Saat ujian SMA, Rio menjadi bahan tertawaan satu sekolah karena mengontrak seekor monyet kurus dekil tingkat Warrior (Trash-Rank). Semua orang menganggap masa depannya hancur, namun sebuah panel gaib tiba-tiba muncul di hadapannya:
[Ding! Sistem Push Rank Immortal Aktif!][Target: Monyet Lumpur (Identitas Asli: Sun Wukong - Segel Dewa)][Status Pengguna: SSS-Rank Hidden Power]
Di saat murid lain sibuk pamer kekuatan di sekolah, Rio memilih "mabar" di Dungeon terlarang bersama lima hewan mitologi miliknya: Sun Wukong, Serigala Kegelapan, Qilin, Phoenix, dan Ratu Laba-laba. Ketika gerbang bencana dunia jebol, Rio melangkah maju membawa squad top globalnya yang sudah berada di tier MYTHICAL IMMORTAL!
Siapa bilang dia salah kontrak?
#System #SunWukong #Overpowered #HiddenPower #Evolution #Mythology
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perempuan yang Tidak Percaya Kebetulan
Namanya Arinda Kusuma.
Usia tiga puluh delapan tahun, investigator senior Divisi Anomali Energi Asosiasi Hunter Regional, sudah tiga belas tahun bekerja di bidang yang sama dan dalam tiga belas tahun itu ia tidak pernah sekalipun menutup kasus dengan kesimpulan "kemungkinan kebetulan."
Karena dalam pengalamannya, tidak ada yang namanya kebetulan di dunia hunting.
Ia duduk di ruang tamu kantor kepala sekolah yang sudah dikosongkan khusus untuk keperluannya — meja pinjaman, kursi pinjaman, dan secangkir teh yang sudah dingin karena ia lupa meminumnya sejak tadi. Di depannya, sebuah layar hologram tipis menampilkan data hasil pemindaian energi dari kawasan dungeon pelabuhan yang tim-nya lakukan pagi tadi.
Angka-angkanya tidak masuk akal.
Bukan dalam artian salah atau error — peralatan timnya adalah grade A yang dikalibrasi ulang setiap tiga bulan. Angka-angkanya tidak masuk akal dalam artian bahwa tidak ada penjelasan rasional yang bisa menjawab bagaimana seluruh isi dungeon bintang satu di kawasan pelabuhan bisa terkuras habis dalam satu malam oleh satu sumber energi tunggal.
Satu sumber.
Bukan tim. Bukan kelompok. Satu.
Arinda memperbesar bagian grafik yang menunjukkan pola residual energi yang tertinggal di dinding-dinding gua — jejak energi yang selalu ada setelah pertarungan besar, seperti sidik jari yang tidak bisa dihapus dari tempat kejadian. Pola ini unik untuk setiap makhluk dan setiap tamer, kombinasi yang dalam dunia forensik hunting dikenal sebagai Signature Energi.
Signature energi yang tertinggal di dungeon pelabuhan itu bukan milik monster manapun yang ada dalam database regional.
Yang lebih aneh lagi — dan ini adalah bagian yang membuat Arinda meletakkan cangkir tehnya perlahan-lahan saat pertama membacanya tadi pagi — signature itu secara teknis tidak seharusnya bisa terdeteksi sama sekali.
Seperti seseorang yang meninggalkan sidik jari yang tidak terdaftar di database manapun di bumi ini.
Dua anggota timnya, Bagas dan Ferdi, masuk ke ruangan dengan ekspresi yang sudah Arinda kenali — ekspresi orang yang membawa informasi yang mereka sendiri tidak yakin cara menyampaikannya.
"Laporan pemindaian sekolah selesai, Bu," kata Bagas, meletakkan tablet di meja. "Kami sudah scan seluruh area sekolah dengan detektor residual energi grade dua."
"Dan?"
Bagas dan Ferdi bertukar pandang sebentar — gerakan setengah detik yang tidak luput dari perhatian Arinda.
"Ada anomali kecil di lapangan olahraga," kata Ferdi hati-hati. "Residual energi dari duel pelajar yang terjadi siang tadi. Itu yang besar dan jelas, mudah diidentifikasi — harimau tier Master, signature terdaftar atas nama Kevin Pratama."
"Yang satunya?" Arinda mengetuk meja sekali. Karena jika Ferdi bilang yang besar dan jelas, artinya ada yang tidak besar dan tidak jelas.
Ferdi membuka file di tabletnya, memutarnya menghadap ke Arinda.
Grafik kecil. Sangat kecil dibanding residual harimau Kevin di sampingnya — seperti membandingkan nyala lilin dengan lampu sorot stadion. Tapi polanya ada. Jelas ada. Dan begitu Arinda memperbesar bagian tersebut dan membandingkannya dengan grafik dari dungeon pelabuhan yang masih terbuka di layarnya—
Ia berhenti bernapas selama satu detik.
Polanya sama.
Tidak identik seratus persen — intensitasnya berbeda, skalanya jauh lebih kecil. Tapi struktur dasar signature-nya, pola frekuensi yang unik seperti sidik jari itu, memiliki kesamaan yang terlalu spesifik untuk disebut kebetulan oleh siapapun yang pernah belajar forensik energi selama lebih dari enam bulan.
"Siapa yang bertarung di lapangan siang tadi?" suara Arinda keluar dengan sangat tenang — ketenangan yang sudah dilatih bertahun-tahun agar tidak mengkontaminasi proses investigasi dengan emosi.
"Duel resmi pelajar, Bu. Tercatat di log aktivitas guru." Bagas sudah menyiapkan datanya. "Kevin Pratama kelas sebelas A, melawan—" Ia membaca sekali lagi untuk memastikan. "Rio Albert. Kelas sebelas B."
Arinda mengetikkan nama itu di database yang sudah terbuka di layarnya.
[Rio Albert — Data Pelajar SMA Bakti Bangsa] Usia: 17 tahun Tingkat Energi Terdaftar: Warrior III Bakat Hunter: F-Rank Hewan Kontrak: Kera Batu (Tier: Warrior I — Status: Aktif) Lisensi Hunter: Tidak Ada (Belum Memenuhi Syarat Usia dan Bakat Minimum) Catatan Khusus: Tidak Ada
Arinda membaca profil itu dua kali.
Kemudian membaca lagi.
Warrior III. Bakat F-Rank. Hewan kontrak tier Warrior I. Tidak punya lisensi hunting. Tidak ada catatan apapun yang menonjol di seluruh riwayat pelajarnya.
Di atas kertas, Rio Albert adalah murid paling tidak relevan yang bisa ia temukan di seluruh daftar pelajar sekolah ini.
Dan signature energi yang tertinggal di lapangan olahraga setelah duel siang tadi memiliki pola yang sama dengan anomali yang membuat seluruh tim investigasinya bingung sejak kemarin malam.
Arinda menutup layarnya, berdiri dari kursi, dan berjalan ke jendela. Di bawah sana, lapangan sekolah sudah sepi — jam pelajaran sudah masuk kembali setelah insiden duel tadi. Beberapa murid masih berlalu-lalang di koridor luar dengan tas di punggung.
"Bu Arinda," Bagas memanggil hati-hati dari belakang. "Kemungkinan besar ini cuma kesamaan pola yang tidak signifikan. Margin errornya—"
"Berapa margin error-nya?"
Bagas menghentikan kalimatnya. "Tiga koma dua persen."
Arinda tidak berbalik dari jendela. "Dalam tiga belas tahun karir saya, Bagas, tidak ada satu pun kasus yang akhirnya bisa dijelaskan oleh tiga persen margin error."
Keheningan di belakangnya berlangsung beberapa detik.
"Saya butuh data lebih banyak," lanjut Arinda, suaranya sudah kembali ke nada kerja yang efisien dan dingin. "Lacak seluruh aktivitas Rio Albert dalam dua minggu terakhir. Presensi sekolah, rekaman kamera area sekitar sekolah, dan yang paling penting — cek apakah ada aktivitas energi anomali di radius dua kilometer dari tempat tinggalnya dalam rentang waktu yang sama dengan anomali pelabuhan."
"Siap."
"Dan Bagas." Arinda akhirnya berbalik dari jendela, menatap dua anggota timnya dengan ekspresi yang tidak mengandung keraguan sedikitpun. "Lakukan dengan sangat diam-diam. Tidak ada yang tahu kita sedang melihat ke arah ini. Termasuk pihak sekolah."
Bagas dan Ferdi mengangguk bersamaan, lalu keluar dari ruangan.
Arinda kembali ke mejanya, membuka kembali file grafik perbandingan signature energi itu, dan menatapnya lama.
Warrior III. Bakat F-Rank.
Dalam dunia hunting, ada satu prinsip dasar yang diajarkan di tahun pertama akademi hunter manapun — bakat yang terdaftar adalah bakat yang terukur oleh alat yang ada. Tidak lebih, tidak kurang.
Arinda sudah cukup lama di lapangan untuk tahu bahwa kalimat itu memiliki implikasi yang jarang dibahas secara terbuka: bahwa alat ukur yang ada, secanggih apapun, memiliki batas. Dan jika ada sesuatu yang berada di luar batas kemampuan deteksi alat tersebut—
Ia tidak akan terdeteksi sama sekali.
Atau terdeteksi salah.
Sementara itu, di lantai dua gedung utama, Rio duduk di kelas Bahasa Indonesia dengan buku teks terbuka di depannya dan pikiran yang sedang berada di tempat lain sepenuhnya.
Panel sistemnya menyala di sudut kanan bawah penglihatan — notifikasi pasif yang sudah aktif sejak tadi siang.
[Peringatan Sistem: Terdeteksi Aktivitas Pemindaian Forensik Energi di Area Sekolah]
[Sumber: Peralatan Grade-A Eksternal — Kemungkinan Asosiasi Hunter]
[Status Mode Smurf: AMAN — Signature Energi Asli Tersegel 99.97%]
[Catatan: 0.03% Residual Energi Terdeteksi di Lapangan Olahraga akibat Duel Tadi. Tingkat Bahaya: Rendah — Tidak Cukup untuk Identifikasi Positif dengan Teknologi Saat Ini]
Rio membaca notifikasi itu dua kali, lalu menutupnya.
Tidak cukup untuk identifikasi positif.
Kata-kata yang seharusnya menenangkan. Dan memang menenangkan, sampai batas tertentu.
Tapi Rio juga tahu satu hal tentang investigator yang baik — mereka tidak berhenti di tidak cukup untuk identifikasi positif. Mereka mulai di sana, dan kemudian terus menggali sampai tidak cukup berubah menjadi sesuatu yang lain.
Wukong di pundaknya mencicit sangat pelan, cukup pelan untuk tidak terdengar lebih dari satu bangku.
"Gue tahu," bisik Rio, tanpa mengalihkan pandangan dari buku teks yang tidak ia baca. "Kita perlu lebih hati-hati."
Di dalam tasnya, kotak biola tua bergerak sangat tipis — atau mungkin itu hanya getaran dari langkah murid yang berjalan di koridor luar.
Tapi panel sistem menyala satu detik kemudian dengan update yang membuat Rio diam selama tiga detik penuh.
[Update: Abyssal Goddess Weaver]
[Status Dormansi: 5.3% Sinyal Jiwa Terdeteksi]
[Catatan Baru: Entitas mendeteksi ancaman eksternal terhadap Pengguna. Respons defensif bawah sadar mulai aktif — Segel Dormansi melemah dari dalam.]
Rio menatap angka itu.
Lima koma tiga persen.
Dari dua koma satu persen tiga jam lalu.
Ia melirik ke arah tasnya yang tergantung di kait samping bangku, kemudian melirik kembali ke buku teksnya.
Makhluk yang sudah delapan puluh tahun tidak bergerak itu rupanya punya satu hal yang berhasil membuatnya bereaksi dari dalam dormansinya — bukan percakapan yang Rio lakukan di atap tadi pagi, bukan musik yang ia putar tiga hari lalu.
Ancaman terhadap Rio.
Rio menarik napas pendek melalui hidungnya, menatap papan tulis di depan kelas yang menampilkan analisis puisi yang sama sekali tidak ia ikuti.
Di lantai bawah gedung yang sama, seorang investigator senior sedang membandingkan grafik signature energi dengan sangat teliti.
Dan di dalam tas di samping bangkunya, seekor laba-laba yang sudah tidur selama delapan dekade rupanya baru saja memutuskan bahwa ada sesuatu di luar sana yang cukup mengganggunya untuk mulai membuka mata.
Pelan-pelan.
Tapi mulai.
Bel pulang berbunyi pukul tiga sore.
Rio keluar dari kelas di antara arus murid lain, tidak terburu-buru, tidak menghindari siapapun — perilaku normal, ritme normal, wajah yang sama dengan wajah yang ia pakai setiap hari.
Di koridor dekat tangga, ia berpapasan dengan Arinda Kusuma yang sedang berjalan ke arah berlawanan bersama dua anggota timnya, tablet di tangan, pandangan yang sedang menyisir koridor dengan cara yang berbeda dari cara orang kebanyakan menyisir koridor.
Cara seorang investigator menyisir ruangan.
Mata mereka bertemu selama setengah detik — tidak lebih, karena Rio tidak memperlambat langkahnya dan Arinda juga tidak.
Tidak ada yang bisa dibaca dari pertemuan mata setengah detik itu.
Tapi Arinda berhenti berjalan dua langkah setelah Rio melewatinya.
Tidak berbalik. Hanya berhenti selama tiga detik, menatap koridor di depannya, sebelum melanjutkan langkahnya kembali.
Bagas yang berjalan di sebelahnya melirik ke arah yang Arinda sempat perhatikan — koridor yang sekarang sudah diisi murid-murid pulang sekolah yang tidak ada bedanya satu sama lain.
"Bu?" Bagas bertanya pelan.
"Tidak ada apa-apa," jawab Arinda, suaranya datar. Matanya kembali ke tablet di tangannya. "Lanjut."
Mereka berjalan terus.
Rio turun tangga, melewati gerbang sekolah, dan baru menghela napas panjang saat punggungnya sudah tidak lagi menghadap gedung sekolah.
Wukong mencicit.
"Iya," kata Rio pelan, langkahnya tetap santai di antara kerumunan murid yang bubar. "Dia investigator yang bagus."
Bukan pernyataan yang mengkhawatirkan. Lebih ke arah catatan faktual yang perlu ia simpan di bagian kepala yang benar.
Investigator yang bagus bukan masalah yang perlu diselesaikan sekarang. Investigator yang bagus adalah variabel yang perlu diperhitungkan ke depannya — cara bermain yang berbeda, tempo yang berbeda, pendekatan yang perlu disesuaikan.
Rio sudah terbiasa menyesuaikan.
Serigala abu-abu di kontrakan perlu makan sore. Persentase laba-laba perlu terus dipantau. Dungeon liar di sektor barat yang belum ia sentuh perlu dijadwalkan sebelum tim investigasi memperluas radius pemindaian mereka.
Tiga hal untuk diselesaikan malam ini.
Rio memasang earphone, memasukkan tangan ke saku jaketnya, dan berjalan pulang di bawah langit sore yang mulai kemerahan — tampak persis seperti murid SMA berambut acak-acakan yang baru pulang sekolah tanpa satu hal pun yang menarik untuk diperhatikan.
Tepat seperti yang ia inginkan.
semangat upnya thor
semangat dah tak krim kopinya👍
klo bsa up besok 2 chpter🤣