Sebuah kecelakaan mengubah hidup Nara Anindya selamanya. Saat membuka mata, dia terbangun di tubuh Bianca Ardhana, istri CEO tempatnya bekerja, sementara tubuhnya sendiri telah dimakamkan. Di balik rumah tangga yang tampak sempurna, tersimpan pengkhianatan, ancaman, dan rahasia yang belum terungkap. Mampukah Nara mengembalikan kebahagiaan keluarga itu tanpa kehilangan hatinya sendiri?
Jangan lupa like dan votenya ya. terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waya520, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri CEO Yang Berbeda
Mobil hitam milik keluarga Ardhana sudah berhenti tepat di depan sebuah hotel berbintang.
Seorang petugas segera datang dan membukakan pintu. "Selamat datang, Pak Elvano." sapa nya ramah.
Elvano turun lebih dulu, dia lalu berjalan memutar ke sisi Nara. Tanpa berkata apa pun, dia mengulurkan tangannya ke arah sang istri.
Nara sempat terdiam. Hingga beberapa detik kemudian, tanpa ragu dia meletakkan tangannya di atas telapak tangan Elvano. "Terima kasih."
Elvano hanya mengangguk pelan kemudian menggenggam tangan istrinya dan menggandeng wanita itu untuk masuk.
Mereka berjalan memasuki ballroom bersama. Di dalam ruangan, puluhan pengusaha dan investor telah berkumpul. Para tamu langsung menyapa Elvano begitu melihatnya.
"Pak Elvano."
"Lama tidak bertemu."
"Selamat siang."
Elvano membalas setiap sapaan dengan ramah.
Sementara Nara hanya mengikuti di sampingnya sambil tersenyum sopan.
"Pak Elvano."
Seorang pria paruh baya menghampiri mereka. "Saya dengar proyek Ardhana Group di Surabaya berjalan lancar."
"Iya pak."
"Semoga kerja sama kita terus berlanjut." ucap pria paruh baya itu.
"Tentu." jawab Elvano seadanya.
Pria tua itu akhirnya kemudian menoleh kepada Nara. "Bu Bianca, Anda terlihat berbeda hari ini."
Jantung Nara langsung berdegup. "Be... berbeda bagaimana ya?" tanyanya gugup. Bahkan tangannya yang digenggam Elvano mulai gemetaran, dan pria itu menyadarinya.
"Saya hampir tidak mengenali Anda."
Sebelum Nara lebih panik, pria itu tertawa kecil. "Dulu Anda selalu memakai perhiasan yang mencolok."
"Hari ini justru sederhana." sambung pria itu terdengar ramah.
"Tapi lebih anggun."
Nara mengembuskan napas lega. "Terima kasih."
Elvano melirik sekilas ke arah Nara, dia mengelus punggung tangan wanita itu, mencoba menenangkannya hingga getaran tangan istrinya berkurang.
Mendengar pujian pria paruh baya itu membuat sudut bibirnya terangkat tipis. Ternyata bukan hanya dia yang berpikiran seperti itu.
Istrinya sekarang terlihat jauh lebih elegan.
Tidak lama kemudian, seorang wanita bergaun merah menghampiri mereka.
"Elvano."
Nada suaranya terdengar begitu akrab. Nara menoleh. Dan dia melihat wanita itu cantik dan percaya diri.
Rambutnya disanggul rapi, sementara senyumnya tampak begitu lebar saat menatap Elvano.
"Sudah lama tidak bertemu. Siska." sahut Elvano yang mengangguk singkat.
"Apa kabar?" tanya Elvano ramah.
"Baik." jawab Siska lalu melirik ke arah Nara yang masih diam di tempatnya.
"Ini pasti Bianca. Senang bertemu lagi." sapa Siska.
Nara mengulurkan tangan. "Senang bertemu dengan Anda."
Siska membalas jabat tangan itu, tetapi senyumnya tampak dipaksakan. "Aku dengar setelah kecelakaan, kamu berubah banyak." tanyanya penasaran.
"Iya." jawab Nara seadanya. Tapi dia tetap tersenyum sopan. "Mungkin Tuhan ingin memberiku kesempatan untuk memperbaiki diri."
Jawaban itu membuat beberapa tamu yang berdiri di sekitar mereka mengangguk kagum.
Siska justru mengepalkan jemarinya pelan. Dia berharap Bianca tetap menjadi wanita dingin seperti dulu. Bukan seperti sekarang.
Acara makan siang pun dimulai. Elvano dan Nara duduk di meja yang sama dengan beberapa investor.
Pelayan mulai menyajikan hidangan. Saat Elvano hendak mengambil gelas, ponselnya berdering.
"Maaf."
Dia berdiri untuk menerima panggilan penting. Sementara itu, pelayan datang membawa semangkuk sup panas.
Tanpa sengaja, mangkuk itu hampir mengenai tangan Elvano yang lupa mendorong kursinya.
"Hati-hati!" Refleks Nara menarik kursi Elvano ke belakang.
Sup panas itu hanya menetes ke lantai.
"Maaf, Pak." Pelayan langsung membungkuk berkali-kali.
"Tidak apa-apa." Jawab Elvano tenang. Jantungnya berdetak kencang karena hampir saja tubuhnya tersiram sup panas.
Dia lalu menoleh kepada Nara. "Kamu tidak apa-apa?" tanyanya cukup khawatir, takutnya sup itu mengenai istrinya. Dia mengambil tangan istrinya dan memeriksanya. Untungnya tidak ada luka ataupun memar disana.
Nara terkekeh lalu mengangguk. "Aku tidak apa-apa."
Salah seorang investor tertawa kecil melihat adegan mesra di depannya. "Pak Elvano benar-benar beruntung. Istri Anda sigap sekali." pujinya yang membuat Nara merasa malu, dengan pelan dia melepaskan genggaman suaminya.
Elvano tidak menjawab. Namun tatapannya pada Nara berubah sedikit lebih lembut.
Di sisi lain ruangan...
Siska memperhatikan semuanya dengan rahang mengeras. "Kenapa..." gumamnya pelan. "Bianca yang sekarang sangat berbeda."
Dia mengenal Bianca sebelum kecelakaan. Wanita itu bahkan tidak pernah peduli pada Elvano. Bahkan sering sengaja mempermalukannya di depan orang lain.
Tapi sekarang. Tatapan Bianca dipenuhi perhatian yang tulus. Perubahan itu membuat Siska merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Selesai makan siang, para tamu mulai berbincang santai. Nara berdiri di dekat meja minuman sambil menikmati segelas jus jeruk.
Saat itulah Siska menghampirinya. "Bisa kita bicara sebentar?"
"Tentu." tanpa ragu Nara mengiyakan permintaan Siska.
Mereka berjalan menuju balkon hotel yang lebih sepi. Angin bertiup pelan. Siska menatap Nara tanpa senyum.
"Bianca." panggilnya memecah keheningan.
"Iya?"
"Apa sebenarnya yang terjadi setelah kecelakaan itu?" tanya Siska yang mencoba mengulik informasi. Rumor yang dia dengar, Bianca langsung berubah setelah kecelakaan itu. Dan sekarang dia melihatnya sendiri. rasanya aneh melihat Bianca yang biasa angkuh kini berubah jadi kalem.
Nara berusaha tetap tenang. "Maksud Anda?" tanyanya seolah tidak tahu apa-apa. Dia harus tahu dulu, siapa Siska dan apa hubungannya dengan Bianca.
bisa jadi wanita itu sahabat Bianca, bisa juga musuh Bianca, dia harus tetap waspada. Karena disini, dia tidak tahu yang mana teman yang mana musuh.
"Aku mengenalmu sudah bertahun-tahun. Kamu bukan wanita yang suka tersenyum. Kamu juga tidak pernah memperhatikan Elvano." Siska menghentikan ucapannya, dia memajukan wajahnya ke arah Bianca, melihat dengan jelas perubahan wanita itu. wajah Bianca tidak seangkuh biasanya.
"Tapi sekarang. kamu bahkan terlihat mencintainya." sambungnya lalu menarik wajahnya.
Jantung Nara berdegup kencang. Dia memberanikan diri menatap lurus ke arah Siska. "Lalu menurutmu, apakah berubah menjadi lebih baik itu salah?" tanyanya santai.
Siska terdiam. "Aku hanya merasa kamu seperti orang lain."
Kalimat itu membuat napas Nara tercekat.
Belum sempat dia menjawab, suara Elvano terdengar dari belakang.
"Bianca." Nara langsung menoleh.
Elvano berjalan mendekat. "Acara sudah selesai. Ayo kita pulang." tanpa ragu, dia meraih tangan Nara lalu menggenggamnya. semua itu tidak luput dari perhatian siska.
Dia heran, tidak ada penolakan dari Bianca, biasanya wanita itu tidak mau bersentuhan apalagi dekat-dekat dengan suaminya. tapi sekarang....
Sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan Bianca.
Sebelum mereka benar-benar pergi, Siska kembali menatap Nara yang mulai menjauh darinya. Tatapan nya terlihat penuh rasa curiga.
Nara menggenggam tangan Elvano erat. Akhirnya dia berhasil melewati satu ujian.
Namun kini bukan hanya Damian yang mulai mencurigainya. Ada orang lain yang mulai mempertanyakan perubahan Bianca.
Dan itu bisa menjadi ancaman baru bagi rahasia yang selama ini dia simpan rapat-rapat.