Ah,..rasa- rasanya diriku perlu menemukan seorang guru yg mampu untuk mengajariku mendapatkan cara memiliki tenaga dalam, berkata pemuda itu di dalam hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zakaria Faizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#4 Ada apa di puncak Merapi.
Setelah derap langkah kaki kuda itu tidak terdengar lagi barulah Wisanggra Kinangkin beranjak dari rumah Ki Wongso Lemu.
Pemuda dusun Winanga ini berjalan menyusuri jalanan desa dan bertemu banyak warga yang tengah hendak berangkat ke sawahnya.
Umum nya mereka menyapa pemuda yang tadi malam sempat bertarung dengan Hantu dari alas Siroban.
Bahkan tidak jarang diantara mereka mengajak singgah di gubuk mereka hanya sekedar menawarkan makan atau minum kepada Wisanggra Kinangkin.
Dan dibalasi dengan senyuman tanpa mengurangi rasa hormat nya pemuda itu menolak secara halus, sebab ia memang sedang melakukan perjalanan nya menuju gunung Merapi.
Sejak meninggalkan dusun Tirta , pemuda itu mendapati hutan kecil yg di seberang nya terdapat ara-ara yg juga tidak terlalu luas.
Dengan mempergunakan ilmu nya pemuda ini mulai menjajal ilmu peringan tubuhnya guna memangkas jarak yang tidak terlalu jauh itu.
Meski demikian ia memang seharusnya dapat mencapai gunung Merapi itu sebelum malam tiba.
Dan benar saja saat mentari mulai condong ke arah barat Wisanggra Kinangkin telah melihat dengan gagahnya gunung merapi ini menjulang tinggi di hadapan nya.
Di kejauhan tampak debu mengepul ke udara, pertanda ada rombongan orang -orang yg berkuda dan melintasi tempat tersebut.
Apakah itu adalah rombongan dari Ki Rangga Suralaya, bertanya dalam hati Wisanggra Kinangkin.
Ia pun memilih jalur agak ke timur agar tidak berpapasan dengan rombongan yang berasal dari Mataram tersebut.
Hingga pemuda itu pun mulai memanjat naik menuju padepokan yg di pimpin oleh Ki Ageng Gede Lumut.
Karena hari sudah mulai gelap, Wisanggra Kinangkin pun mencari sebuah tempat yg sangat baik untuk di jadikan nya beristirahat.
Ah, aku tidak perlu terburu-buru tiba di padepokan Merapi itu , sebab tujuan ku hanya akan melihat lihat saja, berkata lagi di dalam hatinya Wisanggra Kinangkin sambil membersihkan tubuhnya.
Ia berendam di sebuah kedung yg tidak terlalu luas, baru setelah nya pemuda itu mencari makanan dengan cara berburu.
Hutan yang ada di lereng gunung Merapi memang menyimpan banyak makanan yg tersedia , utamanya dari beberapa binatang yang beraneka ragam, mulai dari kelinci , menjangan , bahkan ayam hutan pun masih sangat banyak tersedia di tempat tersebut.
Dengan kemampuan nya tidak sulit bagi pemuda ini untuk sekedar mengganjal perutnya.
Begitu perut nya telah terisi, rasa kantuknya pun menyerang nya , dengan sangat cepat putra dari Arya Rangkana ini memanjat sebuah pohon yg cukup berbesar dan tidak terlalu jauh dari tempat tersebut.
Satu kali genjotan saja , tubuh Wisanggra Kinangkin sudah nangkring di sebatang cabang yg tidak terlalu besar yg di miliki oleh pohon tersebut.
Ia pun mulai merebahkan tubuhnya di cabang tersebut.
Belum pun ia sempat memicingkan matanya, pendengaran nya yang sangat tajam mendengar ada beberapa orang yg tampaknya melintasi tempat nya beristirahat ini.
Siapa mereka, tanya Wisanggra Kinangkin yg semakin mempertajam pendengaran nya.
Tidak terlalu lama terlihat empat orang sedang melintas di bawah pohon yg di tempati oleh Wisanggra Kinangkin ini.
" Kakang Jalu jaya, apakah benar, Ki Ageng Gede Lumut itu akan membuka sayembara untuk putrinya itu?" tanya seorang lelaki kepada teman nya.
" Entahlah , kakang pun tidak tahu, namun yg jelas kita memang harus mampu membuktikan bahwa padepokan Carang Ireng mampu memenangkan pertarungan ini agar martabat perguruan kita tidak di pandang sebelah mata oleh perguruan yg ada di tlat Mataram ini !" sahut orang yang di panggil sebagai Jalu Jaya itu.
Kelihatan nya pemuda yang menjadi pemimpin rombongan ini ingin mengikuti sayembara yg di adakan oleh Ki Ageng Gede Lumut tersebut.
" Benar kakang, kita harus membuka mata para pemimpin padepokan yg ada di Mataram ini yg selalu memandang rendah kepada perguruan kita, bahkan ada yang mengatakan bahwa perguruan kita adalah perguruan yg beraliran sesat!" seru seorang yg berjalan paling buncit itu.
" Apa yg kau katakan itu adalah benar adanya adi Krindara, perguruan kita acap kali di cap sebagai perguruan yg beraliran hitam dan pantas untuk di lenyapkan, namun kali ini kita harus membuktikan nya dengan mengalahkan orang orang yg mengikuti sayembara itu !" sahut pemuda yang bernama Jalu Jaya.
Mereka sempat berhenti tidak jauh dari Wisanggra Kinangkin berada.
Sehingga dengan jelas sekali pemuda itu mampu melihat orang-orang yg ada di bawahnya ini.
Ternyata mereka adalah murid-murid dari padepokan Carang Ireng, membathin Wisanggra Kinangkin sambil matanya tidak lepas dari keempat orang yg sedang duduk di bawahnya ini.
Menurut Guru , Ajar Smurup bahwa padepokan Carang Ireng itu memang beraliran sesat yang sering menggunakan ilmu hitam seperti sihir dan mampu mempengaruhi lawan dengan mempergunakan ilmu nya tersebut, ungkap Wisanggra Kinangkin dalam hatinya.
Ia pun merasa aneh dengan kehadiran orang orang dari golongan hitam ini, padahal padepokan Merapi yg di pimpin oleh Ki Ageng Gede Lumut itu merupakan perguruan yg beraliran putih.
He , apa jadinya jika benar orang orang yg beraliran hitam ini mampu memenangi pertandingan yang diadakan itu, dan apakah mereka memang mendapatkan undangan dari pemilik padepokan ini , semua pertanyaan tersebut menggelayuti pikiran dari Wisanggra Kinangkin.
Belum lagi ketika ia teringat akan ucapan Ki Rangga Suralaya sewaktu masih berada di dusun tirta, bahwa Mataram mencurigai pergerakan kalangan dunia persilatan yang ingin menentang kekuasaan dari Susuhunan Amangkurat yg kini memerintah di Mataram.
Adakah hubungannya semua itu dengan kehadiran para tokoh tokoh dari golongan hitam ini atau ada maksud yg lain.
Untuk apa aku memikirkan nya , yg jelas saat malam bulan purnama bersinar terang , akan ada pertarungan yang seru di atas gunung Merapi ini, demikian lah yg ada di benak pemuda dusun Winanga ini.
Saat malam semakin larut , ternyata murid murid padepokan Carang Ireng ini malah beristirahat tidak jauh dari tempat dimana Wisanggra Kinangkin pun beristirahat pula.
Sehingga pemuda itu terpaksa mempergunakan ilmunya agar tidak di ketahui keberadaan nya oleh orang yang ada di bawahnya ini.
Saat pagi menjelang dengan cepat pemuda itu pun melesat dan meninggalkan tempat tersebut sebelum orang orang yg ada di bawah nya ini terbangun dari tidur nya.
Sambil mengemposi tenaga dalam nya pemuda itu terus naik menuju padepokan Ki Ageng Gede Lumut yg masih cukup jauh di atas.
Hingga menjelang mentari menggatalkan kulit, pemuda itu pun telah berada di sekitar padepokan Merapi ini.
Dari kejauhan ia dapat melihat bahwa perguruan yg di pimpin Ki Ageng Gede Lumut itu tengah mempersiapkan penyambutan para tamu undangan.
Juga panggungan pun telah tertata dengan sangat rapi di dalam padepokan itu.
Untuk lebih dekat lagi Wisanggra Kinangkin tidak berani, sebab ia memang tidak memiliki undangan seperti yang lainnya.
Ah kalau begini, mending tawaran dari Ki Rangga Suralaya itu aku terima, berkata dalam hati Wisanggra Kinangkin.
Sebab ia merasa tidak dapat masuk ke dalam padepokan Merapi ini dan hanya melihat dari kejauhan saja , apalagi saat itu matahari tengah bersinar terang , pergerakan nya pun jadi sangat terbatas.
Akan tetapi pemuda itu tidak kehilangan akal ,ia mencari tempat agar dapat melihat ke dalam padepokan juga di luar padepokan.
Sehingga apa yg tengah terjadi di dalam dapat di ketahui oleh pemuda ini juga yg di luarnya.
Ia dengan sangat jelas rombongan Ki Rangga Suralaya yg masuk ke dalam padepokan itu, baru kemudian datang lagi rombongan dari perguruan Tegal Arum, padepokan Wanayasa dan paling terakhir yg dilihat pemuda itu adalah rombongan dari padepokan Carang Ireng.
Pemimpin rombongan nya seorang pemuda yg bernama Jalu Jaya.
Pada siang hari ini dengan sangat jelas sekali Wisanggra Kinangkin melihat pemuda yang bernama Jalu Jaya itu.
Seorang pemuda yg terlihat sudah cukup matang usianya dengan menenteng sebuah kapak bermata dua serta berpakaian serba hitam.
Sebenarnya wajah pemuda yang bernama Jalu Jaya ini tidak lah terlalu buruk, tetapi karena wajahnya banyak di tumbuhi oleh bulu bulu yg sangat lebat hingga penampilannya nampak sangar dan garang.
Wisanggra Kinangkin terus saja memperhatikan apa yg tengah terjadi di dalam dan luar padepokan Merapi ini.
Namun alangkah terkejutnya pemuda itu ketika ia melihat ada dua rombongan lagi yg datang saat menjelang malam itu.
" Heh,.!" seru kaget sekali.
Apalagi cerita berlatang belakang sejarah..
brrrr...rumit dan ruwettt bangettt..
cari referensinya puyenggggg...
Aku salut pada Othor yg sudah mampu menghasilkan hingga ratusan eposod..
👍👍👍👍👍🙏🙏🙏🙏🙏
Maaf..bukan promosi..
Sekedar wujud menghargai karya rumit yg membutuhkan waktu berbulan2, bahkan bertahun2.
Untuk pemirsa yg minat dg certa sejarah Mataram Kuno. Dari Medang hingga Kediri masa Jayabaya.
Silahkan cari karya Kang Ebez..
Keren. ratusan episod dan sudah tamat..
Sayang banget kalau gak dinikmati..
Atau jika kurang puas juga..
Cari aja karya-karya S.H Mintarja..
yg paling fenomenal: Api Di Bukit Menoreh..
Jaman runtuhnya Pajang, dan berdirinya Mataram.
banyak tuh di wordpress
sampai ribuan episod..
sampai ganti penulis 3x belum tamat...masih on going..
🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏