"Meja bundar.. apa itu??"
"Meja yang jadi mitos kelam warga sini. Katanya, kalau sampai ada pendatang yang masuk ke sini dan hilang, udah pasti nggak akan balik, mereka semua pasti mati."
"Siapa kakek sebenarnya??"
"Kakek bukan orang biasa, dia.."
Kara, seorang gadis berusia tujuh belas tahun, terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya dan pindah ke desa terpencil bersama ayahnya. Desa itu sunyi, tertutup, dan dipenuhi tatapan curiga dari warga yang enggan berbicara tentang masa lalu. Di rumah peninggalan kakeknya, Kara menemukan sebuah meja bundar tua yang tergeletak di ruang bawah tanah berukuran pas untuk delapan orang, dengan ukiran aneh di setiap sisinya yang seolah menyimpan rahasia terpendam.
Bisakah Kara mengungkap apa sebenar nya meja bundar itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS.18. Meja bundar.
Kara semakin masuk kedalam dan kemudian dia akhir nya berdiri tepat di depan sebuah meja bundar dimana semalam dia melihat perempuan yang berteriak itu di baringkan dan di hilangkan nyawanya di sana. Hanya saja.. Kara tidak melihat ada noda darah segar.. dan juga meja itu di penuhi dengan debu yang tebal.
"Ini meja apa?" Gumam Kara, karena ada ukiran - ukiran aneh di atas nya.
Dan saat Kara perhatikan baik - baik, di sekitar dinding dan lantai nya ada banyak sekali percikan - percikan hitam yang sudah mengering, Kara mengepalkan tangan nya karena saat ini pikiran nya sedang mencari jawaban, menyusun puzzle misteri yang dia temukan.
"SREK!" Kara terkejut saat dia mendengar ada suara seperti seseorang yang berjalan.
Saat Kara mengarahkan senternya ke belakang, ternyata tidak ada siapapun di sana.. yang baru saja menimbulkan bunyi adalah seekor tikus yang baru saja lompat dari satu tempat ke tempat yang lain, tapi yang menjadi fokus Kara saat ini adalah.. ada banyak sekali senjata tajam yang berjejer menempel di dinding dan salah satu nya adalah kapak, kapak yang sama dengan yang Kara lihat semalam.
'Itu kapak nya..' Batin Kara, kapak yang dia lihat semalam, pikiran nya makin sulit mencerna sekarang.
Selain ada banyak senjata tajam, Kara juga melihat ada banyak alat pendingin makanan atau freezer yang berjejer di sana dan ada banyak sekali panci - panci berukuran besar dengan kompor semawar berukuran besar di bawah nya, mirip - mirip tempat produksi bakso dalam skala besar.
Semakin Kara berpikir, pikiran nya semakin mengarah ke hal yang tidak lazim. Dan karena pikiran nya sendiri, Kara pun mual.. Kara buru - buru keluar dari ruangan itu dan keluar menuju ke teras rumah dan..
"Hooekk!!"
"HOEK!!"
Kara muntah - muntah, perut dan kepala nya sudah tidak bisa di kondisikan. Kara akhir nya pergi ke rumah utama dan dia bersender di atas sofa sambil memejamkan matanya yang sudah berkunang - kunang dan berputar seperti mengalami Vertigo.
Tapi.. sedetik kemudian pendengaran Kara terhenyak dalam keheningan, Telinga nya berdenging tidak ada suara apapun yang terdengar selain suara tetesan air. Kara tidak tahu itu air apa, dia juga tidak bisa membuka matanya tapi jika Kara fokuskan pendengaran nya tetesan air itu seperti tetesan air keran.
"Tolong.. Kara.."
DEG!!
Kara langsung bisa membuka matanya sedetik setelah dia mendengar suara minta tolong dari Caca. Kara langsung duduk tegak dan dia kemudian menghampiri kamar mandi, tapi dia tidak menemukan Caca di sana..
"CA!!" Teriak Kara, dia panik sekarang.
Kara kembali ke sofa dan menghubungi ayah nya dengan panik, Kara takut sesuatu yang tidak semestinya terjadi pada teman - teman nya apalagi Caca juga bilang dia di kejar oleh bapak - bapak tua yang membawa golok besar. Kara tidak tahu itu nyata atau tidak tapi semua hal yang dia alami terlalu jelas untuk di katakan halu, dan syukur nya panggilan itu di angkat.
"Halo, ayah.. ayah tolong temen - temen aku, Yah.. temen - temen aku hilang di rumah kakek." Ucap Kara, di seberang sana ayah nya terdengar terkejut.
"Kok bisa, dek?!" Tanya ayah nya, Kara pun menjelaskan semua hal yang terjadi.
Semuanya, dari niat awal nya yang hanya ingin agar dia ada teman selama ayah nya tidak ada karena ada hal aneh yang dia alami selama di tinggal ayah nya. Ayah Kara yang mendengar itu tampak khawatir, dan mengatakan akan segera pulang.. tapi se cepat - cepat nya ayah Kara yang megatakan akan pulang, tidak mungkin hari itu juga sampai karena dia berada di kota lain dan juga keadaan masih di awasi ketat.
Kara kini hanya bisa menangis.. dia duduk di bawah sofa dan menangis memeluk dirinya, dia tidak tahu apa yang terjadi tapi dia yakin sesuatu yang mengerikan sedang mengintai nya dan juga teman - teman nya.
"Caa.. Usi.. kalian dimana..'' Gumam Kara dalam isak tangis nya.
Dan setelah menunggu lumayan lama, Putri pun kembali datang membawa seorang laki - laki yang kira - kira sudah berusia sekitar 58 tahun yang tubuh nya sangat kurus sampai mata nya terlihat sangat besar saking cekung nya. Kara tidak tahu dia siapa.. tapi selain membawa laki - laki itu, Putri juga membawa seorang perempuan yang kemungkinan adalah kakak nya Putri.
"Teh.. teteh ada ketemu sama temen - temen nya teteh?" Tanya Putri, sesaat setelah mereka berhadapan, dan Kara menggelengkan kepala nya dengan sedih.
"Ini ayah nya Putri, teh.. dan ini teteh nya Putri." Ucap Putri, Kara pun memperhatikan perempuan itu.. itu bukan Nurma, bukan perempuan yang selalu datang saat sore hari di rumah itu.
"Nama teteh siapa?" Tanya Kara, dan kakak nya Putri pun tersenyum sambil lalu menjawab..
"Nama saya, Lilis.." Ucap nya.. Tentu Kara hanya bisa terdiam mendengar itu, membuktikan bahwa memang Nurma bukan lah kakak nya Putri seperti yang Kara kira.
Dan tatapan Kara kemudian beralih pada pria yang Putri panggil sebagai ayah nya, yang mana dialah mang Jupri.
"Neng teh lihat apa?" Tanya mang Jupri dengan logat Sunda nya, Kara rasanya tidak sangggup menceritakan semua nya.
"Kita masuk dulu, pak." Ucap Kara dan mang Jupri pun mengangguk.
Mereka akhir nya masuk ke dalam, Kara mempersilahkan mereka semua duduk dan dia sendiri duduk di hadapan mereka bertiga.
"Pak Jupri, bapak kan udah lama banget ikut kerja di rumah ini.. bapak pasti tau kan apa yang sebener nya terjadi di rumah ini?" Tanya Kara, mang Jupri terlihat sejenak diam..
"Tolong saya, pak.. Kedua temen saya hilang. Mereka nggak salah apapun, kami nggak ngerti apapun yang terjadi di sini." Ucap Kara, dia meraung dan terisak - isak.
Kara bahkan sampai merosot dari sofa dan bersimpuh di depan mang Jupri sampai mang Jupri merasa tidak enak hati. Kara tidak mau kedua teman nya kenapa - kenapa, apalagi dia yang mengajak mereka untuk datang ke rumah kakek nya.
"Teteh, aduh! Jangan begini atuh, teh.." Ucap Putri dia merosot dari sofa mencoba menghalangi Kara.
"Neng, jangan begini.." Kakak nya Putri bahkan ikut menimpali, tapi Kara menggeleng dan malah menggenggam tangan mang Jupri.
"Tolong pak, bantu saya.. Bantu cari temen - temen saya yang ilang, aku nggak tau kemana mereka." Ucap Kara, mang Jupri yang segan pun akhir nya mengangguk - angguk sambil juga menangis.
"Mamang bantu, neng.. Mamang bantu, sok atuh bangun dulu." Ucap mang Jupri, dia mencoba menunda tubuh Kara, dan akhir nya Kara pun mau bangun.
"Neng Kara teh lihat apa selama di sini?"
BERSAMBUNG!