NovelToon NovelToon
Makeup His Heart

Makeup His Heart

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:574
Nilai: 5
Nama Author: Elwa Zetri

​Aroma bedak tabur, semprotan setting spray, dan tumpukan palet warna-warni sudah menjadi dunia Yeza selama lima tahun terakhir. Sejak melepas seragam putih-abu-abunya, gadis berusia 23 tahun itu memilih jalan yang berbeda dari teman-temannya. Di saat yang lain sibuk memburu bangku perkuliahan, Yeza justru mengurung diri di kamar, menatap cermin, dan membiarkan jemarinya menari dengan kuas-kuas murah yang dibelinya dari uang jajan yang disisihkan.

​Tanpa kursus formal, tanpa sertifikat mentereng. Modal utamanya hanyalah ketekunan dan ribuan jam menonton tutorial di YouTube. Dua belas bulan pertama adalah masa-masa penuh cemoohan. "Mau jadi apa cuma coret-coret muka?" begitu bisik-bisik tetangga yang sempat mampir di telinganya. Namun, Yeza tidak berhenti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

interupsi manajer

​Di luar koridor, Laura melangkah dengan sentakan kaki yang penuh amarah. Air matanya yang sejak tadi ditahan akhirnya luruh, merusak sisa-sisa riasan indah di wajahnya. Sambil menarik kopernya dengan kasar, ia masuk ke dalam lift yang terbuka, menekan tombol lantai dasar dengan emosi yang meluap. Di dalam hatinya, rasa malu dan dendam bergejolak menjadi satu.

​Sementara itu, di dalam unit 10B, keheningan yang pekat langsung menyergap. Suara derap langkah kaki Laura yang menjauh dan denting lift yang tertutup terdengar samar dari dalam.

​Max masih berdiri bersandar di balik pintu. Napasnya perlahan mulai teratur, namun sisa-sisa ketegangan masih tercetak jelas pada rahangnya yang kokoh. Pria itu memejamkan matanya sejenak, mencoba meredam sisa amarah yang membakar dadanya.

​Yeza yang sejak tadi mematung di dekat meja rias perlahan memberanikan diri melangkah mendekat. Ia menatap Max dengan sorot mata yang dipenuhi rasa cemas sekaligus tidak enak hati. Keberanian Max membelanya memang membuat hatinya menghangat, namun di sisi lain, ia takut tindakan impulsif Max pagi ini akan memicu masalah baru dengan media.

​"Max..." panggil Yeza dengan suara yang sangat pelan, hampir menyerupai bisikan.

​Max membuka matanya, menoleh ke arah Yeza yang kini berdiri hanya beberapa langkah di depannya. Sorot mata elang yang tadinya memancarkan kilat kemarahan yang mengerikan, seketika melunak begitu memandang wajah cemas gadis itu.

​"Max, apakah... apakah kita tidak keterlaluan?" tanya Yeza ragu, jemarinya meremas ujung kemeja kerjanya dengan gugup. "Dia... dia adalah wanita yang pernah dekat denganmu, dan dia punya pengaruh besar di media. Bagaimana kalau dia membalas ini dengan membuat rumor buruk tentangmu? Atas tindakanmu tadi..."

​Max menegakkan posisi berdirinya. Ia melangkah maju dua tapak, memperkecil jarak di antara mereka hingga Yeza bisa mencium kembali aroma familier yang menenangkan dari tubuh pria itu.

​"Tidak ada kata keterlaluan untuk seseorang yang tidak menghargai orang lain, Yeza," jawab Max dengan suara bariton yang dalam, mantap, dan tanpa ada keraguan sedikit pun di dalamnya.

​Ia menatap lurus ke dalam manik mata bulat Yeza yang tampak khawatir. "Dia boleh melakukan drama apa saja dalam hidupnya, tapi dia tidak punya hak untuk mengusikmu, menjadikannya tameng gengsinya, apalagi merendahkan profesimu dengan menyebutmu asisten pribadinya. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menginjak-injak orang yang bekerja keras denganku. Apalagi... itu kamu."

​Mendengar penekanan di akhir kalimat Max, jantung Yeza berdesir hebat. Kata-kata itu bukan sekadar pembelaan dari seorang bos kepada karyawannya, melainkan sebuah pernyataan perlindungan yang sangat personal yang membuat seluruh kekhawatiran Yeza tentang Laura seketika menguap tak berbekas.

​Suasana di unit 10B yang tadinya penuh dengan intensitas pelindung kini buyar seketika saat bel pintu kembali berbunyi. Kali ini bunyinya sangat ketukan tidak sabar yang khas.

​Yeza, yang masih mencoba memproses kata-kata Max barusan, segera melangkah menuju pintu. Saat ia membukanya, sosok Bram—manajer Max—sudah berdiri di sana dengan wajah yang tampak berantakan dan napas terengah-engah.

​"Max? Kamu di sini?" Bram mengernyitkan dahi, tatapannya beralih dari Yeza ke arah Max yang berdiri di tengah ruangan Yeza. "Ya ampun, aku sudah mengetuk pintu unitmu berkali-kali tapi tidak ada jawaban. Dan aku baru saja berpapasan dengan Laura di lobi bawah... dia terlihat seperti baru saja melihat hantu, dan matanya bengkak."

​Bram masuk ke dalam tanpa menunggu dipersilakan, mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dengan tatapan bingung. "Tunggu, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia menangis? Dan kenapa kamu ada di sini, Max? Syuting dimulai dua jam lagi!"

​Max menghela napas panjang, menepis sisa-sisa emosi di wajahnya dan menggantinya dengan topeng profesional yang dingin. Ia merapikan kerah kemejanya yang sedikit kusut. "Drama yang tidak penting, Bram. Lupakan saja. Laura sudah pergi, dan dia tidak akan kembali."

​Bram tampak curiga, ia menatap Max lalu beralih ke Yeza yang tampak berusaha menyembunyikan kegugupannya dengan merapikan koper peralatan riasnya. Bram adalah manajer yang berpengalaman; ia bisa mencium aroma ketegangan dari jarak satu mil.

​"Drama tidak penting, katamu?" gumam Bram skeptis, namun ia tidak mendesak. Ia tahu tabiat Max; jika aktornya itu sudah memutuskan untuk menutup rapat sebuah masalah, maka tidak ada gunanya menggali lebih dalam. "Ya sudah, kalau begitu. Yang penting, jangan sampai masalah ini mengganggu mood kamu saat syuting hari ini. Brand yang kita pegang sangat perfeksionis soal profesionalitas."

​Max mengangguk tegas. "Tentu saja. Aku akan siap dalam sepuluh menit."

​Yeza menunduk, fokus sepenuhnya pada peralatan riasnya. Meskipun ia merasa lega karena Bram tidak bertanya lebih detail, ia sadar bahwa insiden pagi ini mungkin akan menyisakan gosip.

​"Yeza," panggil Bram, suaranya kini melunak. "Kamu tidak apa-apa? Aku dengar dari beberapa orang di basecamp tentang unggahan media sosial Laura yang menyebutmu asistennya. Aku sudah menanganinya dengan menghubungi pihak humas agar segera diklarifikasi. Itu sangat tidak profesional."

​Mendengar perhatian Bram, Yeza merasa hatinya tersentuh. "Terima kasih banyak, Kak Bram. Saya... saya baik-baik saja."

​"Bagus," Bram menepuk bahu Yeza ringan. "Kalau begitu, segera selesaikan apa yang perlu disiapkan. Kita harus segera bergerak ke lokasi sebelum macet total. Max, segera kembali ke unitmu dan bersiaplah!"

​Max memberikan satu tatapan terakhir kepada Yeza—sebuah tatapan yang menyiratkan bahwa mereka akan bicara lebih lanjut nanti—sebelum ia berbalik dan melangkah keluar mengikuti Bram, meninggalkan Yeza sendirian di dalam apartemennya yang kini terasa jauh lebih tenang dari sebelumnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!