"Saya bayar Anda mahal bukan cuma untuk mengobati fisik saya, Dok. Tapi juga untuk tanggung jawab karena sudah membuat jantung saya berdegup tidak karuan."
Menjadi dokter pribadi seorang Arkananta Pradipta—CEO arogan yang hobi mengatur—adalah bencana terbesar dalam hidup Ayana. Alih-alih fokus menyembuhkan trauma masa lalu Arka, Ayana malah terjebak dalam pusaran kontrak profesional yang fana, komedi situasi di luar nalar, dan perasaan terlarang yang perlahan mengoyak hatinya.
Saat rahasia kelam masa lalu Arka mulai terkuak, sanggupkah jas putih Ayana bertahan menghadapi dosis cinta yang terlalu mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12. Pembuktian Jas Putih
Mobil Rolls-Royce Phantom berwarna hitam metalik itu membelah jalanan protokol Jakarta dengan kecepatan yang tidak biasa. Di balik kemudi, Pak Joko berkonsentrasi penuh, sesekali membunyikan klakson panjang saat memanfaatkan celah di antara himpitan kendaraan jam berangkat kantor. Lampu hazard berkedip kuning ganda, memberi sinyal darurat terselubung bahwa kendaraan mewah ini sedang membawa urusan hidup dan mati.
Di kursi belakang, keheningan terasa begitu mencekik.
Ayana sibuk mengikat rambutnya kembali dengan kencang, mengubah penampilannya dalam sekejap menjadi mode tempur. Tangannya bergerak memeriksa isi tas medisnya untuk memastikan stetoskop, penlight, dan sarung tangan lateks cadangan sudah siap di posisi paling luar. Di sampingnya, Arka duduk dengan tubuh yang teramat kaku.
Pria itu menatap lurus ke depan. Kedua tangannya bertumpu di atas lutut, dikepalkan begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Setiap kali mobil mereka berpapasan dengan kendaraan yang membunyikan klakson nyaring, atau saat sayup-sayup suara sirine polisi terdengar di kejauhan, Ayana bisa melihat rahang Arka mengencang dan napasnya tertahan selama beberapa detik.
Ayana menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia menatap profil samping wajah Arka yang tampak seperti pahatan es—dingin, keras, namun sebenarnya rapuh di dalam.
"Pak Arka," panggil Ayana lembut, melupakan sejenak ketegangan UGD yang menantinya. "Anda tidak perlu ikut masuk ke dalam gedung UGD nanti. Begitu mobil sampai di lobi drop-off, saya akan langsung turun. Anda bisa langsung menyuruh Pak Joko memutar balik menuju Pradipta Tower."
Arka tidak menoleh. Ia hanya mendeham pendek, suara beratnya terdengar agak tercekat. "Saya tidak selemah itu, Dokter Ayana. Saya sudah katakan, saya adalah pemilik saham mayoritas di sana. Saya hanya ingin memastikan investasi saya berjalan lancar saat menangani bencana seperti ini."
Ayana tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya pelan. “Dasar pria keras kepala. Gengsinya bahkan lebih tinggi dari gedung kantornya sendiri,” batin Ayana. Namun, ia tidak berniat mendebat. Ia meraih botol minyak kayu putih dari tasnya, menuangkan beberapa tetes ke telapak tangannya sendiri, lalu tanpa permisi, ia meraih tangan kanan Arka yang terkepal di atas lutut.
Arka sempat tersentak, hendak menarik tangannya kembali. Namun, Ayana menahannya dengan usapan lembut, meratakan aroma hangat minyak kayu putih itu ke pergelangan tangan Arka, tepat di atas titik nadinya.
"Hirup ini kalau Anda mulai merasa pusing atau sesak nanti," ujar Ayana tenang, menatap sepasang mata elang Arka yang kini beralih menatapnya dengan pandangan campur aduk. "Saya tidak mau setelah selesai menjahit luka korban kecelakaan, saya harus keluar lagi hanya untuk mengurus CEO yang pingsan di lobi."
Arka menatap telapak tangannya yang kini berbau hangat, lalu perlahan mendekatkannya ke hidung. Aroma itu seketika memotong rantai memori buruk yang mulai merayap di kepalanya. "Fokus saja pada tugasmu, Dokter. Jangan cemaskan saya."
"Pak, langsung berhenti di depan pintu otomatis UGD!" seru Ayana begitu mobil memasuki gerbang Rumah Sakit Utama Jakarta.
Suasana di area luar UGD sudah seperti medan perang. Tiga mobil ambulans terparkir dengan pintu belakang terbuka lebar. Suara sirine yang baru datang bersahutan memekakkan telinga, memicu denyut kegaduhan yang luar biasa. Beberapa petugas medis berpakaian scrub hijau berlarian mendorong brankar (ranjang dorong) yang membawa pasien dengan pakaian robek dan lumuran darah. Suara tangisan keluarga korban dan teriakan komando dari dokter senior terdengar tumpang tindih.
Begitu mobil Rolls-Royce Arka berhenti sempurna, Ayana langsung membuka pintu sebelum Pak Joko sempat turun untuk membukakannya. Ia melompat keluar, memakai jas putih dokternya dengan satu gerakan cepat, lalu mengalungkan stetoskop di lehernya.
"Terima kasih tebakannya, Pak Bos! Jaga diri Anda!" teriak Ayana setengah berteriak di antara kebisingan, lalu berlari kencang menembus pintu kaca otomatis UGD yang terbuka lebar.
Arka tetap berada di dalam mobil. Melalui kaca jendela yang gelap, ia memperhatikan punggung mungil Ayana yang kini telah bertransformasi sepenuhnya. Wanita rewel yang semalam memakai kaos kegedeannya dan menangis karena tumis kangkung itu, kini melangkah masuk ke tengah pusaran kekacauan dengan kepala tegak, memancarkan aura otoritas medis yang mutlak.
“Jadi, itu sisimu yang sebenarnya, Dokter Ayana?” gumam Arka dalam hati. Rasa kagum yang aneh mendadak menyusup ke dalam dadanya, menggusur rasa takut yang sejak tadi mengintai jiwanya.
Di dalam UGD, Ayana langsung disambut oleh Suster Tiara, kepala perawat jaga yang wajahnya sudah dipenuhi keringat.
"Dokter Ayana! Untung Anda cepat datang!" seru Suster Tiara sembari memberikan papan klip berisi rekam medis darurat. "Kecelakaan beruntun melibatkan satu bus pariwisata dan lima mobil pribadi. Di Bed 3 ada pasien laki-laki, usia sekitar 35 tahun, trauma dada berat akibat hantaman setir mobil. Kesadaran menurun, tensi drop di angka 80/50, suara napas di paru kanan menjauh!"
"Tension pneumothorax!" analisis Ayana secepat kilat berdasarkan data klinis tersebut. Ia berlari menuju Bed 3, menyingkirkan tirai pembatas tanpa ragu.
Di atas bed, seorang pria paruh baya tampak megap-megap mencari udara, wajahnya mulai membiru (sianosis). Ayana langsung menempelkan stetoskopnya ke dada kanan pasien. Benar saja, tidak ada suara aliran udara. Vena di leher pasien juga tampak melebar—tanda bahwa udara terperangkap di dalam rongga dada dan mulai menekan jantung.
"Suster! Ambil jarum IV kateter nomor 14 sekarang! Kita harus lakukan needle decompression darurat sebelum jantungnya berhenti!" perintah Ayana dengan suara lantang yang memotong seluruh kepanikan di sekitar bed tersebut.
"Baik, Dok!"
Dengan gerakan yang sangat presisi dan tenang, Ayana meraba sela iga kedua pasien di garis pertengahan tulang selangka. Begitu lokasinya tepat, ia menusukkan jarum besar itu dengan mantap.
PSSSHHH...
Suara desisan udara yang keluar dari rongga dada pasien terdengar jelas. Detik berikutnya, monitor hemodinamik di samping bed yang tadinya berbunyi putus-putus panik perlahan mulai menunjukkan grafik yang stabil. Angka tekanan darah merangkak naik ke 110/70. Warna biru di wajah pasien perlahan digantikan oleh rona pucat yang lebih manusiawi. Pasien itu menarik napas panjang, mulai bisa bernapas dengan lega.
"Kerja bagus. Sambungkan ke underewater seal drainage (WSD) sekarang, siapkan untuk transfer ke ruang operasi bedah toraks," instruksi Ayana sembari menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan, tidak menyadari bahwa di balik pintu kaca UGD yang transparan, sesosok pria tinggi berjas hitam sedang berdiri tegak memperhatikan setiap gerakannya.
Arka ternyata turun dari mobil.
Dengan langkah perlahan yang dilawan dengan seluruh kekuatan mentalnya, pria itu berjalan mendekati area lobi dalam UGD. Langkahnya terhenti beberapa meter dari pintu kaca pembatas area steril. Suara sirine di luar masih terdengar, namun entah kenapa, mata Arka hanya terpaku pada satu objek: Ayana yang sedang bergerak lincah dari satu bed ke bed lain, memeriksa pupil pasien, memberikan instruksi pemasangan infus, dan menenangkan korban yang sedang menangis ketakutan.
Jas putih yang dikenakan Ayana... jas yang belasan tahun lalu menjadi simbol kegagalan dan trauma paling mengerikan dalam hidup Arka, malam ini dan pagi ini berubah wujud di depan matanya. Di tubuh Ayana, jas putih itu tidak lagi terlihat menakutkan. Jas itu terlihat seperti sebuah sayap pelindung yang membawa harapan di tengah keputusasaan.
Setiap gerakan tangan Ayana yang cekatan seolah-olah sedang menjahit kembali kepingan trauma yang pecah di dalam hati Arka. Pria itu menyentuh dadanya sendiri. Jantungnya berdegup kencang, namun kali ini bukan karena serangan panik. Melainkan karena sebuah getaran baru yang jauh lebih kuat, sebuah pembuktian nyata bahwa dokter pribadinya ini bukan sekadar wanita sembarangan yang bisa ia kendalikan dengan tumpukan uang gajinya.
Ayana baru saja menyelesaikan penanganan pasien kelima ketika ia membalikkan badannya dan secara tidak sengaja menangkap sosok Arka yang berdiri di luar kaca pembatas.
Ayana tertegun sejenak. Di tengah riuhnya UGD yang berdarah-darah, mata mereka kembali bertemu untuk kedua kalinya hari ini. Ayana memberikan sebuah anggukan kecil dan senyuman tipis yang seolah berkata, “Lihat? Saya bilang juga apa, saya ini dokter yang hebat. Anda aman bersama saya.”
Arka tidak membalas senyuman itu dengan kerutan sinis yang biasa. Ia hanya membalas anggukan Ayana dengan tatapan mata yang dipenuhi oleh rasa hormat yang mendalam—sebuah pengakuan mutlak dari sang monster korporat bahwa kali ini, ia telah menyerahkan kesehatan dan barangkali... seluruh sisa hidupnya ke tangan orang yang sangat tepat.
Bersambung.
💪💪