NovelToon NovelToon
DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:16.3k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Pernikahan kami sempurna. Harta, takhta, dan sepasang anak kembar yang rupawan telah kami miliki. Sebagai sesama pemilik perusahaan, aku dan Mas Hanif adalah definisi pasangan ideal di mata dunia.

​Namun, kesempurnaan itu runtuh saat Mas Hanif meminta izin untuk menikah lagi. Didukung oleh ibu mertuaku, seorang wanita polos datang dan mengaku siap berjuang dari bawah bersamanya.

​Dunia mengira aku akan mengamuk. Nyatanya, di balik anggunnya hijabku, aku justru tersenyum tenang. Aku mengiyakan, bahkan mengantarnya langsung ke pelaminan maduku.

​Mereka pikir aku pasrah? Salah besar.

​Sebelum melepasnya, sebuah perjanjian gono-gini rahasia telah kutandatangani bersama Mas Hanif. Lewat strategi bisnis yang rapi, perlahan akan kutarik semua aset dan kejayaan yang menyokongnya selama ini.

​Katanya siap berjuang dari bawah? Silakan nikmati perjuangan itu tanpa sepeser pun sisa hartaku. Selamat datang di skenario dendam manisku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DENDAM MANIS ISTRI YANG DIMADU

​Iring-iringan mobil SUV hitam besar yang dikemudikan oleh Tian akhirnya perlahan memasuki kawasan perumahan elit tempat kediaman orang tua kandung Hanum berada. Kompleks perumahan ini tidak kalah mewah dari tempat tinggal Hanum; rumah-rumah bertingkat bergaya klasik modern dengan halaman luas dan penjagaan ketat di setiap sudutnya menjadi penanda status sosial para penghuninya. Pepohonan rindang di sepanjang bahu jalan tampak bergoyang pelan ditiup angin pagi, namun keindahan itu sama sekali tidak mampu mencairkan atmosfer dingin yang sejak tadi mengendap di dalam kabin mobil.

​Begitu mobil berhenti dengan mulus di depan lobi teras rumah orang tua Hanum, Tian mematikan mesin. Seperti biasa, dengan gerak-gerik yang taktis dan penuh wibawa, pria kaku itu melepaskan sabuk pengamannya. Dia turun terlebih dahulu, bergerak memutari kap mobil untuk membukakan pintu penumpang depan tempat Hanum duduk, lalu beralih membukakan pintu untuk papanya serta membimbing Kayla dan Kenzie turun dengan penuh kehati-hatian.

​Bagi Tian, ini adalah momen pertamanya menapakkan kaki di kediaman keluarga kandung adik ipar tirinya. Selama bertahun-tahun, Tian hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk tinggal dan mengelola anak perusahaan milik papanya di luar negeri. Ditambah lagi, hubungan antara Tian dan Hanif memang terkenal sangat dingin sejak lama. Tian selalu menganggap Hanif sebagai sosok yang tidak memiliki visi hidup yang jelas, serakah, dan hanya tahu cara memanfaatkan keadaan, sementara Hanif selalu merasa terintimidasi dan minder oleh karisma serta kesuksesan kakak tirinya tersebut. Hal itu membuat Tian sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah, pulang ke Indonesia hanya untuk menghadiri acara kumpul keluarga besar. Jika ada acara pernikahan atau perayaan besar yang melibatkan Hanif, Tian selalu memiliki seribu satu alasan bisnis untuk menolak hadir.

​Namun, semua garis pembatas itu mendadak berubah sejak beberapa tahun lalu tepatnya setelah Hanum melahirkan sepasang anak kembar. Sejac Kayla dan Kenzie lahir ke dunia, Tian yang semula tidak peduli dengan urusan di Indonesia, mendadak menjadi sangat rajin memesan tiket penerbangan internasional hanya untuk pulang. Tujuannya sama sekali bukan untuk menemui Hanif atau Ibu Rahma, melainkan murni hanya untuk menghabiskan waktu, memanjakan dan bermain bersama kedua keponakan tirinya itu. Baginya, melihat senyum polos si kembar adalah satu-satunya pelipur lara dari penatnya dunia bisnis di luar negeri. Dan hari ini, takdir membawanya berdiri di depan rumah keluarga Hanum untuk menjadi saksi dari runtuhnya pernikahan siri adiknya yang tak tahu diri itu.

​"Bunda! Rumah Nenek!" seru Kayla riang sambil menggandeng erat jari telunjuk Tian, sementara Kenzie sudah berlari kecil menuju pintu utama yang tampak terbuka setengah.

​"Kayla, Kenzie, jalan yang sopan ya, Nak. Jangan berlarian," tegur Hanum lembut, mencoba menyembunyikan gemuruh kecemasan yang mendadak menyerang dadanya. Hari ini adalah hari penentuan di mana dia harus menguliti aib rumah tangganya di depan kedua orang tua kandungnya sendiri. Tangannya yang dingin saling bertautan, mencoba mencari kekuatan di tengah badai yang sebentar lagi akan meledak.

​Pintu jati besar rumah itu terbuka sepenuhnya, memperlihatkan sosok pria paruh baya berambut kelabu dengan kacamata bertengger di hidungnya Papa kandung Hanum didampingi oleh sang istri yang tampak anggun mengenakan gamis rumahan yang mewah. Kedua orang tua Hanum tersenyum lebar menyambut kedatangan anak dan cucu-cucu mereka yang sudah seminggu ini tidak berkunjung.

​"Astaga, cucu-cucu Nenek sudah sampai! Kangen sekali Nenek sama kalian!" seru Mama Hanum langsung berlutut di lantai teras untuk memeluk Kayla dan Kenzie yang menghambur ke arahnya dengan tawa renyah.

​Namun, senyuman di wajah Papa dan Mama Hanum seketika membeku saat mata mereka beralih menatap tiga sosok dewasa yang berjalan di belakang anak-anak. Pandangan mereka pertama kali tertuju pada Papa tiri Hanif sang besan yang mereka ketahui seharusnya saat ini masih berada di benua seberang untuk urusan bisnis jangka panjang.

​Dan yang paling membuat mereka tertegun adalah sosok pria muda bertubuh tinggi atletis yang berdiri tegak di samping besan mereka. Laki-laki dengan tatapan mata elang yang dingin, rahang kokoh, dan pembawaan kaku yang sangat berwibawa. Selama ini, kedua orang tua Hanum belum pernah sekalipun bertemu muka dengan Tian. Hubungan yang dingin antara Hanif dan Tian membuat nama Tian hanya menjadi angin lalu yang sesekali mereka dengar dari cerita Hanum, tanpa pernah tahu seperti apa wujud aslinya. Mereka hanya mendengar nama 'Tian' sebagai anak kandung dari suami baru Ibu Rahma yang sukses besar di luar negeri dan memiliki pembawaan yang sangat tertutup.

​"Lho... Pak Irwan?" Papa Hanum membuka suara, menyapa besannya dengan nada suara yang sarat akan rasa terkejut yang luar biasa. Beliau melangkah maju, menjabat tangan Papa tiri Hanif dengan erat, mencoba mencerna situasi.

"Bukannya Anda seharusnya masih ada di luar negeri sampai beberapa bulan ke depan? Kapan Anda tiba di Indonesia? Mengapa tidak memberi kabar sebelumnya agar kami bisa menjemput di bandara?"

​Papa tiri Hanif tersenyum tipis, sebuah senyuman yang menyembunyikan rasa perih, amarah, dan rasa bersalah yang teramat mendalam. "Pagi, Pak Yusuf. Saya baru saja mendarat kemarin sore bersama putra saya. Ada hal sangat mendesak dan krusial yang membuat kami harus segera membatalkan semua jadwal pertemuan bisnis di sana dan kembali ke tanah air secepat mungkin."

​Mama Hanum yang baru saja bangkit berdiri setelah memeluk cucunya, menatap bergantian ke arah Hanum, Pak Irwan, dan kemudian tertuju pada Tian. Sebagai seorang ibu yang memiliki insting tajam, Mama Hanum mendadak menangkap ada sesuatu yang tidak beres. Wajah Hanum tampak sedikit lebih pucat dari biasanya, dan ada lingkaran hitam tipis di bawah matanya yang indah. Atmosfer yang dibawa oleh rombongan ini terasa terlalu formal, terlalu tegang untuk ukuran kunjungan keluarga di pagi hari yang cerah. Tidak ada kehangatan menantu yang biasanya ditunjukkan oleh Hanif.

​"Hanum..." Mama Hanum mendekati anaknya, menyentuh lengan Hanum dengan dahi yang berkerut cemas. Mata wanita tua itu mengedarkan pandangan ke arah area parkir di luar pagar, mencari-cari satu sosok yang biasanya selalu bertingkah paling sibuk dan bermulut manis jika berkunjung ke rumah ini.

​"Di mana Hanif, Num? Kenapa dia tidak ikut datang bersamamu pagi ini?" tanya Mama Hanum langsung, suaranya terdengar menuntut kejelasan. "Dan... kenapa kamu datang bersama Papa mertuamu dan..." Mama Hanum melirik Tian dengan canggung, merasa asing sekaligus terintimidasi oleh tatapan dingin pria itu. "...pemuda ini?"

​"Perkenalkan, Om, Tante. Saya Tian, kakak tiri Hanif," Tian akhirnya membuka suara terlebih dahulu sebelum Hanum sempat menjawab. Dia menganggukkan kepalanya sedikit dengan sikap hormat yang sangat formal, kaku, namun tetap memancarkan sopan santun yang tinggi. Suaranya yang berat dan bariton terdengar sangat tenang, tidak menunjukkan emosi apa pun.

​Papa Hanum tertegun sejenak, lalu mengangguk paham sambil menjabat tangan Tian yang kokoh. "Oh, jadi ini Nak Tian yang sering diceritakan itu? Senang akhirnya bisa bertemu langsung denganmu setelah sekian lama. Tapi..." Papa Hanum kembali menatap Pak Irwan dan Hanum dengan tatapan menuntut penjelasan yang lebih dalam. "Ada apa sebenarnya ini? Kenapa wajah kalian semua terlihat begitu serius? Dan ke mana menantuku, Hanif? Mengapa di hari kunjungan seperti ini dia justru tidak mendampingi istrinya? Apakah dia sedang sibuk di kantor?"

​Ketegangan di teras rumah itu kian merayap naik. Pak Yusuf Papa Hanum bukanlah orang bodoh. Sebagai seorang mantan pejabat dan pengusaha kawakan, dia bisa membaca gerak-gerik tubuh setiap orang di hadapannya. Ekspresi Pak Irwan yang dipenuhi rasa bersalah, sikap Tian yang berjaga-jaga seperti seorang pelindung, dan yang paling utama: tatapan mata Hanum yang menyiratkan luka yang sangat dalam namun berusaha ditutupi dengan ketangguhan tiruannya.

​"Mari kita bicara di dalam saja, Pak Yusuf, Ibu," potong Papa tiri Hanif dengan nada suara yang berat. Beliau melirik ke arah Kayla dan Kenzie yang mulai asyik berlarian di ruang tamu dalam. "Ini masalah yang sangat sensitif, dan saya rasa tidak bijaksana jika kita membahasnya di teras luar seperti ini. Terutama di depan anak-anak."

​Mama Hanum seketika merasakan dadanya berdegup kencang. Firasat buruk seorang ibu jarang sekali meleset. Dia segera menuntun tangan Hanum untuk masuk ke dalam, diikuti oleh Papa Hanum, Pak Irwan, dan Tian yang berjalan paling belakang dengan langkah kaki yang konstan dan waspada.

​Mereka berdua berjalan menuju ruang keluarga utama yang berukuran sangat luas. Sofa-sofa beludru besar tertata rapi mengelilingi sebuah meja kaca. Mama Hanum segera memanggil asisten rumah tangganya untuk membawa Kayla dan Kenzie ke halaman belakang agar mereka bisa bermain di dekat kolam ikan, menjauhkan kedua bocah polos itu dari percakapan orang dewasa yang dipastikan akan berjalan sangat panas.

​"Sekarang, katakan pada Papa, Hanum," ucap Pak Yusuf setelah semua orang mengambil posisi duduk. Beliau menatap Hanum dengan pandangan menuntut yang tajam namun penuh kasih sayang. "Ada apa sebenarnya? Kenapa Pak Irwan sampai harus pulang dari luar negeri dan menemanimu ke sini tanpa Hanif? Jangan bilang kalau Hanif telah melakukan sesuatu yang melewati batas?"

​Hanum menarik napas dalam-dalam, mengunci pandangannya pada meja kaca di depannya. Lidahnya yang biasanya sangat lancar saat memimpin rapat perusahaan mendadak terasa kelu. Namun sebelum Hanum sempat membuka suara untuk menguliti aib suaminya, Papa tiri Hanif sudah mendahuluinya. Pria paruh baya itu membungkukkan tubuhnya ke depan, menaruh kedua tangannya di atas lutut, dan menatap Pak Yusuf dengan tatapan mata yang penuh penyesalan yang teramat mendalam.

​"Pak Yusuf, Ibu..." suara Papa tiri Hanif bergetar menahan amarah dan rasa malu yang luar biasa sebagai seorang kepala keluarga. "Pertama-tama, saya berdiri di sini hari ini, membawa putra saya Tian, dengan satu tujuan utama. Saya ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga besar Anda. Saya datang untuk mengembalikan Hanum secara terhormat kepada Anda berdua."

​Deg!

​Kata-kata 'mengembalikan Hanum' seketika menyambar ruang keluarga itu layaknya petir di siang bolong. Mama Hanum langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya terbelalak sempurna dengan air mata yang mendadak menggenang di pelupuk matanya. Sementara Pak Yusuf seketika menegakkan punggungnya, rahangnya mengeras, dan aura kemarahan seorang ayah mulai terpancar dari tubuhnya.

​"Apa maksud Anda, Pak Irwan?!" tanya Pak Yusuf, suaranya meninggi satu oktav, menekan setiap kata dengan penuh ancaman. "Mengembalikan Hanum? Apa yang telah dilakukan oleh anak bawaan Anda itu kepada putri saya?!"

​Suasana di dalam ruangan itu semakin mencekam. Tian yang duduk di sofa tunggal di samping papanya tetap mempertahankan posisi kakunya. Matanya yang tajam melirik ke arah Hanum yang mulai menundukkan kepala, meremas sapu tangannya. Tian tahu, ini adalah bagian paling menyakitkan bagi seorang wanita tangguh seperti Hanum harus mengakui kegagalan rumah tangganya di depan orang tua yang telah membesarkannya dengan penuh kebanggaan.

​"Hanif telah mengkhianati pernikahan ini dengan cara yang paling menjijikkan, Pak Yusuf," lanjut Papa tiri Hanif tanpa menutupi apa pun. Suaranya terdengar sangat menohok. "Beberapa hari lalu, anak tidak tahu diuntung itu telah melangsungkan pernikahan siri dengan seorang wanita bernama Sarah di pinggiran kota. Dan yang paling membuat saya muak, dia dan ibunya, Rahma, dengan tidak tahu malunya membawa wanita pelakor itu masuk ke dalam rumah mewah milik Hanum, tepat di depan menantu saya dan kedua cucu saya."

​"Astaga!!! Hanif!!!"

​Mama Hanum seketika histeris. Tangisnya pecah seketika, dadanya terasa sesak mendengar kenyataan bahwa putri tunggalnya yang begitu dia banggakan, wanita tangguh yang memegang kendali perusahaan, telah diinjak-injak harga dirinya oleh seorang pria yang dulu mereka terima dengan tangan terbuka.

Mama Hanum langsung berpindah duduk, memeluk tubuh Hanum dengan erat sambil menangis tersedu-sedu. "Anakku... Hanum... kenapa kamu tidak cerita pada Mama, Nak? Kenapa kamu menanggung ini sendirian?"

​Pak Yusuf sendiri mengepalkan kedua tangannya di atas meja hingga urat-urat di lengannya menonjol kemerahan. Matanya menyalang penuh amarah yang meledak-ledak. "Dasar laki-laki biadab! Berani-beraninya dia menginjak-injak harga diri putri saya! Dulu dia datang mengemis-ngemis restu, berjanji akan membahagiakan Hanum! Dan sekarang setelah dia menikmati semua fasilitas, dia menusuk anak saya dari belakang?!" Pria tua itu berdiri dari sofanya, napasnya memburu karena emosi yang tidak tertahankan.

​Di tengah kepanikan dan kemarahan yang meluap-luap dari kedua orang tua Hanum, Tian tetap menjadi sosok yang paling tenang namun paling mengintimidasi. Dia berdiri dari duduknya, berjalan perlahan mendekati meja tengah, lalu menatap Pak Yusuf dengan pandangan mata elangnya yang dingin.

​"Om Yusuf, harap tenang," ucap Tian, suaranya yang datar dan kaku namun penuh keyakinan itu entah bagaimana berhasil meredam sedikit ketegangan yang meledak. "Kemarin sore, Papa dan saya sudah menyelesaikan bagian kami. Hanif dan ibunya sudah kami usir secara paksa dari seluruh properti dan fasilitas milik keluarga kami. Kami sudah mencabut semua hak tinggalnya, menyita mobilnya, dan menghentikan seluruh aliran uang bulanannya. Saat ini, mereka sudah kembali ke tempat asal mereka di daerah kumuh pinggiran kota dengan pakaian basah dan tanpa sepeser pun uang."

​Tian menjeda kalimatnya, melirik sekilas ke arah Hanum yang berada di dalam pelukan ibunya, lalu kembali menatap Pak Yusuf. "Kedatangan kami ke sini hari ini bukan untuk membela Hanif. Kami ke sini untuk memastikan bahwa keluarga Om Yusuf tahu, bahwa seluruh kekuatan hukum dan finansial keluarga kami berada sepenuhnya di belakang Hanum. Kami akan mendukung penuh apa pun langkah hukum yang akan diambil Hanum untuk menghancurkan Hanif di pengadilan besok pagi."

​Pak Yusuf menatap Tian dengan saksama. Ini adalah pertama kalinya dia melihat dan mendengar karakter asli dari kakak tiri Hanif ini. Di balik pembawaannya yang luar biasa dingin, kaku, dan sarkas, Pak Yusuf bisa melihat sebuah ketulusan dan tanggung jawab yang sangat besar dari seorang pria sejati. Pak Yusuf perlahan kembali duduk di sofanya, mengembuskan napas panjang untuk meredakan gejolak di dadanya, menyadari bahwa di tengah kemalangan putrinya, Tuhan masih mengirimkan orang-orang tiri yang memiliki hati layaknya malaikat pelindung.

1
Muft Smoker
udh di bilangin sifat gengsi ny jgn di ambil semua ny ,, koq msh nakal aj siih ,,
Tusuk niiih 🤺🤺🤺🤺🤺 ,, 🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
sabar yx mba ,, biasa urusan rumah tangga ,, 🤭🤭🤭🤭🤭🤭
sunaryati jarum
Semoga prosesnya cepat sesuai harapan
Noey Aprilia
Reader aja ikutn jngkel tau ga....
blng aja pgn d tmani mkn gt,ga ush ngeles sna sni....gengsi aja d gdein.....🙄🙄🙄
Arin
Salah lawan nih......Hanif dimiskinkan semiskin miskinnya😁😁😁
Muft Smoker
gengsiny jgn byk2 kak tian ,, nnti org gx kebagian ,, 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
kalo mau ngajak makan bareng lngsung aj ngomong ,, gx usah gengsi gtuuu🤣🤣🤣🤣
Muft Smoker
meski kaku Dan dingiin ,, tp tian sosok laki2 yg tanggung jawab ,,
Noey Aprilia
Iye...iye....
Yg gengsiny stnggi gunung.....kt tau lh kl situ holang kaya,ya kali kelaparan.....🤣🤣🤣....
Ma Em
Ternyata Hanif dan Bu Rahma itu sebenarnya dulunya orang miskin namun setelah menikah lagi Bu Rahma diangkat derajat dan jadi orang kaya dan terhormat dan kelakuannya jadi sombong dan sekarang Hanif dan Bu Rahma kembali ke awal lagi , semoga Hanum berjodoh dgn Tian karena Tian sdh menyayangi anak2 Hanum .
Heni Setiyaningsih
/Heart//Heart//Heart/
Noey Aprilia
Mau heran,tp gtulh knytaannya....
bkannya bruntung pnya istri cntik,mndiri,kaya raya pula...d tmbh kluarga yg mau nrima dia...
ni mlah ngelunjak...d kira dnia bkln kiamat kali kl hanum ga sm dia....
ccckkk.....🙄🙄🙄
Muft Smoker
lanjuuut kak ,,

udh emnk si hanif ,, seharusny tnggal di tempat yg skrang ,, gx cocok dy tnggal di rumah mewaah ,,
🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
Heni Setiyaningsih
sat set 😍😍
Noor hidayati
anak anak hanum itu umur 9th apa 5th,kok tingkahnya kayak masih balita,kalau 9th kan berarti sudah kelas 3 SD
Noor hidayati
kembar telat itu apa ya,apa sama dengan kembar tidak identik
Himna Mohamad
good kkk
Muft Smoker
udh kak ,, hanum ma tian aj ,, meski kaku , dingiin , bak kulkas 100 pintu ,, tp Dari sikap ny dy begitu menghargai hanum , menyayangi si kembar ,, udh pas tuh jd bpa Dan suami idaman 👍👍👍😁😁😁😁
Muft Smoker
waah ad apa niih ,, tian klo suka jgn lama2 di pendam ,, takut keburu jdii Batu ,, 🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣🤣
susi ana
apakah nantinya Tian akan bersama Hanum?
aku setuju banget klo mereka bersatu, biar Hanif semakin merana....
semangat thor, ceritanya bagus banget
blcak areng: makasih kakak🙏🙏
total 1 replies
Noey Aprilia
Mngknkh sbnrnya tian udh ska hanum dr dlu,cma dia mngalah dmi yg onoh???
Dr kulkas 6 pntu,jd cair kl sm ponakannya....
Noey Aprilia: Gabut.....🤣🤣🤣
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!