Demi menyelamatkan ayahnya dari lilitan utang, Arunika Maheswari terpaksa menggantikan kakaknya menikah dengan Arsen Valentino, seorang CEO sekaligus Raja Mafia paling berkuasa. Pernikahan yang berawal dari keterpaksaan itu membawa Arunika masuk ke dunia penuh rahasia, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan yang mengancam nyawanya setiap saat.
Di tengah bahaya yang terus mengintai, hubungan mereka perlahan berubah menjadi cinta yang tak terduga. Namun, mampukah Arunika bertahan sebagai istri sang Raja Mafia, atau justru menjadi kelemahan terbesar yang akan menghancurkan Arsen?
Disclaimer : Novel ini dibuat semata-mata untuk hiburan. Seluruh isi cerita merupakan imajinasi penulis dan tidak untuk ditiru atau dipraktikkan dalam kehidupan nyata. Penulis tidak bertanggung jawab atas segala bentuk penyalahgunaan isi novel di luar tujuan sebagai bacaan hiburan.
Terima kasih dan selamat menikmati cerita. ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahrul Mulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Pesan yang Ditulis dengan Darah
Layar monitor darurat di dinding beton bunker berkedip-kedip kaku, memantulkan cahaya merah temaram yang menyayat kegelapan. Di dalam rekaman video beresolusi tinggi itu, ruang isolasi medis bawah tanah mansion utama Valentino—yang seharusnya menjadi tempat paling steril dan aman di seluruh kota—kini telah berubah menjadi ruang jagal yang mengerikan.
Tiga tubuh dokter spesialis dan dua perawat senior tergeletak tumpang-tindih di atas lantai marmer putih, bersimbah darah yang masih tampak mengepul hangat di kamera. Ranjang besi tempat Baskoro beberapa jam lalu dipasangi alat pacu jantung kini kosong melongpong, menyisakan selang-selang infus yang terputus dan menjuntai basah ke lantai.
Namun, fokus sepasang mata elang Arsen dan tatapan hampa Arunika terkunci sepenuhnya pada dinding putih di belakang ranjang kosong tersebut. Di sana, coretan cairan merah pekat yang masif membentuk deretan huruf yang berantakan, ditulis dengan menggunakan tangan kosong yang dicelupkan ke dalam darah para tim medis yang tewas.
*“KAU MENYIMPAN BARANG TIRUAN, ARSEN. RAJA YANG ASLI TELAH MENGAMBIL KEMBALI MAHKOTANYA. VALERIA MENUNGGUMU DI ALTAR BARU KAMI.”*
"Sialan!" kutuk Marco, tangan kanannya refleks menghantam meja beton di tengah ruangan hingga retak. "Bagaimana mungkin sistem pertahanan berlapis di mansion utama bisa ditembus dalam waktu kurang dari satu jam? Faksi barat tidak mungkin memiliki intelijen sedalam ini!"
Arsen Valentino tidak bersuara. Genggaman tangannya pada jemari Arunika mengencang sedemikian kuat hingga gadis itu bisa mendengar bunyi derit halus dari persendian tangannya sendiri. Namun, Arunika tidak meringis. Rasa sakit fisik itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kehampaan masif yang kini telah membakar habis sisa-sisa kemanusiaan di dalam dadanya. Nama 'Arunika' yang selama dua puluh dua tahun ini dia bawa dengan penuh kebanggaan, ternyata hanyalah sebuah label palsu untuk seonggok umpan tak bernama.
"Raja yang asli..." desis Arsen, suaranya merendah hingga ke frekuensi yang paling mematikan. Sepasang mata elangnya menyipit tajam menatap layar monitor. "Ini bukan perbuatan Dmitri Volkov. Bukan juga faksi Volkov dari utara. Tulisan bergaya teater seperti ini... hanya dilakukan oleh satu orang di dunia bawah tanah."
Arsen perlahan melepaskan genggaman tangannya dari Arunika, lalu berbalik menatap Marco yang masih dipenuhi amarah. "Panggil seluruh tim pembersih sektor satu. Kosongkan pelabuhan utara sekarang juga. Kita kembali ke mansion utama."
"Tuan, apakah ini tidak terlalu berisiko?" Marco mencoba memberikan pertimbangan politik. "Jika mansion utama sudah disabotase, kemungkinan besar rute perjalanan kita ke sana sudah dipasangi jebakan oleh tim penembak jitu mereka."
"Maka kita akan menerobos jebakan itu dan menguliti mereka semua di jalanan," sahut Arsen datar, tanpa keraguan sedikit pun di dalam nadanya. Pria itu menyarungkan pisau taktisnya, lalu berjalan mendekati Arunika yang masih berdiri diam bagai patung porselen di sudut dipan besi.
Arsen menundukkan tubuhnya sedikit, menatap langsung ke dalam sepasang mata Arunika yang kini kehilangan seluruh cahayanya. "Pakai sepatu bot milik pengawal yang tewas di luar. Sandiwara lamamu sebagai gadis desa yang malang sudah selesai malam ini, 'Valeria'. Mulai detik ini, kau adalah bagian dari perburuan darahku."
Arunika tidak membantah. Dengan gerakan kaku seperti boneka mekanik, dia melangkah melewati genangan darah kering di lantai bunker, menuju ke arah koridor luar tempat beberapa jasad penyusup faksi barat tergeletak berantakan. Dia menanggalkan gaun beludru merah marunnya yang sudah robek dan kotor di bagian bawah, menyisakan kemeja sutra hitam milik Arsen yang longgar, lalu mengenakan celana taktis dan sepatu bot kulit hitam milik salah satu pengawal faksi Valentino yang bertubuh paling kecil.
Ketika dia mengencangkan tali sepatu botnya, dia bisa merasakan sisa kehangatan dari pemilik sebelumnya yang baru saja tewas beberapa menit lalu. Namun, hatinya sudah terlalu beku untuk merasa ngeri. Jika dunia ini menganggapnya sebagai umpan palsu, maka dia akan memastikan dirinya menjadi umpan paling beracun yang pernah ada di dunia bawah tanah.
Mereka bergerak keluar dari bunker sektor empat dalam formasi taktis yang sangat ketat. Hujan gerimis di pelabuhan utara telah berganti menjadi kabut tebal yang membatasi jarak pandang hingga kurang dari lima meter. Tiga mobil SUV lapis baja berwarna hitam legam sudah menunggu di jalur evakuasi belakang gudang logistik dengan mesin yang menderu rendah, siap melesat membelah kegelapan malam pinggiran kota.
Arsen mendorong tubuh Arunika masuk ke dalam kursi belakang mobil tengah, disusul oleh dirinya sendiri yang langsung mengambil posisi di sampingnya dengan sebuah senapan serbu otomatis laras pendek yang sudah terisi penuh di pangkuannya. Marco berada di kursi kemudi depan, matanya terus bergerak waspada memeriksa layar radar navigasi militer yang terpasang di dasbor mobil.
Limosin dan SUV baja itu bergerak dengan kecepatan tinggi, membelah jalanan aspal pelabuhan yang sepi dan licin. Kabut tebal yang menyelimuti perbukitan menuju mansion utama Valentino membuat suasana perjalanan terasa kian mencekam. Sinar lampu depan mobil seolah tertelan oleh kegelapan hutan pinus yang berdiri rapat di kanan dan kiri jalan tebing curam.
Di dalam kabin mobil yang sunyi, Arsen sesekali melirik ke arah Arunika yang duduk menyudut di dekat pintu. Gadis itu tidak lagi menangis. Tangannya yang mungil kini menggenggam sebuah pisau belati kecil yang diberikan Marco sebelum mereka naik ke mobil. Gerakan jemarinya yang mengusap bilah baja itu tampak begitu konstan dan dingin, sebuah transformasi psikologis yang luar biasa cepat bagi seorang warga sipil yang baru saja mendapati seluruh hidupnya dihancurkan oleh kebohongan.
"Kau tidak bertanya siapa 'Raja yang asli' yang tertulis di dinding itu?" tanya Arsen memecah keheningan, suaranya berbaur dengan deru mesin SUV yang mendaki tanjakan terjal.
Arunika tidak menoleh. Pandangannya tetap tertuju pada kabut tebal di luar kaca jendela yang berembun. "Siapa pun dia, dia memiliki ayahku—maksudku, Baskoro. Dan dia bekerja sama dengan Valeria yang asli. Itu sudah cukup menjadi alasan bagiku untuk melihatnya mati di depan mataku sendiri."
Arsen menyunggingkan senyuman tipis—sebuah apresiasi dingin atas kegelapan baru yang tumbuh di dalam diri pengantin penggantinya. "Dia adalah Alexei Volkov. Kakak tertua Dmitri, pria yang seharusnya memegang takhta tertinggi faksi Volkov internasional sebelum aku menghancurkan setengah dari pasukannya di perbatasan Rusia lima tahun lalu. Orang-orang mengira dia sudah mati di dalam sel isolasi Siberia, namun sepertinya keluarga Baskoro memiliki cara yang sangat kreatif untuk membelinya kembali."
Tiba-tiba, radar navigasi di dasbor depan mobil Marco mengeluarkan suara alarm berfrekuensi tinggi yang melengking pendek.
"Tuan Arsen! Ada gangguan elektromagnetik masif di depan! Sinyal GPS kita terputus total!" seru Marco panik, tangannya dengan cekatan mencoba memutar kemudi untuk mengantisipasi hal buruk.
Belum sempat Marco menyelesaikan kalimatnya, sebuah dentuman keras mengguncang mobil SUV paling depan yang berada dalam konvoi mereka. Sebuah ranjau darat taktis berkekuatan tinggi meledak tepat di bawah ban depan mobil pemandu, melontarkan kendaraan seberat empat ton itu ke udara sebelum jatuh berguling-guling menghantam tebing batu dan meledak menjadi bola api raksasa yang menerangi kabut malam.
"Penyergapan! Sektor tengah, balas tembakan!" teriak Marco melalui radio komunikasi, memutar kemudi dengan liar untuk menghindari serpihan ledakan mobil depan yang berhamburan di jalanan aspal.
Dari balik kegelapan hutan pinus di sisi tebing, puluhan kilatan cahaya moncong senjata otomatis meletus secara serentak. Hujan peluru kaliber baja menghantam bodi SUV tengah yang ditumpangi Arsen dan Arunika dengan suara hantaman yang memekakkan telinga. Kaca lapis baja mobil itu mulai menampakkan retakan-retakan halus seperti sarang laba-laba akibat gempuran peluru beruntung yang bertubi-tubi.
"Tetap menunduk, Valeria!" bentak Arsen sambil merenggut bahu Arunika, menekuk tubuh gadis itu ke bawah jok mobil untuk melindunginya dari kemungkinan peluru yang menembus kaca.
Arsen sendiri dengan gerakan kilat membuka sedikit celah jendela menembak khusus di pintu mobil, mengarahkan senapan serbunya ke arah hutan pinus dan melepaskan tembakan balasan yang presisi. Di bawah kendali kemudi Marco yang brutal, SUV hitam itu terus melaju zigzag menembus hujan peluru, mencoba keluar dari zona penyergapan maut di jalur tebing tersebut.
Namun, musuh tampaknya telah merancang penyergapan ini dengan tingkat akurasi militer yang sangat matang. Tepat ketika mobil mereka berhasil melewati tikungan tajam terakhir menuju gerbang luar mansion utama, sebuah truk tangki bahan bakar berukuran raksasa tiba-tiba meluncur deras dari arah atas perbukitan, melaju tanpa pengemudi dengan posisi melintang menutup seluruh badan jalan tunggal tersebut.
"Marco, tabrak pagar pembatas tebing! Kita ambil jalur evakuasi hutan!" perintah Arsen dengan suara yang mutlak.
Marco menggeram, menginjak pedal gas sedalam-dalamnya. Mobil SUV lapis baja itu menghantam pagar besi pembatas jalan dengan benturan yang mengerikan, melesat jatuh ke dalam area perkebunan pinus yang curam di bawahnya. Kendaraan itu berguncang hebat, menghantam batang-batang pohon muda sebelum akhirnya berhenti dengan hantaman keras pada sebuah batu besar yang membuat seluruh kantung udara (*airbag*) di dalam kabin meletus seketika.
Asap putih dari radiator yang pecah membubung tinggi, bercampur dengan kabut malam yang tebal. Di dalam kabin yang ringsek, keheningan mendadak kembali merajai sejenak.
Arsen adalah orang pertama yang berhasil memecahkan kaca jendela depan yang hancur menggunakan popor senapannya. Pria itu merangkak keluar dengan darah segar yang mengalir dari pelipis kirinya, namun sepasang mata elangnya tetap berkilat penuh insting membunuh. Dia berbalik, menarik tubuh Arunika keluar dari dalam kabin yang mulai mengeluarkan bau bensin yang menyengat.
Marco menyusul dari pintu depan, memegang lengan kirinya yang tampak dislokasi akibat benturan keras tadi. "Tuan... kita dikepung. Tim evakuasi belakang mansion tidak bisa dihubungi."
Dari atas bukit jalan aspal yang baru saja mereka tinggalkan, sayup-sayup terdengar suara langkah sepatu bot yang teratur menuruni lereng tebing menuju posisi mobil mereka yang ringsek.
Jumlah mereka tidak sedikit—setidaknya ada dua tim taktis penuh yang bergerak dalam formasi melingkar untuk mengunci seluruh jalur pelarian di dalam hutan pinus ini.
Arsen mencengkeram lengan Arunika, membawa gadis itu berlindung di balik batang pohon pinus raksasa yang tumbang. Dia memeriksa sisa amunisi di senapannya, lalu melirik ke arah Marco. "Berapa banyak peluru yang tersisa di senjatamu, Marco?"
"Hanya dua magasin cadangan, Tuan. Dan kondisi fisikku tidak memungkinkan untuk melakukan pertempuran jarak dekat dengan formasi penuh," jawab Marco dengan napas yang terengah-engah, mencoba mengembalikan posisi tulang lengannya dengan hantaman ke pohon.
Arunika berdiri di antara kedua pria itu, menggenggam belati kecil di tangannya dengan cengkeraman yang kian memutih. Dia menatap kabut tebal di depan mereka, tempat bayangan-bayangan siluet musuh mulai tampak bergerak mendekat dengan senjata yang terkokang siap tembak. Namun, di tengah ketakutan masif yang seharusnya melumpuhkan gerak tubuhnya, sebuah getaran aneh mendadak muncul dari dalam saku celana taktis pengawal yang dia kenakan.
Sebuah ponsel satelit kecil berukuran saku—yang tampaknya milik pengawal yang tewas di pelabuhan tadi—bergetar secara konstan di dalam sakunya.
Arunika merogoh ponsel tersebut dengan tangan gemetar. Layar kecil perangkat itu tidak menampilkan nomor panggilan, melainkan sebuah pesan teks pendek yang dikirimkan menggunakan frekuensi terenkripsi tingkat tinggi dunia bawah tanah.
Dengan jantung yang berdegup kencang, Arunika membuka pesan tersebut. Hanya ada satu baris kalimat pendek di dalamnya, namun kalimat itu ditulis dengan menggunakan kode rahasia masa kecil yang hanya diketahui oleh dirinya dan satu orang lainnya di dunia ini—sebuah kode yang membuktikan bahwa sandiwara identitas ini masih menyembunyikan satu lapisan pecahan cermin yang jauh lebih mengerikan dari apa yang diungkapkan oleh Rangga maupun rekaman suara Valeria.
Arunika terbelalak menatap deretan teks di layar ponsel satelit itu. Napasnya tercekat di tenggorokan, dan belati di tangan kanannya perlahan merosot jatuh ke atas tanah yang basah oleh embun malam.
"Arsen..." bisik Arunika dengan suara yang sangat bergetar, memecah fokus sang raja mafia yang sedang mengincar musuh di balik kabut. "Pesan ini... pesan ini bukan dari faksi Volkov atau Alexei."
Arsen menoleh dengan cepat, alisnya bertaut tajam melihat ekspresi wajah Arunika yang kembali dipenuhi oleh keterkejutan horor yang baru. "Dari siapa?"
Arunika mengangkat layar ponsel itu ke depan wajah Arsen, membiarkan cahaya latar perangkat itu menerangi sepasang mata elang sang raja mafia dengan sebaris teks kode yang baru saja dipecahkannya di dalam kepala.
_____________________________
**Bersambung ke Bab 11...**
*Siapakah sebenarnya pengirim misterius dari pesan teks terenkripsi yang menggunakan kode rahasia masa kecil Arunika tersebut? Rahasia besar apa lagi yang tersembunyi di balik konspirasi pertukaran identitas yang ternyata jauh lebih rumit dan melibatkan pihak ketiga di luar faksi Valentino dan Volkov? Dan akankah Arsen dan Arunika mampu bertahan dari kepungan pasukan taktis maut di dalam hutan pinus yang gelap ini? Jangan lewatkan badai rahasia dan pertempuran berdarah yang semakin memuncak di bab berikutnya!*