NovelToon NovelToon
Nana Si Pelindung Tuan Terbuang

Nana Si Pelindung Tuan Terbuang

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Nana bukan siapa-siapa — seorang gadis yatim piatu yang tumbuh besar di jalanan Surabaya, mencuri untuk bertahan hidup. Sampai suatu hari, hidupnya berubah ketika dia masuk ke dunia keluarga Sie, salah satu dinasti konglomerat paling berkuasa di Indonesia.

Di sana, dia bertemu Steven Sie — putra ketiga yang dibuang keluarganya sendiri, dingin dan penuh misteri. Semua orang bilang dia pengkhianat. Semua orang ingin dia hancur.

Tapi Nana tahu yang sebenarnya.

Ketika Steven dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar — dihancurkan di mata publik, dinyatakan bersalah atas kejahatan yang tidak pernah dia lakukan — hanya Nana yang berdiri melawannya. Sendirian. Tanpa bukti. Tanpa dukungan. Hanya dengan keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan sampai mati.

Perjalanannya membawanya dari ruang sidang Jakarta hingga ke lorong-lorong gelap Singapura, dari pengkhianatan keluarga hingga pengorbanan yang tak terbayangkan. Di sepanjang jalan, ada Daniel Tjang — pengusaha paling berbahaya dan paling mempesona di Jakarta — yang diam-diam mempertaruhkan segalanya untuknya.

*Satu wanita. Dua pria. Dan satu pertanyaan yang mengubah segalanya:*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18

Pagi berikutnya, Nana belajar bahwa bahaya tidak selalu mengetuk pintu.

Kadang ia hadir sebagai gerendel tambahan di pintu kecil dekat laundry. Kadang sebagai satpam yang tiba-tiba berdiri di tempat yang biasanya kosong. Kadang sebagai kepala pelayan yang tersenyum terlalu kaku ketika Nana membawa nampan kosong ke dapur.

"Nana, hari ini tidak usah ke belakang," kata kepala pelayan itu.

Nana berhenti di ambang pintu dapur. "Saya cuma mau antar piring."

"Biar orang lain."

"Kemarin saya masih boleh ikut bawa tas keluar kota."

Wajah kepala pelayan langsung menegang, seolah ia baru saja menyentuh panci panas. Di sudut dapur, dua pelayan saling melirik. Nana tahu lirikan seperti itu. Di pasar, orang memakai lirikan itu saat melihat anak kecil yang baru saja ketahuan mencopet tapi belum mau diusir terang-terangan.

Ia meletakkan nampan di meja dengan lebih keras dari perlu.

"Saya bukan kaca," katanya pelan. "Tidak akan pecah hanya karena lewat belakang."

Sebelum kepala pelayan bisa menjawab, Stella muncul dengan rambut masih dijepit setengah.

"Na."

Nana menoleh.

Stella jarang memanggilnya begitu di depan orang lain. Suaranya lembut, tapi di matanya ada perintah.

"Ikut aku."

Nana ingin menolak. Namun Stella sudah meraih tangannya dan menariknya keluar dari dapur, melewati lorong samping yang menghadap taman. Begitu mereka jauh dari pelayan, Stella melepas tangannya.

"Jangan bertengkar dengan mereka."

"Mereka yang memperlakukan aku seperti barang rapuh."

"Karena kemarin seseorang mengirim rambutmu ke meja depan." Stella berhenti di bawah jendela. "Aku juga marah. Tapi aku lebih takut."

Kalimat itu membuat Nana diam.

Stella menelan napas, lalu menyentuh ujung rambut Nana yang sudah diikat longgar. "Aku tahu kau tidak suka disuruh sembunyi. Aku juga tidak suka melihatmu disembunyikan. Tapi kalau kau jalan sendiri dan sesuatu terjadi lagi, aku tidak akan bisa memaafkan diriku."

"Aku tidak mau Hasan menang."

"Hasan tidak perlu menang hari ini." Mata Stella merah sedikit. "Dia hanya perlu membuat kita lengah satu kali."

Nana menunduk. Di lantai marmer, bayangan mereka jatuh berdampingan. Stella dengan sandal rumahnya yang mahal. Nana dengan sepatu polos pemberian Tamara yang masih terasa baru di kaki.

"Aku akan hati-hati," kata Nana akhirnya.

Stella mendengus kecil. "Itu jawaban orang yang akan tetap nekat."

"Aku akan hati-hati sekali."

"Lebih buruk."

Nana hampir tersenyum, tapi pintu kecil dekat laundry berderit dari kejauhan. Dua laki-laki berpakaian biasa lewat sambil membawa kotak plastik berisi alat taman. Mereka tidak menoleh kepada Nana, tidak memberi salam, tidak seperti staf rumah. Yang satu berhenti sebentar di dekat pot besar, seolah memperbaiki tali sepatu. Yang lain berjalan ke arah dapur belakang.

Nana memperhatikan mereka.

"Siapa itu?"

Stella ikut menoleh. "Tukang taman mungkin."

"Tukang taman tidak pakai sepatu seperti itu."

"Kau sekarang menilai orang dari sepatu?"

"Dari cara mereka tidak melihat." Nana menyipit. "Orang yang sungguh bekerja di rumah besar biasanya selalu melihat siapa yang boleh menyuruh mereka. Mereka berdua justru pura-pura tidak melihat."

Stella membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Sebelum Nana bisa bertanya lebih jauh, ponsel Stella bergetar. Stella membaca layar, wajahnya berubah.

"Mama panggil aku."

"Pergilah."

"Kau ikut."

"Aku mau ambil air."

"Nana."

"Aku ambil air di dapur depan, bukan belakang."

Stella menatapnya lama, jelas tidak percaya. Namun dari ruang tengah, suara Lusia sudah memanggil dengan nada tajam.

"Xiao Liu!"

Stella memejamkan mata sebentar. "Tunggu di ruang makan kecil. Jangan ke pintu mana pun."

"Iya."

"Jawabanmu terlalu cepat."

"Cici Stella, kalau Cici tidak pergi sekarang, Bu Lusia akan menyalahkan aku juga."

Stella menunjuknya sekali, lalu bergegas pergi.

Nana benar-benar menuju ruang makan kecil. Ia mengambil gelas, menuang air, lalu duduk. Lima menit. Sepuluh menit. Dari luar jendela, taman belakang tampak biasa. Daun palem bergerak pelan. Pekerja laundry menjemur taplak putih. Seekor kucing liar melompat ke pagar rendah lalu turun lagi.

Semuanya biasa.

Terlalu biasa.

Ponselnya bergetar.

Nomor tidak dikenal.

Nana tidak langsung membuka. Jempolnya berhenti di atas layar. Ia teringat suara Hasan dalam video, kasar dan santai, seperti orang yang punya banyak waktu.

Pesan itu masuk lagi.

Sebuah foto.

Dari belakang, tampak Nana berdiri di lorong dekat jendela beberapa menit lalu. Stella ada di sampingnya, setengah menoleh. Foto itu diambil dari arah taman, dekat pintu kecil laundry.

Di bawahnya tertulis:

Jangan selalu percaya pada orang yang berdiri di belakangmu.

Tenggorokan Nana mengering.

Ia berdiri terlalu cepat sampai kursi terdorong dan menggesek lantai. Dari luar, pekerja laundry masih menjemur taplak. Kucing liar tadi tidak ada. Dua laki-laki berpakaian biasa yang ia curigai juga tidak terlihat.

Nana memegang ponsel erat-erat dan berjalan ke pintu samping.

Baru tangannya menyentuh gagang, pintu itu terbuka dari luar.

Steven berdiri di sana.

Ia memakai kemeja hitam yang lengannya digulung, rambutnya masih sedikit basah seperti baru mandi terburu-buru. Matanya langsung jatuh ke ponsel di tangan Nana.

"Kau mau ke mana?"

"Mencari orang yang memotret."

"Dengan membuka pintu yang baru saja dipakai orang itu memotretmu?"

Nana menggertakkan gigi. "Kalau aku duduk diam, dia bisa memotret lagi."

"Kalau kau keluar, dia tidak perlu memotret. Dia bisa menarikmu."

Kata itu menampar udara.

Nana sadar Steven tidak menaikkan suara. Justru karena ia tidak berteriak, kalimatnya terdengar lebih tajam.

"Kau tahu?" tanya Nana.

Steven mengambil ponsel dari tangannya. Nana hampir merebut kembali, tapi ia berhenti ketika Steven tidak membuka pesan lain. Ia hanya melihat foto itu, lalu menekan sesuatu dan mengirimnya ke nomor lain.

"Irwan," katanya ke ponselnya sendiri begitu panggilan tersambung. "Foto dari arah laundry. Cek tanaman palem kedua dan kamera dapur. Nomor pengirim jangan diblokir dulu."

Nana menatapnya. "Jangan diblokir?"

Steven menutup panggilan. "Kalau ular masuk lewat lubang, kau tidak menutup lubang sebelum tahu kepalanya di mana."

"Aku bukan umpan."

"Hari ini kau hampir menjadikan dirimu umpan gratis."

Panas naik ke wajah Nana. "Aku tidak minta dilindungi seperti anak kecil."

"Hasan menyebutmu anak kecil karena dia ingin kau membuktikan sebaliknya dengan cara bodoh."

Nana terdiam.

Steven mengembalikan ponselnya, tapi jari mereka bersentuhan sebentar. Tangan Steven dingin. Atau mungkin tangan Nana yang terlalu panas.

"Mulai sekarang, kalau nomor tidak dikenal mengirim sesuatu, kau tunjukkan kepada Irwan."

"Kepadamu?"

"Irwan."

Jawaban itu terlalu cepat.

Nana menatapnya lebih lama. "Kenapa bukan kepadamu?"

Steven menyelipkan ponselnya ke saku. "Karena aku bukan tempat penitipan rasa takutmu."

Kalimat itu seharusnya menyakitkan. Anehnya, Nana melihat cara mata Steven memeriksa jendela, pintu, sudut lorong, lalu luka kecil di pelipisnya. Semua geraknya cepat dan dingin, tapi tidak satu pun terlewat.

"Kalau begitu jangan muncul setiap kali aku takut," kata Nana pelan.

Steven berhenti.

Di luar, seseorang bersiul pendek. Bukan pelayan rumah. Satu nada, lalu diam.

Steven menoleh ke arah taman. "Masuk ke ruang tengah."

"Siapa yang bersiul?"

"Orang yang pekerjaannya memastikan kau tidak keluar dari pintu yang salah."

"Jadi benar. Dua laki-laki tadi orangmu."

"Tim Lilin."

"Dan kau tidak memberitahuku."

"Kalau kuberitahu, kau akan menghitung cara menghindari mereka."

Nana ingin membantah, tapi kata-kata itu terlalu tepat.

Steven membuka pintu ke lorong utama. "Ruang tengah. Sekarang."

"Kau mau ke mana?"

"Memastikan orang yang memotretmu tidak merasa hari ini menyenangkan."

Ia pergi tanpa menunggu jawaban.

Nana berdiri beberapa detik, ponsel masih panas di telapak tangan. Di layar, foto itu belum hilang. Tubuhnya ada di sana, tampak kecil di antara jendela tinggi dan taman yang rapi. Di belakangnya, Stella terlihat setengah blur. Dan lebih jauh lagi, di sudut foto yang tadi tidak ia perhatikan, ada bayangan hitam di kaca.

Bayangan itu bukan milik Stella.

Nana memperbesar gambar dengan dua jari.

Di pantulan kaca, ia melihat Steven berdiri jauh di ujung lorong, sudah ada di sana sebelum pesan itu masuk.

Selama ini, ia mengira hanya Hasan yang mengawasinya.

Ternyata ada orang lain yang juga tidak pernah benar-benar melepaskan pandangan darinya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!