Selama tujuh tahun, Zahira Narapati mengorbankan karier dan mimpinya demi mendampingi Deris Adikara membangun usaha. Namun, saat kesuksesan akhirnya diraih, Deris justru menceraikannya karena menganggap Zahira tak lagi sejalan dengan kehidupannya dan memilih wanita lain.
Semua orang mengira perceraian itu akan menghancurkan Zahira. Nyatanya, ia bangkit dari nol, membangun kembali kariernya hingga menjadi perempuan sukses yang berdiri di atas kakinya sendiri.
Dalam perjalanan itu, Zahira bertemu Revan Wiranata, pria yang menghargai kesetiaan dan memberinya kebahagiaan baru. Ketika Deris menyesali keputusannya dan ingin kembali, Zahira memilih melangkah bersama seseorang yang benar-benar menghargainya. Sebab, setiap luka bukanlah akhir, melainkan awal dari kebangkitan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode — 10.
Acara bisnis berakhir menjelang pukul sembilan malam, para tamu mulai meninggalkan ballroom satu per satu.
Deris dan Kayla berjalan berdampingan menuju area parkir VIP. Baru beberapa langkah, ponsel Deris berdering, nama sekretarisnya muncul di layar.
"Pak Deris, maaf mengganggu. Server keuangan perusahaan tiba-tiba mengalami gangguan. Seluruh sistem pembayaran vendor tidak bisa diakses, sementara besok pagi ada transaksi bernilai puluhan miliar yang harus diproses. Tim IT meminta Bapak segera datang."
Deris langsung menghentikan langkahnya.
"Aku berangkat sekarang."
Telepon ditutup.
Kayla mengernyit. "Ada apa, Mas?"
"Di perusahaan ada keadaan darurat, aku harus ke sana malam ini juga."
"Kalau begitu aku ikut."
"Tidak usah." Nada suara Deris terdengar tegas. "Kamu pulang saja dengan sopir keluargamu, aku tidak tahu urusan ini akan selesai jam berapa."
Kayla memang sedikit kecewa, tetapi tidak memaksa. "Baiklah. Hati-hati ya, Mas."
Deris mengangguk singkat sebelum masuk ke dalam mobilnya. Namun, mobil itu tidak melaju ke arah kantor. Beberapa saat sebelumnya, ia melihat Zahira keluar dari hotel dan menaiki mobil daring. Entah dorongan apa yang menguasainya, Deris justru meminta sopir mengikuti mobil yang ditumpangi mantan istrinya.
"Ikuti mobil putih di depan."
"Baik, Pak."
Sepanjang perjalanan, pandangan Deris tidak pernah lepas dari kendaraan itu. Setengah jam kemudian, mobil berhenti di sebuah kawasan perumahan yang dipenuhi rumah-rumah kontrakan sederhana.
Deris mengernyit. "Dia tinggal di sini?"
Ia memandang bangunan bercat krem dua lantai yang tampak bersih dan rapi, rumah itu jauh lebih sederhana dibanding rumah mewah keluarga Adikara. Dadanya kembali terasa sesak. Dulu, Zahira hidup berkecukupan bersamanya. Sekarang wanita itu memilih memulai semuanya dari awal.
Mobil daring berhenti tepat di depan salah satu kontrakan, Zahira turun sambil membawa tas kerjanya. Ia baru melangkah beberapa langkah ketika suara pintu mobil lain terdengar terbuka.
"Ra!"
Zahira menoleh, raut wajahnya langsung berubah datar.
Deris berjalan cepat menghampirinya. Tanpa meminta izin, pria itu langsung menggenggam pergelangan tangan Zahira. "Ra... Mas mau bicara. Bagaimanapun juga, sebelum hakim menjatuhkan putusan di Pengadilan Agama, kita masih berstatus suami istri."
Nada suara Deris terdengar menekan, Zahira spontan berusaha menarik tangannya.
"Lepaskan!"
"Mas cuma ingin bicara."
"Aku bilang lepaskan!"
Deris justru mempererat cengkeramannya, Zahira menatap pria itu dengan sorot mata dingin. "Saat kamu mengucapkan niat menceraikanku dan mengajukan talak, hubungan kita sudah berakhir secara agama. Tinggal proses hukumnya saja yang belum selesai. Jadi, jangan pernah menyentuhku lagi tanpa izinku."
Kalimat itu membuat wajah Deris menegang.
"Ra... jangan seperti ini."
"Aku yang seharusnya mengatakan itu." Tatapan Zahira tidak bergeming. "Orang yang meminta perceraian... adalah kamu. Orang yang memilih perempuan lain juga kamu. Jadi, jangan datang sekarang seolah-olah aku yang menjauh."
Deris mengusap wajahnya dengan frustrasi. "Ra... dengarkan dulu penjelasan Mas."
"Aku sudah cukup banyak mendengar alasanmu."
"Tidak." Suara Deris mulai bergetar. "Ada sesuatu yang harus kamu tahu."
Zahira hanya diam.
Deris menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata, "Mas menceraikanmu karena Kayla yang memaksa, dia ingin statusnya jelas. Dia ingin segera menikah dengan Mas supaya kerja sama perusahaan dengan keluarganya berjalan lancar. Kamu pasti mengerti posisi Mas, semua ini demi masa depan perusahaan."
Zahira memandang pria di hadapannya tanpa berkedip. Namun yang ia rasakan bukan lagi sedih, melainkan rasa muak.
"Makanya... Mas punya jalan keluar." Deris melanjutkan ucapannya tanpa menyadari perubahan ekspresi Zahira.
"Apa?"
"Kita tetap lanjut bercerai sesuai keinginan Kayla. Lalu setelah semuanya selesai, Mas akan menikahi Kayla secara resmi. Setelah itu..." Suara Deris terdengar semakin cepat, ia menggenggam tangan Zahira lebih erat. "Mas akan menikahimu lagi secara agama, kamu akan menjadi istri siri Mas. Mas janji, Mas akan tetap menyayangimu seperti dulu."
Untuk beberapa saat, Zahira benar-benar kehilangan kata-kata. Ia menatap wajah pria yang pernah menjadi pusat dunianya selama tujuh tahun, pria yang pernah bersumpah akan menjaga kehormatannya. Namun malam ini, pria yang sama justru memintanya menjadi istri siri. Sesuatu yang dulu bahkan tak pernah terlintas dalam pikirannya.
Zahira mengembuskan napas pelan, lalu menyunggingkan senyum tipis. Namun senyum itu sama sekali tidak menyiratkan kebahagiaan, melainkan rasa jijik yang tak lagi berusaha ia sembunyikan.
"Mas..."
Suara Zahira sangat tenang. "Apa otakmu benar-benar masih berfungsi?"
Deris terdiam membeku, Ia sama sekali tidak menyangka Zahira akan memberikan jawaban seperti itu.
"Sejak kapan kamu berubah menjadi manusia serendah ini?"
"Ra, dengarkan dulu...."
"Diam! Selama tujuh tahun aku mencintaimu tanpa syarat. Aku meninggalkan pekerjaanku, menjual rumah warisan orang tuaku, menggadaikan seluruh perhiasanku, bahkan mengorbankan masa mudaku demi menemanimu membangun perusahaan."
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, tatapan Zahira dipenuhi rasa kecewa. “Tapi sekarang, setelah kamu berselingkuh, menceraikanku, lalu menghinaku di depan semua orang... kamu masih punya keberanian memintaku menjadi istri siri? Bukan hanya hati nuranimu yang mati, cara berpikirmu pun sudah rusak."
"Ra...." Wajah Deris mulai memerah.
"Pergi."
"Aku masih mencintaimu."
"Kalau itu yang kau sebut cinta, syukurlah aku tidak lagi memilikinya." Zahira menarik napas panjang. "Kita bertemu di persidangan nanti. Setelah itu, jangan pernah muncul lagi dalam hidupku."
Wanita itu berbalik hendak masuk ke dalam rumah kontrakan, namun Deris kembali mencekal lengannya dan kali ini jauh lebih keras.
"Tidak! Mas nggak akan pergi! Mas nggak rela kehilanganmu! Mulai malam ini ikut Mas, kita ke hotel. Bagaimanapun juga, kita masih suami istri." Tatapan pria itu mulai liar.
"Lepaskan aku!" Zahira langsung berusaha melepaskan diri.
"Aku nggak mau!"
"Lepas!"
Tubuh Deris jauh lebih kuat, semakin Zahira berusaha menarik tangannya, semakin keras pula cengkeraman pria itu. Rasa sakit mulai menjalar di pergelangan tangannya.
Harusnya dulu aku belajar bela diri. Batin Zahira panik.
Di jalan yang mulai sepi itu, ia terus berusaha mendorong tubuh Deris. Namun tenaga mereka tidak seimbang.
Seseorang datang dari belakang, sebuah tangan besar langsung menarik tubuh Zahira menjauh dari Deris hingga wanita itu terlepas dari cengkeraman tersebut.
Belum sempat Deris bereaksi—
Bugh!
Sebuah pukulan keras menghantam wajahnya.
"Arghhh!" Tubuh Deris terhuyung beberapa langkah, sudut bibirnya langsung robek. Ia memegangi pipinya sambil menatap penuh amarah ke arah pria yang baru saja memukulnya. "Sialan! Siapa kau—"
Kalimatnya terputus, sorot mata Deris berubah. Pria yang berdiri di hadapannya ternyata adalah... Revan Wiranata.
Dan kesalahan tu yg bikin mereka gx ingin melihat Dunia luar lgii ,, 😏😏😏😏😏😏
dsnii bakal keliatan ,,
mana yg berdiri dg kaki ny ,,
Dan mana yg berdiri msh menggunakan kaki orang tuany ,, 😒😒😒😒🤭🤭🤭🤭