Seorang gadis cantik bernama Arun yang memiliki kisah hidup rumit dan penuh lika-liku. Seorang anak tunggal yang dibesarkan oleh sang nenek yang sangat menyayanginya melebihi kasih sayang orang tuanya sendiri. Arun berpikir kehidupan pernikahan menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki cerita hidupnya. Bio, laki-laki yang lebih tua empat tahun dari dirinya menjadi suami Arun atas dasar sebuah perjodohan. Mungkin harusnya Arun sadar diri sejak awal, mereka bukan ditakdirkan tapi dipaksakan meski mereka merasa tidak ada perasaan keterpaksaan dalam mmenjalaninya. Akankah ada keajaiban dari sebuah rasa yang terasa dipaksakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon citaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIGAPULUHEMPAT
"Arun, cuma kamu yang bisa buat Akbar liat aku seutuhnya" ujar Bella.
Arun mengangkat kepala menatap Bella, "maksud lo?" tanya Arun.
"Kamu yang harus menghindar dari Akbar".
"Kalo gue bilang gue udah pernah coba buat menghindar dari Akbar dan gagal, lo percaya?".
Bella hanya diam sambil menatap Arun. Arun langsung menarik napas lalu menghembuskannya dengan kasar, "menurut gue yang perlu lo lakuin adalah fokus sama hubungan kalian. Dan lo gak perlu sampe harus dateng ke gue, karena disini bukan gue yang berusaha buat deketin Akbar" jelas Arun.
"ARUNNN!"
teriakan tersebut membuat Arun langsung mengalihkan pandanganya pada sumber suara. Tia sedang berlari menuju dirinya dan Bella berada.
"Lo belum masuk kelas?" tanya Arun.
"Harusnya gue yang nanya, kenapa lo gak masuk-masuk ke ruangan?" tanya balik Arun.
Tia merapihkan bajunya yang terlihat sedikit bergeser saat dibawa lari tadi, "terus ini lo, ngapain disini?" tunjuk Bella sambil melihat ke arah Arun.
"Aku duluan" pamit Bella langsung kemudian pergi meninggalkan Arun dan Tia.
"Eh-eh, lo abis ngomong apaan sama pick me itu?" tanya Tia sambil menatap punggung Bella.
Arun menggelengkan kepala, "gak penting, kelas aja" ujar Arun melangkah pergi.
Tia langsung berjalan menyamakan langkahnya dengan Arun, "soal Akbar?" tebak Tia.
Arun menganggukan kepala, "emang dia gak tau kalo lo udah punya suami dan suami lo itu bosnya dia" mulut Tia terus saja nyerocos tanpa rem.
"Engga, dan cuma lo yang tau. Jadi gue harap mulut lo harus hati-hati karena gue gak mau ada yang tau tentang pernikahan gue" ujar Arun setelah berhenti melangkah.
"Kalo gue jadi lo, gue gak bakal sembunyiin malah gue bakal buat pengumuman apalagi suaminya ganteng kayak modelan pak Bio" Tia mengatakan hal tersebut sambil tersenyum.
"Untung istrinya bukan lo".
Arun kembali melangkahkan kakinya kembali, "kenapa emang gue aneh?".
Tia mengejar Arun dan berjalan disampingnya, "lo tuh yang aneh, suami diambil orang baru tau rasa!" ledek Tia sambil menyunggingkan sebelah bibir atasnya.
Arun tidak lagi meladeni kelakuan temannya yang abstrak tersebut.
Tidak terasa mereka sudah sampai di ruangan yang mereka tuju. Semua mahasiswa yang lain sudah duduk menunggu kedatangan dosen.
"Tau ngaret mah gue gak bangun pagi-pagi tadi!" keluh Tia yang baru saja memilih bangku bersama Arun yang berada di bagian belakang.
"Emang dosennya kemana?" tanya Arun.
"Entah, gak ngasih pemberitahuan apa-apa di grup".
Baru lima menit lamanya mereka duduk tiba-tiba salah satu mahasiswa maju kedepan sambil membawa ponsel ditangannya.
"Mohon perhatiannya, gue dapet pesan dari pak Dito kalo hari ini beliau gak bisa masuk" ujar Arya dimana terkenal sebagai asisten dosen Dito.
"Ya allah! Kenapa gak bilang dari pagi"
"Tau ihh, gue tuh cuma ada kelas ini doang. Dan sekarang gagal pula!"
"Masa make up gue dihapus lagi. Mending ke mall lah"
Teriak mahasiswi yang lain meluapkan kekecewaannya karena kelas dibatalkan. Bukan kecewa karena tidak belajar namun karena mereka rugi bangun pagi.
"Terus gimana? Pulang langsung ajalah" ucap salah satu mahasiswa.
"Eh bentar, ini pak Dito suruh kita buat proposal tentang materi yang kita akan bahas ini. Pertemuan berikutnya kita bahas" jelas Arya.
Setelah mengatakan itu Arya kembali ketempatnya. Sedangkan beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang lain sudah ada yang meninggalkan ruangan tersebut.
"Anjirr! Kalo gitu bilang aja di grup!" kesal Tia sambil menempelkan wajahnya di meja didepannya.
Arun langsung memasang wajahnya dengan ekspresi kesal namun langsung membereskan kembali beberapa barangnya dan dimasukan kembali kedalam tasnya, "tai emang!" gumam Arun.
Tia dan Arun keluar dari ruangan tersebut, "lo bawa motor gak?" tanya Tia pada Arun sambil melihat jauh ke depan.
"Motor gue lagi di bengkel".
"Ckk, terus lo pulang gimana?" tanya Tia.
"Naik bus".
Arun langsung berjalan, Tia yang melihat awalnya hanya diam. Namun langsung mengikuti langkah Arun, "lo mau kemana?" tanya Arun saat berhenti lalu berbalik arah menatap Tia yang ada di belakangnya.
Tia menggelengkan kepala sambil mengerucutkan bibirnya, "gue juga gak tau".
"Motor lo?" tanya Arun.
"Tadi pagi gue dianterin mama" balas Tia.
Arun menghela napasnya, "lo mau ikut gue ke Cafe?" tawar Arun.
Tia langsung menghampiri Arun, "Cafe pak Bio?" tanya Arun.
"Kenapa lo girang banget? Jadi kalo bukan Cafe pak Bio, lo gak mau?" tanya Arun dengan nada bicara yang sewot.
Tia merasa tidak enak, "bukan gitu, kalo ke Cafe punya suami lo kan. Gue gak perlu bayar" ucap Tia sambil menggelendot pada tangan Arun.
"Enak aja lo! Dia juga kerja itu. Lo kira".
"Iya elah. Gue juga tau dia punya istri yang harus dikasih nafkah".
"Itu lo tau".
"Eh, tapi kok lo kesana? Karyawan yang lain udah tau lo istrinya?" tanya Tia heran.
Arun melepaskan tangan Tia dari tangannya, "engga, gue balik kerja disana lagi" jawab Arun.
"Apa? Kerja?".
Arun menganggukan kepala, "udah nanti gue jelasin. Lo mau ikut gak? Nanti ketinggalan bus kalo gue cerita dulu".
"Ikut lah".
Arun Tia sudah sampai di halte namun belum sempat mereka duduk dikursi tunggu ternyata bus yang mereka tunggu sudah datang. Arun dan Tia langsung masuk dan memilih kursi yang berada dibarisan sebelah kanan supir.
"Jadi ceritanya?" Tia langsung menodong Arun.
Arun melihat sekilas pada Tia, "gue bantuin Cafe balik rame kayak dulu lagi" ujar Arun.
"Tapi itu bukan maunya gue, Akbar, bang Dimas sama bang Erik yang ngusulin gue ke pak Bio" lanjut Arun.
"Terus?".
"Terus apa? Ya udah lah gue mau".
Tia menatap Arun dengan mata penuh menyelidik, "gue gak yakin lo setuju gitu aja. Di gaji berapa lo?" tanya Tia.
"Permintaan".
"What?? Jadi lo bebas minta apapun?".
Arun menganggukan kepala, "terus lo minta apa?".
Diam cukup lama Arun untuk menjawab pertanyaan Tia, "mobil? Rumah? Aset? Apa Run?" Tia mencoba menebak-nebak karena Arun terlalu lama diam.
"Cerai" balas Arun dengan kepala tertunduk.
Tia cukup kaget mendengar kata yang keluar dari mulut Arun. Tia mendadak kelu saat Arun mengatakan kata Cerai.
"Bio nyakitin lo?" tanya Tia.
Arun menggelengkan kepala, "kita berdua saling menyakiti satu sama lain Ti. Dan menurut gue itu keputusan yang tepat, makanya gue yang akan menggugat dia".
"Menurut gue masih ada solusi lainnya Run. Mau bagaimanapun gue tetap lihat cinta di mata Bio buat lo. Jadi gue harap lo pikir-pikir lagi buat ambil keputusan besar kayak gini" jelas Tia.
"Itu karena sandiwara dia didepan lo" batin Arun sambil menatap Tia.
"Terus Bio tau keputusan lo?" tanya Tia kembali.
"Tau, bahkan papa mertua gue, bang Adit tau itu".
"Gila ya lo!".
"Gue sama Bio gak cocok Ti, kita beda. Kita berdua sama-sama terpaksa jalanin perjodohan ini" jelas Arun.
Tia mengacak rambutnya.
"Lo gak di posisi gue Ti" gumam Arun setelah melihat tingkah Tia.
"Run?" panggil Tia.
Arun beralih menatap Tia saat sedang menatap jalanan melalui kaca jendela, "sekarang lo sama Bio gimana?" tanya Tia.
"Biasa".
"Eh bentar. Tapi kan permintaan itu bakal lo dapetin saat misi lo buat balikin Cafe jadi rame lagi berhasilkan?" tanya Tia.
"Iya" balas Arun dengan malas.
Puk!
"Eh! Jangan sampe lo punya pikiran kotor lo itu buat gagal in rencana gue buat bantu cafe ya!" ucap Arun dengan mode serius.
Tia yang mendapat pukulan dipundaknya dari Arun tersebut langsung mengusap-usap menggunakan tangannya, "suka-suka gue lah!" ujar Tia dengan wajah kesal.
"Gak boleh! Ini tuh juga buat ajang nunjukin sama pak Broto kalau Kak Bio, maksud gue ... Bio" ralat Arun dengan cepat.
Sedangkan Tia sudah memandang Arun sambil menyipitkan mata, "Bio mau nunjukin sama papanya kalo dia bisa buat handle Cafe itu dengan usaha sendiri. Jadi lo jangan macem-macem deh pokoknya!" Arun memperingati sahabatnya tersebut.
"Elah, peduli juga lo!" sindir Tia.
Arun yang mendengar itu, hanya berlagak tidak mendengar apapun. Akan semakin terbongkar banyak nantinya jika Arun harus terus beradu argumen dengan Tia.
"Arun? Lo mau ngelamun sampe ke daerah Cibaduyut?" tanya Tia.
"Hah?" Arun langsung tersadar dan melihat Tia yang sudah berdiri disamping kursi mereka.
"Turun. Udah sampe" Tia mengatakan hal tersebut langsung berjalan untuk turun dari keluar bus.
Arun langsung mengikutinya.
Masih butuh waktu sekitar sepuluh menit dengan berjalan kaki untuk sampai di Cafe. Tia berjalan lebih dulu sedangkan Arun tepat dibelakangnya, berjalan sambil menunduk melihat ujung sepatunya yang setiap kali berganti kanan-kiri.
"Arun?"
Pandangan Tia memang sudah memperhatikan orang tersebut sejak tadi. Tia langsung membalikan tubuhnya untuk melihat Arun karena tidak mendengar Arun bersuara sedikitpun.
"Woy! Dipanggil noh!" ujar Tia.
Arun langsung menghela napas dan mengangkat kepalanya lalu pandangannya bertemu dengan Bio yang sedang menatap dirinya.
Arun membuka matanya lebar saat Bio ternyata melangkah menuju dirinya.
Tbc.