Ali bin Abbas adalah seorang Pangeran dari sebuah Kerajaan di Benua Arab. Dengan bimbingan Sang Guru dia bertekad untuk mempersatukan semua Kerajaan yang ada di daratan Benua Gurun tersebut.
Seiring berjalannya waktu, terlepas dari usianya yang masih sangat muda, dia sudah menapaki puncak tertinggi kependekaran.
Akan tetapi dalam waktu yang singkat itu pula ternyata sudah banyak bermunculan aliran-aliran Sesat yang didalangi para pendekar tingkat tinggi.
Bersama Sembilan Muridnya mencoba mengumpulkan Lima Kitab tanpa tanding yang di percaya mampu membuat pemiliknya akan menjadi Penguasa nomer Satu di Dunia.
Akankah perjalanannya mampu mengubah perdamaian seperti yang diinginkannya? Ikuti terus ceritanya hanya di novel Pendekar Bintang Sembilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el kurdi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Babak Kedua Kelompok Wanita 2
"Apa kau yakin dengan ucapanmu?" tanya Ali memicingkan matanya.
"Y... ya.. tentu saja, selama saya bisa memenuhi nya." jawab Asma gelagapan.
Ali tersenyum simpul menanggapi jawaban Asma yang terbata bata. Ali membantu Khafifah untuk membalikkan tubuhnya, setelah itu dia menyalurkan tenaga murni ke dalam tubuh Khafifah, caranya berbeda dengan yang biasa dia lakukan, Ali berusaha keras untuk memasukkan tenaga murninya kedalam tulang sumsum belakang Khafifah.
sementara gadis itu berteriak kesakitan, sebelum tidak sadarkan diri, tapi Ali terus memaksanya, setelah dirasa sudah cukup, Ali baru melepaskannya.
Ali pamit untuk menunaikan Shalat Dzuhur dulu, sementara yang lain menunggui Khafifah sampai sadarkan diri.
selesai Shalat, Ali berniat akan makan siang di luar, sambil melihat situasi di luar perguruan, dia memasuki rumah makan sederhana, disana cukup ramai, banyak para pendekar berlalu lalang.
Pandangan Ali tertuju pada sebuah meja yang di duduki enam pendekar tingkat tinggi, empat diantara nya telah memasuki pendekar tingkat bintang 8, dan sisanya hanya pendekar bintang 6.
Ali sangat yakin mereka bukan dari kerajaan ini 'apa maksud dan tujuan mereka ada disini' batinnya. karena keadaan di sekitar cukup ramai, Ali harus menajamkan pendengaran nya, Ali yakin ada hal yang janggal dari mereka.
"sampai kapan kita akan menunggu dia keluar?" kata pendekar yang bertubuh kecil dan ada bekas luka di pipi kirinya.
"Kau bersabarlah, aku dengar dia tidak pernah di kawal siapapun, ini akan sangat mudah bagi kita" kata pendekar berwajah garang yang membawa dua pedang di punggung nya.
"Apa kalian tidak bisa berbicara pelan? yang akan kita culik adalah pangeran kerajaan ini, pimpinan meminta kita membawa nya dalam keadaan hidup, jadi diamlah dan jangan membantah. " sergah pendekar yang paling sepuh itu, kelihatan nya dia adalah pemimpin rombongan itu.
tidak ada yang membantah nya, mereka langsung diam dan meneruskan makan siang nya.
Ali terkejut, ternyata yang mereka cari adalah dirinya, Ali cepat cepat menyelesaikan makan siangnya, lalu segera pergi dari tempat itu.
di pintu gerbang Ali bertemu Hamzah, ternyata Hamzah sedang mencari nya, gadis yang di rawat Ali sudah sadar, dokter Salimah tidak berani melakukan sesuatu, sehingga dia meminta tolong pihak perguruan untuk mencari Ali.
"Kau kemana saja pangeran? semua orang mencari mu?" tanya Hamzah sedikit kesal.
"Aku hanya keluar makan siang, sepertinya kalian sedikit bergantung kepadaku sekarang? " Ali menanggapi kekesalan Hamzah.
"Itulah risiko nya orang hebat, berhentilah jadi orang hebat " ucap Hamzah sambil berlalu.
mereka sampai di ruang perawatan, ternyata memang sudah di tunggu oleh dokter Salimah, "pangeran, dia sudah sadar, apa yang harus saya lakukan?" tanya dokter itu tergopoh gopoh.
Ali kembali memeriksa keadaan Khafifah, Ali sempat terkejut setelah mengetahui tulang yang tadinya hancur kini kembali tersusun rapi kembali, namun masih rapuh.
Ali tersenyum memandang Khafifah, gadis itu menelan ludah melihat pesona sang pangeran. "Apa kau ingin sembuh seperti semula?" kata Ali sambil memasukkan tangan kanan nya dalam saku jubahnya.
Gadis itu tidak bisa berkata kata, dia hanya mengangguk, pipinya sedikit merona.
"Kau tidak boleh menggunakan kakimu dulu selama seminggu, kau bisa memakai tongkat sebagai gantinya, dan minumlah obat ini sehari satu kali." Ali menjelaskan.
"Apa dia bisa sembuh pangeran?" Asma lebih antusias mendengar penjelasan Ali.
"Kau boleh mengingkari janjimu, jika kau mau menepati janjimu, bersiaplah nanti malam aku akan menagih nya." Ali mengingatkan janji yang di ucapkan Asma.
Asma menundukkan kepala, dia khawatir tidak bisa memenuhi permintaan pangeran, setelah itu Ali menjelaskan kondisi Khafifah pada dokter Salimah, dia juga menjelaskan biaya yang harus di tanggung nya.
dokter Salimah kaget mendengar jumlah biaya yang harus di tanggung panitia perlombaan "100 dinar? hanya untuk tiga butir obat? " dia mengulang ucapan Ali dengan nada yang berbeda.
"Apa itu lebih mahal dari harga sebuah kaki? " tanya Ali sambil melirik pria pendamping Khafifah dari perguruannya itu.
pria itu paham maksud Ali "Biar saya yang akan membayar nya dokter, ini memang tanggung jawab saya." jawab nya sambil tersenyum getir "terima kasih sudah menyembuhkan putri ketua kami " ucapnya sambil merogoh sakunya. dan menyerahkan sekantong dinar kepada Ali.
Ali tersenyum dan menerima nya, yang lain sungguh tidak percaya jika Ali melakukan semua ini demi uang.
Ali menyadarinya, "kalian jangan berprasangka buruk, karena sebagian prasangka itu adalah dosa, datang nya dari syaitan yang ingin menjerumuskan kalian kedalam jurang neraka." ucapnya santai.
semua yang ada do ruangan itu beristighfar, melihat ekspresi wajah mereka Ali ingin sekali tertawa.
"Kakak pangeran, lama sekali disini, sebentar lagi giliranku bertanding, awas saja jika kau tidak hadir lagi saat aku bertanding" ucap Shafia yang baru datang tapi sudah langsung mengancam saja.
Ali tersenyum dengan kelakuan adik perguruannya itu, Ali memang belum melihat dia bertanding, Ali langsung pamit undur diri, dia mengekor di belakang Shafia.
Benar saja, Shafia sudah langsung di marahi oleh ketua keamanan peserta perlombaan, yang tak lain adalah Hamzah, kakak Shafia sendiri.
Shafia naik arena sambil marah marah, yang menjadi lawannya kali ini adalah pendekar tingkat puncak bintang 5, dari perguruan Macan Putih.
Shafia tidak mendengarkan apa yang di ucapan wasit, dia masih emosi, sampai mendengar suara dukungan dari teman temannya, saat menoleh dia baru melihat Ali sedang memberikan semangat juga, saat itu juga emosi nya menguap tak tersisa.
Shafia mengambil busur dan anak panahnya, sedangkan lawan nya sudah bersiap untuk mengecohnya dengan kemampuan meringankan tubuhnya, dan permainan pedang indahnya.
Shafia melihat pergerakan lawannya, beberapa kali serangan nya meleset, itu semua karena dia hanya mengincar tangan kanan lawannya. 'andaikan boleh memanah kepala nya, pasti akan lebih mudah' desah Shafia.
Ali memanggil Hamzah dan menyuruh nya untuk berteriak kepada Shafia mengingatkan jurus ke 7.
Setelah Hamzah beteriak mengingatkan jurus ke 7 pada Shafia, Shafia mulai fokus pada lawannya, dia mengambil empat anak panahnya sekaligus, dia tidak tergesa gesa seperti beberapa serangan pertama nya, dia fokus pada titik sasaran nya, lawan nya berpindah pindah tempat, namun Shafia tidak bergerak sama sekali, dia sudah bisa membaca pergerakan lawannya, setelah dia bisa jarak dengan lawan nya, dan lawannya tepat berada di depan nya, baru Shafia melepaskan keempat anak panahnya.
Dua anak panah melesat ke samping kanan dan dua lainnya ke samping kiri lawannya. melihat serangan seperti itu, lawannya terkunci dan mati langkah, untungnya dia langsung salto beberapa kali kebelakang.
Tapi Shafia sudah mengantisipasi langkah lawannya, dia kembali mengambil sisa anak panahnya. "Ini yang terakhir, terimalah" sebuah anak panah melesat lurus kedepan dan tepat mengenai sasarannya, sebuah goresan cukup dalam mengenai tangan kanan lawannya.
~***1027kata.
assalamualaikum semua....
Maaf numpang curhat sedikit ya...
Beberapa teman menyuruh saya untuk mengajukan kontrak pada noveltoon, agar saya mendapatkan penghasilan dari novel yang saya tulis ini.
Sebenarnya saya ingin mengajukan kontrak setelah saya menyelesaikan nya dulu, karena rencana awalnya saya akan menyelesaikan novel ini di episode ke 150,dan dibagi dalam 3 jilid saja.
Tapi sepertinya akan ada pembengkakan episode setiap jilid nya, dari itu teman saya memaksa untuk mengajukan kontrak sekarang.
Namun saya masih terkendala di penulisan, saya tidak bisa menjamin untuk update tiap hari.
saya jadi bingung.... mohon sarannya juga dari teman teman pembaca setia novel pendekar bintang 9 ini...
terima kasih sudah berkenan membaca***...