meylani yang sedang putus cinta dengan Andrian membuat nya mengambil keputusan untuk menerima tawaran dipindahkan ke Surabaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiket Satu Arah ke Kota Pahlawan
Seminggu setelah malam hujan itu, atmosfer di kantor pusat divisi pemasaran berubah menjadi tegang namun penuh antisipasi. Sebuah pengumuman resmi telah beredar di intranet perusahaan: Ekspansi Besar-Besaran ke Jawa Timur. Perusahaan, yang selama ini berfokus kuat di Jawa Tengah, memutuskan untuk membuka cabang utama di Surabaya guna menangkap pasar industri yang lebih luas.
Meylani sedang duduk di mejanya, menatap layar komputer yang menampilkan data penjualan kuartal terakhir, ketika asistennya memanggil.
"Mbak Meylani, Bapak Direktur meminta kehadiran Mbak di ruang rapat utama. Sekarang."
Jantung Meylani berdegup sedikit lebih cepat. Apakah ada masalah dengan klien Graha Properti? Atau mungkin evaluasinya kurang baik? Ia merapikan blazernya, mengambil buku catatan, dan berjalan menuju lantai atas.
Ruang rapat utama itu luas, dengan dinding kaca yang menghadap langsung ke pemandangan kota Semarang. Di dalam, selain Bapak Direktur, ada juga Ibu HRD dan seorang pria berwajah tajam yang dikenalnya sebagai Kepala Cabang baru untuk wilayah Jawa Timur, Pak Budi.
"Silahkan duduk, Meylani," sapa Bapak Direktur dengan senyuman tipis yang sulit dibaca.
Meylani duduk, menjaga postur tubuhnya tetap tegak. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?"
Bapak Direktur menyodorkan sebuah map tebal berwarna biru tua ke hadapan Meylani. "Kami telah memantau kinerja Anda selama tiga bulan terakhir, khususnya keberhasilan Anda menangani akun PT Graha Properti dan efisiensi strategi digital yang Anda terapkan. Hasilnya melampaui ekspektasi kami."
Meylani mengangguk sopan, menunggu kelanjutan kalimat itu.
"Karena itu," lanjut Bapak Direktur, suaranya menjadi lebih serius, "perusahaan ingin menawarkan Anda posisi baru. Bukan sekadar promosi vertikal, tapi juga ekspansi horizontal. Kami ingin Anda menjadi Head of Marketing untuk cabang baru kami di Surabaya."
Hening sejenak. Kata-kata itu menggantung di udara, berat dan bermakna.
Surabaya.
Kota yang hanya berjarak beberapa jam dari Semarang, namun terasa seperti dunia lain. Kota yang sibuk, keras, dan penuh peluang. Kota yang jauh dari Joglo Langit, jauh dari kenangan-kenangan manis dan pahit bersama Andrian.
"Saya... saya, Pak," kata Meylani pelan, mencoba mencerna informasi itu. "Tapi apakah ini berarti saya harus pindah domisili?"
Pak Hananto, Kepala Cabang Surabaya, akhirnya berbicara. Suaranya berat dan berwibawa. "Ya, Nona Meylani. Posisi ini menuntut kehadiran fisik penuh di Surabaya minimal dua tahun pertama. Kami butuh seseorang yang bisa membangun tim dari nol, memahami kultur pasar Jawa Timur yang berbeda, dan memimpin strategi branding kami di sana. Gajinya naik 40% dari posisi Anda sekarang, plus tunjangan perumahan dan transportasi."
Empat puluh persen. Angka yang fantastis. Tapi harganya adalah meninggalkan kenyamanan rumah orang tuanya, meninggalkan Rina, dan meninggalkan Semarang.
Menginggalkan Andrian?
Secara teknis, mereka sudah putus. Tidak ada ikatan resmi yang menghalangi Meylani pergi. Namun, secara emosional, Semarang adalah kota di mana akar hubungannya dengan Andrian tertanam. Setiap sudut kota ini menyimpan jejak mereka. Pergi ke Surabaya berarti memutuskan tali terakhir yang menghubungkannya dengan masa lalu itu.
"Berapa tenggang waktu keputusan saya, Pak?" tanya Meylani.
"Anda punya waktu tiga hari untuk mempertimbangkan," jawab Ibu HRD. "Ini keputusan besar, Meylani. Tapi kami yakin Anda adalah orang yang tepat. Insting bisnis Anda tajam, dan Anda memiliki ketahanan mental yang kami butuhkan untuk pasar yang kompetitif seperti Surabaya."
Meylani keluar dari ruang rapat dengan kepala yang sedikit pusing. Ia berjalan kembali ke mejanya, namun tidak langsung bekerja. Ia menatap keluar jendela, memandang gedung-gedung Semarang yang akrab.
Jika ia menerima tawaran ini, ia akan benar-benar sendirian di kota orang. Tidak ada ibu yang membuatkan soto ayam setiap malam. Tidak ada ayah yang membaca koran di ruang tengah rumah nya. Ia harus mencari tempat tinggal baru, beradaptasi dengan rekan kerja baru, dan membuktikan dirinya dari nol lagi.
Tapi jika ia menolak? Ia akan tetap di sini. Tetap melihat nama Andrian muncul di berita lokal. Tetap melewati Joglo Langit dan merasa nyeri. Tetap hidup dalam bayang-bayang "mantan kekasih jaksa".
Ponselnya bergetar. Pesan dari Rina.
"Gimana meetingnya? Kelihatannya serius banget tadi!"
Meylani mengetik balasan, jarinya ragu-ragu.
"Aku ditawari promosi. Head of Marketing di Surabaya."
Balasan Rina datang hampir instan.
"WHAT?! SERIUS?! MEY
, ITU KAN IMPIANMU DARI DULU BUAT KERJA DI KOTA BESAR! Tapi... apa kamu siap ninggalin Semarang? Ninggalin... dia?"
Meylani menatap pesan itu. Ninggalin dia.
Andrian tidak pernah berusaha menghubungi Meylani sejak pertemuan di gerbang rumah dua minggu lalu. Tidak ada pertanyaan, tidak ada kepedulian. Andrian sibuk dengan kasusnya, dengan kariernya, dengan dunianya yang tidak menyertakan Meylani.
Lalu, mengapa Meylani harus bertahan di kota yang hanya mengingatkan dirinya pada penolakan?
Meylani berdiri, mengambil tas kerjanya. Ia butuh udara segar. Ia keluar kantor, berjalan kaki menuju taman kecil di dekat gedung perkantoran. Angin sore berhembus, membawa aroma debu kota dan kemungkinan baru.
Ia membayangkan dirinya di Surabaya. Di kantor baru yang modern. Di apartemen kecil yang ia pilih sendiri. Di jalanan Tunjungan yang ramai. Ia membayangkan dirinya memimpin rapat, memberi arahan, dan dihormati bukan karena siapa pasangannya, tapi karena kemampuannya.
Dan yang paling penting: ia membayangkan kebebasan. Kebebasan untuk menjadi siapa saja tanpa label "kekasih Andrian". Kebebasan untuk memulai kisah baru di halaman yang benar-benar kosong.
Meylani menarik napas dalam-dalam. Udara Surabaya mungkin lebih panas, lebih polusi, dan lebih keras. Tapi bagi Meylani, itu adalah udara kebebasan.
Ia mengeluarkan ponselnya, membuka email dari HRD yang berisi detail penawaran tersebut. Jempolnya melayang di atas tombol "Reply".
Rasa takut masih ada. Rasa sedih karena harus meninggalkan orang tua juga ada. Tapi di atas semuanya, ada rasa penasaran yang mendebarkan. Rasa ingin tahu seberapa jauh ia bisa terbang jika sayapnya tidak lagi dipotong oleh beban emosi masa lalu.
Meylani tersenyum. Senyuman yang tegas.
Ia mulai mengetik.
"Kepada Yth. Bapak Direktur dan Ibu HRD,
Terima kasih atas kepercayaan yang diberikan. Setelah mempertimbangkan dengan matang, saya dengan senang hati menerima tawaran posisi Head of Marketing untuk cabang Surabaya. Saya siap untuk memulai tantangan baru ini dan berkontribusi maksimal bagi pertumbuhan perusahaan di Jawa Timur.
Salam hormat,
Meylani Nur Haliza"
Klik. Kirim.
Selesai. Tidak ada jalan kembali.
Meylani memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia menatap langit Semarang untuk terakhir kalinya sebagai wanita yang terjebak dalam kenangan. Besok, ia akan mulai mengurus surat mutasi, mencari apartemen di Surabaya, dan mempersiapkan diri untuk babak baru hidupnya.
Andrian Alexander mungkin akan mendengar kabar ini dari mulut ke mulut, atau mungkin tidak sama sekali. Itu tidak penting lagi. Karena Meylani tidak pergi untuk menjauh darinya. Meylani pergi untuk mendekati dirinya sendiri.
Langkah Meylani kembali ke kantor terasa lebih ringan. Di depannya, terbentang jalan tol Trans-Jawa yang panjang, menghubungkan Semarang dengan Surabaya. Jalan yang akan ia tempuh, bukan dengan air mata, tapi dengan tekad baja.
Kota Pahlawan menanti. Dan Meylani siap untuk menjadi pahlawan bagi hidupnya sendiri.
...****************...