Zhang Lin dikenal sebagai "Dewa Pedang" dari Dinasti Yin; ketika dia sedang menjalankan sebuah misi, dia tiba-tiba dihadapkan dengan sebuah pengkhianatan dari negerinya sendiri hingga membuatnya meregang nyawa.
Namun, bukannya langsung meninggal dan pindah ke alam baka—Zhang Lin justru mendapatkan kesempatan kedua untuk kembali hidup di dunia modern yang di mana semua orang hidup dengan cara yang cepat.
Di dunia modern, Zhang Lin bertemu dengan Li Na—seorang asisten editor di salah satu penerbit besar.
Kehidupan kerja Li Na begitu berat, dan sejak kecil dia telah terkenal karena nasib buruknya; namun, ketika bersama dengan Zhang Lin, nasib buruk itu berganti dengan keberuntungan—namun, keberuntungan itu datang bersamaan dengan bayangan kematian yang mengintainya dan Zhang Lin dari kejauhan.
...
Untuk mendapatkan update ilustrasi karakter, bisa follow akun sosmed author, ya!
FB : Refinawriters
IG : Refinawriters_
TT :refinawriters
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R. Seftia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Jejak Lin Yi
"Li Na, dengarkan aku. Tatap mataku sekarang," ucap Zhang Lin sambil memegang kedua bahu Li Na dengan kuat untuk menghentikan guncangan di tubuh wanita itu.
Li Na mengangkat wajahnya yang sudah sembap oleh air mata. Matanya memperlihatkan rasa takut yang luar biasa; sebuah ketakutan akan kehilangan satu-satunya anggota keluarga yang tersisa di dunia ini.
"Aku berjanji kepadamu, aku akan membawa Lin Yi kembali tanpa kurang satu apa pun. Kamu percaya padaku, kan?" tegas Zhang Lin dengan tatapan mata yang tajam dan penuh keyakinan.
Li Na menelan ludahnya yang terasa pahit. Di tengah rasa panik yang menusuk dada, kepemimpinan dan ketenangan Zhang Lin menjadi satu-satunya pegangan yang ia miliki saat ini.
"Tapi ... tapi bagaimana kalau terjadi hal buruk padanya, Zhang Lin? Dia itu adikku satu-satunya ... kalau sampai dia kenapa-napa, aku ..." Kalimat Li Na terputus oleh isak tangis yang kembali pecah.
Zhang Lin menarik Li Na ke dalam pelukannya sebentar, memberikan rasa aman sebelum kembali menatapnya lekat-lekat.
"Percayalah padaku. Lin Yi anak yang cerdas, dia berhasil memberi kita petunjuk lewat telepon tadi. Sekarang, hal pertama yang harus kita lakukan adalah mencari tahu di mana dia bekerja. Kita mulai dari sana."
Kata-kata Zhang Lin perlahan berhasil meredakan histeria Li Na. Wanita itu mengusap air matanya dengan kasar, lalu menganggukkan kepala beberapa kali. Rasa takutnya kini berganti menjadi tekad untuk menemukan adiknya.
...
Setelah menanyakan informasi kepada beberapa teman dekat Lin Yi melalui pesan singkat, Li Na akhirnya mendapat petunjuk mengenai lokasi tempat kerja rahasia adiknya. Ternyata, selama beberapa minggu terakhir Lin Yi bekerja sebagai pelayan paruh waktu di sebuah restoran BBQ yang cukup ramai di pusat kota.
Tanpa membuang waktu, Zhang Lin dan Li Na langsung meluncur ke restoran tersebut menggunakan mobil butut milik Li Na.
Sesampainya di sana, restoran baru saja bersiap untuk buka. Li Na yang sudah tidak sabar langsung menerobos masuk dan menemui manajer restoran yang sedang memeriksa inventaris bahan makanan.
"Permisi! Apakah benar Lin Yi bekerja di sini? Saya kakaknya. Adik saya tidak pulang sejak semalam dan ponselnya tidak bisa dihubungi secara normal!" seru Li Na dengan nada suara yang penuh kecemasan.
Manajer restoran itu sempat terkejut melihat kedatangan Li Na dan Zhang Lin yang begitu mendadak, namun wajahnya seketika berubah menjadi penuh penyesalan ketika mendengar nama Lin Yi disebutkan.
"Ah, kamu kakaknya Lin Yi? Sebenarnya aku juga bingung dan khawatir. Kemarin malam Lin Yi menyelesaikan shift kerjanya seperti biasa sekitar jam sembilan malam. Tapi saat dia mau pulang, ada seorang pria asing yang datang menghampirinya," jelas manajer restoran tersebut.
Zhang Lin yang sejak tadi berdiri siaga di samping Li Na langsung mengambil langkah maju. Intuisinya sebagai seorang mantan komandan perang seketika menyala tajam.
"Pria asing? Apa yang dilakukan pria asing itu kepada Lin Yi?" tanya Zhang Lin dengan suara berat yang menuntut jawaban cepat.
"Pria itu menawarkan pekerjaan tambahan dengan bayaran yang sangat tinggi malam itu juga. Kata pria itu, dia butuh tenaga ekstra untuk mengangkut barang di gudang miliknya. Lin Yi sempat ragu, tapi begitu melihat jumlah uang tunai yang ditawarkan, anak itu akhirnya setuju dan ikut pergi bersama pria tersebut," lanjut manajer itu menjelaskan detail kejadian semalam.
Mendengar hal itu, Li Na merasa lemas. Ia tahu betul kalau adiknya sangat tergiur dengan uang demi bisa membantu keuangan rumah, dan sifat polosnya itu justru dimanfaatkan oleh orang berniat jahat.
"Apakah restoran ini memiliki kamera CCTV di area luar yang mengarah ke tempat mereka berbicara kemarin malam?" tanya Zhang Lin tanpa mengulur waktu lagi.
...
Beruntung manajer restoran itu bersikap sangat kooperatif. Ia langsung membawa Zhang Lin dan Li Na ke ruang pengawas untuk memutar ulang rekaman CCTV dari kemarin malam.
Layar monitor memperlihatkan rekaman hitam-putih bertanggal kemarin malam tepat pukul 21.15. Di sana terlihat Lin Yi baru saja keluar dari pintu belakang restoran sambil menggendong tas punggungnya. Tak lama kemudian, sebuah mobil sedan hitam berhenti di sampingnya dan seorang pria berjas rapi keluar dari kursi penumpang.
Pria itu berbicara sebentar dengan Lin Yi, mengeluarkan seikat uang kertas dari sakunya, dan menunjukkan sesuatu di ponselnya. Lin Yi tampak mengangguk setuju lalu melangkah masuk ke dalam mobil tersebut.
Namun, tepat sebelum pria berjas rapi itu masuk kembali ke dalam mobil, kamera CCTV sempat menangkap sudut wajahnya dengan sangat jelas saat ia menoleh ke arah jalan raya.
Seketika itu juga, napas Zhang Lin tercekat. Matanya membelalak lebar, dan seluruh tubuhnya membeku kaku di tempatnya berdiri.
Wajah bergaris tegas, mata yang dingin menusuk, serta senyum tipis yang penuh keangkuhan pada pria di dalam layar CCTV itu benar-benar sempurna. Tak ada sedikit pun perbedaan.
Pria yang membawa Lin Yi pergi tidak lain adalah sosok pangeran yang dahulu memberikan perintah untuk mengeksekusi mati Zhang Lin di kehidupan lamanya!
"Orang itu ..." gumam Zhang Lin dengan suara yang hampir tak terdengar, namun sarat akan dendam dan rasa tidak percaya.
Li Na yang menyadari perubahan sikap Zhang Lin yang tiba-tiba menjadi sangat tegang langsung menoleh padanya dengan bingung.
"Zhang Lin? Ada apa? Apa kamu mengenali pria berjas yang membawa Lin Yi itu?!"
...
-Bersambung-