NovelToon NovelToon
Perceraian di Usia 50: Awal dari Segalanya

Perceraian di Usia 50: Awal dari Segalanya

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Penyesalan Suami / Cinta Lansia / Penyesalan Keluarga / Tamat
Popularitas:1.6M
Nilai: 5
Nama Author: Sri Wahyuni

Tiga puluh tahun Liana Liem mengabdikan hidupnya untuk keluarga suaminya. Memasak, merawat mertua lumpuh, membesarkan anak — sampai tubuhnya aus dan hatinya kering.
Di usia lima puluh, ia menemukan kenyataan yang menghancurkan: suaminya, Albert Phua, telah berselingkuh selama sebelas tahun. Ada wanita lain. Ada anak lain.
Liana memilih cerai.
Tanpa uang, tanpa pengalaman kerja, tanpa tempat tinggal — Liana memulai hidup dari nol. Tapi takdir punya rencana lain. Sebuah kebaikan kecil membawanya masuk ke dunia Loh Group, konglomerat terbesar di Jakarta. Dan di sana, ia bertemu bosnya: Edwin Loh — pria yang ternyata sudah menunggunya selama tiga puluh tahun.
Tapi rahasia terbesar bukan soal cinta.Kevin, anak angkat Edwin yang selama ini memanggil Liana "Bu" — mungkinkah dia adalah. Lele, putra kandung Liana yang hilang dua puluh tahun lalu?
Siapa yang mencuri anaknya? Siapa yang merusak jodohnya? Dan apakah di usia lima puluh, takdir masih bisa memberikan keadilan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 28: Jebakan Gelang Berlian

Dua minggu kemudian, undangan ulang tahun Lily Yao datang dengan amplop putih bersegel emas.

Di atas kertas tebal itu tertulis alamat sebuah villa pribadi di kawasan elit Jakarta Utara. Bukan pesta besar seperti gala Grand Hyatt, tetapi justru lebih berbahaya karena tamunya lebih sedikit, lebih dekat, dan lebih mudah menilai satu sama lain dari ujung rambut sampai sepatu.

Liana membaca undangan itu di ruang kerja Edwin.

"Saya perlu ikut?" tanyanya.

Edwin menutup map kontrak di depannya. "Dongsheng akan membawa dua tamu dari Hong Kong. Mereka tidak lama di Jakarta. Saya butuh kamu untuk membantu percakapan informal."

Liana mengangguk. Ia tidak bertanya kenapa Lily mengundangnya juga. Setelah malam Grand Hyatt, ia cukup paham bahwa beberapa senyum bukan tanda keramahan, melainkan pintu yang dibuka agar orang masuk ke perangkap.

Malam itu, villa Lily terang seperti kotak perhiasan. Lampu gantung kristal memantul pada kolam renang kecil, bunga putih berjajar di sepanjang teras, dan musik jazz diputar pelan agar percakapan para tamu tetap terdengar mahal. Para pelayan berseragam hitam putih bergerak cepat membawa canape dan minuman.

Lily berdiri di tengah ruang utama dengan gaun champagne, rambut disanggul rendah, dan gelang berlian di pergelangan kirinya. Gelang itu tidak besar berlebihan, tetapi cahayanya tajam. Sekali melihat, orang tahu benda itu bukan aksesori biasa.

"Pak Edwin, Ibu Liana," sambut Lily. "Terima kasih sudah datang."

"Selamat ulang tahun, Lily," kata Edwin singkat.

Liana tersenyum sopan. "Selamat ulang tahun, Ibu Lily. Semoga sehat dan sukses selalu."

"Terima kasih. Wah, Ibu Liana tetap elegan ya." Mata Lily berhenti sebentar pada clutch hitam kecil di tangan Liana. "Silakan menikmati acara. Jangan sungkan."

Di sudut lain, seseorang memperhatikan dari balik pintu servis.

Staf katering itu baru bekerja untuk vendor malam itu. Di saku celananya ada ponsel murah dengan satu chat yang belum dihapus.

Taruh di tas perempuan burgundy itu. Jangan sampai terlihat. Sisa uang setelah beres.

Pesan itu dikirim dari nomor baru, tetapi sebelum datang ke villa, ia sudah bertemu seorang pria di parkiran minimarket. Pria itu memakai topi, masker, dan suara rendah. Di mobil yang sama, seorang perempuan dengan kuku merah marun sempat menurunkan kaca sebentar.

"Sekali saja," kata perempuan itu. "Setelah itu kamu tidak kenal saya, saya tidak kenal kamu."

Staf itu tidak tahu nama perempuan itu. Pembaca tahu.

Yuni Yap.

Dan pria yang duduk di balik setir adalah Boonwen Phang.

Di dalam villa, Liana menjalankan tugasnya. Ia menerjemahkan obrolan ringan tentang charity foundation, jadwal pabrik, dan rencana makan malam keesokan hari. Tidak seformal dokumen kontrak, tetapi justru lebih sulit karena setiap kalimat harus terdengar hangat.

Edwin berdiri di dekatnya, sesekali menambahkan satu dua kalimat. Tidak berlebihan. Namun setiap kali Liana selesai menerjemahkan, ia selalu memberi jeda kecil agar orang lain tahu bahwa ucapan Liana adalah bagian dari pembicaraan resmi, bukan suara tambahan yang boleh diabaikan.

Beberapa tamu mulai menyapa Liana dengan sopan.

"Ibu Liana dari Loh Group ya?"

"Ya, saya membantu Pak Edwin."

"Bahasa Inggris Ibu bagus sekali."

"Terima kasih."

Liana menjawab singkat, tidak mencari perhatian. Justru karena itu, bisik-bisik yang muncul terdengar makin jelas bagi Lily.

"Dia yang di Grand Hyatt itu?"

"Katanya baru masuk Loh Group, tapi Pak Edwin percaya sekali."

"Umurnya sudah tidak muda, tapi pembawaannya beda ya."

Lily mengambil segelas sparkling water dari nampan. Senyumnya tidak berubah, tetapi matanya mengikuti Liana seperti jarum tipis.

Sekitar pukul sembilan, Lily mengangkat tangan untuk memberi tanda pada kepala rumah tangga.

"Saya mau ambil gelang keluarga untuk foto bersama," katanya cukup keras agar tamu di dekatnya mendengar.

Ia menurunkan pandangan ke pergelangan tangannya.

Kosong.

Ruang itu seperti kehilangan suara selama satu detik.

Lily mengangkat tangannya lebih tinggi. "Gelang saya?"

Kepala rumah tangga segera mendekat. "Tadi Ibu pakai, Bu Lily."

"Tentu saya pakai. Ini gelang peninggalan Oma saya."

Kata peninggalan membuat beberapa tamu langsung menoleh. Benda mahal bisa diganti. Peninggalan keluarga tidak.

Lily memandang lantai, sofa, meja kecil, lalu tiba-tiba tatapannya berhenti pada Liana.

"Kebetulan sekali," katanya pelan, tetapi cukup jelas. "Gelang saya hilang pas ada Ibu Liana di sini."

Liana merasakan darahnya turun dari wajah.

Edwin langsung menoleh pada Lily. "Maksudmu apa?"

Lily menekan dada seolah berusaha tetap tenang. "Saya tidak menuduh. Tapi tadi Ibu Liana berdiri dekat saya. Staf juga bilang beberapa kali melihat Ibu Liana ke area samping."

"Saya ke area samping karena menerjemahkan untuk tamu Hong Kong," jawab Liana.

"Saya tahu. Makanya saya bilang, saya tidak menuduh."

Kalimat itu justru membuat ruangan makin penuh tuduhan.

Bisik-bisik mulai merayap.

"Siapa dia sebenarnya?"

"Katanya mantan istri dosen."

"Aduh, jangan-jangan..."

Tangan Liana menggenggam clutch. Ujung jari kanannya menekan kancing logam sampai nyeri. Ia pernah dituduh tidak becus, tidak tahu diri, tidak pantas. Namun dituduh mencuri di depan orang-orang asing, di rumah perempuan yang jelas tidak menyukainya, rasanya seperti ditarik kembali ke lantai rumah Phua, ketika semua orang boleh memutuskan ia salah sebelum ia bicara.

Seorang tamu perempuan berkata lirih, tetapi tidak cukup lirih, "Kalau tidak salah, diperiksa saja tasnya. Supaya clear."

Kepala rumah tangga tampak ragu. Dua satpam villa sudah berdiri dekat pintu.

Lily menarik napas. "Ibu Liana, saya minta maaf sekali. Demi nama baik semua orang, mungkin tas Ibu bisa diperiksa sebentar?"

Liana mengangkat wajah.

Ia tahu kalau ia menolak, mereka akan bilang ia takut. Kalau ia membuka tas, kehormatannya sudah jatuh bahkan sebelum apa pun ditemukan.

"Tidak perlu."

Suara Edwin memotong ruangan.

Tidak keras. Tidak berteriak. Tetapi seketika semua orang berhenti bicara.

Ia berjalan ke samping Liana, berdiri di antara Liana dan kepala rumah tangga.

"Tas karyawan saya tidak diperiksa hanya karena dugaan tanpa bukti."

Lily menatapnya. "Edwin, ini rumah saya."

"Justru karena ini rumahmu, kamu punya CCTV."

Wajah Lily membeku tipis.

Edwin menoleh pada kepala rumah tangga. "Panggil petugas keamanan. Buka rekaman ruang utama, koridor samping, dan area servis selama tiga puluh menit terakhir. Tampilkan di layar."

Kepala rumah tangga melihat Lily, menunggu izin.

Lily tersenyum kaku. "Baik. Kalau memang itu bisa membuat semuanya jelas."

Lima menit berikutnya terasa seperti satu jam.

Liana berdiri diam. Edwin tidak mengatakan apa pun lagi, tetapi posisinya tetap di sampingnya. Bahunya sedikit maju, seolah ia menjadi dinding tanpa perlu menyentuh. Liana menatap layar televisi besar yang kini dinyalakan oleh petugas keamanan, telapak tangannya dingin.

"Jangan takut," kata Edwin pelan, hanya cukup untuk ia dengar.

Tenggorokan Liana terasa sakit. "Saya tidak mengambilnya."

"Saya tahu."

Dua kata itu hampir membuat matanya panas.

Rekaman pertama menampilkan ruang utama. Lily terlihat bicara dengan beberapa tamu. Gelang berlian masih di pergelangan kirinya. Liana berdiri tiga meter darinya, menerjemahkan untuk dua tamu asing.

Rekaman dipercepat.

Lily menaruh gelas, tertawa, lalu bergerak ke arah sofa. Staf katering membawa nampan lewat di belakangnya. Kamera tidak menangkap jelas tangan Lily, tetapi beberapa menit kemudian, staf yang sama masuk ke koridor samping.

Petugas keamanan mengganti sudut kamera.

Koridor samping terlihat lebih terang.

Di layar, Liana berdiri dengan tamu Hong Kong dan Edwin. Clutch hitam kecilnya terletak sebentar di meja tinggi dekat pot bunga, terbuka sedikit karena ia mengambil kartu nama. Staf katering itu lewat, seolah hendak merapikan piring kosong. Tangannya turun terlalu cepat.

Sesuatu berkilau masuk ke dalam clutch Liana.

Ruangan meledak dalam tarikan napas tertahan.

"Putar lagi," kata Edwin.

Petugas memutar ulang. Kali ini semua orang melihatnya. Tidak ada ruang untuk tafsir. Staf itu melirik kiri kanan, membuka lapisan dalam clutch dengan dua jari, lalu memasukkan gelang.

Liana tidak menyentuh gelang itu sama sekali.

Wajah Lily pucat sesaat.

Edwin menatap kepala rumah tangga. "Bawa staf itu ke sini."

Staf katering tersebut ditemukan di area servis, wajahnya sudah basah keringat. Begitu dua satpam membawanya masuk, lututnya hampir lemas.

"Saya tidak tahu apa-apa, Pak," katanya cepat.

"Kamu terlihat jelas di CCTV," kata Edwin.

Kepala rumah tangga mengambil clutch Liana dengan izin Edwin dan Liana, lalu membukanya di atas meja di depan semua orang. Gelang berlian itu memang ada di lapisan dalam.

Beberapa tamu yang tadi berbisik menunduk. Perempuan yang menyarankan pemeriksaan tas langsung pura-pura melihat ponsel.

Liana memandang gelang itu. Benda kecil, dingin, berkilau. Hampir saja benda itu membuat ia dicap pencuri.

Edwin mengambil saputangan putih dari meja, menutup gelang tanpa menyentuh langsung, lalu mendorongnya ke arah kepala rumah tangga.

"Ini barang bukti. Jangan ada yang memegang sembarangan."

Lily berusaha bicara. "Saya benar-benar tidak tahu..."

Edwin menoleh padanya. Sorot matanya dingin.

"Tadi kamu orang pertama yang mengarahkan kecurigaan ke Liana."

"Karena situasinya terlihat begitu. Aku panik."

"Panik tidak membuat seseorang berhak mempermalukan orang lain."

Lily menggigit bibir. Di rumahnya sendiri, di depan tamu-tamunya, ia tidak bisa membalas.

Kepala rumah tangga menekan staf itu. "Siapa yang menyuruh kamu?"

Staf katering gemetar. "Saya cuma dibayar. Saya tidak tahu namanya. Ada orang kasih uang muka. Katanya kalau saya taruh barang di tas Ibu itu, sisanya ditransfer."

"Laki-laki atau perempuan?" tanya Edwin.

"Laki-laki yang ketemu saya. Tapi ada perempuan di mobil. Saya tidak lihat jelas. Sumpah, Pak, saya tidak tahu."

"Nomornya?"

"Nomor baru, Pak. Sudah tidak aktif."

Edwin memberi isyarat pada Arman yang baru masuk dari sisi belakang setelah dipanggil petugas keamanan. "Amankan ponselnya. Simpan rekaman CCTV. Hubungi vendor katering. Saya ingin identitas lengkap staf ini malam ini juga."

"Baik, Boss," jawab Arman.

Lily menarik napas, mencoba menguasai keadaan. "Saya akan tangani staf ini. Ibu Liana, saya minta maaf. Ini pasti kesalahpahaman besar."

Liana menatapnya.

Di masa lalu, ia mungkin akan menerima maaf seperti itu agar suasana cepat selesai. Ia akan tersenyum, berkata tidak apa-apa, lalu pulang dengan luka di dalam dada.

Malam ini, ia tidak mau lagi membersihkan kekacauan orang lain dengan harga dirinya.

"Bukan kesalahpahaman, Ibu Lily," kata Liana pelan. "Saya hampir dipermalukan sebagai pencuri."

Ruangan kembali hening.

Liana melanjutkan, "Saya datang ke sini untuk bekerja. Kalau sejak awal ada keraguan terhadap saya, seharusnya tidak perlu mengundang saya."

Wajah Lily menegang.

Edwin memandang semua tamu di ruangan itu. "Saya tegaskan sekali. Ibu Liana Liem tidak mengambil apa pun. Ia dijebak. Rekaman sudah membuktikan."

Tidak ada yang berani bicara.

"Mulai malam ini," lanjut Edwin, "siapa pun yang menyebarkan cerita berbeda dari fakta ini akan berurusan dengan tim hukum Loh Group."

Ancaman itu halus, tetapi semua orang mengerti nilainya.

Dua tamu yang tadi berbisik langsung mengangguk. Seseorang bahkan berkata, "Tentu, Pak Edwin. Kami semua lihat rekamannya."

Edwin menoleh pada Lily. "Dan kamu, Lily. Kalau masih ada acara yang melibatkan Liana, pastikan rumahmu aman. Kalau tidak bisa, jangan undang dia."

Lily menahan senyum yang hampir pecah. "Aku mengerti."

"Bagus."

Edwin lalu menunduk pada Liana. Nada suaranya berubah lebih rendah. "Kita pulang."

Liana mengangguk.

Ketika ia berjalan keluar, beberapa tamu otomatis memberi jalan. Kali ini bukan karena ia berdiri di samping Edwin saja. Ada sesuatu pada langkahnya yang berubah. Ia baru saja hampir dijatuhkan, tetapi ia tidak roboh.

Di luar villa, udara malam terasa berat. Arman membuka pintu mobil. Edwin menunggu sampai Liana masuk lebih dulu.

Sebelum pintu tertutup, Liana menatapnya. "Terima kasih sudah percaya."

Edwin tidak langsung menjawab.

"Aku percaya karena aku mengenalmu," katanya akhirnya.

Kalimat itu lebih hangat daripada udara malam.

Mobil hitam bergerak meninggalkan villa.

Di parkiran belakang, jauh dari lampu utama, Boonwen duduk di balik setir mobil tua. Ponselnya bergetar. Nama Yuni muncul di layar.

Begitu panggilan tersambung, suara Yuni langsung menusuk.

"Kamu bilang CCTV aman."

Boonwen memukul setir dengan telapak tangan. "Vendor villa itu tidak bilang ada kamera koridor samping."

"Bodoh," desis Yuni.

"Jangan cuma salahkan aku. Servisnya yang panik."

Di seberang sana, Yuni terdiam beberapa detik. Lalu ia tertawa pendek, dingin.

"Belum selesai," katanya. "Masih ada cara lain."

Boonwen menoleh ke arah gerbang villa, tempat lampu mobil Edwin baru saja hilang di tikungan.

"Liana itu susah dijatuhkan kalau Edwin selalu berdiri di depannya."

"Kalau begitu," jawab Yuni pelan, "lain kali kita buat Edwin tidak sempat berdiri."

1
Yusnani Siregar
👍
Yusnani Siregar
👍👍
Lulu kartika Mediani
aduuh beneran yaah..pantesan Albert sifat nya gitu..licik dan manipulatif ternyata nurun dr emak nya...Kim hwa ,buah jatuh tak jauh dr pohon nya.. 😄😄..parraaahh..dasar ratu drama...😌
Lia Aulia
tapi yang ini menantu mode badas
Lia Aulia
kok aku ketemunya mertua laknat semua ya
Lulu kartika Mediani
si Albert licik nya kebangetan yah...suhu nya manipulatif ..😮‍💨😮‍💨
Lulu kartika Mediani
Bagus sekali cerita ini...tidak bertele2..tapi konflik nya seru dan tak mudah ditebak.....dan masih relate dgn dunia nyata...cuman duuh yg jahat ,jahat nya kebangetan..kayak si Yuni itu ..udah mah merebut tpi masih ada niat juga buat nyelakain ,fitnah istri sah .. dunia jetset itu penuh duri tajam yah... kejahatan pun bisa datang dr keluarga sendiri,, apalagi klo bukan soal harta... bnerr lah ..harus bermental baja masuk kedunia org2 kaya raya mah...
Lulu kartika Mediani
Liana apa kamu lupa...Dede punya tanda lahir bentuj bulan sabit berwarna coklat kan di bahu nya..knp ga di cek...😌😮‍💨
Aprilinda
novel nya keren
EMINEM Resi
lanjut baca,
Lisa sari katriani
Karya yang bagus thor 👍

Halo kakak2, jangan lupa mampir dikarya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan

Terimakasih 🙏
Lisa sari katriani
Semangat thor 💪

Temen2, dukung dan baca karya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan

Terimakasih 🙏
Soraya Febriyanti
thor.. berarti Kevin dan Isha nikah beda agama yah..??
Yusnani Siregar
siapa yg bocor rahasia klrg loh
Yusnani Siregar
👍👍👍
Soraya Febriyanti
apa apa an ini..baru satu kali nyangkul..kok langsung garis dua.. ngapain nyimpen teks pack. di tas Kalu gk pernah maen sama cowok.. author ini bikin pusing pembaca aja
Yusnani Siregar
yes
/Pray/
Yusnani Siregar
ok
Yusnani Siregar
👍👍
Yusnani Siregar
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!