NovelToon NovelToon
YANG MULIA, MOHON JANGAN PAKSA AKU !

YANG MULIA, MOHON JANGAN PAKSA AKU !

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Istana/Kuno / Balas Dendam / Reinkarnasi
Popularitas:408
Nilai: 5
Nama Author: Bunga_Persik98

Ye Ning, putri sah Menteri Sayap Kiri, hanya ingin membangun kerajaan bisnis, mengumpulkan kekayaan, dan membawa kemakmuran bagi keluarganya. Namun semua menjadi berantakan ketika Tuan Muda Bai datang dan mengacaukan rencananya. Di saat yang sama, Putra Mahkota Li Yan, pria yang dahulu menolak perjodohan dengannya, tiba-tiba berkata bahwa ia akan menceraikan istrinya.

Di antara ambisi, cinta, dan pengkhianatan, Ye Ning harus memilih: tetap menjadi wanita pebisnis yang bebas atau terjerat dalam permainan politik yang mengancam keselamatan keluarganya.

Mampukah Ye Ning melindungi orang-orang yang dicintainya ketika dua pria paling berpengaruh di kekaisaran mulai menginginkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga_Persik98, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7 : PERSETERUAN TERSELUBUNG

Ye Ning ketakutan, baru pertama kalinya ia berada di situasi seperti ini. Zhilan membawanya turun dari kereta, menghalau pedang yang ingin melukainya. Namun karena lengannya terluka dan punggungnya belum pulih, hal itu membuatnya kesulitan.

Shao Zu berteriak kepada dua penjaga rahasia Zhilan agar membawa mereka kabur. Lari dan terus berlari, genggaman tangan Zhilan padanya tidak pernah terlepas, namun Ye Ning merasakan telapak tangannya basah.

Saat ia menoleh, darah sudah mengucur dari lengan Zhilan. Belakang punggungnya pun kini basah, Ye Ning yang penasaran meraba kain pakaian di punggungnya. Merah? Ini, ini darah! Pekik Ye Ning dalam hati.

Tetapi mereka tidak bisa berhenti untuk memeriksa luka itu, Zhilan membawanya semakin masuk ke dalam hutan. Pembunuh itu sangat banyak, lapis demi lapis mengejar mereka. Ye Ning melihat Zhilan sudah kelelahan, wajahnya mulai pucat.

Melihat hal itu, Ye Ning menyuruh Zhilan beristirahat agar ia mengalihkan perhatian penjaga. Zhilan tentu tidak setuju, jadi mereka terus berlari menghindari pengejaran musuh. Karena sudah terlalu lama berlari, kaki Ye Ning mulai terasa sakit dan kram. Ia agak kesusahan mengikuti ritme Zhilan dan akhirnya membuat ia tersandung akar pohon dan terperosok ke jurang.

Zhilan berteriak dan ikut jatuh untuk melindungi Ye Ning, ia memeluknya dengan erat dan memegangi kepalanya. Mereka berdua berguling-guling di tanah hingga akhirnya berhenti dan jatuh ke dasar. Zhilan berteriak memanggil nama Ye Ning, namun ia pingsan.

Beberapa jam kemudian, saat bulan sudah menggantung di langit kelam, Ye Ning perlahan membuka mata. Merah dan bergerak? Pandangannya menatap api unggun yang ada di depannya. Saat ia bergeser, Zhilan membantunya bangun. Ia melihat sekeliling, hutan belantara dan mereka dikelilingi tembok tebing setinggi empat meter.

Ye Ning memutar kepala ke arah Zhilan, lukanya sudah diobati dengan dedaunan obat. Tetapi itu hanya lengannya saja, punggungnya dibiarkannya tetap terbuka.

"Biar aku yang mengoleskan obat ke lukamu," ujar Ye Ning dan mendekat ke arah Zhilan.

Awalnya Zhilan menolak, tetapi Ye Ning sedang tidak ingin dibantah. Saat Ye Ning berjalan ke belakang punggungnya, betapa terkejutnya ia melihat luka cambukan yang basah dan dalam. Ye Ning meraba luka itu, seakan merasakan rasa sakitnya. Air matanya menetes ke punggung Zhilan, membuat Zhilan terkesiap.

Lalu Ye Ning mengoleskan dedaunan yang sudah Zhilan haluskan secara perlahan dan hati-hati.

Zhilan diam saja dan membiarkan Ye Ning mengobati luka di punggungnya. Melihat ini membuat Ye Ning merasa bersalah. Setelah obat dioleskan, Ye Ning duduk kembali di sampingnya dan menatap api unggun dalam diam.

Zhilan memejamkan matanya dan menyandarkan tubuhnya di pohon yang tidak jauh darinya. Baju Zhilan basah karena dibersihkan, dia hanya memiliki jubah luar, namun tak lama dari itu hujan datang tak terduga. Ye Ning membawa Zhilan untuk mencari tempat berteduh, tidak jauh dari sana mereka melihat gua dan masuk ke dalam sana.

Suasana cukup gelap, untung Zhilan membawa sedikit puntung api dari luar dan menyalakan api kembali. Namun cuaca semakin lama semakin dingin, kondisi tubuh Zhilan pun semakin memburuk. Ye Ning mengukur suhu tubuh Zhilan dengan telapak tangannya, dingin sekali.

"Zhilan, Zhilan!!" panggil Ye Ning.

Zhilan sedikit mengantuk dan lelah, sehingga tidak begitu memperhatikan panggilan Ye Ning. Tubuh Zhilan turun secara drastis, kalau terus begini ia bisa membeku. Ye Ning memasangkan jubahnya menutupi tubuh Zhilan dan mendekap Zhilan untuk memindahkan suhu tubuhnya dan agar Zhilan hangat kembali. Zhilan tanpa sadar meringkuk seperti bayi di pelukan Ye Ning, dan bergumam tidak jelas.

"Ibu... Ibu... Jangan tinggalkan A Zhi..."

Ye Ning menjawab dengan nada keibuan, bahwa ia di sini tidak akan ke mana-mana. Akhirnya Zhilan tertidur lelap, Ye Ning mengusap sayang rambut kepala Zhilan. Pikirannya kalut, Zhilan memanfaatkannya untuk rencananya entah apa tujuannya.

Seharusnya, Ye Ning berbalik meninggalkannya, dan tidak peduli padanya. Tetapi melihat ketidakberdayaannya ini, Ye Ning entah kenapa menjadi sedikit terenyuh. Meskipun Zhilan sempat membuat keluarganya hampir terbunuh, tetapi ia membantunya, menanggung siksaan cambuk karena menerobos istana bersamanya. Ye Ning semakin bimbang, ayahnya setelah kejadian ransum militer itu sudah melarangnya bertemu Zhilan lagi. Ia semakin membenci keluarga Adipati Zhao. Karena terlalu banyak berpikir, akhirnya Ye Ning mengantuk dan tertidur.

Setelah Ye Ning tertidur, Zhilan terbangun dan membaringkannya di atas jubahnya. Memakai bajunya yang masih lembap, Zhilan memandang Ye Ning sedikit lama dan menundukkan kepalanya, mencium keningnya lembut. Setelah itu ia pergi keluar gua, meniup sebuah peluit yang berada di lipatan ikat pinggangnya.

Dua penjaga rahasianya, Shao Yu dan Shao Qin, datang dan memberi hormat.

"Bagaimana? Sudah selesai menginterogasi mereka?"

"Lapor Tuan Muda, sebelum sempat kami membawanya, mereka yang hidup menekan pil racun yang ada di mulut mereka. Tetapi kami menemukan ini." Shao Yu menyerahkan selembar kertas padanya.

Zhilan melihatnya dan meremas surat tersebut. Surat promes (wesel kredit) dari salah satu toko milik Putri Mahkota.

Zhilan memandang jauh ke langit malam. Siasat pinjam tangan yang murahan. Zhilan kini memutuskan bahwa kini Putra Mahkota telah menjadi musuhnya.

1
Marini Dewi
menarik
BUNGA PERSIK: Terima kasih atas supportnya ya 😍.. Aku senang sekali
total 1 replies
BUNGA PERSIK
Ini karya baru, mohon dukungannya. Maaf kalau masih agak berantakan, beneran masih newbie. 😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!