NovelToon NovelToon
Koh, Ini Salah

Koh, Ini Salah

Status: tamat
Genre:Berondong / Tamat
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Erlyn tidak pernah memilih untuk jatuh cinta pada kakak tirinya.

Saat ibunya menikah lagi dan membawanya pindah dari Pulau Belitung ke rumah kolonial tua di Surabaya, Erlyn bertemu Yu Chisen — pewaris keluarga Yu yang dingin, tampan, dan tidak banyak bicara. Dia pelukis. Dia lebih tua dua tahun. Dan mulai hari itu, mereka tinggal satu atap sebagai "kakak-adik."

Tapi Chisen bukan kakak yang biasa. Dia diam-diam melindunginya dari gosip sekolah, mengajarinya bahasa Inggris setiap malam, dan memasak untuknya saat tidak ada orang. Di balik pintu loteng yang selalu terkunci, dia menyimpan ratusan lukisan — semuanya adalah wajah Erlyn.

Saat ibunya meninggal, Chisen menjadi satu-satunya tempatnya bersandar. Saat ayahnya masuk penjara, Erlyn menjadi satu-satunya alasannya bertahan. Perasaan yang seharusnya tidak ada perlahan tumbuh di antara mereka — terlalu dalam untuk diabaikan, terlalu terlarang untuk diakui.

Pada malam badai itu, Erlyn memakai sepatu kristal pemberian Chisen dan mengetuk pintu kamarnya.

Dia yang duluan jatuh cinta. Dan dia yang duluan melangkah.

Empat tahun kemudian, badai datang lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 7

Bab 7

Gosip

Erlyn belum sempat menjawab tawaran tarot Angie ketika wali kelas masuk membawa setumpuk kertas latihan.

Angie langsung memasukkan kotak hitam itu ke tas, cepat sekali sampai gelang manik-maniknya berbunyi kecil. Ia mencondongkan tubuh ke arah Erlyn dan berbisik, "Nanti. Kartunya sabar."

Erlyn hampir tertawa.

Hampir.

Karena sebelum senyum itu benar-benar muncul, ponsel beberapa murid di kelas berbunyi hampir bersamaan. Bukan bunyi keras, hanya getaran pendek di atas meja, tetapi cukup serempak untuk membuat udara di ruang kelas berubah. Beberapa kepala menunduk. Beberapa mata melirik ke arahnya.

Angie juga merasakan perubahan itu.

"Ada apa?" bisiknya.

Erlyn menggeleng, meski tengkuknya mulai dingin.

Wali kelas membagikan kertas. Pelajaran berjalan. Erlyn mencoba fokus pada soal pertama, tetapi kata-kata di depan matanya bergeser seperti semut. Dari baris belakang terdengar suara tawa kecil yang dipaksa ditahan. Seseorang berbisik terlalu jelas, "Itu dia."

Tangan Erlyn mencengkeram pensil.

Saat istirahat pertama, jawabannya muncul.

Sebuah tangkapan layar Instagram story kemarin beredar di grup WhatsApp kelas. Story itu memang sudah hilang dari akun asalnya, tetapi seseorang menyimpan gambar sebelum dua puluh empat jam lewat. Mobil hitam Chisen terlihat dari samping. Wajahnya tidak jelas, hanya garis rahang dan tangan di setir. Erlyn terlihat turun dari kursi penumpang, rambutnya tertiup angin, ransel di bahu, wajah setengah menunduk.

Di atas gambar itu, seseorang menambahkan tulisan baru dengan huruf merah.

Anak baru, paket lengkap. Kampungan tapi sponsornya mewah.

Erlyn membaca kalimat itu dari layar ponsel Angie.

Untuk beberapa detik, ia tidak merasa apa-apa.

Tubuhnya seperti menolak memahami bahwa kalimat itu ditujukan padanya. Kampungan. Sponsor. Mewah. Tiga kata itu menempel di kepalanya, satu per satu, seperti noda minyak yang tidak bisa langsung dihapus.

"Siapa yang kirim?" tanya Angie, suaranya berubah rendah.

"Aku nggak tahu," jawab murid yang menunjukkan ponsel itu. "Dari grup sebelah duluan. Sudah masuk ke beberapa grup."

Angie mengambil ponsel itu tanpa izin dan memperbesar gambar. "Ini diedit. Yang bikin kurang kerjaan banget."

Murid itu mengangkat bahu. "Aku cuma nunjukin."

"Ya, semua orang juga selalu cuma nunjukin."

Erlyn menarik lengan Angie pelan. "Sudah."

Angie menoleh. "Kamu mau diam saja?"

"Mau ribut juga gambar itu tetap sudah tersebar."

"Tapi mereka fitnah."

"Mereka tidak tahu apa-apa."

"Justru itu masalahnya."

Erlyn ingin menjawab, tetapi suaranya tersangkut. Ia menatap layar ponsel itu sekali lagi. Di foto, mobil Chisen tampak seperti benda dari dunia lain, hitam dan mahal, terlalu mencolok di depan gerbang sekolah. Kalau orang hanya melihat gambar itu tanpa tahu apa pun, mereka bebas mengarang.

Dan Chisen sudah memperingatkannya.

Orang suka bicara.

Erlyn benci karena ia benar.

Ponselnya bergetar di laci meja.

Ko Chisen: Pulang jam berapa?

Erlyn menatap pesan itu lama sekali. Biasanya, ia akan menjawab singkat. Jam tiga. Atau, belum tahu. Tetapi sekarang, setelah foto mobil hitam itu berputar dari satu grup ke grup lain, pesan Chisen terasa seperti kelanjutan dari semua tatapan yang menempel di kulitnya.

Ia mengetik:

Aku pulang sendiri.

Balasan datang hampir langsung.

Ko Chisen: Mama bilang sopir jemput.

Erlyn menggigit bibir.

Kalau sopir menjemput, besok akan ada cerita baru. Kalau Chisen datang lagi, mereka akan punya foto baru. Kalau ia menjelaskan terlalu panjang, Chisen akan tahu bahwa sesuatu sedang terjadi, dan entah kenapa pikiran itu membuatnya lebih malu daripada marah.

Ia membalas:

Aku bareng teman.

Padahal ia belum bertanya pada siapa pun.

Beberapa detik kemudian, Chisen menulis:

Kirim lokasi kalau sudah pulang.

Erlyn mematikan layar tanpa menjawab. Ia tahu itu tidak sopan. Ia tahu Chisen hanya menjalankan permintaan Mama atau mungkin Papa. Namun untuk sekali ini, ia ingin ada satu hal kecil dalam hari barunya yang tidak diatur oleh rumah Jalan Kenanga, mobil hitam, atau kakak tiri yang namanya bahkan tidak dikenal teman-temannya tetapi sudah menjadi bahan cerita.

Sepanjang hari, gosip itu berubah bentuk.

Di koridor, dua siswi berhenti bicara ketika Erlyn lewat, lalu tertawa setelah ia menjauh. Di kantin, seorang murid laki-laki yang tidak ia kenal pura-pura menjatuhkan sendok di dekat mejanya agar bisa melihat wajahnya dari dekat. Di toilet, seseorang berkata dari balik bilik, "Kalau kakak tiri, kok nggak bilang dari awal?"

Erlyn mencuci tangan lebih lama dari yang perlu.

Angie menunggu di luar toilet dengan wajah gelap.

"Aku tahu siapa yang pertama unggah story itu," katanya.

Erlyn menatapnya melalui cermin kecil di dekat wastafel. "Siapa?"

"Anak kelas sebelah. Aku belum yakin namanya. Dia teman salah satu geng di kelas kita."

"Jangan cari masalah."

"Dia yang cari masalah duluan."

"Angie."

Angie mengembuskan napas kasar, tetapi tidak membantah lagi. "Oke. Tapi kalau mereka sentuh barangmu, aku nggak akan diam."

Erlyn ingin bilang tidak akan sampai begitu. Ini hanya gosip. Orang akan bosan. Besok ada bahan baru. Lusa mereka lupa.

Tetapi ketika ia kembali ke kelas setelah pelajaran olahraga, ranselnya sudah berpindah dari kursi ke lantai.

Tidak jauh. Hanya jatuh di samping meja, seolah tersenggol. Buku fisikanya keluar sedikit. Tempat pensilnya terbuka. Tidak ada yang hilang.

Tetap saja, dadanya terasa sempit.

Angie langsung mendekat. "Siapa yang lakukan?"

Beberapa murid mengangkat bahu. Yang lain pura-pura sibuk. Seorang siswi di dekat jendela berkata, "Mungkin jatuh sendiri."

"Ransel punya kaki?" balas Angie.

Kelas mendadak hening.

Erlyn berjongkok, mengambil bukunya satu per satu. Ia tidak ingin menangis. Tidak di sini. Tidak di depan orang-orang yang mungkin akan menjadikan air matanya bahan cerita berikutnya.

Sebuah sepatu berhenti di depan mejanya.

Murid perempuan yang tadi berkata ranselnya mungkin jatuh sendiri menatapnya dengan senyum tipis. "Erlyn, benar dia kakak tirimu?"

Erlyn berdiri, memegang buku di dada. "Iya."

"Tinggal serumah?"

Angie maju setengah langkah. "Kenapa? Kamu mau ikut tinggal?"

Beberapa orang tertawa. Wajah siswi itu memerah.

Erlyn menyentuh lengan Angie, menahannya. "Iya," katanya pelan. "Kami tinggal serumah. Mama-ku menikah dengan Papa-nya. Itu saja."

"Oh." Siswi itu tersenyum lagi, lebih kecil, lebih tajam. "Cuma tanya."

Erlyn tidak menjawab.

Ia duduk ketika bel terakhir berbunyi, membiarkan kelas kosong sedikit demi sedikit. Angie harus ke ruang guru mengumpulkan tugas kelompok dan berjanji kembali dalam lima menit. Erlyn mengangguk, lalu mulai merapikan buku dengan tangan yang sudah tidak sekaku tadi.

Ia pikir hari itu akhirnya selesai.

Saat menarik kursinya, ia melihat selembar kertas kecil terlipat di atas dudukan.

Kertas itu bukan miliknya.

Erlyn membukanya.

Tulisan tangan di dalamnya miring, ditekan terlalu keras sampai hampir merobek kertas.

Itu kakak atau pacar?

1
May Maya
baru mampir Thor semoga cerita nya bgus n GK berhenti d tngh jln
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!