, di tepi jalan, dengan lutut berdarah dan tas dirampas, ia masih sempat merasa kesal.
"Saya tidak berbohong."
"Bagus."
Seorang petugas keamanan hotel datang membawa payung. Pria itu berkata singkat, "Bawa kursi. Panggil klinik hotel."
Ratna langsung menolak. "Tidak perlu."
"Perlu."
"Pak, saya bukan tamu hotel itu."
"Sekarang Ibu tamu saya."
Ratna menatapnya. "Saya bahkan tidak tahu nama Bapak."
Pria itu tampak baru sadar. Ia menunduk sedikit, sopan tetapi tetap berwibawa.
"Arman Wibisana."
Nama itu tidak berarti apa-apa bagi Ratna.
Ia hanya mengangguk.
"Ratna Wulandari."
Arman menatapnya sesaat lebih lama.
"Baik, Bu Ratna. Mari kita bersihkan luka itu dulu. Setelah itu, kita urus tas Ibu."
Ratna ingin menolak lagi, tetapi lututnya berdenyut dan hujan makin deras.
Akhirnya ia membiarkan pria asing itu membantunya berdiri.
Di seberang jalan, lampu hotel memantulkan cahaya ke aspal basah. Ratna berjalan pincang di bawah payung, ditemani laki-laki yang belum ia kenal.
Untuk pertama kalinya sejak menggugat cerai, ia tidak merasa sedang dikejar masa lalu.
Ia hanya merasa hidup, dengan segala sakit dan kebetulannya, masih terus bergerak.
Sebelum masuk ke klinik hotel, Ratna sempat melihat bayangannya di kaca besar lobby.
Perempuan di sana tidak terlihat seperti perempuan yang sedang memulai hidup baru. Kerudungnya basah, celananya kotor, lututnya berdarah, dan wajahnya pucat karena kaget.
Namun anehnya, Ratna tidak merasa kasihan pada bayangan itu.
Ia justru merasa perempuan itu berani.
Berantakan, iya.
Takut, iya.
Tapi berani.
Arman mengikuti arah pandangnya, lalu berkata pelan, "Ibu baik-baik saja?"
Ratna menjawab setelah beberapa detik, "Belum. Tapi saya akan baik-baik saja."
Arman tidak memberi nasihat. Tidak menyuruhnya sabar.
Ia hanya mengangguk, seolah jawaban itu cukup.
Sikap itu membuat Ratna lebih tenang daripada kata-kata panjang.
Bambang selalu punya komentar. Kalau Ratna jatuh, ia akan bertanya kenapa tidak hati-hati. Kalau Ratna sakit, ia akan bertanya siapa yang menjaga klinik. Kalau Ratna lelah, ia akan berkata semua orang juga lelah.
Pria asing ini tidak mengenalnya, tetapi tidak menambah beban pada lukanya.
Saat mereka berjalan menuju klinik hotel, Ratna sadar ia tidak sedang merasa diselamatkan seperti orang lemah.
Ia hanya sedang dibantu berdiri.
Perbedaan kecil itu membuat dadanya terasa hangat, walau hujan masih jatuh di luar.
Di depan pintu klinik hotel, Ratna berhenti sebentar karena lututnya berdenyut.
Arman tidak menarik lengannya. Ia hanya menunggu di samping, memberi waktu sampai Ratna siap melangkah lagi.
Hal sekecil itu membuat Ratna menoleh.
"Bapak sabar juga."
Arman menjawab, "Tidak selalu. Mungkin karena Ibu berjalan pelan, saya ikut pelan."
Ratna tidak membalas.
Tetapi kalimat itu tinggal di kepalanya lebih lama dari suara hujan.
keren bued...
Bu Rini bukan nya punya warung dkt klinik Bu Ratna dl?
Iki sing bener sing mana?
koq ga ada mediasi dan sidang?
ato pas crita ini di skip?
ini td melati di awal katanya hamil anak ke2
koq ini bilang blm PNY anak
ini Bu Ratna pindah ke kontrakan dkt ma rmh pak RT? Bu Rini juga? ato ak yg gagal paham nich?
emosiiii akuuuuu
Sayang ya Melati kaya bikin ibunya jd pelacur dg meminta pd lelaki lain yg masih bs dibilang bukan siapa²nya, cuma kenalan