NovelToon NovelToon
Sang Warok

Sang Warok

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Action
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Ayah dan ibunya dibunuh didepan mata dan kepalamya. tapi justru sang pembunuhlah yang akan menjadi guru nya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Kelopak mata bocah itu bergerak perlahan, terasa amat berat. Saat pertama kali terbuka, pandangannya kabur dan berputar. Kepalanya berdenyut, sementara tenggorokannya terasa begitu kering dan panas, bagai digerogoti pasir. Ia tidak tahu sudah berapa lama tak sadarkan diri di dalam gubuk bambu asing yang pengap ini.

Lambat laun, bayang-bayang di sekitarnya mulai tampak jelas. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Seketika itu juga, memori mengerikan di malam pembantaian itu berputar hebat di kepalanya. Bayangan darah, kepala yang menggelinding, dan jeritan ibunya menyergap ingatannya. Detik itu juga ia ingin menjerit histeris, namun tenggorokannya seolah tersumbat dan tak mampu mengeluarkan suara.

Dengan sisa tenaga yang ada, ia berusaha bangkit. Tubuhnya bergetar, dan rasa nyeri yang luar biasa menjalar di punggungnya—akibat hempasan kasar si perampok ke atas ranjang tempo hari. Menahan rasa sakit yang mendera, ia memaksakan diri turun dari balai-balai bambu.

Tak jauh dari tempatnya berdiri, matanya menangkap sebuah gentong tanah liat berisi air. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah tertatih-tatih, menyendok air dengan gayung tempurung kelapa, lalu meminumnya dengan rakus.

"Ahhhh..."

Napasnya memburu setelah air segar membasahi kerongkongannya. Kesadarannya pulih sepenuhnya. Matanya mendadak liar memandangi sudut gubuk. "Dimana iblis itu?" bisiknya penuh dendam.

Saat meletakkan gayung, matanya tak sengaja melihat sebilah pisau dapur tua yang terselip di celah dinding anyaman bambu tepat di atas gentong. Tanpa ragu, tangan kecilnya langsung menyambar gagang pisau tersebut. Sembari menggenggam senjata tajam itu erat-erat, ia melangkah mengendap-endap, menyelidiki setiap sudut gubuk kecil yang sepi. Namun, sosok sang pembantai sama sekali tidak ada di sana.

"Aku harus kabur," batinnya tegas.

Bocah itu bergerak cepat menuju pintu dapur di bagian belakang gubuk. Begitu daun pintu bambu terbuka, pemandangan di depannya membuat jantungnya mencelos. Gubuk ini berdiri terpencil di tengah-tengah hutan rimba yang lebat, dikepung oleh pohon-pohon raksasa yang angker. Diliputi rasa takut yang amat sangat, namun didorong oleh keinginan kuat untuk hidup, tekadnya sudah bulat. Ia harus lari.

Ia melompat keluar, menerobos semak ilalang setinggi dada yang langsung tersibak kasar oleh tubuh kecilnya. Bermodalkan sebilah pisau dapur, bocah itu menekan rasa takutnya dalam-dalam, merangsek membelah keheningan hutan yang asing. Ia terus berlari tanpa menoleh ke belakang. Anehnya, tidak ada tanda-tanda pengejaran. Sepertinya perampok jahanam itu lengah dan meremehkannya, membiarkan dirinya kabur begitu saja.

Namun, kebebasan itu tak bertahan lama. Langkah kakinya mendadak terhenti ketika sebuah gelombang udara dingin menyapu tengkuknya, disusul oleh suara erangan rendah yang menggetarkan tanah tempatnya berpijak.

"Grrrrrrrrrr..."

Bocah itu mematung. Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. "Hah... suara apa itu?" gumamnya dengan bibir bergetar.

Belum sempat ia mencerna keadaan, suara itu kembali terdengar. Kali ini jauh lebih dekat, lebih nyaring.

"Groaaaarrr!!!"

Seluruh tubuh bocah itu mulai gemetaran hebat. Lututnya lemas, namun entah dari mana datangnya kekuatan itu, jemarinya justru mencengkeram gagang pisau dapur kian erat.

Dugaannya tak salah. Dari balik semak belukar yang rimbun di depannya, semak-semak itu bergoyang hebat sebelum akhirnya memunculkan sosok predator mengerikan. Seekor macan gembong berukuran besar, dengan bulu loreng jingga-hitam yang legam dan mata kuning yang menyorotkan rasa lapar, melangkah keluar dengan anggun namun mematikan.

"Ohhh... mmm... macan..." napas bocah itu tercekat. Sambil melangkah mundur perlahan, ia mencoba mengusir binatang buas itu dengan sisa keberaniannya. Ia mengibas-ngibaskan pisau dapurnya ke udara. "Huss! Huss! Pergi kau! Huss!"

Melihat mangsa kecil di depannya mencoba melawan, sang penguasa hutan itu merasa tertantang. Macan loreng itu merendahkan tubuhnya, otot-otot kakinya menegang kokoh. Sambil membuka mulutnya lebar-lebar memperlihatkan taring-taringnya yang kuning dan tajam, ia meraung keras, siap melesat untuk menerkam dan mengoyak tubuh sang bocah.

Tepat sebelum macan loreng itu melesat membelah udara untuk mengoyak tubuhnya, sebuah dentuman keras yang memekakkan telinga mendadak pecah membelah keheningan hutan.

Pletarrrrrrrrr!!!

Suara itu begitu dahsyat, menggelegar layaknya petir yang menyambar di siang bolong. Hantaman suaranya membuat nyali sang penguasa hutan menciut seketika. Macan itu membatalkan terkamannya, menjejakkan empat kakinya kuat-kuat ke tanah sambil menggeram waspada, mengedarkan pandangan mencari sumber ledakan.

Dari balik rimbunnya semak belukar, sosok tegap berpakaian hitam kombor melangkah keluar dengan santai. Di tangan kanannya, ia menggenggam sebuah cambuk panjang berbahan kulit jalinan tebal yang ujungnya masih menyisakan hawa panas. Sang Warok telah datang.

"Hahaha, bocah! Kau mau kutolong, atau kubiarkan saja macan itu mengisi perutnya yang lapar dengan dagingmu, hah?" tanya perampok itu, tertawa mengejek.

Bocah itu menelan ludah, seluruh badannya gemetar hebat, namun harga dirinya menolak untuk tunduk. "To.. to... Tidak! Biarkan saja macan itu memakanku! Aku lebih baik mati dan membusuk di hutan ini daripada harus tinggal bersama iblis sepertimu!" raungnya, memeluk pisau dapur erat-earat di dada.

"Hey, jangan keras kepala, bocah. Kau pasti belum pernah mencicipi daging macan, kan? Apa perutmu tidak lapar?" sahut sang perampok dengan nada santai, seolah keberadaan predator di dekat mereka hanyalah seekor kucing rumahan.

Namun, macan gembong itu tak mau menunggu obrolan mereka selesai. Merasa diabaikan dan terancam, binatang buas itu mengambil kesempatan. Dengan satu tolakan kaki yang kuat, tubuh lorengnya yang besar melesat cepat, melompat menerkam lurus ke arah sang bocah. Bocah itu terkesiap, wajahnya seketika pucat pasi. Ia memejamkan mata erat-erat, bersiap menyambut ajal yang sudah di depan mata.

Tetapi, maut kembali tertunda.

Pletarrrrrr!!!

Ledakan cambuk itu kembali mengguncang rimba. Gerakannya teramat cepat, nyaris tak tertangkap oleh mata telanjang. Ujung cambuk yang legam menjepret telak ke lambung macan yang sedang melayang di udara. Daya hantam cambuk itu begitu mengerikan, mampu menghentikan momentum terkaman dan melempar tubuh macan seberat ratusan kilogram itu hingga terpelanting ke samping.

"Groaaaaarrrrrr!"

Sang penguasa hutan tersuruk keras ke tanah, bergulingan di atas serasah daun kering. Sebuah luka sayatan yang sangat dalam dan menganga kini merobek kulit lorengnya, mengucurkan darah segar yang kental.

"Dasar bocah bodoh," dengus sang perampok sembari mengibas cambuknya ke tanah. "Daging macan itu berserat padat dan nikmat. Kau akan menyukainya nanti."

Rasa sakit yang luar biasa ternyata tidak membuat macan itu lari. Naluri liarnya bergolak, digantikan oleh amarah yang kalap. Mata kuningnya menyala merah.

"Groarrrrr!!!"

Sambil meraung dahsyat hingga menggetarkan pepohonan sekitar, macan itu kembali bangkit. Kali ini, ia mengalihkan sasarannya. Ia melesat dengan kecepatan penuh, menerjang kalap ke arah sang perampok.

Menghadapi terkaman maut itu, sang perampok bahkan tidak menggeser kedua kakinya. Ia hanya menarik lengan kanannya ke belakang, lalu menyentakkan cambuknya dengan pengerahan tenaga dalam yang luar biasa.

Pletarrrrrr!!!

Ledakan kali ini jauh lebih mengerikan dari sebelumnya. Dentumannya menciptakan gelombang kejut tak kasat mata yang menyapu udara sekitar, membuat tubuh ringkih sang bocah terjerembab dan terseret beberapa langkah di atas tanah.

Di depan, ujung cambuk itu melilit kuat dan menyayat leher sang macan yang sedang menerjang. Dengan satu sentakan bertenaga karang, sang perampok menarik cambuknya kembali.

Crassss!

Hentakan itu tanpa ampun merobek urat leher sang macan hingga nyaris putus. Tubuh besar berbulu loreng itu seketika kehilangan daya, terjerembab hebat ke tanah dengan posisi mengenaskan. Binatang buas itu hanya bisa mengerang parau, tubuhnya kejang-kejang beberapa saat di atas tanah yang kian memerah, sebelum akhirnya merenggang nyawa sepenuhnya.

Suasana hutan kembali sunyi, menyisakan bau anyir darah segar dan kepulan asap tipis dari ujung cambuk sang warok yang berdiri tegak menatap murid barunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!