Kania mengira pernikahannya dengan Firman adalah takdir bahagia. Selama dua tahun, Firman menjadi suami sempurna sekaligus pahlawan yang menyelamatkan ekonomi keluarganya.
Meski hidup dengan disabilitas pada kaki kirinya akibat sebuah kecelakaan, Kania tak pernah menyerah menjalani hidup. Ia percaya, selama Firman tetap berada di sisinya, semua kekurangan itu bukanlah penghalang untuk meraih kebahagiaan.
Namun, saat perusahaan Firman bangkrut, badai besar menghantam rumah tangga mereka.
Pria yang pernah berjanji akan terus menggenggam tangannya mendadak berubah dingin. Lalu, seorang wanita dari masa lalu Firman datang menawarkan suntikan dana untuk menyelamatkan perusahaan dengan satu syarat, Firman harus membuang Kania dari hidupnya.
Demi mengembalikan kejayaan dan mempertahankan ambisinya, Firman tak ragu mengkhianati janji suci pernikahan mereka.
Terluka hebat, Kania memutuskan pergi meraih kebahagiaannnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 4 Serakah
Kania masih memandangi amplop cokelat di tangannya. Sejak tadi ia menghitung-hitung di dalam kepala, berapa biaya yang dibutuhkan untuk membeli tepung, telur, mentega, dan beberapa kotak kemasan sederhana.
Tidak perlu banyak. Asal cukup untuk memulai.
Ia tersenyum kecil.
"Kalau kueku laku, aku bisa membantu mas Firman. Mungkin mama juga tidak akan terus menganggapku beban."
Baru saja Kania hendak masuk ke kamar untuk menyimpan amplop itu, suara Tuti menghentikannya.
"Tunggu, Nia!"
Kania menoleh.
"Iya, Ma?"
Tatapan Tuti langsung mengarah ke amplop di tangan menantunya.
"Itu uang dari Firman, kan?"
"Iya, Ma."
"Sini."
Kania sedikit bingung. "Buat apa Ma?"
"Mama pinjam dulu."
Kening Kania berkerut. "Pinjam?"
"Iya." Tuti mengulurkan tangan tanpa merasa bersalah. "Besok Mama ada arisan. Mama lagi kurang uang."
Kania menggenggam amplop itu sedikit lebih erat.
"Tapi Ma, aku mau memakai sebagian uang ini untuk beli bahan kue."
"Bukannya tadi kamu bilang cuma sebagian?"
"Iya sih."
"Ya sudah. Berarti sisanya Mama pinjam."
Kania menunduk.Sebenarnya ia ingin menolak. Itu uang yang diberikan Firman khusus untuknya. Namun, di hadapannya berdiri ibu dari suaminya sendiri.
Bagaimana mungkin ia tega berkata tidak?
Dengan tangan gemetar, Kania menyerahkan amplop itu.
"Nanti kalau dapat arisan, dikembalikan kan, Ma?"
Tuti langsung mengambil amplop tersebut. "Iya, iya. Perhitungan banget jadi mantu!"
Tanpa menghitung di depan Kania, wanita itu memasukkan amplop ke dalam tasnya.
"Arisan lebih penting."
Kalimat itu membuat dada Kania sesak. Ia hanya mampu mengangguk pelan.
Tuti berlalu begitu saja menuju kamarnya. Tak ada ucapan terima kasih. Tak ada penjelasan kapan uang itu akan dikembalikan.
Yang tersisa hanya Kania, berdiri mematung di ruang tamu dengan kedua tangan kosong. Kania melangkah pelan menuju kamar. Begitu pintu tertutup, ia duduk di tepi ranjang.
Tangannya meraih dompet lusuh berwarna krem yang tersimpan di dalam laci. Perlahan ia membukanya.
Tak banyak yang ada di dalam. Hanya kartu identitas, beberapa lembar nota belanja dan selembar uang lima puluh ribu rupiah yang mulai kusut.
Kania menatap uang itu cukup lama.
"Lima puluh ribu. Uang segini bisa buat apa?"
Kalau dipakai membeli tepung, telur, mentega, dan gula jelas tidak cukup. Kalau dipakai untuk kebutuhan dapur paling hanya bertahan satu atau dua hari.
Air matanya mulai menggenang.
Andaikan dulu Firman mengizinkannya bekerja mungkin ia tidak perlu bergantung pada siapa pun.
Mungkin ia bisa membantu biaya rumah tangga. Mungkin ia bisa mengirim sedikit uang untuk ibu dan adiknya.
Namun setiap kali ia mengutarakan keinginannya bekerja, Firman selalu berkata dengan lembut,
"Aku ingin kamu di rumah saja. Biar aku yang mencari nafkah."
Dulu, kalimat itu terdengar begitu menenangkan.
Kini entah mengapa terasa begitu menyesakkan. Bukan karena Firman tidak bertanggung jawab.
Melainkan karena ia tak lagi memiliki kuasa atas hidupnya sendiri.
Bahkan untuk menggunakan uang pemberian suaminya pun, ia harus meminta izin ibu mertua.
Tanpa sadar, air mata jatuh membasahi dompet yang masih berada di pangkuannya.
Ting tong!
Suara bel pintu membuyarkan lamunannya. Kania buru-buru mengusap pipi.
"Iya, sebentar."
Saat membuka pintu, matanya langsung membulat.
"Nisa?"
Adik perempuannya berdiri di depan rumah dengan wajah pucat. Napas gadis itu tampak memburu seolah baru saja berlari.
"Kak...."
"Kamu kenapa?"
Nisa menggigit bibir. "Boleh aku masuk?"
"Iya, ayo." Kania mempersilakan adiknya duduk di ruang tamu.
Begitu melihat wajah Nisa yang kusut, firasat buruk langsung menyelimuti hatinya.
"Ada apa? Ibu baik-baik saja, kan?"
Nisa menunduk. Matanya mulai berkaca-kaca.
"Ibu... semalam kambuh lagi."
"Kambuh?"
"Iya."
"Sudah dibawa ke dokter?"
Nisa menggeleng pelan. "Kami belum punya uang, Kak."
Suasana mendadak sunyi. Kania menatap wajah adiknya tanpa berkedip.
"Ibu menyuruhku jangan datang ke sini," ucap Nisa lirih. "Katanya Kakak pasti sedang banyak kebutuhan."
"Lalu kenapa kamu tetap datang?"
Air mata Nisa akhirnya jatuh. "Aku nggak tahu harus minta tolong ke siapa lagi. Kami butuh uang buat berobat ibu, Kak."
Kalimat itu membuat dunia Kania seolah berhenti berputar. Perlahan, pandangannya beralih ke dompet yang masih terbuka di atas meja.
Jumlah yang bahkan tak cukup untuk membeli obat dan ongkos berobat.
Kania mengepalkan tangannya erat-erat. Sebagai seorang anak, ia ingin membantu ibunya. Sebagai seorang kakak, ia ingin meringankan beban adiknya.
Tetapi, sebagai seorang istri yang tidak memiliki penghasilan, ia bahkan tak mampu memberikan lebih dari selembar uang lusuh yang ada di hadapannya.
Air matanya kembali mengalir. Untuk pertama kalinya sejak menikah, Kania merasa dirinya begitu tidak berdaya.
Hingga saat orang-orang yang paling dicintainya membutuhkan uluran tangan, ia hanya bisa menundukkan kepala sambil menahan tangis.
"Tunggu sebentar."
Kania buru-buru berdiri, lalu berlari kecil menuju kamarnya. Dengan tangan gemetar, ia membuka laci dan mengambil amplop cokelat yang tadi telah dikembalikan Tuti setelah mengambil sebagian besar isinya.
Ia membukanya perlahan. Isinya jauh lebih tipis dari sebelumnya.
Kania menarik napas panjang. Tanpa menghitung lagi, ia mengambil seluruh uang yang masih tersisa di dalam amplop, lalu kembali menghampiri adiknya.
"Ambil ini."
Nisa tertegun.
"Kak, ini uang apa?"
"Untuk biaya berobat ibu."
"Tapi, Kak...."
"Sudah, nggak apa-apa. Kesehatan ibu lebih penting."
Air mata Nisa langsung jatuh. "Kakak nanti bagaimana?"
Kania memaksakan senyum, meski hatinya terasa perih.
"Kakak masih bisa cari cara."
Padahal ia sendiri tidak tahu harus mencari cara ke mana. Dengan mata berkaca-kaca, Nisa menerima uang itu.
"Makasih banyak, Kak."
"Ibu jangan sampai tahu kalau Kakak memberikan uang ini. Bilang saja kamu dapat pinjaman dari temanmu."
Nisa mengangguk kuat, lalu memeluk kakaknya erat.
"Kakak baik banget."
Pelukan itu membuat dada Kania semakin sesak. Ia bahkan tak mampu membantu keluarganya dengan layak, tetapi adiknya masih menganggapnya kakak terbaik.
Beberapa menit kemudian, Kania mengantar Nisa sampai ke teras.
Baru saja Nisa hendak melangkah keluar gerbang, suara Tuti menggelegar dari belakang.
"Eh kamu!"
Keduanya sontak menoleh.
Tuti berdiri dengan kedua tangan berkacak pinggang. Tatapannya tajam mengarah kepada Nisa.
"Ngapain kamu kesini. Pasti butuh uang kan? Biasanya jiga gitu, datang cuma mau minta uang!"
Wajah Nisa langsung pucat. "Bukan begitu, Bu."
"Bukan begitu apanya?" hardik Tuti. "Keluarga miskin memang hobinya merepotkan orang!"
Kania buru-buru maju.
"Ma, sebenarnya Nisa datang karena—"
"Cukup!" Bentakan itu membuat Kania terdiam. Tuti kembali menunjuk Nisa. "Kalau butuh uang, kerja! Jangan sedikit-sedikit datang ke rumah anakku!"
Pipi Nisa memerah menahan malu. Ia menundukkan kepala dalam-dalam.
"Maaf Bu."
Kania menggenggam tangan adiknya yang mulai gemetar.
"Ma, sudah nggak usah dibahas."
"Kalian ini sama saja. Satu jadi beban suami, satu lagi datang cuma minta-minta. Kalau butuh uang kerja dong!"
Kalimat itu menghantam hati Kania begitu keras. Yang paling menyakitkan bukanlah hinaan untuk dirinya, melainkan melihat adik yang begitu ia sayangi harus menundukkan kepala dan tahu sikap mertuanya yang sebenarnya.
TPI dia bilang adik satu satunya
dari awal fillingku itu menggunakan firman pasti ingin merebut sesuatu dari sang Abang
hemm
kamu pasti bisa bangkit kembali😭😭
kamu gak tau KLO mawar ingin menjadikan firman sebagai budak catur
yg harus kerja rodi
siap siap lembur stiap hari dan istri barumu akan menghabiskan uang perusahaan
dan Bu Tuti akan kehilangan jatah bulananmu
ahay
Nah betul nih si 🌹 berduri adiknya si kulkas. Eng ing eng...